Sabtu, 22 September 2007

Babad Mataram2

Di Jawa bagian tengah nama Mataram sama sekali bukan nama yang asing bagi masyarakatnya. Bahkan nama itu di di abadikan menjadi nama dua kerajaan besar di masanya masing-masing. Mataram-Hindu di abad kedelapan serta Mataram Islam diawal abad ke enam belas.

Walau terpisah rentang waktu yang cukup lama kedua kerajaan itu memberi warna yang sangat kenthal bagi perkembangan masyarakat kontemporer kita.

Mataram Islam

Cerita Mataram Islam dimulai dari kerajaan Demak diakhir masa Lintang Trenggana yang compang-camping akibat krisis politik. Adipati Jipang Panolan Arya Penangsang berontak karena merasa lebih berhak atas tahta Demak dibanding Jaka Tingkir yang notabene hanya anak menantu Trenggana. Konflik itu akhirnya dimenangkan oleh Jaka Tingkir yang kemudian mendirikan kasultanan Pajang.

Kemenangan ini tak lepas dari peran Sutawijaya alias Karebet anak dari Ki Ageng Pemanahan. Dia berhasil membunuh Aria Panangsang, dan memantapkan posisi Jaka Tingkir yang kelak bernama Sultan Hadiwijaya.

Ada ubi ada talas ada budi ada balas, begitu peribahasanya. Atas jasanya Sultan Pajang menghadiahinya sebidang tanah luas, berupa kawasan yang disebut Hutan Mentaok/alas Mentaok (Kothagede). Kawasan ini kelak, setelah dibuka, dinamai Bumi Mataram dan masih merupakan wilayah Pajang.

Alas Mentaok atau hutan mentaok tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai hutan belantara, dan pembukaannya tidak semata-mata dilakukan dengan merubuhkan pohon dan meratakan tanah saja. Karena sejatinya di Mentaok masih ada sebuah kedaton, atau kerajaan kecil yang justru tunduk pada sisa-sisa Majapahit yang jelas-jelas Hindu dan bukan tunduk ke Pajang yang Islam. Kedaton itu sendiri memang sudah bernama Mataram.

Jadi pemberian alas Mentaok kepada Sutawijaya bukan dimaknai pemberian gratis. Tetapi lebih merupakan perintah Hadiwijaya untuk melebarkan kekuasaaanya ke selatan yang selama itu telah gagal dilakukan Demak dan Pajang.

Waktu itu, singgasana kedaton Hutan Mataram ini diduduki seorang ratu, yang bergelar Lara Kidul Dewi Nawangwulan. Dia adalah lahir dari dinasti Buda Kalacakra (Tantrayana), Maharani (Kaisarina) Suhita dengan suami sang Aji Ratna Pangkaja, raja Tanah Malayu.

Si Lara Kidul diambil menantu Brawijaya (Bre Wengker: 1456-66), dan dijodohkan dengan Raden Bondan Kejawan alias Kidang Telangkas, putra hasil perkimpoian nya dengan Wandan Bodricemara. Ratu Kedaton Mataram berikut nya ialah Dewi Nawangsih, putri Dewi Nawangwulan dengan Bondan Kejawan. Ratu penerus Nawangsih yaitu Ni Mas Ratu Angin Angin.

Atas kemauan Sultan Adiwijaya, Ni Mas Ratu Angin Angin diperistrikan dengan Sutawijaya, putra angkat nya itu. Adiwijaya berharap Sutawijaya dan keturunan nya kelak dapat menjadi penerus Pajang, dan kuat mengemban “Wahyu Majapahit”. Mengingat bahwa darah Majapahit mengalir dalam diri Ni Mas Ratu Angin Angin.

Apakah suksesi Majapahit-Hindu ke Pajang-Islam dengan model ini cukup dan bisa diterima?
Legitimasi formal Sutawijaya memang menjadi mantap ketika di Pajangpun konflik politik pecah. Anak Hadiwijaya, Pangeran Benowo yang merupakan pewaris Pajang di kudeta oleh Aryo Pangiri adipati Demak. Merasa terdesak Benowo meminta bantuan Sutawijaya di Mataram. Setelah berhasil mengalahkan Aryo Pangiri Pangeran Benowo menyerahkan pusaka Pajang pada Sutawijaya.

Bagaimana dengan masyarakat awam Mataram-Hindu? Apakah mereka mau begitu saja menerima dominasi orang utara yang nota bene Islam? Awam hanya akan menerima sebuah penundukan bila panakluk bisa membunuh keinginan awam untuk berontak. Dan lazimnya penakluk kemudian menampilkan kengerian dan ketakutan untuk melegitimasi kekuasaanya.

Bagi masyarakt agraris jawa seperti daerah Mataram waktu itu, laut selatan mengambil bentuk yang sangat berbeda dengan laut utara jawa. Bila laut utara tenang dengan ombak yang sepoi-sepoi dan pantainya yang datar. Maka laut selatan sama sekali mengambil bentuk yang berbeda. Dengan ombak yang bahkan bila musim barat datang tingginya bisa mencapai dua meter atau lebih. Di beberapa tempat seperti pantai Gunungkidul atau Karangbolong pantainya berupa tebing karang yang curam. Hingga sepanjang sejarah jawa laut selatan selalu mejadi cermin ketakutan bawah sadar masyarakat Jawa dan merupakan pembatasnya dengan dunia luar.

Sebagai seorang pemimpin yang telah kenyang berkonflik Sutawijaya –yang setelah menjadi sultan menyebut dirinya Panembahan Senopati- tahu betul kondisi psikologi itu. Dan penaklukanya terhadap pikiran jawa di mulai dengan cerita-cerita babad yang menampilkan superioritas dirinya dan anak keturunannya di kemudian hari.

Dari sinikah kemudian dongeng tentang Ratu Kidul di mulai. Laut selatan dengan wajah kejam pengambilnya di identikan dengan seorang ratu jin yang berkuasa di kedalam laut, lengkap dengan kemegahan istana dan semua struktur pemerintahannya. Ratu kidul secara tepat di gambarkan dalam dongeng-dongeng itu sebagai sebuah kekuasaan yang berada di luar dimensi awam jawa. Dan Sutawijaya secara cerdik memanfaatkan ketakutan-ketakutan awam akan Ratu Kidul ini menjadi kekuatan legitimasi terhadap pemerintahannya terhadap Mataram.

Babad Alas Mentaok

Periode babat alas Mentaok adalah periode paling rawan dalam proses legitimasi ini. Sehingga Sutawijaya mesti mengadopsi cerita babad alas Wanamarta oleh Pandawa dan di modifikasi sesuai kepentingannya. Untuk masyarakat hindu waktu itu cerita ini sudah di hapal luar kepala. Dalam babad alas Wanamarta Pandawa harus menghadapi sekeluarga raja Jin. Ketika para jin itu bisa dikalahkan dan manjing/menyatu dengan Pandawa, Pandawa mempunyai modal menghadapi Kurawa. Modal itu berupa negara Atmartha.

Dalam babad alas Mentaok itu yang dihadapi oleh Pandawa juga di hadapi oleh Sutawijaya. Mentaok di huni oleh Raja Jin bernama Jalumampang alias Jathamamrang. Merasa kesulitan mengalahkannya, Sutawijaya lalu mesuraga/semedhi di laut selatan. Dalam semedhinya dia lalu di datangi oleh Ratu Kidul yang terpikat oleh ketampanannya. Lalu deal politikpun tercapai, Ratu Kidul akan membantu melawan Jalumampang asal Sutawijaya dan keturunannya mau menjadi suami dari si Ratu. Ibarat pucuk dicinta ulampun tiba, Sutawijaya lansung deal dan kontrakpun di teken. Singkat cerita Jalumamphang kalah dan terusir ke puncak Merapi dan Sutawijaya sukes membuka hutan Mentaok.

Dengan cerita tersebut praktis bawah sadar Majapahit-Hindu telah di kalahkan secara permanen. Karena Ratu Kidul juga merupakan istri bagi raja-raja Mataram berikutnya. Dan cerita tersebut sangat efektif untuk mengancurkan keinginan berontak awam jawa terhadap penguasanya. Bagaimana mungkin awam jawa akan berani berontak bila Tuhan dan Jin bahkan bersekutu dibelakang penguasa. Dengan gelarnya yang panotogomo Panembahan Senapati telah berhasil memikat Tuhan.

Mataram Hindu

Peninggalan terbesar kerajaan Mataram-Hindu yang sampai sekarang tidak bisa dinilai harganya adalah toleransi antar umat beragama. Diperintah oleh dua wangsa yang berbeda wangsa Sanjaya yang Hindu dan wangsa Syailendra yang Budha perbedaan keyakinan tak membuat keduanya saling bunuh. Keduanya berkuasa dan berdampingan secara damai.

Berbicara tentang Mataram kuno tidak akan afdol tanpa membicarakan Borobudur. Borobudur memberikan kepada kita potret yang utuh akan kemajuan arsitektur di masa itu. Borobudur sebagai sebuah nama mungkin tak akan ditemui padanannya sekarang ini. Tetapi dulu nama itu diyakini berasal dari kata Sambharabhudhara, yang kurang lebihnya berarti “gunung” (bhudara) dengan lerengnya yang berteras. Atau lengkapnya Bhumisambharabhuddhara yang berarti “Gunung himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Bodhisattva“.

Arti yang lebih dekat juga bisa di runut dari kata “bara” dan “beduhur”. Bara berasal dari kata vihara, atau menurut bahasa sanksekerta bara berarti kompleks candi atau biara dan beduhur berarti “tinggi”. Para ahli boleh bersilang pendapat soal nama itu, tetapi menurut etimologi rakyat borobudur berasal dari lafal “para Budha” yang karena sering terpelesetnya lidah Jawa kata itu berubah menjadi borobudur.

Bentuk dasar candi berukuran 123×123 meter, bertingkat 6 berbentuk bujur sangkar dan 3 tingkat ke atasnya berbentuk lingkaran dan ditutup dengan sebuah stupa besar. Bahan dasar batu diambil dari sungai, dipahat, dibentuk kubus dengan sistem kunci coakan dan sengkedan. Sebagai struktur sebuah bukit –katanya puncak bukit– menjadi tempat penyusunan batu-batu tersebut. Total batu struktur dan termasuk reliefnya –seluas 2.500m2– menghabiskan sekitar 55.000m3. Sistem drainase menjadi penting, terutama saat musim hujan di mana curah hujan daerah tropis sangat tinggi, tetesan air hujan bisa mengalir deras dari puncak hingga ke bawah. Di tiap tingkat, di setiap sudutnya dibuat 100 lubang air dalam bentuk patung-patung yang unik.

Borobudur menjadi di kenal dijaman kontemporer tak lepas dari peran Raffess. Tahun 1814 ketika tanah Jawa masih berupa perawan molek yang diperebutkan Inggris dan Belanda, Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles yang saat itu kebetulan berkunjung ke Semarang mendapat laporan ada bukit yang penuh dengan relief.

Raffles segera mengirim H.C. Cornelius ke Borobudur untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita tersebut. Pada saat itu, yang kelihatan hanyalah sebuah bukit yang tertutup oleh semak belukar dan diatas bukit terlihat adanya susunan-susunan batu candi yang berserakan.

Pekerjaan membersihkan dengan menebang pohon-pohon, membakar semak belukar, menyingkirkan tanah dari atas bukit, pekerjaan pembersihan itu memakan waktu yang sangat lama. Baru dalam tahun 1834, atas usaha Residen Kedu, candinya dapat di tampakkan seluruhnya yang menjulang sampai ke atas puncak bukit.

