<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251</id><updated>2011-10-22T22:55:01.640-07:00</updated><category term='riset'/><category term='ilmiah'/><category term='pendidikan'/><category term='semi_01'/><category term='babad_jawi'/><title type='text'>Welcome to Iwan's Blog</title><subtitle type='html'>Memayu hayuning bawono</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>117</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8103642158920858555</id><published>2009-08-07T09:57:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T10:06:54.611-07:00</updated><title type='text'>Mengenang sang penyair WS Rendra....</title><content type='html'>selang dua hari meninggalnya Mbah Surip, pada hari Jumat tanggal 7 Agustus 2009, sang Penyair besar WS Rendra dipanggil kehadirat Illahi Rabbi. Beliau berdua di makamkan di komplek pemakaman Bengkel Teater WS Rendra...Sungguh kejadian yang langka, karena dalam 2 hari berturut-turut bangsa Indonesia kehilangan orang2 yang dicintai oleh rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mengenang WS Rendra melalui salah satu pemikiran beliau ketika pengukuhan doktor honoris causa di UGM....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran WS Rendra melampaui zamannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=19796&amp;amp;Itemid=47"&gt;http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=19796&amp;amp;Itemid=47&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YOGYA - Sang penyair WS Rendra kali ini berpenampilan lain. Dia tak berpakaian seadanya. Tapi, dia mengenakan toga dan mengumbar senyum bangga. Betapa tidak! Karena hari itu, Selasa (4/3), Si Burung Merak menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) di bidang sastra dari UGM Yogyakarta. Seperti seorang begawan, Rendra menyampaikan perenungan dalam pidato pengukuhan.&lt;br /&gt;Dia mengkaitkan ramalan pujangga besar Ronggowarsito dengan keadaan kekinian. Katanya, setelah zaman Kalatida dan Kalabendu akan tiba masa Kalasuba yakni zaman stabilitas dan kemakmuran, yang ditegakkan Ratu Adil.&lt;br /&gt;Hanya saja, Rendra mengaku berbeda sikap dalam mengantisipasi datangnya Kalasuba. "Kalasuba pasti akan tiba. Karena dalam setiap chaos secara built-in" ada potensi untuk kestabilan dan keteraturan," katanya.&lt;br /&gt;Tapi, kestabilan belum tentu baik untuk kelangsungan kedaulatan rakyat dan manusia yang sangat penting untuk emansipasi kehidupan manusia secara jasmani,rohani, sosial, intelektual dan budaya.&lt;br /&gt;Harus usahaDalam sejarah kita, kata Rendra, kita mengenal kenyataan. Setelah chaos Revolusi Prancis, lahirlah kestabilan pemerintah Napoleon yang diktator. Menurut Rendra, harus ada usaha kita yang lain. Kita tak sekedar sabar dan tawakal. Kita, tidak menghendaki Kalasuba dikuasai diktator. Tidak juga dikuasai asing seperti Timor Laste.&lt;br /&gt;Tapi, kita harus aktif memperkembangkan usaha untuk menadesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan tata kenegaraan. "Sehingga menjadi lebih baik daya hidup dan daya cipta bangsa," kata Rendra.&lt;br /&gt;Situasi seperti itu tak tergantung hadirnya Ratu Adil. Tapi tergantung pada hukum, mandiri dan tawakal, Rendra nenutup renungannya berjudul "Megatruh Kambuh. Renungan Seorang Penyair Dalam Menanggapi Kalabendu ".&lt;br /&gt;Tampak hadir dalam penganugerahan gelar Doktor HC kepada Rendra seperti Ahmad Syafii Maarif, Eep Saifullah, Joko Pekik, Djaduk Ferianto, Gunawan Muhammad, Sri Edy Swasono, Hariman Siregar, Sultan Ternate. Yang tidak tampak sahabat Rendra yakni Setiawan Djodi.&lt;br /&gt;Apa komentar mantan Ketua MPR, Amien Rais ? Katanya;"Kalau saya ikut menguji tentu akan memberi nilai A plus. Karena isi pidato Rendra sangat akademis serta relevan dengan kondisi sosial dan politik bangsa saat ini,".&lt;br /&gt;"Penganugerahan Doktor HC semakin meneguhkan Rendra sebagai mainstream teater moderen Indonesia," kata Butet Kertarejasa seraya mengatakan sudah semestinya Rendra menerima penghargaan ini. Karena pemikirannya tak kalah dengan doktor-doktor formal.&lt;br /&gt;Lalu apa kata budayawan Emha Ainun Nadjib ? Cak Nun, panggilan akrab Emha mengakui Rendra memang seorang penyair yang memiliki pemikiran melampui zamannya.&lt;br /&gt;"Hanya saja, pemikiran Rendra yang disampaikan dalam penganugerahan Doktor HC adalah pemikiran yang pernah dikemukakan dan didiskusikan sekitar 1970-an," kata Cak Nun. K-16/ad&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8103642158920858555?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8103642158920858555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8103642158920858555' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8103642158920858555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8103642158920858555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/08/mengenang-sang-penyair-ws-rendra.html' title='Mengenang sang penyair WS Rendra....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3699459406695374889</id><published>2009-08-07T09:46:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T11:11:35.776-07:00</updated><title type='text'>Mengambil hikmah dari lika liku hidup Mbah Surip</title><content type='html'>Mbah Surip meninggal pada hari Selasa tanggal 4 Agustus 2009. Dari perjalanan hidupnya yang penuh lika liku hingga menjadi penyanyi fenomenal, menurut saya banyak sekali hikmah yang patut kita ambil. Semoga amal baik Mbah Surip menjadi teman sejati dipangkuan Illahi..amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mbah Surip Digendong Tuhan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Saratri Wilonoyudho (Peneliti dan Dosen Universitas Negeri Semarang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Michael Jackson dan Mbah Surip boleh saja ditafsirkan bahwa Tuhan tengah mempertunjukkan pelajaran kepada manusia tentang apa sesungguhnya batas-batas kewajaran. Di tengah-tengah nafsu perebutan kekuasaan di berbagai level, baik nasional maupun daerah, Tuhan sedang memberi "intermezzo" sebuah refrein lagu kematian. Semua yang ada di dunia tidak ada yang abadi, kenapa orang terus mengejar harta dunia dan kepemilikan sampai lupa daratan?&lt;br /&gt;Mbah Surip dan Jacko adalah dua sosok yang bertolak belakang. Kesamaan mereka adalah kekayaan yang luar biasa untuk ukurannya. Tentu saja hasil ring tone Mbah Surip sekitar Rp 5 miliar, itu hanya "uang jajan" Jacko. Namun, bagi Mbah Surip, uang itu luar biasa banyaknya.&lt;br /&gt;Sebaliknya, kekayaan Jacko mencapai angka triliunan rupiah. Ironisnya, Jacko justru kesepian dan menderita hingga akhirnya meninggal dalam kesengsaraan, sebaliknya Mbah Surip meninggal dalam kedamaian. Tak mudah orang meninggal mendadak seperti ia.&lt;br /&gt;Fenomena Michael Jackson banyak kita jumpai. Di negeri ini juga banyak orang "sukses" namun menderita lahir batin. Ini adalah sebuah ironi.&lt;br /&gt;Fenomena Mbah Surip dan Michael Jackson mengajarkan tentang "ilmu kematian" dan "ilmu kewajaran". Kemiskinan yang berlebihan juga akan membunuh manusia, bukan hanya jasadnya, namun juga mentalnya. Demikian pula kekayaan yang luar biasa yang melebihi batas juga akan mematikan kreativitas mentalnya karena segala sesuatunya dapat dia beli.&lt;br /&gt;Ilmu kehidupan itu ialah menyadari ilmu kematian. Kepemilikan apa saja di dunia ini tak akan dapat dibawa mati. Emha Ainun Nadjib pernah bercerita tentang kematian Pugra, ia meninggal ketika sedang pentas tari Bali di Sasonomulya, Solo. Sebagaimana laiknya orang Bali, anak dan dua keponakannya dengan tenang menyaksikan kematiannya. Kematian tak layak disedihkan karena kematian adalah berangkat ke kehidupan yang lebih tinggi. Apalagi mereka yakin Pugra mengetahui saat kematiannya hingga ia memilih di atas pentas ketika menari.&lt;br /&gt;Mbah Surip semoga termasuk seniman yang menyadari bahwa menjadi seniman bukan untuk kesenangan tujuan popularitas atau tujuan kekayaan material belaka. Banyak kasus calon-calon artis berbondong-bondong mendatangi sutradara dan menawarkan diri: "Berpose telanjang juga boleh, tidak apa-apa, asal wajar sesuai tuntutan skenario". Bagaimana mungkin telanjang kok "wajar"? Inilah kesenimanan yang tidak menyatu dengan jiwa dan ruhnya.&lt;br /&gt;Semoga kesenimanan Mbah Surip menyatu dengan jiwanya, dan jiwa tak dapat dilepaskannya kecuali jika ia dikhianati. Kesenimanan baginya adalah kebahagiaan cinta (I Love You Full, katanya) dan kesejatian dan bukan keglamoran atau nafsu. Mbah Surip barangkali sadar bahwa jiwa kesenimanan jika dikhianati maka akan terjerambab. Berapa banyak seniman dan artis kita yang jatuh ke jurang nista justru setelah sampai pada puncak ketenaran seperti Jacko, baik karena narkoba, selingkuh, dan tindakan amoral lainnya?&lt;br /&gt;Kesenimanan bagi Mbah Surip adalah kesetiaan dan bukan kemegahan. Kesenimanan harus teguh mempertahankan prinsip bahwa seni itu untuk kemanusiaan serta untuk memuji kebesaran Tuhan dan ciptaan-Nya. Perkara mendapat uang miliaran, ini adalah "risiko", dan bukan tujuannya. Kalau seniman tidak memiliki sikap seperti ini, berarti dia bukan seniman tapi pedagang.&lt;br /&gt;Ilusi kesuksesan hidup&lt;br /&gt;Pelajaran lain dari Jacko adalah tentang ilusi kesuksesan hidup. Orang barangkali heran mengapa para pejabat dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan, dengan berbagai fasilitas luar biasa, hingga kekayaannya mencapai angka puluhan miliar rupiah, toh masih tega juga mengorupsi uang rakyat. Pertanyaannya, mengapa orang yang bertambah kekayaannya justru semakin haus untuk mereguk yang lainnya?&lt;br /&gt;Pertanyaan ini dijawab dengan baik oleh ekonom Inggris Fred Hirsch. Menurut Hirsch, justru dengan semakin kaya seseorang akan merangsang nafsunya untuk terus menambah kekayaannya. Penjelasan Hirsch cukup simpel: orang yang bertambah kekayaannya terus akan mengejar kekayaan yang lain karena orang lain di sekitarnya juga terus menangguk "kesuksesan" hidup. Dalam posisi seperti ini, kekayaan yang ia dapatkan seolah-olah tidak berarti baginya.