Tapi jauh sebelum itu, ditempat yang persis sama Samaratungga anak Indra dari wangsa Syalendra memerintahkan kepada arsiteknya, Gunadarma untuk membangun sebuah candi besar candi yang kelak akan mengabadikan namanya dan nama wangsanya. Ya..Samaratungga keturunan Syailendra si pembuat candi yang agung.

Yang akan di buat oleh Gunadharma bukan hanya sebuah candi raksasa umtuk ritual-ritual Mahayana saja, tetapi juga sebuah maha kitab dari batu yang akan membuat untuk membuat ajaran-ajaran Buddha tersajikan secara visual, dan di pelajari sepanjang masa. Selain itu, Gunadarma juga ingin memberi sugesti tentang kehadiran Budha Sakyamuni di Borobudur karena hanya dengan kesaktiannya orang baru mampu melihat bangunan ini.

Ya.. Gunadharma dengan bijak menggambarkan secara jelas sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Sebagai sebuah tingkat paling dasar sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu sekaligus digunakan oleh Gunadarma untuk memperkuat konstruksi candi. Disini Gunadarma sekaligus juga menempatkan 120 panel cerita Kammawibhangga.

Empat lantai diatasnya Rupadhatu, dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Inilah Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Lantainya sudah berbentuk lingkaran dan dipralambangkan sebagai alam atas. di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.

Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang bak kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Polos tanpa lubang-lubang. Didalamnya oleh Gunadarma diletakanlah penggambaran sang Adibuddha.

Membandingkan dua peninggalan dari kedua Mataram itu tidaklah lengkap bila tidak ditambah dengan satu peninggalan lagi dari Mataram-Islam, yakni penjajahan kolonial. Setelah Panembahan Senopati mangkat penggantinya adalah Mas Jolang alias Panembahan Hanyokrowati yang kemudian mati ketika sedang berburu di Krapyak. Tahta beralih tangan anak ke empatnya Adipati Martoputra yang ditenggarai gila. Hingga tak lama kemudian tahta diambil alih oleh Mas Rangsang anak tertua Hanyokrowati. Mas Rangsang ini lah yang kemudian di kenal sebagai Sultan Agung Hanyokrowati. Bila Mas Rangsang ini dikenal dengan keberaniannya melawan VOC maka penggantinya Amangkurat I dan Amamngkurat II tak lebih dari para penjilat pantat VOC yang patuh. Di tangan merekalah kemudian Mataram diserahkan kepada VOC. Hingga akhirnya perjanjian Giyanti akhirnya menamatkan riwayat Mataram dengan dipecahnya Mataram menjadi dua negara kecil.

Kasunanan di Surakarta dan Kasultanan di Jogja, kasunanan dan Kasultanan bukanlah kerajaan dalam arti yang sesungguhnya karena secara militer dan politik mereka mandul dan lebih banyak di gunakan sebagai kepanjangan tangan Hindia Belanda. Melalui berbagai macam kapitulasi pemimpinnya akhirnya dua kerajaan tersebut tak lebih dari sekedar pertunjukan akan romantisme kebesaran jawa dimasa lalu. Dan rakyatnya di umpankan kepada perihnya imperialisme dan kapitalisme dikemudian hari sampai sekarang.

Warisan terbesar Mataram-Islam adalah sistem pemerintahan yang feodal yang dibelakang hari kemudian di praktekan oleh penguasa jawa kontemporer seperti Sukarno dan Suharto. Mereka berdua menerapkan sistem patron-klien dalam hirarki pemerintahannya. Bahkan Suharto mencontoh persis kelakuan Panembahan Senopati yang gemar membangun mitos-mitos di sekitarnya.

http://persinggahan.wordpress.com/20...k-dua-mataram/

Ki Ageng Selo

diambil dari website :http://www.grobogan.go.id/cerita_ki_ageng_selo.htm

Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikimpoikan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkimpoian antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kimpoi dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .
Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa .
Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35 - 36 ) .
Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :
Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ). Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.
Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.
Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .
… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun - turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).
Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kimpoi dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .
Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja - raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat .
Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang .
Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi .
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut .
Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam - makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam - makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata - rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.

Ki Ageng Mangir Kena “Apus Krama”

KETIKA Panembahan Senopati menjadi raja pertama di Mataram, di Mangir terdapat seorang sakti bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya. Memiliki tombak ampuh bernama Baruklinting. Dikabarkan, Ki Ageng Mangir akan memberontak terhadap Mataram. Berkali-kali diminta menghadap Mataram, tak ditanggapi. Khawatir terjadi pemberontakan, Panembahan Senopati meminta nasihat Ki Juru Mertani. Siasat yang akan dipakai adalah “apus karma” atau tipu daya halus.

Karena Ki Ageng Mangir gemar akan tarian dan gendhing-gendhing, Puteri Pembayun (anak P Senopati) diutus ke Mangir menyamar sebagai ledhek. Bila terpikat lalu menikahi Puteri Pembayun, otomatis Ki Ageng Mangir menjadi menantu dan harus sowan ke Mataram.

Demi kepentingan negara, Puteri Pembayun memenuhi tugas itu. Setelah siap dengan berbagai peralatan dan pengiringnya, misi apus krama itu pun berangkat. Ki Ageng Mangir pun tertarik pada keindahan tarian Puteri Pembayun yang cantik. Singkat kata, ledhek itu pun diperisteri Ki Ageng Mangir.

Tak begitu lama, Puteri Pembayun hamil. Teringat pada tujuan misi, Puteri Pembayun berterus terang sebagai anak Panembahan Senopati. Ki Ageng Mangir terkejut. Sebagai menantu, terpaksa harus menghadap mertua. Acara penerimaan Ki Ageng mangir di Keraton Mataram, lalu diatur. Sebelum rombongan tiba, Ki Juru Mertani lalu membuat tarub amat rendah. Ketika sampai di Mataram, Ki Ageng Mangir sempat terperanjat melihat pasangan tarub itu. Tombaknya lalu ditinggal di luar.

Tiba saatnya Ki Ageng Mangir melakukan sungkem, tiba-tiba Panembahan Senopati memegang kepala Ki Ageng Mangir dan dihantamkan pada batu tempat duduk Panembahan yang bernama Sela Gilang. Kepala Ki Ageng Mangir hancur dan tewas seketika. Jenazahnya dikubur di makam kerabat Mataram Kotagede. Tapi separuh badan ditaruh di luar, separuh lagi ada di dalam. Sebagai peringatan, meski Ki Ageng Mangir menantu, tapi juga musuh. Tempat tinggal Ki Ageng Mangir sekarang dikenal dengan Mangiran, masuk kecamatan Srandakan, Bantul, persis di timur Kali Progo. Dulu, sering terlihat cahaya terang di Mangiran, tapi setelah didekati tak kelihatan.(moel/mol)
http://www.metrobalikpapan.co.id/ber...i=284&id=76156

* Kyai Pleret batal ‘berhadapan’ dengan Kyai Baruklinting

Seperti berbagai dusun di Yogyakarta, Ganjuran tidak lepas dari peranan para cikal bakalnya. Dusun ini dulu terkenal di seputar Yogyakarta karena terdapat pabrik gula milik Belanda, dinamai Pabrik Gula Ganjuran Gondang Lipuro. Didirikan oleh Joseph Schmutzer dan Julius Schmutzer sekitar tahun 1912 yang secara otomatis telah membuka dusun Ganjuran menjadi semacam wilayah industri yang berbasis pertanian. Tapi jauh sebelum itu, Ganjuran kental dengan sejarah awal berdirinya Keraton Mataram.

GONDANG LIPURO adalah pabrik gula di Ganjuran yang pernah mengalami masa keemasan pada tahun 1918-1930. Saat itu, atas inisiatif Schmutzer bersaudara dapat didirikan 12 sekolahan di sekitar pabrik gula Ganjuran.

Selain itu dia juga mendirikan gereja yang kemudian terkenal dengan nama Gereja Candi Hati Kudus Yesus. Tidak mau ketinggalan istri Julius Schmutzer pun mendirikan poliklinik yang semula untuk intern pabrik gula, dalam perkembangannya mengilhami berdirinya rumah sakit umum yang sekarang terkenal dengan nama Rumah Sakit Umum Panti Rapih.

Pada clash dengan kolonial Belanda pabrik gula ini turut dibumihanguskan gerilyawan Indonesai agar tidak ditempati oleh Belanda kembali.

Jauh sebelum Schmutzer datang ke Ganjuran, kawasan ini merupakan bagian dari Alas Mentaok. Keberadaannya tidak terpisahkan dengan suatu wilayah yang dalam Babad Tanah Jawa dikenal dengan nama Lipura.

Di Lipura inilah Panembahan Senopati pernah melakukan laku spiritual dan mendapatkan wisik untuk mendirikan pusat Keraton Mataram. Tempat Panembahan Senopati teteki ini sekarang terkenal dengan peninggalannya yang berupa batu berbentuk kotak yang sering disebut Watu Gilang. Letak Watu Gilang ini berada di Dusun Janggan, Gilangharjo, Bambanglipuro, Bantul.



SEMULA Panembahan Senopati pernah punya niat mendirikan pusat pemerintahan Keraton Mataram di tempat dia teteki. Akan tetapi letak dusun Janggan ini tidak terlalu jauh dengan wilayah Mangir. Oleh karena itu Ki Ageng Pemanahan menasihati Panembahan Senopati agar jangan mendirikan keraton di Gilangharjo.

Jika hal ini dilakukan, maka Panembahan Senopati akan selalu berhadapan dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya. Sekalipun Panembahan Senopati memiliki senjata sakti berupa tombak bernama Kyai Ageng Pleret, tetapi Ki Ageng Mangir pun memiliki senjata sakti yang juga berupa tombak bernama Kyai Baruklinting.

Sedigdaya apa pun orang, tidak akan kuat menerima tusukan tombak Kyai Baruklinting. Demikian Sunan Kalijaga dalam Babad Mangir pernah menyatakan hal tersebut. Untuk itulah Panembahan Senopati mengurungkan niatnya untuk mendirikan keraton di wilayah ini. Dengan demikian Kyai Pleret batal berhadapan dengan Kyai Barklinting

Menurut sumber setempat Ganjuran juga pernah menjadi tempat pengasingan pasangan kekasih Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan Rara Pembayun. Peristiwa percintaan semacam Romeo-Juliet ini dipercaya mengilhami Keraton Mataram untuk menciptakan sebuah gending sakral yang dinamakan gending Kala Ganjur.

Istilah Kala Ganjur ini dipercaya pula menjadi cikal bakal penamaan dusun Ganjuran yang secara administratif terletak di Kalurahan Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.



SELAIN itu istilah kala sering diartikan sebagai tali atau pengikat dan ganjur diartikan sebagai inti atau dasar. Inti yang dimaksudkan di sini adalah inti kehidupan manusia dalam menempuh hidup bersama.

Jadi secara utuh Kala Ganjur berarti tali pengikat dasar manusia dalam mengarungi kehidupan bersama dengan dasar cinta. Tak aneh bila kemudian gending sering digunakan mengiringi kirab pengantin dalam masyarakat Jawa.

Di balik perseteruan Mangir-Senopati ini di belakangnya ternyata masih menyisakan kelembutan akan kasih. Artinya, permusuhan politik ini sekalipun harus mengorbankan nyawa dan wilayah Mangir, namun tidak menghapus kecintaan trah Mataram pada keturunan dan kerabatnya. Penciptaan gending oleh pihak keraton tersebut dapat diduga menjadi salah satu tanda cinta bagi sepasang kekasih yang terpaksa dikorbankan demi kepentingan politik Mataram. Keberadaan gending Kala Ganjur itu sendiri sampai sekarang masih abadi seabadi percintaan Mangir-Pembayun yang pernah diasingkan di Ganjuran.