&lt;br /&gt;Mereka yang dicontohkan di atas tergolong orang-orang yang terbelenggu oleh kemilau duniawi. Padahal, kata para sufi seperti Abdul Qodir Jaelani, Jalaluddin Rumi, jika seseorang sudah "berjumpa" dengan Tuhannya, maka ia akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Keinginan yang terbesar orang yang sudah sampai pada tataran atau maqom ini adalah: "tidak ingin memiliki keinginan sama sekali".&lt;br /&gt;Kalaupun ia dianugerahi kekayaan dari Tuhan, ia enjoy saja. Kekayaan itu tidak akan membelengggunya. Ia akan menafkahkan kepada siapa saja, menaburkan kepada alam semesta, kepada sesama, tanpa beban dan tanpa harapan untuk "pahala". Ia akan menggunakan secukupnya (tentu sesuai standar normal orang hidup), dan sisanya yang terbesar akan dikembalikan kepada pemilik-Nya, lewat amal jariyah yang terus mengalir tiada henti, tanpa takut ia akan jatuh miskin.&lt;br /&gt;Orang yang sudah sampai tataran "hilangnya" keinginan (duniawi) akan tenteram jiwanya. Ia sangat menikmatui "perjumpaannya" dengan Sang Khalik, dan orang Jawa bilang sudah dapat menuju ke arah "manunggaling kawula Gusti". Tuhan senantiasa ada di dalam hatinya dan selalu memberi berkah.&lt;br /&gt;Barangkali ilmu ini yang dimiliki Mbah Surip, terbukti ia tidak silau dengan rezeki nomplok. Ia tetap bersahaja, dan sebaliknya Jacko yang tidak bersyukur. Jacko malu sebagai orang hitam dengan jalan operasi plastik. Sebaliknya Mbah Surip justru "menjelek-jelekkan" namanya sendiri karena nama aslinya adalah Urip Ariyanto. Mbah Surip tidak ganti nama menjadi Ary atau Ariel, layaknya artis-artis kita yang tak pernah percaya diri sehingga harus mengganti namanya.&lt;br /&gt;Mbah Surip juga tidak serta-merta mengubah penampilannya. Tetap rambut gimbal ke mana-mana naik ojek dan tidak jual mahal atau angkuh. Mbah Surip seakan tidak merasakan apa arti uang Rp 5 miliar. Padahal, berapa banyak pejabat yang kelihatannya terhormat dan "religius" ternyata amat rakus melihat angka-angka rupiah seperti ini.&lt;br /&gt;Wajar jika Tuhan segera menggendong Mbah Surip agar orang ini "terselamatkan" oleh kemilau dunia yang barangkali akan menjeratnya seperti Michael Jackson atau artis-artis lain yang tidak kuat "ditempati derajat dan pangkat" (Ora kuat kanggonan drajad pangkat kata orang Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/06/11193244/mbah.surip.digendong.tuhan"&gt;http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/06/11193244/mbah.surip.digendong.tuhan&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3699459406695374889?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3699459406695374889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3699459406695374889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3699459406695374889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3699459406695374889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/08/mengambil-hikmah-dari-lika-liku-hidup.html' title='Mengambil hikmah dari lika liku hidup Mbah Surip'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-4295688070871158503</id><published>2009-07-16T09:37:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T09:46:04.606-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>~ Charles C. Finn, September 1966&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please Hear What I'm Not Saying Don't be fooled by me.&lt;br /&gt;Don't be fooled by the face I wear for I wear a mask, a thousand masks, masks that I'm afraid to take off, and none of them is me.&lt;br /&gt;Pretending is an art that's second nature with me, but don't be fooled, for God's sake don't be fooled.&lt;br /&gt;I give you the impression that I'm secure, that all is sunny and unruffled with me, within as well as without, that confidence is my name and coolness my game, that the water's calm and I'm in command and that I need no one, but don't believe me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My surface may seem smooth but my surface is my mask, ever-varying and ever-concealing. Beneath lies no complacence.&lt;br /&gt;Beneath lies confusion, and fear, and aloneness.&lt;br /&gt;But I hide this.&lt;br /&gt;I don't want anybody to know it.&lt;br /&gt;I panic at the thought of my weakness exposed.&lt;br /&gt;That's why I frantically create a mask to hide behind, a nonchalant sophisticated facade, to help me pretend, to shield me from the glance that knows.&lt;br /&gt;But such a glance is precisely my salvation, my only hope, and I know it.&lt;br /&gt;That is, if it's followed by acceptance, if it's followed by love.&lt;br /&gt;It's the only thing that can liberate me from myself, from my own self-built prison walls, from the barriers I so painstakingly erect.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's the only thing that will assure me of what I can't assure myself, that I'm really worth something.&lt;br /&gt;But I don't tell you this.&lt;br /&gt;I don't dare to, I'm afraid to.&lt;br /&gt;I'm afraid your glance will not be followed by acceptance, will not be followed by love.&lt;br /&gt;I'm afraid you'll think less of me, that you'll laugh, and your laugh would kill me.&lt;br /&gt;I'm afraid that deep-down I'm nothing and that you will see this and reject me.&lt;br /&gt;So I play my game, my desperate pretending game, with a facade of assurance without and a trembling child within.&lt;br /&gt;So begins the glittering but empty parade of masks, and my life becomes a front.&lt;br /&gt;I tell you everything that's really nothing, and nothing of what's everything, of what's crying within me.&lt;br /&gt;So when I'm going through my routine do not be fooled by what I'm saying.&lt;br /&gt;Please listen carefully and try to hear what I'm not saying, what I'd like to be able to say, what for survival I need to say, but what I can't say.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don't like hiding.&lt;br /&gt;I don't like playing superficial phony games.&lt;br /&gt;I want to stop playing them.&lt;br /&gt;I want to be genuine and spontaneous and me but you've got to help me.&lt;br /&gt;You've got to hold out your hand even when that's the last thing I seem to want.&lt;br /&gt;Only you can wipe away from my eyes the blank stare of the breathing dead.&lt;br /&gt;Only you can call me into aliveness.&lt;br /&gt;Each time you're kind, and gentle, and encouraging, each time you try to understand because you really care, my heart begins to grow wings-- very small wings, very feeble wings, but wings! With your power to touch me into feeling you can breathe life into me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want you to know that.&lt;br /&gt;I want you to know how important you are to me, how you can be a creator--an honest-to-God creator-- of the person that is me if you choose to.&lt;br /&gt;You alone can break down the wall behind which I tremble, you alone can remove my mask, you alone can release me from my shadow-world of panic, from my lonely prison, if you choose to. Please choose to.&lt;br /&gt;Do not pass me by.&lt;br /&gt;It will not be easy for you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A long conviction of worthlessness builds strong walls.&lt;br /&gt;The nearer you approach to me the blinder I may strike back.&lt;br /&gt;It's irrational, but despite what the books say about man often I am irrational.&lt;br /&gt;I fight against the very thing I cry out for.&lt;br /&gt;But I am told that love is stronger than strong walls and in this lies my hope.&lt;br /&gt;Please try to beat down those walls with firm hands but with gentle hands for a child is very sensitive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who am I, you may wonder?&lt;br /&gt;I am someone you know very well.&lt;br /&gt;For I am every man you meet and I am every woman you meet.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-4295688070871158503?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/4295688070871158503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=4295688070871158503' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4295688070871158503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4295688070871158503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/07/charles-c.html' title=''/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-9187812471605815865</id><published>2009-07-16T04:47:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T04:50:23.204-07:00</updated><title type='text'>Dokter yang bersahaja</title><content type='html'>sumber : &lt;a href="http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/07/16/09405225/dokter.lo.siaw.ging.tak.sudi.berdagang"&gt;http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/07/16/09405225/dokter.lo.siaw.ging.tak.sudi.berdagang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 16 Juli 2009  09:40 WIB&lt;br /&gt;Laporan wartawan KOMPAS Sonya Helen Sinombor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu sudah punya uang banyak?”Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa,” katanya.Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.Kerusuhan 1998Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,” cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.AnugerahMenjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?” ujar Lo.Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA DIRI• Nama: Lo Siaw Ging • Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 • Istri: Maria Gan May Kwee (62) • Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 • Profesi: - Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-9187812471605815865?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/9187812471605815865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=9187812471605815865' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/9187812471605815865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/9187812471605815865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/07/dokter-yang-bersahaja.html' title='Dokter yang bersahaja'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3780575210510547548</id><published>2009-06-24T04:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-24T04:11:53.916-07:00</updated><title type='text'>Merenung yukk....(ilmu bagai cahaya rembulan)</title><content type='html'>Penulis : Bapak Rois Fathoni&lt;br /&gt;(PhD candidate dari &lt;a href="http://chentserver.uwaterloo.ca/index.html" target="_blank"&gt;Department of Chemical Engineering&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.uwaterloo.ca/" target="_blank"&gt;University of Waterloo&lt;/a&gt;, Kanada dan dosen di Teknik Kimia,  Univ Muhammadiyah Surakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Al ‘ilmu Nuurun&lt;/strong&gt;. Ilmu itu bagaikan cahaya. Manfaat Ilmu pengetahuan bagi manusia dalam mengarungi samudra kehidupan adalah bagaikan cahaya yang membebaskan manusia dari kegelapan. Sedemikian besar kedudukan ilmu ini bagi keselamatan dan kesejahteraan manusia, hingga Allah swt mendahulukan perintah menuntut ilmu ini sebelum perintah perintah yang lainnya (Al ’Alaq (96) : 1-5).&lt;br /&gt;Alqur’an menggunakan dua kata yang berbeda untuk melukiskan cahaya matahari dan rembulan: dhiyaa’un untuk matahari, dan nuurun untuk rembulan (Yunus (10) : 5). Hal ini sesuai dengan perbedaan karakter alami dari keduanya: matahari bersinar karena ia menghasilkan sinarnya sendiri, sedangkan rembulan bercahaya karena ia hanya memantulkan sinar yang sampai kepadanya.&lt;br /&gt;Maka “al’ilmu nuurun” sesungguhnya akan lebih tepat jika diartikan “&lt;strong&gt;ilmu itu bagaikan cahaya rembulan&lt;/strong&gt;.” Dan jika merujuk pada karakter cahaya rembulan yang berbeda dengan cahaya matahari, akan kita dapati paling tidak ada dua hal yang bisa dijadikan nasehat bagi orang yang berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, orang berilmu harus menyebarkan ilmunya kepada orang lain. Manfaat cahaya rembulan tidak akan pernah bisa dirasakan oleh penduduk bumi jika rembulan tidak mau memantulkan sinar matahari yang sampai kepadanya. Ilmu pengatahuan tidak akan bisa dirasakan oleh umat manusia jika orang yang memilikinya tidak mau menyampaikannya kepada orang lain. Keharusan penyampaian ilmu ini bukan hanya untuk kepentingan manusia yang lain, tetapi justru yang lebih utama adalah untuk kepentingan pribadi orang berilmu tersebut. Jika rembulan tidak memantulkan sinar matahari yang sampai kepadanya, maka energy sinar itu akan terakumulasi di dalam dirinya, dan kelak suatu saat ia akan hancur luluh karena tidak kuat menahan akumulasi energy itu. Maka, demi kemaslahatan diri dan orang lain, orang berilmu harus menyebarkan ilmunya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, orang berilmu yang telah menunaikan kewajibannya, menyampaikan ilmunya kepada orang lain, tidak boleh berlaku sombong. Seterang - terangnya cahaya rembulan di bulan purnama, sesungguhnya cahaya yang tampaknya berasal dari rembulan itu hanyalah pantulan dari sinar matahari. Rembulan tidak pernah menghasilkan cahayanya sendiri. Ia “hanya” beredar mengelilingi bumi dan pada saat yang bersamaan, bersama bumi, mengelilingi matahari. Sepandai pandainya orang yang tampak berilmu di mata manusia, sesungguhnya ia hanya sekedar memantulkan ilmu yang datang kepadanya. Ia tidaklah memproduksi sendiri ilmu itu. Benar, bahwa manusia harus berikhtiar menuntut ilmu dan menyebarkan ilmunya, sebagaimana bulan beredar mengelilingi bumi dan matahari. Tetapi ikhtiar manusia tidak serta merta linier dengan ilmu yang ia dapatkan. Dua orang siswa yang memiliki tingkat kecerdasan yang sama, dengan tingkat ketekunan belajar yang sama, tidak akan menjamin bahwa keduanya akan memiliki tingkat pemahaman yang sama. Tingkat kefahaman itu di luar kendali manusia. Ia adalah anugerah dari Allah swt. Orang berilmu faham betul hal ini, dan sungguh tidak pantas bagi dirinya untuk menyombongkan diri atas ilmu yang ia peroleh dan ia sampaikan kepada orang lain karena sesungguhnya, seperti rembulan, ia hanya memantulkan kefahaman yang diberikan oleh Allah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, bahwa Allah menyuruh manusia menghormati orang berilmu, sebagaimana Beliau sendiri juga memuji dan menghormati orang berilmu (Al Mujaadalah (58): 11). Tetapi perintah ini berlaku bagi orang orang yang mendapatkan manfaat dari orang orang berilmu. Sanjungan dari Allah ini tidak boleh dijadikan dalil untuk merasa lebih tinggi dari manusia lain karena ilmu yang diberikan Allah kepada kita. Lagipula, bukankah semua orang pasti memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh orang lain? Petani, nelayan, penjahit, masinis, tukang batu,  dokter, dosen, guru, pengelola sampah, dst., semua memiliki ilmunya masing - masing. Dengan ilmu dan keahlian merekalah hidup kita menjadi jauh lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah mudahan Allah senantiasa melimpahkan semangat menuntut ilmu kepada kita, menambah ilmu dan kefahaman kepada kita, menganugerahi kita dengan kemampuan untuk menyampaikan kefahaman itu kepada orang lain, dan membersihkan hati kita dari sifat sombong karenanya. Mudah mudahan juga Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk senantiasa melihat orang lain, siapapun dia, sebagai orang yang berilmu, mengambil manfaat dengan ilmunya, dan selalu bisa berterima kasih dan menghormatinya,  Amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3780575210510547548?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3780575210510547548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3780575210510547548' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3780575210510547548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3780575210510547548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/06/merenung-yukkilmu-bagai-cahaya-rembulan.html' title='Merenung yukk....(ilmu bagai cahaya rembulan)'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-2930457443699681955</id><published>2009-06-16T11:20:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T11:25:26.005-07:00</updated><title type='text'>mengenal lebih jauh antimateri (sorry dont have time for translating)</title><content type='html'>sumber : &lt;a href="http://public.web.cern.ch/Public/en/Spotlight/SpotlightAandD-en.html"&gt;http://public.web.cern.ch/Public/en/Spotlight/SpotlightAandD-en.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Does CERN exist?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, yes, it does.  You can see us to the left and slightly up from the centre of the city of &lt;a href="http://www.viamichelin.com/viamichelin/gbr/dyn/controller/mapPerformPage?strAddress=cern&amp;amp;strLocation=meyrin&amp;amp;strCP=&amp;amp;strCountry=000000185&amp;amp;strStartAddress=&amp;amp;strStartCity=&amp;amp;strStartCP=&amp;amp;strStartCityCountry=000001138&amp;amp;strDestAddress=&amp;amp;strDestCity=&amp;amp;strDestCP=&amp;amp;strDestCityCountry=000001138" target="_blank"&gt;Meyrin&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Is it located in Switzerland?&lt;br /&gt;Part is in Switzerland, part in France across the border.  CERN is not a Swiss institute, but an international organization. We are very close to Geneva's international airport.&lt;br /&gt;What does the acronym CERN mean?&lt;br /&gt;That is a &lt;a href="http://public.web.cern.ch/Public/en/About/Name-en.html" target="_self"&gt;long story&lt;/a&gt;, but the name CERN is derived from the French ‘Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Does it consist of red brick buildings with white-frocked scientists running around carrying files?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No, that is rather far from reality; we have mostly white buildings made of concrete and the scientists wear everyday clothes and they mostly do not carry files.&lt;br /&gt;Was the Web really invented at CERN as the book states?&lt;br /&gt;Yes, indeed, the Web came from CERN, invented here by &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tim_Berners-Lee" target="_blank"&gt;Tim Berners-Lee&lt;/a&gt; in 1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Does antimatter exist?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes, it does, and we produce it routinely at CERN. &lt;a href="http://public.web.cern.ch/Public/en/Science/Antimatter-en.html" target="_blank"&gt;Antimatter&lt;/a&gt; was predicted by P.A.M. Dirac in 1928 and the first antiparticles were discovered soon after by Carl Anderson. CERN is not the only research institute to produce and study antimatter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How is antimatter contained?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is very difficult to contain antimatter, because any contact between a particle and its anti-particle leads to their immediate annihilation.&lt;br /&gt;For electrically charged antimatter particles we know how to contain them by using ‘electromagnetic traps’. These traps make it possible to contain up to about 1012 (anti-) particles of the same charge. However,  like charges repel each other. So it is not possible to store a much larger quantity of e.g. antiprotons because the repulsive forces between them would become too strong for the electromagnetic fields to hold them away from the walls. &lt;br /&gt;For electrically neutral anti-particles or anti-atoms, the situation is even more difficult. It is impossible to use constant electric or magnetic fields to contain neutral antimatter, because these fields have no grip on the particles at all. Scientists work on ideas to use ‘magnetic bottles’ (with inhomogeneous magnetic fields acting on the magnetic moment), or ‘optical traps’ (using lasers) but this is still under development.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is the future use of antimatter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anti-electrons (positrons) are already used in &lt;a href="http://www.triumf.ca/welcome/petscan.html"&gt;PET scanners&lt;/a&gt; in medicine (Positron-Emission Tomography = PET). One day it might be even possible &lt;a href="http://press.web.cern.ch/press/PressReleases/Releases2006/PR15.06E.html"&gt;to use antiprotons for tumour irradiation&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;But antimatter at CERN is mainly used to study the laws of nature. We focus on the question of the symmetry between matter and antimatter. The &lt;a href="http://public.web.cern.ch/public/en/LHC/LHCb-en.html"&gt;LHCb&lt;/a&gt; experiment will compare precisely the decay of b-quarks and anti-b-quarks. Eventually we also hope to be able to use anti-hydrogen atoms as high-precision tools.