Kecuali versi-versi di atas masih ada versi lain menyangkut latar belakang keberadaan Dusun Ganjuran ini. Menurut Bapak dan Ibu Madiyo Utomo (84) yang menjadi jurukunci makam Ganjuran, dusun Ganjuran terjadi atau ada karena pada mulanya ada seorang tetua dusun yang bernama Kyai dan Nyai Ganjur. Dalam pengucapan masyarakat setempat Kyai dan Nyai Ganjur ini sering disebut pula dengan nama Kyai dan Nyai Jo Ganjur. Mungkin nama Jo itu merupakan kependekan dari nama Joyo.(Albes/Jbo)-b

Legenda Bumi Mataram-Jogja

EGENDA / CERITA / MITOS
Pada jaman dahulu Kerajaan Mataram belum jaya, Panembahan Senopati yang mempunyai nama kecil Raden Suta Wijaya dikenal sebagi seorang pemuda tampan, gagah perwira. Pada suatu hari ia mengucapkan keinginannya kepada ayah angkatnya yaitu Ki Juru Mertani untuk bertapa, dipilihlah Pantai Selatan untuk menjalani laku prihatin dan bertapa ditemani oleh ayah angkatnya, berapa hari, bulan atau tahun tidak dihiraukan. Pada suatu hari Ki Juru Mertani melihat sinar biru menukik turun ke dalam laut dan selanjutnya hilang tenggelam. Kemudian Ki Juru Mertani menoleh ke arah Raden Sutawijaya dan berkata “Mari kita bersihkan diri kita Raden”, Raden Sutawijaya setuju, kemudian mencuci kaki dan tangan serta menghilangkan keringat yang menempel di muka, setelah itu kemudian duduk bersila dan menjalankan semedi.
Dalam semedinya itu Raden Sutawijaya merasa ditemui dan telah berdiri seorang wanita cantik jelita yang ternyata Kanjeng Ratu Kidul. Beliau menyapa dan bertanya, “kenapa kamu melakukan semedi ditempat yang sunyi”, Sutawijaya menjawab dengan jelas bahwa “aku pingin menjadi raja”, Ratu Kidul mengangguk pertanda mengerti dengan jawaban tersebut. Beliau memberi saran “akan tercapai yang kau inginkan asalkan kamu mau menjadi suamiku dan memakan telur ini”. Diterimanya tawaran tersebut oleh Sutawijaya dengan syarat akan selalu membantu dan menjaga keselamatan kawula mataram. Setelah semuanya sepakat, maka Ratu Kidul kemudian menghilang dan Sutawijaya terbangun dan menceritakan kepada Ki Juru Mertani. Tetapi percakapan tersebut di dengar dan dilihat oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Ditengah perjalanan pulang Sutawijaya dan Ki Juru Mertani ditemui oleh seseorang yang tidak lain adalah Kanjeng Sunan Kalijaga menyarankan agar Raden Sutawijaya tidak memakan telur pemberian Ratu Kidul. Setelah sampai di rumah telur tersebut diberikan kepada abdi juru taman untuk memakannya saat itulah juru taman jadi raksasa yang sangat besar. Melihat kejadian itu Raden Sutawijaya dan Ki Juru Mertani terkejut dan keheran-heranan, sebab perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga adalah benar dan tidak merugikan dirinya, kemudian Ki Juru taman yang telah berubah menjadi raksasa diperintahkan untuk menjaga Gunung Merapi dengan nama Ki Sapu Jagad atau Panembahan Prabu Jagad. Semenjak itu Gunung Merapi aman-aman saja walaupun ada bencana baik lahar panas maupun lahar dingin, kawula Mataram dapat terhindar dari bencana tersebut. (Sumber: Inventarisasi Upacara Adat dan Tradisi Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2003, Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sleman)

Alas Mentaok

Bait 01

Tertulis dalam babad tanah Jawi, dalam ingatan orangtua

tentang Prabu Brawijaya Sang Kertabumi, raja di Majapahit

bahwa ia memperistri Putri Wandan, dan memperoleh putra

tampan berwibawa rupanya, ia disebut Raden Bondan Kejawan

Saat ia dilahirkan Majapahit telah mendekati kehancurannya

karena itu dititipkanlah ia kepada Ki Juru Sabin

apalagi karena ibundanyapun meninggal sewaktu melahirkan

Setelah mencapai usia remaja Bondan Kejawan dibawa ke Tarub

untuk dibina jiwa dan raganya oleh Ki Ageng Tarub

ketika disanalah ia berganti nama menjadi Raden Lembu Peteng



Bait 02

Adapun Ki Ageng Tarub itu sebenarnya putra Dewi Rasawulan

yaitu putri tumenggung Tuban Wilatikta yang perkasa

ia pun adik Raden Said, yang disebut juga Sunan Kalijaga

Ki Ageng itu menikah dengan Dewi Nawang Wulan

dan menurunkan seorang anak wanita bernama Dewi Nawangsih

maka dengan Dewi Nawangsihlah Bondan Kejawan menikah

dan berputra Raden Getas Pandawa, yang lalu menurunkan

Ki Ageng Sela, abdi setia, prajurit di kesultanan Demak

Ia cakap mengabdi, bahkan turut perang melawan Majapahit

tetapi setelah tua kembalilah ia ke desanya

di sana menulis sebuah serat pepali untuk anak cucu

[Back]



Bait 03

Dari putri Sumedang Ki Ageng sela menurunkan dua orang anak

yaitu Nyi Ageng Saba dan Ki Ageng Ngenis ing Nglawean

Ki Ageng Ngenis adalah pengabdi dan pendukung Mas Karebet

bahkan hingga naik takhta dengan gelar Sultan Hadiwijaya

Karena jasa-jasanya dari raja Pajang itu memperoleh dukuh Perdikan

yaitu Nglaweyan di mana ia kemudian menetap hingga mangkatnya

Putra Ki Ageng, yang bernama Ki Gede Pemanahan

menjadi abdi Sultan Pajang, dan diangkat menjadi kakak

Karena kasihnya ia selalu membela junjungannya

hingga berani menghadapi Arya Penangsang dari Jipang

seorang musuh Pajang yang sombong dan angkuh sikapnya

karena dukungan Ki Juru Mertani, Ki Penjawi dan Sutawijaya

berhasillah Ki Gede Pemanahan membinasakan Arya Penangsang

yang gugur dalam kemarahan di aliran Bengawan Sore

Karena jasanya itu maka Sultan Pajang menghadiahkan

Alas Mentaok dan daerah Kadipaten Pati

kepada Pemanahan dan kepada Penjawi.



Bait 04

Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat

berangkatlah rombongan Ki Gede ke Alas Mataram

di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gede Pemanahan

Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela

Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir

yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna

Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu

Sementara Ki Gede bertirakat di makam Ki Ageng Pengging

Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak

Di mana rombongan dijamu oleh Ki gede Karang Lo

Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir

hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gede

[Back]



Bait 05

Semakin lama negeripun semakin berkembang jua

malah dilengkapi keraton yang selesai dibangun tahun 1578

Di sanalah Ki Gede Pemanahan memerintah, sebagai bawahan Pajang

Hingga akhirnya mangkat dipanggil ke hadirat Sang Pencipta

serta dimakamkan di halaman mesjid Agung di Kuto Gede

pada tahun ber-candrasengkala "Lunga trus rumpaking bala"

Maka Ki Gede Pemanahan meninggalkan tujuh orang anak:

Pertama Mas Danang, yang disebut pula Sutawijaya

dan sering dipanggil Raden Ngabehi Lor ing Pasar

kedua Raden Jambu, ketiga Raden Santri

keempat Raden Kedawung, kelima Raden Tompe

keenam istri Arya Dadap Tulis, ketujuh istri Tumenggung Mayang



Bait 06

Tersebutlah Sutawijaya ditunjuk Sultan Pajang

menjadi pengganti ayahnya, dengan gelar Senopati Ing Alaga

Ia adalah pemimpin yang cakap, dan prajurit yang gagah perkasa

tegasnya pantas ia menjadi raja, sebagaimana yang dicita-citakannya

Sewaktu bertirakat di batu besar Lipura ia mendapat wahyu

bahwa akan menjadi raja, yang menurunkan Wangsa Agung

diperingati oleh paman Ki Martani, ia menyusuri kali Opak ke arah timur

lalu bertapa di laut selatan, yaitu di tepi ombak yang menderu

di tempat bernama Sawangan, di wilayah Kanjeng Ratu Kidul

Sementara itu Ki Juru Martanipun memberinya dukungan

dengan menjalankan prihatin tapa, di lereng gunung Merapi

[Back]



Bait 07

Setelah itu bersiaplah mereka mempersiapkan kebangunan Mataram

menjawab panggilan sejarah, memenuhi amanat leluhur

Segala adipati, penguasa, dan tokoh di sekitar Mataram

ditundukannya untuk menjadi pendukung usahanya

Ki Ageng Mangir, adipati Kulon Progo, yang ingin merdeka

dibinasakannya, walau ia adalah seorang menantu

yaitu suami Kanjeng Ratu Pembayun, putri Senopati

yang suka supaya ayahandanya dan suaminya mau bersatu

Seterusnya Senopatipun memperkuat semua pasukannya

juga membangun parit dan benteng, seakan menantang Pajang

Setelah itu ditemukannya berpuluh dan beratus halaman

tempat dituliskannya seribu satu malam alasan

untuk tidak datang ke Pajang, dan bersembah kepada raja

Marahlah Adiwijaya, Pajang menyerbu, pertempuran pecah di Prambanan

gagah orang Mataram berjuang, maka Pajangpun mengundurkan diri

Pada perjalanan pulang Sultan Adiwijaya jatuh sakit

dan sangat parah keadaannya sewaktu tiba di kota

penuh hormat dan kasih Senopati mengiringkan perjalanannya

malah menyuruh letakkan serumpun kembalian cinta

berupa kembang selasih, yang diletakkan di gerbang istana

akhirnya mangkatlah Sri Sultan, terbukalah jalan bagi Mataram

Maka kemenangan Mataram itu terjadi pada tahun Saka 1508

dan diperingati dengan Candrasengkala pada gerbang mesjid Agung



Bait 08

Setelah itu mulailah Sang Panembahan Senopati berperang

untuk menaklukkan daerah-daerah di tanah Jawa

ia pergi bertempur melawan adipati-adipati di timur

bahkan pernah pula berlaga melawan Pati

berperang melawan Pragola Pertama, putra Ki Penjawi

demikianlah hidupnya penuh perjuangan, hingga ia mangkat

pada tahun 1601 di Bale Kajenar yang disebut juga Gedhong Kuning

seperti ayahandanya iapun dimakamkan di halaman mesjid Agung

di ibukota praja Mataram, negeri para perwira

[Back]

GKR Pembayun Menziarahi Ratu Pembayun

WAJAH Gusti Kangjeng Ratu Pembayun nampak berseri-seri, ketika akhirnya makam yang dicarinya ketemu. H Nieko, sang calon suami pun nampak lega. Dengan bersemangat, Gusti Pembayun bercerita kepada Nieko, makam siapa yang mereka kunjungi Kamis (9/5) sore itu. Sejak berangkat dari Keraton Kilen, Gusti Pembayun dan H Nieko (KPH Wironegoro) berniat akan menziarahi leluhur yang namanya mereka pakai berdua, untuk mohon doa restu.
"Ini makam Kangjeng Ratu Pembayun," kata puteri sulung HB X.
"Lalu yang di sampingnya ini siapa?," tanya Nieko.
"Ini abdi kinasihnya."
"Apa?"
"Abdi terdekatnya."
"Oh, sekretaris pribadinya?"
"Ajudan," jelas Gusti Pembayun HB X.
"Oh, ajudannya," sambung Nieko lagi.
Sang Sekar Kedhaton kemudian menjelaskan siapa Ratu Pembayun.
"Ratu Pembayun itu puteri sulung Panembahan Senopati. Suaminya adalah Ki Ageng Mangir, yang tadi makamnya juga kita sowani di Kotagede. Ki Ageng Mangir adalah musuh Panembahan Senopati. Nah, Ratu Pembayun ini diutus menjadi ledhek (pena- ri) untuk memikat Ki Ageng Mangir, agar Ki Ageng Mangir bisa ditaklukkan. Setelah bisa dikalahkan, Ratu Pembayun istri Ki Ageng Mangir kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo yang mencetuskan ide, bagaimana menaklukkan Ki Ageng Mangir. Beliau dimakamkan di sini," tutur Gusti Pembayun HB X.
"Tapi, kamu nggak perlu seperti itu kan?," ucap Nieko sambil menyusul duduk di samping Gusti Pembayun. Mereka berdua pun kemudian khusuk berdoa.

***

MAKAM Kangjeng Ratu Pembayun, putri sulung Panembahan Senopati terletak di kompleks makam Ki Ageng Karanglo, di Dusun Karangturi, Banguntapan, Bantul. Makam ini terletak sekitar dua kilometer di sebelah timur makam raja-raja Mataram di Kotagede.
Amat berbeda dengan kompleks makam raja-raja di Kotagede maupun Imogiri yang nampak terawat rapi, kompleks makam ini sederhana. Bahkan menyatu dengan pemakaman umum.
Di deretan paling atas, hanya ada dua nisan, yang disatukan oleh sebidang lantai keramik putih. Makam Ratu Pembayun ada di sebelah barat dan makam abdi kinasihnya Nyi Aditjara di sebelah timur agak ke bawah. Kedua nisan ditutupi kain mori putih, pertanda dikeramatkan oleh para peziarah. Di bawah kedua makam ini terdapat beberapa makam tua, terlihat dari ukuran nisannya yang ekstra panjang dan besar.
Ditilik dari ukuran nisan Ratu Pembayun dan abdinya, makam tersebut belum lama dipugar.
"Rumiyin Kangjeng Ratu Pembayun boten kersa dipun sekar," tutur Ny Among Arja Sumbaga, abdi dalem Keraton Kilen yang menyertai ziarah. ("Dulu, Ratu Pembayun tidak mau dipasangi nisan.")
Juru kunci makam Ki Ageng Karanglo, Panewu Surakso Ismail kepada Bernas menuturkan, berdasarkan kisah yang ia terima dari leluhurnya yang juga jadi juru kunci makam, Ki Ageng Karanglo adalah salah satu penasehat Panembahan Senopati.
Ketika Panembahan Senopati kesulitan menaklukkan Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Karanglo mempunyai gagasan strategi mengalahkan Mangir. Caranya, putri sulung Senopati diutus menjadi ledhek (penari jalanan) untuk memikat Mangir. Karena saling jatuh cinta, keduanya akhirnya menikah.
Tak ada alasan bagi Ki Ageng Mangir untuk tidak sungkem kepada mertuanya, yang tidak lain musuh besarnya. Saat Ki Ageng Mangir tewas di depan Panembahan Senopati, Ratu Pembayun dalam keadaan mengandung.
Menurut Surakso Ismail, Panembahan Senopati bermaksud menghabisi pula keturunan Ki Ageng Mangir. Namun, oleh Ki Ageng Karanglo niat ini berhasil dicegah, karena membunuh janin berarti mengakhiri hidup Ratu Pembayun.
Pesan Panembahan Senopati, bila si anak lahir kelak, juga harus dihabisi agar tidak menjadi musuh dalam keluarga. Ak- hirnya, Ratu Pembayun dijadikan triman (dikeluarkan dari Keraton, diberikan kepada seseorang untuk diasuh atau dijadi- kan istri), dan diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo.
"Ratu Pembayun kemudian dijodohkan dengan putera Ki Ageng Karanglo dalam keadaan mengandung," tutur Surakso Ismail.

***

KISAH Ratu Pembayun hanya sampai di situ. Menurut Surakso Ismail, sejarahnya dihapus agar musuh Kerajaan Mataram benar- benar tuntas.
Seorang abdi dalem Makam Kotagede kepada Bernas menu- turkan, makam Ratu Pembayun memang berada di Karanglo. Namun, itu hanya tipu muslihat saja. Ada muatan politisnya. Di situ dibuatkan makam dan diformalkan sebagai makam Ratu Pembayun. Sedang Ratu Pembayun sendiri, pindah tempat dan berganti nama, hingga tak ada jejaknya.
Surakso Ismail sendiri tak bisa bertutur, kapan Ratu Pembayun meninggal dan di mana anak yang dikandungnya.
"Yang saya tahu, istri dan anak-anak Ki Ageng Karanglo dimakamkan di Prambanan," ujar Surakso yang tiap Kamis dan Jumat membuka pintu makam untuk memberi kesempatan siapa pun untuk ziarah ke makam Ki Ageng Karanglo dan Ratu Pembayun.
Ziarah yang dilakukan GKR Pembayun dan H Nieko Messa Yudha, MSc, diawali dari makam Kotagede. Nisan pertama yang diziarahi adalah makam Ki Ageng Pemanahan. Kemudian berturut- turut Panembahan Senopati, Nyi Ageng Nis, Panembahan Djajaprana, Sultan Hadiwidjaja, Ki Juru Mertani, Kangjeng Ratu Kalinyamat dan Kangjeng Ratu Retna Dumilah (keduanya permaisuri Panembahan Senopati), Sri Sultan HB II serta makam- makam lainnya. Makam terakhir yang ditaburi bunga adalah makam Ki Ageng Mangir, yang terbelah dinding makam.
Dari Kotagede, dua sejoli ini melanjutkan ziarah ke makam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kasultanagungan. Berturut-turut mereka menziarahi kompleks makam Kaswargan, tempat bersemayamnya Sri Sultan HB I, dan HB III. Kompleks makam Peziarahan tempat beristirahatnya Sri Sultan HB IV, HB V dan HB VI serta Astana Saptarengga, tempat dimakamkannya Sri Sultan HB VII, HB VIII dan HB IX, termasuk nenek GKR Pembayun KRAy Windyaningrum HB IX.
Sebelum ziarah ke makam Ratu Pembayun, sepasang calon pengantin ini berziarah ke makam kakek-nenek buyutnya (orang tua KRAy Windyaningrum), RW Poerwowinoto dan RAy Poerwowinoto.
Jumat hari ini, mereka masih akan melanjutkan ziarah, antara lain ke TMP Kusumanegara Yogyakarta, tempat almarhum Kolonel R Soepono, kakek GKR Pembayun dimakamkan. (putut w)

Raden Ronggo si Pendekar Takabur

Kisah dari DI Jogyakarta

Kisah ini mengajarkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Bekalilah diri dengan ilmu yang banyak. Tapi jangan lupakan satu hal, dengan ilmu itu janganlah takabur dan sombong. Sebab setinggi-tingginya ilmu yang dipunyai, masih ada yang lebih tinggi lagi. Seorang yang berilmu hendaknya mengamalkan ajaran padi: kian berisi kian merunduk. Dengan begitu ilmu bisa bermanfaat bagi orang lain..

Tubuhnya kekar dengan blangkon melingkar di kepalanya. Sebagai putra Panembahan Senapati, ia biasa dipanggil Raden Ronggo. Ia mempunyai kesaktian berlaga pantang menggunakan senjata. Raden Ronggo senang mengembara untuk belajar kesaktian, namun ia seringkali menggunakan kesaktiannya pada hal yang tak berguna, kesaktiannya hanya ditunjukkan pada orang bahwa dirinya sebagai orang yang hebat. Sebagai lelaki yang amat tampan, ia juga disukai banyak perempuan. Namun godaan setiap perempuan ditampiknya. Baginya perempuan hanya batu penghalang meraih kesaktian yang lebih tinggi.

Siang itu, Ronggo berjalan-jalan menyusuri jalanan yang banyak ditumbuhi pohon besar. Namun betapa terkejutnya orang-orang ketika tiba-tiba saja Raden Ronggo mengamuk. Dengan wajah merah padam, dicabutnya pohon besar di dekatnya. Dan pohon besar yang ditanam kakeknya, Sultan Adiwijaya, itu pun tumbang. Orang-orang berdatangan mendengar dentaman kayu besar itu.

“Arya Jipang telah menelusup ke tubuh Raden,” gumam sebagian orang yang hadir.
“Siapa yang bilang saya kerasukan??” rupanya Raden Ronggo mendengar gumaman itu.
Ditanya demikian, menunduklah orang-orang. Raden Ronggo busungkan dada, kepala mendongak. Panembahan Senapati segera menyuruh seorang prajuritnya untuk memanggil Ronggo di dekat pohon itu, kemudian sang prajurit pun menyampaikan titah Senapati.

Bukannya nurut, malah Ronggo mengadu kepalanya dengan kepala prajurit utusan ayahnya itu hingga kepala prajurit itu nyaris pecah. Lelaki tampan itu pun segera masuk ke Panembahan menghadap ayahnya.
“Ananda yang hebat dan sakti! Sebaiknya Ananda tidak selalu berbuat demikian. Orang sakti itu bukan berarti selalu memamerkan kesaktiannya. Dan kesaktian itu tidak untuk disalahgunakan,” kata Panembahan Senapati bijaksana.

Namun dinasehati demikian bukannya Raden Ronggo luruh. Justru sebaliknya. Ditanggapinya nasehat itu dengan hati yang marah.

“Sudah beberapa kali Ananda pamer ilmu. Pertama ketika datang seorang utusan dari Kerajaan Banten, Ananda menghajar mereka. Ketika Ananda berada di hutan Mentaok, Ananda menangkap harimau sendirian tanpa senjata. Ramanda suka punya anak yang sakti, tapi jika tidak disalahgunakan.”
“Tapi????” sahut Raden Ronggo sembari menunduk.

“Bila itu terus berlanjut, dapat membahayakan diri Ananda. Ananda bisa takabur,” Panembahan Senapati memotong.

“Di dunia ini tak ada orang yang sakti. Kau lihat gunung?” ia menunjuk keluar ke arah Gunung Merapi yang ujungnya dikelilingi asap. Ronggo mengangkat kepalanya.

“Puncak yang tertinggi ternyata bukan yang tertinggi,” lanjut Senapati.
Muka Raden Ronggo kian merah. Ia menunduk di depan ayahnya. Kemudian Senapati menjulurkan telunjuknya ke hadapan Ronggo.

“Kau lihat telunjuk ini,” Senapati mengajukan telunjuknya. “Jika kau orang sakti, patahkan telunjuk Ramanda,” tantangnya.

Kemudian Ronggo cepat-cepat memegang telunjuk itu. Matanya menatap wajah Senopati. Keduanya saling tatap. Ronggo berusaha mematahkan telunjuk itu. Namun sia-sia. Ia pun menunduk malu di hadapan Ramanda.
“Maafkan Ananda, Ramanda,” katanya kemudian sambil menghaturkan sembah sungkem. Senapati tersenyum. Namun lelaki perkasa itu masih ragu, apakah anaknya benar-benar memohon ampun dengan ketulusan hati atau hanya pura-pura belaka? Maka disuruhnya Raden Ronggo ke tempat sepi untuk bertapa. “Di sana Ananda bisa merenungkan nasehat-nasehat Ramanda!”