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do antimatter atoms exist?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The team of the &lt;a href="http://www.cern.ch/Press/PressReleases/Releases1996/PR01.96EAntiHydrogen.html"&gt;PS210 experiment&lt;/a&gt; at the Low Energy Antiproton Ring (LEAR) at CERN made the &lt;a href="http://public.web.cern.ch/Public/en/About/History95-en.html"&gt;first anti-hydrogen atoms in 1995&lt;/a&gt;. Then, in 2002 two experiments (ATHENA and ATRAP) managed to produce tens of &lt;a href="http://www.cern.ch/Press/PressReleases/Releases2002/PR09.02Eantihydrogen.html"&gt;thousands of antihydrogen atoms&lt;/a&gt;, later even millions.  However, although "tens of thousands" may sound a lot, it's really a very, very small amount.  You would need 10,000,000,000,000,000 times that amount to have enough anti-hydrogen gas to fill a toy balloon!  If we could somehow store our daily production, it would take us several billion years to fill the balloon. But the universe has been around for only 13.7 billion years...So the Angels and Demons scenario is pure fiction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can we hope to use antimatter as a source of energy? Do you feel antimatter could power vehicles in the future, or would it just be used for major power sources?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no possibility to use antimatter as energy ‘source’. Unlike solar energy, coal or oil, antimatter does not occur in nature; we first have to make every single antiparticle, and we have to invest (much) more energy than we get back during annihilation.&lt;br /&gt;You can imagine antimatter as a storage medium for energy, much like you store electricity in rechargeable batteries. The process of charging the battery is reversible with relatively small loss. Still, it takes more energy to charge the battery than you get back.&lt;br /&gt;The inefficiency of antimatter production is enormous: you get only a tenth of a billion (10-10) of the invested energy back. If we could assemble all the antimatter we've ever made at CERN and annihilate it with matter, we would have enough energy to light a single electric light bulb for a few minutes.&lt;br /&gt;I was hoping antimatter would be the future answer to our energy needs. It seems more research is needed for this to happen.&lt;br /&gt;No, even more research will not change this situation fundamentally; antimatter is certainly not able to solve our energy problems. First of all, you need energy to make antimatter (E=mc2) and unfortunately you do not get the same amount of energy back out of it. (See above, the loss factors are enormous.)&lt;br /&gt;Furthermore, the conversion from energy to matter and antimatter particles follows certain laws of nature, which also allow the production of many other, but very short-lived particles and antiparticles (e.g. muons, pions, neutrinos). These particles decay rapidly during the production process, and their energy is lost.&lt;br /&gt;Antimatter could only become a source of energy if you happened to find a large amount of antimatter lying around somewhere (e.g. in a distant galaxy), in the same way we find oil and oxygen lying around on Earth. But as far as we can see (billions of light years), the universe is entirely made of normal matter, and antimatter has to be painstakingly created.&lt;br /&gt;By the way, this shows that the symmetry between matter and antimatter as stated above does not seem to hold at very high energies, such as shortly after the Big Bang, as otherwise there should be as much matter as antimatter in the Universe. Future research might tell us is how this asymmetry came about.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can we make antimatter bombs?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. It would take billions of years to produce enough antimatter for a bomb having the same destructiveness as ‘typical’ hydrogen bombs, of which there exist more than ten thousand already.&lt;br /&gt;Sociological note:  scientists realized that the atom bomb was a real possibility many years before one was actually built and exploded, and then the public was totally surprised and amazed. On the other hand, the public somehow anticipates the antimatter bomb, but we have known for a long time that it cannot be realized in practice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why has antimatter received no media attention?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It has received a lot of media attention, but usually in the scientific press. Also, antimatter is not ‘new’. Antiparticles have been known and studied for 75 years. What is new is the possibility to produce anti-hydrogen atoms, but this is also mainly a matter of scientific interest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is antimatter truly 100% efficient?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It depends on what you mean by efficient.  If you start from two equal quantities m/2 of matter and m/2 of antimatter, then the energy output is, of course, exactly E=mc2. Mass is converted into energy with 100% efficiency.&lt;br /&gt;But that is not the point: how much effort do you have to put in to get m/2 grams of antimatter? Well, theoretically E=mc2 because half of the energy will become normal matter. So you gain nothing.  But the process of creating antimatter is highly inefficient; when you dissipate energy into particles with mass, many different - also short-lived - particles and antiparticles are produced. A major part of the energy gets lost, and a lot of the stable antimatter-particles (e.g. positrons and antiprotons) go astray before you can catch them. Everything happens at nearly the speed of light, and the particles created zoom off in all directions. Somewhat like cooking food over a campfire: most of the heat is lost and does not go into the cooking of the food, it disappears as radiation into the dark night sky. Very inefficient.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you make antimatter as described in the book?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. The production and storage of antimatter at CERN is not at all as described in the book: you cannot stand next to the Large Hadron Collider (&lt;a href="http://www.cern.ch/Public/Content/Chapters/AboutCERN/CERNFuture/WhatLHC/WhatLHC-en.html"&gt;LHC&lt;/a&gt;) and see it come out, especially since the LHC accelerator is not yet in operation. &lt;br /&gt;To make antiprotons, we collide protons at nearly the speed of light (to be precise, with a kinetic energy of about 25 GeV) with a block of metal, e.g. copper or tungsten. These collisions produce a large number of particles, some of which are antiprotons. Only the antiprotons are useful, and only those that fly out in the right direction. So that's where your energy loss goes:  it is like trying to water a pot of flowers but with a sprinkler that sprays over the whole garden. Of course, we constantly apply new tricks to become more efficient at collecting antiparticles, but at the level of elementary particles this is extremely difficult.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why then do you build the LHC?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The reason for building the LHC accelerator is not to make antimatter but to produce an energy concentration high enough to study effects that will help us to understand some of the &lt;a href="http://public.web.cern.ch/public/en/LHC/WhyLHC-en.html"&gt;remaining questions in physics&lt;/a&gt;. We say concentrations, because we are not talking about huge amounts but an enormous concentration of energy. Each particle accelerated in the LHC carries an amount of energy equivalent to that of a flying mosquito. Not much at all in absolute terms, but it will be concentrated in a very minute volume, and there things will resemble the state of the universe very shortly (about a trillionth of a second) after the Big Bang.&lt;br /&gt;You should compare the concentration effect to what you can learn about the quality of a wooden floor by walking over it. If a large man wearing normal shoes and a petite woman wearing sharp stiletto heels walk over the same floor, the man will not make dents, but the woman, despite her lower weight, may leave marks;  the pressure created by the stiletto heels is far higher. So that is like the job of the LHC: concentrate a little energy into a very minute space to produce a huge energy concentration and learn something about the Big Bang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Does CERN have a particle accelerator 27 kilometres long?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The &lt;a href="http://public.web.cern.ch/public/en/LHC/LHC-en.html"&gt;LHC&lt;/a&gt; accelerator is a ring 27 kilometres in circumference. It is installed in a tunnel about 100 m underground. You can see the round outline of it marked &lt;a href="http://cern.ch/area-map/AreaMap.html"&gt;on a map&lt;/a&gt; of the area.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In fact, why do you make antimatter at CERN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The principal reason is to study the laws of nature. The current theories of physics predict a number of subtle effects concerning antimatter. If experiments do not observe these predictions, then the theory is not accurate and needs to be amended or reworked. This is how science progresses.