Lelaki belia itu tak menyahut. Kepalanya terus menunduk. Mukanya mengernyit seolah menampakkan kekecewaan atas dirinya dan Ramandanya yang telah mempermalukannya. Dengan nada lebih keras, Panembahan Senapati menyuruh anaknya itu pergi ke Kadipaten Pati. Ronggo meminta maaf kepada Ramanda. Ia pegang ibu jari kakinya. Kemudian Senapati mengibaskan kakinya. Terpentallah Ronggo hingga keluar Panembahan. Raden Ronggo meringis. Punggungnya seperti remuk. Ronggo tak menyangka bila Ramandanya bisa sekeras itu kepadanya.

Karena tak ada pilihan lain, Ronggo pun berkemas ke Pati di mana Adipati Wasis Jayakusuma tinggal. Beberapa prajurit menyiapkan kuda untuknya.

Setelah beberapa hari berkuda, sampailah Reden Ronggo di Kadipaten Pati. Hari masih pagi. Ia berjalan gontai hendak menemui Adipati setelah menambatkan kekang kudanya di sebuah pohon dekat Kadipaten. Dilihatnya sebuah tombak disandarkan di dinding rumah yang berlukis seekor harimau.
“Apakah di dekat tempat ini ada orang yang sakti?” seru Raden Ronggo.

Seruan itu bersahut. Lalu tangan kanan Raden Ronggo menghampiri tombak itu dan menimang-nimangnya sejenak. Bersamaan dengan itu seorang prajurit lewat. Tanpa ampun, tombak di tangan Raden Ronggo bergerak cepat dan dihunjamkannya di dadanya sendiri. Prajurit tadi terkesiap karena tombak itu tak sedikit pun melukai tubuh Raden Ronggo. Malahan, ujung tombak itu jadi tumpul.

“Apakah di tempat ini ada yang sakti?” serunya lagi sambil membusungkan dada.
“Ada Tuan. Beliau sekarang bertapa di sebuah pohon yang rindang.”
“Kuharap kau mengantarkanku pada orang itu.”

“I’iiya Tuan.”
Keduanya berlalu melewati sebuah pematang. Tak ada ucap selama perjalanan itu. Hanya angin yang meliuk ke lembah dan bukit-bukit. Ronggo berjalan di depan dengan gaya seorang pembesar.
Tak seberapa lama, terlihatlah sebuah pohon besar yang rindang dengan akar menghunjam kukuh ke perut bumi. Di bawahnya tampak sesosok lelaki kurus kerempeng, matanya terpejam, dan tangannya bersedekap di dada. Tubuh itu hanya tinggal tulang dan sekujur tubuhnya kotor. Rambutnya menggerai tak beraturan. Namun walau terlihat kotor, lelaki pertapa itu seperti dikelilingi butir-butir cahaya.

“Jangan mengganggu kami!!” sebuah suara berseru dari balik pohon.
Raden Ronggo sejenak melihat ke kanan dan ke kiri. Raden Ronggo pun mendekati pertapa kurus itu.
“Jangan ganggu kami!!” suara itu lagi dari balik pohon. Raden Ronggo mendongak lagi mencari-cari sumber suara itu. Namun ia tak juga menemukan si pemilik suara.

Raden Ronggo pun berpikir, jika pertapa kurus kerempeng ini saja bisa bercahaya, mengapa ia yang kekar, muda, sakti, tampan, amat disegani oleh orang banyak tidak bisa? “Tidak! Aku bisa melakukan ini semua. Aku bisa,” gumamnya. Kemudian dengan amat sombong dan congkak Raden Ronggo menemui pertapa itu.
“Tuan, kuharap Tuan tidak mengganggunya,” pinta prajurit pengantar itu.
“Tahu apa kau? Bodoh!”“Tuan, dia sedang menjalankan amalan! Biarkan dia menyelesaikannya, Tuan!”
“Pulanglah kau prajurit, pulang!!”
“Tapi Tuan???”
“Cepat pulang!!!” Raden Ronggo membentak.
Prajurit itu pelan-pelan pergi dari tempat itu, namun ia selalu menoleh, ia khawatir, jangan-jangan Raden Ronggo mengganggunya. Prajurit itu terus menyusuri setapak, namun matanya tak lepas mengawasi tingkah Raden Ronggo.

Raden Ronggo memegang kepala pertapa itu. Prajurit itu terhenti. “Kuharap Tuan tidak melakukannya!” teriaknya. Namun Raden Ronggo bergeming. Ronggo pun bertanya kepada pertapa itu dari mana asalnya dan mengapa ia melakukan tapa di tempat ini? Pertapa itu tak menjawab. Ronggo pun mengulangi lagi pertanyaannya. Pertapa tetap saja diam.

Setelah sekian kali diabaikan, marahlah Raden Ronggo. Dipegangnya kepala pertapa itu lalu dengan kekuatan penuh ditelungkupkannya kepala itu hingga menyusur tanah. Pertapa itu pun mengerang. Ia mulai membuka matanya yang cekung. Tangannya memegang dadanya. Cahaya mengkilau di tubuhnya. Ronggo kaget.
“Kau telah menganiayaiku,” katanya perlahan.
“Pertapa bangsat!!!” tukas Ronggo.

Namun pertapa itu hanya menyeringai. Mulutnya berbusa. Napasnya tersengal. Detak jantungnya melambat. Raden Ronggo mendekat dengan kemarahan yang tertahan.
“Terima kasih, Ronggo. Kau telah mengantarku keluar dari dunia ini. Ha! Ha! Kau betul-betul amat sombong anak muda, sesungguhnya pada gunung yang tinggi ada gunung yang lebih tinggi lagi,” kata pertapa kurus itu. Masih tersisa senyumnya di sisa ajal itu. Ronggo agak kaget mendengar ucapan pertapa itu barusan. Sebab ungkapan sama pernah diutarakan Ramandanya. Ronggo gemetar. Ronggo tiba-tiba berpikir, jangan-jangan pertapa itu teman seperguruan Ramandanya?

Belum sempat Ronggo bertanya lagi, pertapa kurus itu pun terkulai. Tubuh kerempeng tak bernyawa itu tiba-tiba lenyap dari hadapan Raden Ronggo. Ia moksa.

“Tunggu balasanku anak muda! Aku akan membalasmu kelak. Aku akan menjelma seekor ular.”
Ronggo tersenyum. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Kemudian Ronggo memutuskan untuk pulang ke Panembahan di Jogjakarta. Setiba di rumahnya, Adipati amat berang pada anak lelakinya yang sombong itu. Ronggo minta maaf pada Ramandanya, namun yang masih terpikir oleh Ronggo, kenapa Ramandanya tiba-tiba tahu kejadian itu, padahal tak seorang pun ada yang memberi tahu. Apakah ia mendapat wangsit? Atau ia punya kemampuan meneropong jarak jauh? Entahlah!

“Apa gunanya orang sakti di dunia ini jika hanya akan menimbulkan malapetaka?”
Ronggo tak menyahut. Ia hanya menunduk dan menunduk. Hingga sebuah teriakan histeris di halaman Panembahan terdengar. Di sana para prajurit bergelimpangan di pintu gerbang. Mengetahui keadaan yang gawat itu Panembahan Senopati dan Raden Ronggo keluar. Seekor ular raksasa pun langsung menyerang. Melihat seekor ular mengamuk, Raden Ronggo pun menyiapkan kuda-kudanya.
“Ini pasti si pertapa itu,” gumamnya.
“Bajingan!!”
Ronggo menatap Ramandanya seolah-olah mohon pamit pada lelaki tambun paruh baya itu. Ia kemudian turun dari Panembahan menuju halaman. Kini Raden Ronggo terlibat duel maut melawan ular raksasa itu. Segala tenaga dikeluarkannya. Prajurit-prajurit memperhatikan dengan seksama pertarungan dua pendekar itu. Berkali-kali serangan Raden Ronggo gagal. Malahan tubuh Ronggo kini terlilit ular raksasa sehingga Ronggo tak bisa bergerak.

“Ha! Ha! Ternyata hanya secuil kekuatannmu anak muda sombong! Ha? Hanya secuil. Ha! Ha!”
Kemudian Senapati meminta lewat batinnya agar ular itu melepaskan anaknya. Diberitahunya ular itu bahwa yang sedang dijepitnya itu anaknya, namun Senapati mengucapkan terima kasih pada ular raksasa itu karena ia telah memberi pelajaran pada anaknya.
“Kembalilah, Kawan!!” tukas Senapati.
Kemudian ular itu melepaskan Ronggo. Tubuhnya lemas. Sementara ular raksasa itu seolah tersenyum dan berpamitan pada Senapati. Mulai saat itulah Ronggo tak lagi bersikap sombong pada siapa pun.

Minggu, 16 September 2007

Mengenal Warna dan Cahaya (1)

Dalam kehidupan sehari-hari kita sangat menikmati indahnya warna yang terlihat dari berbagai macam benda. Dari warna kita dapat merasakan berbagai macam sensasi yang dirasakan oleh pikiran dan hati kita. Dengan warna pula kadang ketika hati kita sedang galau menjadi tenang dibuatnya. Sekarang pertanyaannya adalah, apa sih warna itu? Mengapa warna banyak macamnya, seperti merah, hijau, biru dan sebagainya? Nah, untuk lebih mengerti tentang warna kita harus mempelajari pengertian dari cahaya.
Cahaya : Foton dan Gelombang
Secara klasik, pada tahun 1672 Sir Isaac Newton menemukan bahwa cahaya yang dilewatkan pada sebuah prisma akan terbagi menjadi berbagai macam warna. Peristiwa itu dikenal sebagai disperse cahaya. Dengan berdasarkan pada eksperimen yang dilakukan oleh Sir Isaac Newton kita dapat menganalisis tentang cahaya. Warna-warna yang dihasilkan ketika cahaya melalui sebuah prisma tersusun dari spectrum merah, orange, kuning, hijau, biru, indigo dan violet. Warna yang dihasilkan dapat kita singkat sebagai “Roy G Biv” dimana tiap huruf mewakili sebuah warna. Orde dari warna-warna tersebut adalah konstan, sedangkan tiap warna dapat diidentifikasikan oleh panjang gelombang dari cahaya. Misal, cahaya merah memiliki panjang gelombang 680 nm, cahaya kuning-hijau memiliki panjang gelombang 550 nm, dan violet 410 nm.
Kurang lebih 100 tahun setelah penemuan Newton tentang cahaya, seorang ilmuwan bernama James Clerk Maxwell menunjukan bahwa cahaya memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik. Radiasi ini terdiri dari gelombang radio, cahaya tampak dan x-ray.





Dari gambar 1. terlihat bahwa porsi cahaya tampak di dalam spectrum gelombang elektromagnetik sangatlah kecil. Sedangkan apabila kita melihat sumber cahaya terbesar di alam semesta yaitu matahari, ternyata matahari menghasilkan cahaya dari daerah cahaya tampak (visible), infra red, dan ultraviolet.
Ketika kita menganggap cahaya sebagai gelombang, maka akan sangat mudah mengidentifikasinya dengan notasi panjang gelombang (wavelength) yang biasa dikenal dalam kuliah Fisika Dasar. Bila kita mengganggap gelombang sebagai warna, maka warna violet memiliki panjang gelombang terpendek dan warna merah memiliki panjang gelombang terpanjang. Warna-warna tersebut merupakan bagian dari cahaya tampak dalam spectrum gelombang elektromagnetik yangmasih dapat terlihat oleh mata kita. Artinya mata manusia memiliki keterbatasan dalam pengelihatannya. Mata tidak mampu merespon cahaya yang memiliki panjang gelombang lebih panjang atau pendek dari spectrum cahaya tampak.

Dalam paragraph sebelumnya tadi sudah disinggung tentang rentang panjang gelombang dari cahaya. Dari definisi panjang tentunya kita langsung berpikiran bahwa satuan panjang adalah meter, begitu pula dengan panjang gelombang. Hanya saja panjang gelombang satuannya dalam orde nanometer (nm). 1 nanometer sama dengan 10-9 m. Panjang gelombang cahaya memiliki ukuran lebih pendek dibandingkan dengan diameter rambut manusia atau ketebalan kertas tipis. Diameter rambut atau ketebalan kertas tipis tersebut kira-kira memiliki orde 100 mikro meter (µm). 1 µm = 10-6 m, bandingkan dengan panjang gelombang cahaya tampak yang berkisar 400 nm – 700 nm, artinya diameter rambut atau ketebalan kertas tipis tersebut kira-kira lebih panjang 100 kali dari panjang gelombang cahaya tampak. (to be continue)
(by Iwan)

Referensi :
1. http://acept.asu.edu

Jumat, 14 September 2007

Makian buat Kangen Band sebuah Cerminankah?

Belum lama terdengar sebuah statement yang memojokan Kangen band, sebuah grup band yang berasal dari Lampung, kini tersiar kabar bahwa ada makian yang cukup pedas dan tidak pantas harus diterima oleh Kangen band. Betapa ironis sekali cermin sebagian masyarakat kita yang tidak bisa melihat orang lain sukses. Kangen band menjadi tenar seperti sekarang ini, saya yakin karena mereka sudah berupaya keras berusaha untuk sukses. Di mata saya Kangen band adalah grup band yang cerdas secerdas Tukul yang mampu menyulap masyarakat Indonesia tergila-gila dengan banyolannya. Cerdas, karena mereka mampu menggali potensi mereka dengan seoptimal mungkin. Potensi yang mereka miliki mungkin tidak sehebat penyanyi atau grup band papan atas lainnya, namun mereka cukup cerdas melihat karakter dan pasar sebagian masyarakat kita yang rindu akan sentuhan melankolis.

Mungkinkah fenomena tersebut juga gambaran sebagian masyarakat bangsa Indonesia? Sebuah gambaran yang merepresentasikan kerapuhan mentalitas. Lebih menyedihkan lagi mentalitas generasi muda yang sangat mudah memperolok orang lain. Dimanakah pelajaran budaya dan budi pekerti yang diajarkan oleh bangsa kita? Bangsa Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya akan ragam budaya.Akar-akar kebudayaan kita sudah tertanam sejak dahulu. Kebesaran budaya Indonesia sudah diakui oleh dunia, namun mengapa kini cermin budaya seolah sudah hilang? Dimanakah rasa tepa selira, toleransi, dan rasa saling menghormati? Apakah dengan reformasi politik pada tahun 1998, juga membuat reformasi ”negatif” kebudayaan yang adiluhung? Bangsa Indonesia, kalau saya gambarkan sekarang ini sedang mengalami sebuah penyakit kronis. Baik fisik maupun mentalnya. Fisik? Bencana dimana-mana. Mental? Masyarakat kita mudah dihasut, mudah menghina orang lain, mudah mencibir, sebuah penyakit hati yang kronis. Seolah kini nilai-nilai luhur Pancasila yang merupakan representasi akar buadaya bangsa sudah hilang dihati generasi muda.

Tidakkah kita belajar dari agama, bahwa hati bagai sebuah cermin? Apabila cermin itu cukup bersih dan tranparan, tentunya cermin tersebut mampu merefleksikan sifat-sifat ketuhanan. Bila tidak maka sebaliknya kegelapan yang merefleksikan nilai-nilai tidak bermoral akan lebih dominan. Saya sebagai bagian dari generasi muda mengajak para kawula muda bangsa Indonesia, untuk lebih meningkatkan mentalitas secara dewasa dan berpikiran positif melihat suatu masalah. Janganlah kita terlalu picik menilai sesuatu secara subjektif, berpikirlah luas dan bijaksana. Bravo buat Kangen band, sikapilah secara positif dan bijaksana semua yang kalian alami, karena mungkin itu semua adalah cobaan yang akan mampu membawa kepuncak kesuksesan. Amin.
(by. Iwan 15/09/07)

Rabu, 12 September 2007

Perkembangan Terkini Teknologi Semikonduktor

Oleh : Iwan Sugihartono
(Alumni Fisika UI dan mahasiswa program doktoral di Electrical Engineering-NTU, Singapura)

Nanoteknologi merupakan teknologi yang dibangun dengan orde 10 pangkat -9 meter alias 0.000000001 m =10-9 m atau sama dengan 1 nanometer. Bisa dibayangkan sebuah ukuran yang amat sangat kecil. Bandingkan dengan diamater sebuah atom yang berkisar 0.00000000010 m atau 10-10 m. Jadi dalam fabrikasi dan karakterisasinya dibutuhkan alat yang resolusinya ber orde nano juga. Untuk fabrikasi material based on nano pada umumnya digunakan alat molekular beam epitaxy (MBE), metal organic chemical vapor deposition (MOCVD, lebih komersil), phase vapor transport (VPT), magnetic sputtering, hydrothermal (menggunakan efek temperatur), Deposisi menggunakan LASER, dsb. Sedangkan untuk fabrikasinya, digunakan transmission elektron mikroskopi (TEM) yang memiliki resolusi berkisar 100-200 kV, scanning electron microscopy (SEM), atomic force microscopy (AFM), field emission SEM (FESEM), dsb.




















Gambar 1, menunjukkan contoh dari image mikroskopis material semikonduktor GaAs. Image yang dihasilkan sebanding dengan jumlah atom dari Ga dan As. Terlihat dari gambar bahwa jarak sumbu pusat antara dua buah atom tersebut adalah 1.4 x 10-10 m. Bila resolusi yang dimiliki oleh scanning TEM/STEM sebesar 200 kV, maka kira-kira dapat dihasilkan pancaran electron dengan panjang gelombang 0.0025 nm. Dengan demikian karakterisasi nano sekarang ini sudah sangat maju, karena kita dapat melihat struktur kristal dari material. Nah dari hasil fabrikasinya kita akan mengenal berbagai jenis bentuk nanostructure, seperti : nano tube, nano wire, nano pilar, nano rod, nano comb (ZnO nano comb dapat digunakan sebagai sensor biologi untuk mendeteksi kadar glukosa), dsb. Sebagai contoh terlihat pada gambar 2, gambar tersebut menunjukkan bentuk dari material nano, yaitu nano tube (Disebut nano tube karena bentuknya seperti tabung yang dibentuk oleh rangkaian struktur kristal. Saat ini nano tube yang terkenal adalah karbon nano tube. Karbon nano tube adalah molekul-molekul dari ikatan karbon (C) yang membentuk sebuah tube yang berukuran nano. Karbon nano tube dapat digunakan untuk membuat fiber yang sangat kaku dan kuat. Hebatnya karbon nano tube disinyalir memiliki sifat elektronik yang menakjubkan dan karakter spesifik lainnya. Saat ini ribuan paper yang menganalisis tentang karbon nanotube telah dibuat para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu seperti, fisika, kimia, teknik metalurgi, teknik material, teknik mesin, dan teknik elektro, tiap tahunnya telah diterbitkan. Namun secara komersil masih belum banyak, hal ini dikarenakan biaya produksi yang masih cukup tinggi untuk mendapatkan kualitas karbon nano tube yang diinginkan).

Mengapa ilmu nano dan teknologinya penting? Begini, dalam perkembangan teknologi saat ini, yang dibutuhkan adalah improvisasi alat/device. Untuk mendapatkan material yang berkualitas tinggi baik dari segi sifat listrik mapun optisnya, maka analisis nano memegang peranan yang penting. Ketika kita menganalisis material dalam ukuran nano, maka kita akan melihat bagaimana distribusi dari elektron yang terlihat dari image yang yang diperoleh Image tersebut dapat diperoleh menggunakan alat seperti STEM/TEM, FESEM, High Resolotion TEM, SEM, dan AFM untuk melihat morfologi material dalam ukuran nano. Para ilmuwan Fisika termasuk ilmuwan dalam bidang material dan elektronik saat ini tengah berusaha menciptakan material untuk menghasilkan material yang berguna dalam industri optoelektronik. Tentu dasarnya adalah teknologi semikonduktor yang sudah dikenal lama seperti semikonduktor Si, GaAs, GaN dsb.Sedangkan bahan dasar material semikonduktor sedang hangat-hangatnya dikembangkan adalah berbasiskan pada paduan GaAsN dan ZnO. Dalam perkembangannya, teknologi semikonduktor mampu menghasilkan dioda, lalu transistor bahkan yang lebih kompleks lagi yaitu integrated circuit (IC) yang dikembangkan menjadi mikroprosesor. Peralatan/Devices tersebut sangat berperan dalam penemuan komputer, handphone, dan lebih advance telah dan akan dikembangkan sebuah piranti berbasiskan mikroprosesor yang tersusun dari berbagai fungsi elektronik dalam sebuah semikonduktor tunggal yang terintegrasi (single semiconducting integrated circuit).

Analisis nano berperan cukup penting untuk mengimprove metode-metode yang digunakan saat ini. Analisis tersebut tidak hanya digunakan para eksperimentalis saja, namun juga para teoritis yang tergabung dalam kelompok riset Fisika Zat Mampat atau Condensed Matter Physics (CMP). Mereka menggunakan persamaan fisika (Persamaan Schrodinger, bandstructure, fungsi gelombang Bloch, nearly free electron model, dan density functional theory) yang mampu memprediksikan besar energi band yang dapat dihasilkan oleh material yang diinginkan.












Dari pernyataan di atas penulis mengambil contoh image dari material ZnO (sebuah material semikonduktor masa depan) yang fabrikasinya menggunakan Vapour Phase Transport (VPT) seperti yang terlihat pada gambar 3. Dengan menggunakan metode VPT secara nano scale terlihat bahwa material ZnO tersebut membentuk pilar yang hampir uniform di setiap titiknya. Di dalam sebuah pilar probabilitas terdapat electron akan semakin besar. Untuk memahami ini dibutuhkan pengetahuan tentang mekanika kuantum seperti yang penulis sebutkan di paragraph sebelumnya. Dari hasil fabrikasi dan karakterisasi tersebut lalu hasilnya dikonfirmasi dengan pengukuran Hall (Hall effect) untuk melihat sifat listrik (jenis pembawa muatan) dari material semikonduktor. Dari hasil pengukuran, sebuah nanopilar ZnO dapat menghasilkan hambatan spesifik sebesar 8 x 10-2 Ωcm, bila diasumsikan mobilitas dari electron sebesar 100 cm2/Vs maka akan menghasilkan konsentrasi pembawa electron sebesar 8 x 1017 cm-3 [4]. Secara teori apabila jumlah konsentrasi pembawa elektronnya besar maka proses generasi dan rekombinasi akan sebanding dengan jumlah tersebut. Sehingga untuk menghasilkan kualitas cahaya (seperti pada : light diode, LD atau light emitting diode (LED)) yang berasal dari material ZnO akan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam uji optik, digunakan pengukuran photoluminescence (PL) dari material ZnO/Zn(0.9)Mg(0.1)O berbasiskan quantum well (quantum well adalah representasi dari potensial sumur yang berfungsi sebagai perangkap buat electron, dapat dipelajari dengan menggunakan konsep persamaan Schrodinger dan fungsi gelombang Bloch) seperti terlihat pada gambar 4.