&lt;br /&gt;Another reason is to get extremely high energy densities in collisions of matter and antimatter particles, since they annihilate completely when they meet. From this annihilation energy other interesting particles may be created. This was mainly how the Large Electron Positron (LEP) collider functioned at CERN until 2000, or the Tevatron currently operates at Fermilab near Chicago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How is energy extracted from antimatter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When a normal matter particle hits an antimatter particle, they mutually annihilate into a very concentrated burst of pure energy, from which in turn new particles (and antiparticles) are created. The number and mass of the annihilation products depends on the available energy.&lt;br /&gt;The annihilation of electrons and positrons at low energies produces only two (or three) highly energetic photons. But with annihilation at very high energy, hundreds of new particle-antiparticle pairs can be made. The decay of these particles produces, among others, many neutrinos, which do not interact with the environment at all. This is not very useful for energy extraction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How safe is antimatter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perfectly safe, given the minute quantities we can make.  It would be very dangerous if we could make a few grams of it, but this would take us billions of years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If so, does CERN have protocols to keep the public safe?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no danger from antimatter. There are of course other dangers on the CERN site, as in any laboratory: high voltage in certain areas, deep pits to fall in, etc. but for these dangers the usual industrial safety measures are in place. There is no danger of radioactive leaks as you might find near nuclear power stations. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Does one gram of antimatter contain the energy of a 20 kilotonne nuclear bomb?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twenty kilotonnes of TNT is the equivalent of the atom bomb that destroyed Hiroshima. The explosion of a kilotonne (=1000 tonnes) of TNT corresponds to a energy release of 4.2x1012 joules (1012  is a 1 followed by 12 zeros, i.e. a million million).  For comparison, a 60 watt light bulb consumes 60 J per second.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are probably asking for the explosive release of energy by the sudden annihilation of one gram of antimatter with one gram of matter. Let's calculate it.&lt;br /&gt;To calculate the energy released in the annihilation of 1 g of antimatter with 1 g of matter (which makes 2 g = 0.002 kg), we have to use the formula E=mc2, where c is the speed of light (300,000,000 m/s):&lt;br /&gt;E= 0.002 x (300,000,000)2 kg m2/s2 = 1.8 x 1014 J = 180 x 1012 J. Since 4.2x1012 J corresponds to a kilotonne of TNT, then 2 g of matter-antimatter annihilation correspond to 180/4.2 = 42.8 kilotonnes, about double the 20 kt of TNT.&lt;br /&gt;This means that you ‘only’ need half a gram of antimatter to be equally destructive as the Hiroshima bomb, since the other half gram of (normal) matter is easy enough to find.&lt;br /&gt;At CERN we make quantities of the order of 107 antiprotons per second and there are 6x1023 of them in a single gram of antihydrogen. You can easily calculate how long it would take to get one gram:  we would need 6x1023/107=6x1016 seconds. There are only 365 (days) x 24 (h) x 60 (min) x 60 (sec) = around 3x107 seconds in a year, so it would take roughly 6x1016 / 3x107 = 2x109 = two billion years!  It is quite unlikely that anyone wants to wait that long.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Did CERN scientists actually invent the Internet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. The Internet was originally based on work done by &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Internet"&gt;Louis Pouzin&lt;/a&gt; in France, taken up by &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Vinton_Cerf"&gt;Vint Cerf&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_E._Kahn"&gt;Bob Kahn&lt;/a&gt; in the US in the 1970s. However, the Web was invented and developed entirely by &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tim_Berners-Lee"&gt;Tim Berners-Lee&lt;/a&gt; and a small team at CERN during 1989-1994. The story of the Internet and the Web can be read in ‘&lt;a href="http://www.oup.co.uk/isbn/0-19-286207-3"&gt;How the Web was born&lt;/a&gt;’. Perhaps not as sexy as Angels and Demons, but everything in ‘How the Web was born’ was first-hand testimony and research.&lt;br /&gt;Does CERN own an X-33 spaceplane?&lt;br /&gt;Unfortunately not.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-2930457443699681955?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/2930457443699681955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=2930457443699681955' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/2930457443699681955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/2930457443699681955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/06/mengenal-lebih-jauh-antimateri-sorry.html' title='mengenal lebih jauh antimateri (sorry dont have time for translating)'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-4491871706953891412</id><published>2009-06-16T06:07:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T06:10:25.480-07:00</updated><title type='text'>Lampu dioda dari hibridisasi benang nano ZnO dengan polimer organik</title><content type='html'>Lampu dioda dari hibridisasi benang nano ZnO dengan polimer organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Iwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi lampu diode (LED) menggunakan bahan inorganic yang fleksibel dan lentur telah mampu direalisasikan dengan menggunakan ZnO yang berbentuk benang nano. Benang nano dari ZnO bertindak sebagai komponen optis.&lt;br /&gt;Diawali oleh emisi sinar ultra violet(uv) dengan panjang gelombang 393 nm dari benang nano ZnO (ZnO Nanowire LEDs Have UV Output,” Photonics Spectra, January 2006, page 135), para peneliti kini telah menemukan spectrum yang berada pada rentang cahaya tampak hingga mendekati sinar infra merah (500-1100 nm) mampu dihasilkan oleh LED yang berbasiskan benang nano dari ZnO.&lt;br /&gt;Gambar 1. Diagram dari struktur LED berbasis benang nano pada substrate plastik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan ini di pelopori oleh Prof. Rolf Könenkamp dari Portland State University in Oregon. Hasil penemuannya melaporkan bahwa LED dari bahan inorganic diprediksikan menjadi alternative masa depan untuk menggantikan semua perangkat elektronik dan photonic dari bahan organic.&lt;br /&gt;Struktur dari divais LED berbasiskan benang nano yang lentur dapat di lihat pada gambar 1. Dari gambar tersebut benang nano ZnO ditumbuhkan diatas substrate polyethylene terephtalate (bahan plastic) yang telah dilapisi oleh indium tin okside (ITO). Kristal tunggal benang nano tersebut ditumbuhkan dengan metode elektrodeposisi dengan temperature 80oC di atas ITO. Proses penumbuhan kira-kira memakan waktu satu jam dengan arah tumbuh vertical dan homogeny. Dari hasil karakterisasi, panjang benang nano rata-rata 2 mm dan diameter 70-120 nm. Lalu benang-benang nano tersebut di lapisi dengan lapisan tipis polysterene sebagai isolator yang mengisi tiap celah diantara benang-benang nano. Lapisan tipis polysterene melapisi benang nano dengan ketebalan kira-kira 10 nm. Proses pengisian celah atau pelapisan benang-benang nano tersebut menggunakan metode spin coating. Lalu bagian atas dilapisi pula menggunakan poly(3,4-ethylene-dioxythiophene) poly(styrenesulfonate), PEDOT/PSS, selanjutnya dilapisi emas (sebagai kontak Ohmic) yang berperan sebagai anoda (elektroda positif). Gambar 2. Benang-benang nano ZnO yang berada dilapisi oleh lapisan tipis polystyrene&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian lebih lanjut, ternyata benang-benang nano ZnO tersebut melekat sangat kuat diatas substrate meskipun dibengkokan dengan jari-jari kelengkungan &lt;10 μm.Dari sisi intensitas cahaya yang diemisikan, LED benang nano yang berada diatas substrate plastic memancarkan cahaya dengan intensitas lebih rendah dibandingkan diatas substrate gelas. Namun demikian distribusi spectrum cahaya yang teramati dari elektroluminisensi memiliki kemiripan yaitu berada di rentang cahaya tampak.&lt;br /&gt;Penemuan ini mengindikasikan bahwa hibridisasi teknologi nano dengan polimer organic memiliki potensi untuk dikembangkan dalam ranah aplikasi optoelektronika di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photonics Spectra, January 2006, page 135&lt;br /&gt;Nano Letters, February 2008, pp. 534-537.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-4491871706953891412?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/4491871706953891412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=4491871706953891412' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4491871706953891412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4491871706953891412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/06/lampu-dioda-dari-hibridisasi-benang.html' title='Lampu dioda dari hibridisasi benang nano ZnO dengan polimer organik'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-6728173615599639289</id><published>2009-06-16T00:31:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T00:33:36.230-07:00</updated><title type='text'>Anti materi, sebuah realitaskah?</title><content type='html'>Silahkan dibaca tulisan berikut..menarik lo..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;a href="http://www.space.com/php/contactus/feedback.php?r=rb"&gt;Robert Roy Britt&lt;/a&gt; (Senior Science Writer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antimatter sounds like the stuff of science fiction, and it is. But it's also very real. Antimatter is created and annihilated in stars every day. Here on Earth it's harnessed for medical brain scans.&lt;br /&gt;"Antimatter is around us each day, although there isn't very much of it," says Gerald Share of the Naval Research Laboratory. "It is not something that can be found by itself in a jar on a table."&lt;br /&gt;So Share went looking for evidence of some in the Sun, a veritable antimatter factory, leading to new results that provide limited fresh insight into these still-mysterious particles.