Dalam gambar tersebut terlihat bahwa panjang gelombang dari material ZnO/Zn(0.9)Mg(0.1)O dapat menghasilkan energi foton sebesar 3.36 eV pada temperature 8 Kelvin dengan intensitas yang cukup tinggi pada kedalaman sumur (well thickness) 3 nm. Sedangkan untuk kedalaman sumur 14 nm pada temperature 8 Kelvin terdapat dua buah puncak (peak) dengan energi foton masing-masing 3.35 eV dan 3.51 eV, hal ini mengindikasikan adanya efek kuantum confinement [5]. Secara general kuantum confinement merupakan sebuah perangkap buat electron atau hole dari material semikonduktor yang tergantung dimensi. Misal, kuantum dot adalah confinement 3 dimensi, kuantum wire adalah confinement 2 dimensi, dan kuantum well adalah confinement 1 dimensi. Sekali lagi untuk lebih memahami fenomena tersebut kita harus mengenal konsep mekanika kuantum terutama persamaan Schrodinger (sebuah persamaan yang mengacu kepada hukum kekekalan energi).

Saat ini para ilmuwan dan insinyur sedang melakukan riset untuk mengimprove teknologi semikonduktor berbasiskan material ZnO. Material tersebut memiliki energi gap (energi antara pita valensi dan konduksi) sebesar 3.34 eV dalam temperatur ruang dan energi eksiton (pasangan electron dan hole) sebesar 60 meV. Sehingga material tersebut berpotensi untuk dikembangkan dalam aplikasi optoelektronik dan lapisan tipis transparent conductive oxide (TCO) seperti dalam aplikasi UV laser, UV LED dan elektroda solar cell atau photovoltaic. Oleh karena itu material ini diprediksikan akan menggeser kejayaan material GaN dalam aplikasi optoelektronik yang sudah berkembang. Secara ekonomis, karena harga produksinya juga lebih kecil maka peluang ZnO semakin besar untuk menggantikan GaN.

Dari uraian di atas penulis yakin bahwa riset dibidang fabrikasi dan karakterisasi nano pada material semikonduktor untuk aplikasi optoelektronika memiliki peluang yang baik untuk dikembangkan. Mengacu pada pidato pengukuhan guru besar Prof. Dr.rer.nat. Rosari Saleh dari Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia pada tanggal 1 Agustus 2007 silam yang menyatakan bahwa :
“Peran CMP mengembangkan alternatif sumber energi, khususnya solar energi, atau photovoltaic/PV (devais semikondutor yang berkonversi energi matahari (photon) menjadi listrik) menjadi topik utama. Hal ini dipicu oleh menipisnya sumber energi fosil (minyak, batubara, gas) dan meningkatnya kebutuhan energi dunia yang telah menimbulkan masalah, termasuk peperangan di dunia. Kebutuhan enargi dunia saat ini adalah 13 terawatt, dan di perkirakan menjadi 30 terawatt pada tahun 2050” [6], penulis beranggapan bahwa pengembangan teknologi devices semikonduktor dimungkinkan akan lebih tepat untuk mengatasi kebutuhan akan sumber energi di Indonesia. Alasannya adalah teknologi ini lebih beresiko kecil, natural resourses tersedia dan kesiapan sumber daya manusianya sudah ada. (iwan0002@ntu.edu.sg)

References
1. Iwan Sugihrtono, diploma thesis CMP program in the Abdus Salam International Centre for Theretical Physics, 2005
2. http://www.personal.rdg.ac.uk/
3. SM Sze. Semiconductor Devices, John Wiley and Sons, 1985
4. A. Bakin et all, phys. Stat. sol © 4, no 1, 158-161 (2007)
5. HP He et all, J. applied physics 40 (2007) 5039-5043
6. http://www.ns.ui.ac.id/mipa/?val=berita&id=1186109234

Minggu, 09 September 2007

Semikonduktor I

Mengenal Semikonduktor dan Aplikasinya


by : Iwan (9/9/2007)

Semikonduktor adalah suatu material yang memiliki karakteristik diantara konduktor dan insulator. Hal ini dapat dipahami dari karakter energi gap semikonduktor yang berada diantara konduktor dan isolator. Tentunya untuk masing-masing atom atau senyawa memiliki besar energi yang berbeda. Semikonduktor sangat bergantung dari temperatur. Pada temperatur terntentu semikonduktor dapat menghantarkan listrik atau bertindak sebagai konduktor, namun daya hantar atau konduktivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan konduktor. Pada temperatur yang sangat rendah, material semikonduktor akan memiliki karakter seperti insulator. Penambahan jumlah impuritas pada material semikonduktor juga dapat menambah sifat konduktivitas listriknya.

Berikut ini merupakan beberapa elemen kimia dan senyawa yang merupakan material semikonduktor, silicon (Si), germanium (Ge), dan galium arsenit (GaAs). Sifat konduktivitas listrik dari material semikonduktor dapat bertambah selain karena adanya impuritas juga disebabkan karena adanya efek dari temperatur dan cahaya. Konduktivitas bertambah akibat dari penambahan jumlah elektron valensi di dalam material semikonduktor tersebut. Elektron valensi atau biasa disebut sebagai elektron yang berada di kulit terluar merupakan pembawa arus listrik.

Asumsikan terdapat material semikonduktor murni (intrinsic) seperti Si, Si memiliki jumlah elektron valensi sebanyak 4 buah, elektron-elektron tersebut berpasangan dan membentuk ikatan kovalen dengan elektron dari atom lainnya. Dalam keadaan ini elektron-elektron valensi tidak dapat bebas bergerak seperti halnya elektron bebas yang menghasilkan arus listrik. Bila diberikan temperatur tertentu atau cahaya, akan menyebabkan elektron tereksitasi keluar dari ikatan tersebut. Sebagai akibatnya elektron akan lebih bebas bergerak danmenghasilkan arus listrik. Ketika elektron tadi tereksitasi, elektron akan meninggalkan kekosongan posisi atau yang biasa dikenal sebagai hole. Hole juga dapat bergerak di lokasi tersebut dan memberikan kontribusi adanya aliran listrik. Elektron dapat tereksitasi tentunya temperatur atau cahaya tadi memiliki energi yang lebih besar dari energi ikatan elektron di dalam struktur kristal Si. Energi tersebut biasa disebut sebagai energi gap.

Doping
Doping merupakan sebuah proses dari penambahan impuritas (pengotor) ke dalam semikonduktor murni (intrinsik). Penambahan doping tersebut dimaksudkan untuk menambah konduktivitas listrik material semikonduktor. Perbedaan jumlah elektron elektron antara doping material (dopan) dan elektron dalam semikonduktor murni dapat menghasilkan negatif (semikonduktor tipe n) atau positif (semikonduktor tipe p) pembawa sifat listrik. Dopan disebut atom akseptor apabila menerima elektron dari atom semikonduktor. Sedangkan dopan disebut donor apabila menyumbangkan elektron ke atom semikonduktor. Misalkan atom Si yang memiliki 4 buah elektron valensi, dua pasang elektron tersebut akan membentuk ikatan kovalen. Untuk menghasilkan semikonduktor tipe n, dibutuhkan atom yang memiliki lebih banyak elektron. Misal atom phosporus (P) yang memiliki elektron valensi 5 buah. Atom P tersebut apabila di dopingkan ke dalam semikonduktor Si akan memberikan elektron ekstra, sehingga elektron tersebut akan membuat semikonduktor tipe n. Sedangkan untuk menghasilkan semikonduktor tipe p, dibutuhkan atom dengan jumlah elektron kurang dari elektron yang dimiliki semikonduktor Si. Misal atom aluminium (Al) yang memiliki elektron valensi 3 buah. Atom Al yang didopingkan ke dalam semikonduktor Si akan berikatan dengan 3 buah atom Al, artinya ada sebuah elektron dari Si yang tidak berpasangan dengan Al. Maka Semikonduktor tersebut memiliki hole yang bertindak sebagai penghasil sifat listrik. Dengan kata lain semikonduktor menjadi bertipe p.

p-n junction
Dari uraian di atas kita sudah mengenal tipe dari semikonduktor akibat pemberian doping. Akibat pemberian doping ternyata semikonduktor dapat bertipe n atau p. Ketika kedua tipe semikonduktor tersebut dijadikan satu, maka semikonduktor tersebut bersifat p dan n. Daerah tempat terjadinya kontak antara kedua tipe semionduktor disebut pn junction. Dari penggabungan ini kita mengenal dioda yang menghasilkan arus listrik hanya dalam satu arah saja (direct current). Kombinasi dari pn junction dapat digunakan untuk membuat transistor dan berbagai devices semikonduktor yang sifat kelistrikannya dapat dikontrol. Sedangkan hasil dari penggabungan transistor yang dihasilkan oleh pn junction tersebut dengan dipadukan oleh komponen pasif serta komponen aktif dalam sebuah chip tunggal dari silikon adalah integrated circuit yang biasa dikenal di kalangan masyarakat sebagai IC. IC memiliki kegunaan yang sangat luas di dunia elektronik, semua perangkat elektronik seperti komputer, handphone, dan peralatan digital elektronik lainnya menggunakan IC sebagai komponen dasarnya.

Referensi
1. www.siliconfareast.com
2. H. Ibach and H. Luth, Solid State Physics, 2nd edition, Springer, 1995

Selasa, 04 September 2007

Mengapa Saya Melanjutkan Studi Doktoral ?