&lt;br /&gt;Simply put, antimatter is a fundamental particle of regular matter with its electrical charge reversed. The common proton has an antimatter counterpart called the antiproton. It has the same mass but an opposite charge. The electron's counterpart is called a positron.&lt;br /&gt;Antimatter particles are created in ultra high-speed collisions.&lt;br /&gt;One example is when a high-energy proton in a solar flare collides with carbon, Share explained in an e-mail interview. "It can form a type of nitrogen that has too many protons relative to its number of neutrons." This makes its nucleus unstable, and a positron is emitted to stabilize the situation.&lt;br /&gt;But positrons don't last long. When they hit an electron, they annihilate and produce energy.&lt;br /&gt;"So the cycle is complete, and for this reason there is so little antimatter around at a given time," Share said.&lt;br /&gt;The antimatter wars&lt;br /&gt;To better understand the elusive nature of antimatter, we must back up to the beginning of time.&lt;br /&gt;In the first seconds after the Big Bang, there was no matter, scientists suspect. Just energy. As the universe expanded and cooled, particles of regular matter and antimatter were formed in almost equal amounts.&lt;br /&gt;But, theory holds, a slightly higher percentage of regular matter developed -- perhaps just one part in a million -- for unknown reasons. That was all the edge needed for regular matter to win the longest running war in the cosmos.&lt;br /&gt;"When the matter and antimatter came into contact they annihilated, and only the residual amount of matter was left to form our current universe," Share says.&lt;br /&gt;Antimatter was first theorized based on work done in 1928 by the physicist &lt;a href="http://www.space.com/scienceastronomy/dirac_posters_020808.html"&gt;Paul Dirac&lt;/a&gt;. The positron was discovered in 1932. Science fiction writers latched onto the concept and wrote of antiworlds and antiuniverses.&lt;br /&gt;Potential power&lt;br /&gt;Antimatter has tremendous energy potential, if it could ever be harnessed. A solar flare in July 2002 created about a pound of antimatter, or half a kilo, according to new NASA-led research. That's enough to power the United States for two days.&lt;br /&gt;Laboratory particle accelerators can produce high-energy antimatter particles, too, but only in tiny quantities. Something on the order of a billionth of a gram or less is produced every year.&lt;br /&gt;Nonetheless, sci-fi writers long ago devised schemes using antimatter to power space travelers beyond light-speed. Antimatter didnt get a bad name, but it sunk into the collective consciousness as a purely fictional concept. Given some remarkable physics breakthrough, antimatter could in theory power a spacecraft. But NASA researchers say it's nothing that will happen in the foreseeable future.&lt;br /&gt;Meanwhile, antimatter has proved vitally useful for medical purposes. The fleeting particles of antimatter are also created by the decay of radioactive material, which can be injected into a patient in order to perform Positron Emission Tomography, or PET scan of the brain. Here's what happens:&lt;br /&gt;A positron that's produced by decay almost immediately finds an electron and annihilates into two gamma rays, Share explains. These gamma rays move in opposite directions, and by recording several of their origin points an image is produced.&lt;br /&gt;Looking at the Sun&lt;br /&gt;In the Sun, flares of matter accelerate already fast-moving particles, which collide with slower particles in the Sun's atmosphere, producing antimatter. Scientists had expected these collisions to happen in relatively dense regions of the solar atmosphere. If that were the case, the density would cause the antimatter to annihilate almost immediately.&lt;br /&gt;Share's team examined gamma rays emitted by antimatter annihilation, as observed by NASA's RHESSI spacecraft in work led by Robert Lin of the University of California, Berkeley.&lt;br /&gt;The research suggests the antimatter perhaps shuffles around, being created in one spot and destroyed in another, contrary to what scientists expect for the ephemeral particles. But the results are unclear. They could also mean antimatter is created in regions where extremely high temperatures make the particle density 1,000 times lower than what scientists expected was conducive to the process.&lt;br /&gt;Details of the work will be published in Astrophysical Journal Letters on Oct. 1.&lt;br /&gt;Unknowns remain&lt;br /&gt;Though scientists like to see antimatter as a natural thing, much about it remains highly mysterious. Even some of the fictional portrayals of mirror-image objects have not been proven totally out of this world.&lt;br /&gt;"We cannot rule out the possibility that some antimatter star or galaxy exists somewhere," Share says. "Generally it would look the same as a matter star or galaxy to most of our instruments."&lt;br /&gt;Theory argues that antimatter would behave identical to regular matter gravitationally.&lt;br /&gt;"However, there must be some boundary where antimatter atoms from the antimatter galaxies or stars will come into contact with normal atoms," Share notes. "When that happens a large amount of energy in the form of gamma rays would be produced. To date we have not detected these gamma rays even though there have been very sensitive instruments in space to observe them."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This article is part of SPACE.com's weekly Mystery Monday series&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-6728173615599639289?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/6728173615599639289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=6728173615599639289' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/6728173615599639289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/6728173615599639289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/06/anti-materi-sebuah-realitaskah.html' title='Anti materi, sebuah realitaskah?'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-665642268758983609</id><published>2009-05-21T04:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T04:12:09.467-07:00</updated><title type='text'>Selamat buat Riana :-)</title><content type='html'>sumber : &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/20/05410696/belum.genap.18.tahun.riana.sudah.jadi.dokter"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/20/05410696/belum.genap.18.tahun.riana.sudah.jadi.dokter&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat dan luar biasa! Hanya kata itu yang tepat diucapkan untuk dr Riana Helmi. Dalam usianya yang belum genap 18 tahun, tepatnya 17 tahun 11 bulan, remaja kelahiran Banda Aceh itu diwisuda sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Wisuda dilakukan di gedung pertemuan UGM Grha Sabha Pramana, Yogyakarta, Selasa (19/5).&lt;br /&gt;Riana, demikian gadis berperawakan kecil itu akrab disapa, menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga tahun enam bulan dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sangat memuaskan, yaitu 3,67. Karena prestasinya itu, Riana sempat menerima pujian dan diminta berdiri oleh Rektor UGM Soedjarwadi.&lt;br /&gt;"Ya, Alhamdulillah saya bisa jadi wisudawan termuda," ucapnya didampingi kedua orangtuanya, Ajun Komisaris Helmi dan Rofiah, seusai wisuda.&lt;br /&gt;Riana lahir di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, 22 Maret 1991. Dia masuk ke Fakultas Kedokteran UGM melalui jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS) pada September 2005. Usianya saat itu masih 14 tahun lewat tiga bulan, atau setara dengan pelajar kelas II SMP pada umumnya.&lt;br /&gt;Meski sangat muda, Riana mengaku tidak banyak kendala dalam menyesuaikan diri dengan mahasiswa lain yang rata-rata berusia empat tahun lebih tua darinya. Dia juga menjalani kuliah kedokteran secara normal, dengan banyak tugas seperti mahasiswa lainnya. Sebagai mahasiswa termuda, hal ini kerap membuatnya gelisah.&lt;br /&gt;"Kesulitan karena tugas sangat banyak sih ada, tapi syukurlah semua bisa saya atasi," kata Riana yang mempelajari kanker payudara dalam skripsinya.&lt;br /&gt;Lulus dalam usia yang masih sangat muda, Riana masih ingin melanjutkan sekolahnya. Menurut rencana, dia akan mengambil pendidikan spesialis untuk meraih cita-citanya sebagai dokter spesialis kandungan.&lt;br /&gt;Kelas akselerasi&lt;br /&gt;Riana dikenal cerdas sejak kecil. Selama di bangku SMP dan SMA Negeri 3 Sukabumi, Jawa Barat, Riana yang menghabiskan masa kecilnya di Garut dan Sukabumi itu selalu duduk di kelas percepatan (akselerasi).&lt;br /&gt;Selain itu, Riana juga masuk SD pada usia sangat muda, yaitu empat tahun. "Sejak usia tiga tahun, dia sudah lancar membaca," kata Helmi yang merupakan perwira polisi pendidik di Sekolah Polri Lido, Sukabumi, Jawa Barat.&lt;br /&gt;Menurut Helmi, sejak kecil, rasa ingin tahu Riana sangat besar. Dia juga lebih gemar belajar daripada bermain. Meskipun tidak ada yang menyuruh, sebagian besar waktu luangnya justru dia isi dengan membaca.&lt;br /&gt;"Riana kecil juga tidak suka bermain boneka. Dia malah takut dan menjerit kalau melihat boneka di dekatnya," ujar Helmi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-665642268758983609?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/665642268758983609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=665642268758983609' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/665642268758983609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/665642268758983609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/05/selamat-buat-riana.html' title='Selamat buat Riana :-)'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-9028958622558030150</id><published>2009-04-30T10:40:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T10:47:42.235-07:00</updated><title type='text'>Inilah kiat menjadi seorang pemimpin....</title><content type='html'>Seandainya para pemimpin di instansi manapun mampu melaksanakan 5M, saya pikir kita akan solid dan kuat. Monggo disimak :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“5M” KIAT PEMIMPIN: MULAT, MILALAO, MILUTA, PALIDARMA, DAN PALIMARMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://javanologi.blogspot.com/2008/06/kepemimpinan-jawa-wawan-susetya.html"&gt;http://javanologi.blogspot.com/2008/06/kepemimpinan-jawa-wawan-susetya.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khasanah budaya Jawa, terdapat paugeran atau rambu-rambu yang harus menjadi fokus pencermatan bagi seorang-orang yang merasa dirinya sebagau pemimpin. Paugeran itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulat; (mengetahui).&lt;br /&gt;Bagi seorang orang pemimpin hendaknya 'mulat yakni mengetahui keberadaan atau keadaan rakyatnya dari dekat. Utamanya ketika terjadi musibah, seperti bencana penyakit, bencana alam atau lainnya.Dalam arti yang terdalam seorang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin adalah manusia yang memiliki tingat empati yang tingg. Sifat ini juga disarankan kepada seorang guru, sehingga mengerti secara utuh segenap persoalan yang dimiliki sang murid. Mulat juga dapat diartikan kemampuan mencermati/mengamati, atau memonitor setiap dinamika perkembangan yang dimiliki rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milala; (bombong; mem-bombong, membesarkan hati, atau memuji).&lt;br /&gt;Bagi seorang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin, dan ketika melihat keadaan rakyatnya sedang dirundung malang akibat musibah atau petaka lainnya, ia harus membesarakan hati rakyatnya, memberikan semangat agar bangkit dari duka-nestapa, dan tidak larut dalam kedukaan yang terdalam. Bagi seorang guru milala identik dengan upaya memberikan motivasi agar mengalir energi potensial yang dimiliki oleh siswa. Energi ini biasanya merupakan energi yang tersimpan, manakala terdapat pematik [stimulan] dari luar, serta merta energi ini dapat dibangkitkan.Dalam penerapannya harus dilakukan sebagai usaha sadar pembangkit, bukan sebaliknya sebagai alat untuk “ngembosi”, atau “njlomprongke” [pujian yang menjerumuskan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miluta, (bimbing; membimbing, menagarahkan atau menunjukkan kesalahannya).&lt;br /&gt;Seorang-orang yang mengaku dirinya sebagai pemimpin, sangat ditungu-tunggu nasihatnya, sehingga rakyat akan selalu berada di rel yang benar. Demikian halnya bagi seorang guru atau orang tua; setelah bombong [membombong=memuji] anak atau siswanya, selanjutnya harus diikuti dengan bimbingan. Sehingga rakyat akan tetap terawat pada patron yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palidarma (memberikan teladan/contoh).&lt;br /&gt;Rambu-rambu palidarma dalam hal ini sudah sangat populer; yakni sebagai seorang pemimpin, orang tua atau guru, harus dapat memberikan teladan yang indah dan baik—falsafah, Ki Hadjar Dewantara “ Ing ngarsa sun tuladha"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palimarma (memberikan maaf atau memaafkan).&lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang bijak diharapkan gampang memberikan maaf kesalahan rakyatnya. Pemimpin harus berani meminta maaf, mengaku kesalahan dikala salah. Juga bagi seorang guru, murah dan mudah memaafkan adalah bagian dari citra dirinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-9028958622558030150?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/9028958622558030150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=9028958622558030150' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/9028958622558030150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/9028958622558030150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/04/inilah-kiat-menjadi-seorang-pemimpin.html' title='Inilah kiat menjadi seorang pemimpin....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1677951104168570878</id><published>2009-04-30T10:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T10:34:38.485-07:00</updated><title type='text'>menyambut hari pendidikan nasional....</title><content type='html'>On may 2, every years Indonesia celebrates national education day.&lt;br /&gt;Some questions will appear and courage my self to study further about the essential of education :&lt;br /&gt;Is education important to a successful career in industry? amongs us perhaps often ask why education is important with respect to one’s career, particularly in the healthcare industry. Some people also want to know how education can impact overall quality of life, in addition to the impact education has on one's career.&lt;br /&gt;Many job seekers, some who have years of experience, may not even be considered for a job, or they may be passed over for a candidate who has a degree, or more education, but has less experience. Why?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lets we see the interesting analysis by &lt;a href="http://healthcareers.about.com/mbiopage.htm" zt="18/1YF/Zf"&gt;Andrea Santiago&lt;/a&gt; , About.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Answer:&lt;/strong&gt; Education is very important to both your personal and professional life, in a number of significant ways!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depending on the level of success you’re seeking to achieve, the level of education may be relative, but the bottom line is, an education of some sort is often paramount to future success. Completing increasingly advanced levels of education shows that you have a drive and commitment to learn and apply information, ideas, theories, and formulas to achieve a variety of tasks and goals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Subject Matters:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Probably the most obvious reason education is important is to acquire the subject matter and basic knowledge needed to get by in everyday life. For example:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;English and language skills:&lt;/strong&gt; English and language skills will help you to communicate your ideas more clearly. Communication skills are essential in any role – whether you’re dealing with co-workers, patients, customers, or supervisors, you will need to effectively convey your plans, ideas, goals, and such.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Math and science skills:&lt;/strong&gt; Although calculators and computers are readily accessible, you still need to learn how to do basic computations and calculations on paper or in your head. If you are calculating dosages, counting surgical supplies, or tallying sales, math skills are imperative for a career, and for life. Cooking, shopping, driving, and many other everyday activities require math skills as well, regardless of your career choice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;The more you LEARN, the more you EARN:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have you ever noticed that the word LEARN contains the word EARN? Perhaps that is because the higher level of education you achieve, the higher level of income you are likely to command as well. For example, consider the following health careers and the educational requirements as they relate to annual income:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://healthcareers.about.com/od/whychoosehealthcare/f/NoDegreeMedJobs.htm"&gt;Medical jobs, no college degree&lt;/a&gt;: Pay $20,000-40,000 annually, on average&lt;br /&gt;&lt;a href="http://healthcareers.about.com/od/healthcareerprofiles/p/AlliedHealth.htm"&gt;Allied Health Careers&lt;/a&gt;, two years of college: Pay from $40,000-60,000 annually.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://healthcareers.about.com/od/healthcareerprofiles/p/Nursing_Career.htm"&gt;Nursing Careers&lt;/a&gt;, Associate's or Bachelor Degree: Pay $40,000-55,000 on average annually.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://healthcareers.about.com/od/compensationinformation/p/TopNursesSalary.htm"&gt;Advanced Nursing Careers&lt;/a&gt;, Master's Degree required: Pay $60,000-90,000+ annually.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://healthcareers.about.com/od/healthcareerprofiles/p/PharmacistJobs.htm"&gt;Pharmacist&lt;/a&gt;, Bachelor's, + PharmD: Pay $90,000-115,000 annually.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://healthcareers.about.com/od/healthcareerprofiles/p/physician.htm"&gt;Physician&lt;/a&gt;, Medical Doctorate required: Pay $120,000-$500,000+ annually&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Are you seeing the trend here? Clearly, education is important for financial growth in the healthcare field, as with many other careers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Many Employers Now Require Education for Employment:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another primary reason education is important, is that it’s become a basic requirement for so many employers, to even get your foot in the door. Many employers require college level education, even for roles which previously did not require it, such as administrative assistant positions. The fewer years of education you’ve completed, the fewer doors are open to you. It’s that simple.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Educational requirements are a quick and easy way to narrow down the field of applicants, especially in situations where there are more applicants than jobs. When hiring from a field of candidates, employers prefer those who have completed the higher level of education.&lt;br /&gt;Why has education become so important to employers? In working with hiring managers to conduct candidate searches, it seems that the education requirement has become a barrier for entry into many careers, because education allows you to:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Learn how to learn. School teaches you how to gather, learn, and apply knowledge. No matter what career you choose, you will need to learn procedures, information, and skills related to your job, and execute tasks based on that information and training.