Saya ingin sedikit mengulas sedikit salah satu motivasi saya kenapa saya begitu semangat untuk melanjutkan studi terutama ke negara yang dikategorikan maju (developed). Hal yang paling mendasar di negara maju adalah kita bisa melihat barometer perkembangan science dan technology terkini dan yang akan datang. Artinya kita dapat melihat secara faktual tentang perkembangan ilmu pengetahuan yang sedang trend in. Kira-kira tahun 2003 ketika itu saya masih studi S2 di Magister ilmu Fisika UI, saya merasakan apa yang saya peroleh saat itu kurang memberikan sesuatu yang baru. Namun hal yang lebih penting adalah suasana atau lingkungan belajar di Universitas Indonesia, belum membangkitkan gairah belajar saya. Ketika teman-teman saya dan senior banyak yang melanjutkan studi ke USA dan Netherland, serta sering pula ada pertanyaan tentang bagaimana rencana studi PhD saya, hal itu membuat saya bertanya dalam hati, bisakah saya seperti mereka? namun dengan berpegang pada prinsip dan keyakinan bahwa segala sesuatu apabila diniati dengan sungguh-sungguh pasti kelak kita akan dapatkan hasilnya, maka saya tergerak untuk lebih memantapkan langkah meneruskan cita-cita mencari peluang buat sekolah ke luar negeri yang sempat kandas di tahun 2002. Ya, di tahun 2002, saya sempat dapat admission program S2 Material Science di Groningen, Belanda. Saat itu saya termotivasi oleh teman saya Ican (Ihsan Amin) yang sekarang sedang studi doktoral di Bielefeld, Jerman. Kesempatan itu tidak bisa saya ambil karena beasiswa yang saya peroleh tidak mengcover semua. Namun demikian ditahun tersebut saya memperoleh kesempatan studi di program Magister S2 Fisika di Universitas Indonesia. Bersyukurlah saya ketika di akhir tahun 2003, kira-kira bulan November akhir ada kesempatan buat workshop dan posgraduate Diploma programme keduanya di ICTP (The International Centre for Theoretical Physics, Trieste, Italy). Saat itu pikiran saya simple, yang penting saya bisa tahu luar negeri apalagi negara maju. Ketika mengirimkan aplikasi saya dibantu oleh Dr. Rachmat W Adi, beliau adalah salah satu dosen saya (dosen Elektromagnetik di Fisika UI dan pembina tim TOFI) yang sampai sekarang selalu memberikan motivasi buat saya untuk bisa sekolah ke luar negeri. Beliau sangat berjasa terutama dalam mengcover bahasa Inggris saya yang sangat amburadul (mengkoreksi application form, motivation letter, dan korespondensi dengan Profesor). Dari sejarah bagaimana saya belajar bahasa Inggris, saya tidak pernah menyangka kalau saya bisa diterima sekolah di luar negeri (Saya juga sangat berterima kasih buat guru bahasa Inggris saya khususnya Ibu Zalwis Maini SMPN 1 Serang, yang telah memotivasi saya untuk giat belajar bahasa Inggris karena pada saat itu nilai prediksi ebtanas bahasa Inggris saya cukup memprihatinkan). Semua mungkin atas kemurahan-Nya yang telah memberikan apa yang selama ini saya kejar dan citakan.
Di awal tahun 2004, saya menunggu kabar tentang nasib kedua surat aplikasi yang sudah saya kirimkan. Tentang workshop, saya banyak bertanya dengan kolega saya di Universitas Indonesia (Pak Surya) yang sering mengikuti workshop dan seminar di ICTP. Sedangkan untuk aplikasi program postgraduate Diploma ICTP saya hanya Bismilah saja, namun saya punya keyakinan bahwa ICTP akan menerima saya di program Postgraduate Diploma berdasarkan pengalaman para senior dan teman saya. Singkat cerita, akhirnya saya diterima di program Postgraduate Diploma dan gagal untuk mengikuti workshop. Setelah saya dapat admission dari ICTP, saat itu tentu saja saya sangat senang, karena postgraduate Diploma program ICTP di mata saya adalah prestige program dengan kuliah-kuliah advance yang dipersiapkan untuk membantu mahasiwa tidak kaget menghadapi dunia riset doctoral. Walaupun demikian saya masih menyimpan sebuah pertanyaan, bisakah saya menyelesaikan S2 saya yang tinggal tugas akhir? Pada saat itu saya sempat ragu karena bidang riset saya bukan hal yang mudah (Kuantum Spin System). Akhirnya setelah berdiskusi dengan pembimbing saya saat itu Dr. Budhy Kurniawan, saya memutuskan untuk mengerjakan sebisa saya. Ya, walaupun dengan kualitas thesis seadanya saya dapat lulus pada tanggal 6 Agustus 2004. Saat mengerjakan thesis, saya banyak dibantu dan ditemani oleh teman/kakak/sahabat saya Mas Lutfi yang sekarang dosen di Universitas Jember, Jawa Timur.
Di pertengahan tahun 2004, tepatnya tanggal 26 Agustus 2004, saya pergi ke ICTP yang terletak di kota Trieste, Italy. Kebetulan dari Universitas Indonesia yang diterima program postgraduate saat itu, selain saya (Condensed Matter Physics programm) juga teman saya (Julio, High Energy Physics, sekarang studi doktoral di USA).
Di Trieste inilah saya memulai fase baru dalam hidup saya. Di sana saya bisa mengenal Profesor-profesor yang kompeten dengan keilmuannya, teman-teman yang datang dari seluruh negara, dan para peraih nobel Fisika, Kimia, Biologi dan Matematika. Namun yang berkesan adalah saya mendapatkan sebuah ilmu yang menjadikan modal besar buat saya. Ilmu yang saya dapatkan bukan hanya ilmu Fisika Zat Padat (Condensed Matter Physics), tapi lebih dari itu. Ilmu yang saya maksud adalah etos kerja teman-teman yang sangat antusias dengan keilmuannya, kesabaran dari para Profesor yang mengajar kita meski kita memiliki latar belakang berbeda (ras, agama, dan budaya), kebijaksanaan para Profesor yang dengan tulus mendidik kita agar kita memiliki wawasan dan pikiran yang lebih terbuka, dan kehidupan sosial masyarakat yang sangat teratur dan disiplin. Selama saya studi di ICTP dalam satu tahun saya wajib mengikuti kuliah selama 9 bulan dan riset 3 bulan. Saya mengerjakan riset di pusat nanotechnologi Italy, yang berada di daerah Sincrotron lab-Scientific park, Basovizza, Trieste Italy. Dalam waktu 3 bulan saya bergabung dengan grup riset yang diketuai oleh Dr. Elvio Carlino, dia merupakan salah satu pakar TEM dan STEM di Italy. Di bawah asuhan beliau dan kolega beliau Dr. Vicenzo Grillo, saya mempelajari morfologi nanostructure dari GaAsN Quantum well. Saya juga banyak mendapat arahan dari mereka terutama berkaitan dengan studi doktoral yang sedang saya rencanakan waktu itu. Saat itu menjelang kelulusan, saya mendapat tawaran untuk tetap kerja riset di laboraorium TEM, TASC (Technologie Avanzate nanoScienza). Karena saat itu saya sudah mendapatkan admission dari Profesor di Tokyo Institute of Technology (TIT), Japan, dan saya diharuskan pulang untuk mengurus Hitachi Scholarship di Universitas Indonesia. Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke Indonesia, pada tanggal 5 Sepetember 2005.
Di akhir tahun 2005 saya mengurus Hitachi Scholarship yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia. Namun dari hasil tes yang sudah dilakukan saya gagal untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Ketika itu saya sedikit kecewa, namun hal itu menyadarkan saya bahwa mungkin itu bukan rezeki yang harus saya terima. Di sepanjang tahun 2006 saya mencoba lagi berusaha untuk mendapatkan kesempatan studi doktoral sambil mengajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Bersama dengan kolega-kolega saya seperti Aditya Trenggono (teman sebangku semasa di SMAN 1 Serang) sekarang studi doktoral bidang Nanopolimer di CEA Saclay, Prancis dan Mas Dede (Fisika UI) yang sekarang sedang studi doktoral bidang Non Linear Seismics Programming di Chonbuk University-Korea Selatan, saat itu kita sama-sama sharing informasi tentang kesempatan doktoral di luar negeri. Walau demikian saya secara pribadi sudah apply ke beberapa negara seperti, Belanda, Australia, dan New Zealand. Hingga pada akhirnya, di bulan September 2006 saya mendapatkan informasi dari kolega saya Agus Muhammad Hatta (dosen dari Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya (ITS)) yang saat ini sedang studi doktoral di School of Electronic and Communication Engineering, Dublin Institute of Technology, Irlandia tentang lowongan PhD di School of Electric and Electronic Engineering, Nanyang Technological University, Singapore. Dalam waktu yang sama juga saya mendapatkan respon positif dari Australian National University, Australia. Namun demikian saya lebih tertarik dengan grup riset di School of Electric and Electronic Engineering, Nanyang Technological University, Singapore. Mulai saat itulah saya rajin korespondensi dengan Profesor Sun Xiaowei ketua grup riset Nanoelektronik di divisi Mikrolektronik School of Electric and Electronic Engineering, Nanyang Technological University, Singapore. Dari anjuran beliau saya segera apply program doktoral dengan disertai 3 surat rekomendasi dari Dr. Budhy Kurniawan (Departemen Fisika-Universitas Indonesia), Dr. Elvio Carlino (laboratorium TEM, TASC, Trieste-Italia) dan Prof. Dr. Miltcho Danailov (Laboratorium Ultrafast LASER, Sincrotron, Trieste-Italia). Akhirnya, bulan Desember 2006 saya mendapatkan panggilan untuk mengikuti tes yang meliputi : Technical Proficiency Test (TPT) dan English Proficiency Test (EPT) pada tanggal 18 Desember 2006 di School of Electric and Electronic Engineering, Nanyang Technological University, Singapore. Dengan modal semangat dan percaya diri saya beranikan untuk datang mengikuti tes tersebut. Saat pertama kali datang saya langsung menemui Profesor. Saya sangat terkesan saat pertama kali kita bertemu, ternyata beliau orang yang cukup baik sesuai dengan surat-surat beliau selama kita berkorespondensi. Singkat cerita, pada bulan Maret 2007, saya mendapat admission letter dari School of Electric and Electronic Engineering, Nanyang Technological University, Singapore. Saya sangat senang saat itu, karena pada akhirnya penantian dan cita yang selama ini saya dambakan terwujud juga. Artinya adalah saya akan mempelajari sesuatu yang lebih spesifik yang belum pernah saya dapatkan. Perlu diingat pendidikan yang tinggi bukan berarti kita mengetahui semua keilmuan, tapi keilmuan kita sudah terbatas dengan bidang yang dijadikan riset. Dan kini saya sudah bergabung dengan tim research Nanolectronic di divisi Mikroelektronik yang dipimpin oleh Prof. Sun Xiaowei. Di grup riset ini saya sedang mempelajari fabrikasi dan karakterisasi nanoelectronik material ZnO yang diprediksikan mampu menggantikan GaN yang sudah establish dalam aplikasi optoelectronic devices, dan akan melakukan riset penumbuhan film tipe p semikonduktor ZnO dengan menggunakan Metal Organics Chemical Vapor Deposition (MOCVD) untuk membuat p-n junction Light Emitting Diode (LED) dan Light Diode (LD).
Dari kisah perjalanan saya dalam mengejar cita-cita melanjutkan studi ke jenjang doktoral, saya banyak mengambil hikmah, diantaranya :
1. Ketika kita memiliki niat mengejar sesuatu janganlah patah semangat, kejar terus dan yakinlah bahwa alam semesta akan mendukung seperti apa kata Prof. Yohanes Surya (mestakung : semesta mendukung).
2. Yakinlah bahwa apa sedang kita peroleh adalah yang terbaik sesuai dengan hak kita.
3. Berpikirlah secara luas, positif, dan komprehensif, jangan seperti katak di dalam tempurung, hal inilah yang dapat kita kontribusikan buat bangsa kita sebagai anak muda.
4. Orang yang sukses adalah orang yang mampu membuat orang lain sukses dengan didasarkan pada rasa ikhlas, tulus, dan mendidik.
5. Jadikanlah pengalaman orang lain sebagai referensi buat hidup kita, jangan kita menunggu pengalaman buruk menimpa kita terlebih dahulu.
6. Apabila kita ingin studi ke jenjang Magister dan Doktoral, rajinlah cari info melalui internet, saya rekomendasikan situs ini : www.braintrack.com. Bekalilah diri kita dengan TOEFL standar 550, dan bila mungkin dengan nilai GRE subject/general kurang lebih 700.Bila tidak, berkorespondesilah dengan Profesor yang sesuai dengan minat riset kita, dengan begitu kita akan diarahkan oleh Profesor.
7. Jangan mudah menyerah, keep in spirit dan bersabarlah kelak kalo sudah waktunya pasti akan terwujud.
8. Dengan semakin tinggi pendidikan tidak ada alasan untuk menjadikan diri kita hebat, kenapa? Sudah jelaslah bahwa semakin tinggi strata pendidikan kita, ilmu yang kita pelajari juga semakin fokus pada satu hal yang kita jadikan bahan riset.
9. Apabila kita ingin menjadikan negara kita negara maju, mulailah dari diri kita sendiri untuk semangat mendapatkan pendidikan yang baik (well educated). Dengan pendidikanlah kita akan mudah dalam berpikir rasional dan positif dalam berkomunikasi dan berinteraksi social.
Saya berharap teman-teman di lingkungan sekolah dan universitas dapat mengambil manfaat dari sepenggal kisah yang saya tuliskan tersebut. Akhirnya, saya ucapkan terima kasih buat guru-guru saya sejak TK hingga Universitas yang telah berjasa memberikan motivasi buat saya hingga sekarang. Bagi saya seorang guru adalah orang yang paling sukses di dunia, karena amalnya akan di bawa hingga ke liang lahat.

(by Iwan, 50 Nanyang Crescent, 2.59am, 5/9/07)