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Develop interpersonal skills. School allows you to interact with other people and refine your communication skills, including those of persuasion, conflict resolution, and teamwork.&lt;br /&gt;Learn time and task management.Learn how to manage projects, deadlines, and complete assignments efficiently and effectively.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Learn from experience of others. By attending school, you are able to learn from the experience and intellect of thousands of people who have gone before you. In just a few years, through your textbooks, research, and class lessons, school gives you a consolidated overview of theories, formulas, ideologies, and experiments conducted by generations of scientists, philosophers, mathematicians, historians, and other experts. While gaining your own personal work experience is helpful too, a formal education is a way to learn from centuries of others’ life and work and academic experience before you.&lt;br /&gt;As you can see, education is important to everyone, but education is even more important in the healthcare industry. Why?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Technology, math and science are key components of many healthcare roles: Healthcare careers often require knowledge and understanding of the sciences, and technology. These fields are always changing and growing with new developments and discoveries. Therefore it’s imperative to have a basic understanding you can build on with continuing education throughout your career, to keep up with the latest changes and new information.&lt;br /&gt;Health professionals have a huge responsibility for the health, well-being, and survival of others. Therefore, health professionals must be particularly adept and relating to other people, learning and gathering information about a patient, and applying it to the treatment and care of that patient based on medical knowledge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For many healthcare roles, degrees and certifications are required for licensure to practice in a certain capacity. Many allied healthcare jobs require at least an associate’s degree, most nurses need bachelor’s degrees, and physicians and advanced practice nurses must have many years of post-graduate training to include master’s and doctorate degrees.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1677951104168570878?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1677951104168570878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1677951104168570878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1677951104168570878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1677951104168570878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/04/menyambut-hari-pendidikan-nasional.html' title='menyambut hari pendidikan nasional....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1573185189809618527</id><published>2009-04-23T23:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T23:40:38.938-07:00</updated><title type='text'>Kiat mewujudkan kesuksesan....</title><content type='html'>Artikel yang ditulis oleh : &lt;strong&gt;Johanne Alarie &lt;/strong&gt;ini cukup bagus untuk memotivasi dan memberikan pencerahan how to be suceesfull dalam perjalanan hidup kita. Monggo disimak, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is it not what we all are dreaming of? Being a Success! We want to be successful in school, in our jobs, in our relationships. In fact, we dream about being successful in everything. But what a challenge this is! Most of the people believe that they just can't achieve great success because they don't have what it takes, or because they're not educated enough! They complain that luck is never on their side or that they weren't born to be successful, or even that they are too poor to ever even think about being something else! You know what? You don't need luck or any diploma to accomplish the success you deserve. You just need faith. Faith that you will indeed be successful, faith that you have all that it takes to make it to the top! You have to BELIEVE that YOU ARE the most successful person you ever met. If you don't believe in yourself, who on earth do you think will? The most successful persons in the world (businessmen (women), signers, physicians, etc.) all have that point in common: They all believed firmly that they were going to be exactly what they expected to be. They never doubted themselves, they had faith in their potentials and they were absolutely convinced that they would make it to the top! They never accepted a No for an answer. Nothing as ever stopped them, slowed down maybe, but never stopped! Well that is very neat on paper, but I can hear you tell me: "It's easier said than done! How can I have faith in myself, when all that I have done so far hasn't brought me the success I am dreaming of? Everything that I'm trying ends up in a mess! Oh, I have attained some results of course, but I want more than that!" And that could go on and on... There is a lot of things that ANYBODY can do to become a success in any field they choose: relationships, business, career, anything you can think of! First, you have to understand that you will need to make an effort, not necessarily a huge one, but let's put it that way: you will definitely need consistence in your doings. With anything that you're trying to attain if you don't give consistent efforts, you'll just simply NEVER get what you expect. The main point is to believe that YOU CAN be successful, and YOU WILL indeed. One good method I am using for years now is Affirmation. And that doesn‚t really take a great deal of an effort to do. Simply keep repeating to your self some sentences like these ones: - I am a successful person. - I can attain any success level I desire. - I will be rich because I deserve it! - Etc. There are some rules that have to be followed when using the Affirmation Method.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Never use any negative form in you sentences (i.e.: I will not fail in anything anymore. It's better to use: I will succeed in everything I'm undertaking from now on.) And trust me, affirmations really works! So if you affirm anything negative, this is what you'll get! So be aware of it, and very careful in your affirmations.&lt;br /&gt;You also have to be repetitive. Repeat at least 10 to 20 times each affirmation every day, for several days. What I like to do when I have a goal to attain is to pick up 2 or 3 sentences that make sense to me. Then I write them down 10 times each, and I repeat the process for at least 7 days in a row.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remember, consistency!!! You can even go further and do it for 2 to 3 weeks in a row. The longer you do it, the better results you'll get. You will be surprised on how effective that simple and easy method is. Few years ago I started with affirmations to help me care about my self. Yeah! I was like that! A person that didn't like herself enough to believe that she could do anything good. Well that simple method had simply change my life for the better! Now I am happy with myself, my life with my family and friends is fill with joy and happiness, I run a successful business in Graphic Arts and I do have a great success with my spare time e-businesses. So, let me tell you that this method can really change your life too if you only give it a try! I went from living in a stressful mood all the time, never expecting anything good could ever happen to me, to being loaded with confidence in my possibilities and chances of being successful in all the aspects of my life! And still sometimes when something doesn't go the way I want it, I grab my pen and start writing positive affirmations. And back on the good track I am! So pick up your pen, and start climbing the road to success! With that simple method you too can become successful in any of your goals. I simply wish the information I just gave you, will help you out! Don't hesitate to contact me, I'll be more than glad to hear from you and discuss that method with you.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1573185189809618527?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1573185189809618527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1573185189809618527' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1573185189809618527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1573185189809618527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/04/kiat-mewujudkan-kesuksesan.html' title='Kiat mewujudkan kesuksesan....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8944190747459226841</id><published>2009-03-27T19:16:00.001-07:00</published><updated>2009-03-28T03:34:18.116-07:00</updated><title type='text'>Bencana kok terus-terusan...astagfirullah....</title><content type='html'>oleh : Iwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu 2 tahunan ini saya melihat sudah puluhan bencana yang menimpa negeri Indonesia....masih di dalam ingatan saya ketika membaca ratusan orang tewas akibat karamnya kapal di laut Majene, dan kini hal yang terduga adalah tragedi jebolnya tanggul situ Gintung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini saya tertarik untuk sedikit menganalisis kenapa tanggul tersebut bisa jebol. Dari pemberitaan media, dan ungkapan para pimpinan negeri ini, peristiwa tersebut adalah murni bencana. Pertanyaan yang membuat saya ingin berkomentar adalah, bila dikatakan bencana, termasuk ke dalam ranah bencana alamkah? atau bencana akibat kelalaian pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita coba analisis, tanggul tersebut adalah tanggul yang dibuat pada tahun 1933 oleh pemerintah kolonial Belanda.Belanda membangun tanggul tersebut, karena posisi situ yang berada di daerah lebih tinggi dari permukaan tanah disekitar areal tersebut. Sehingga areal yang berada di permukaan lebih rendah dapat dimanfaatkan sebagai areal buat kepentingan lain, seperti perkebunan, dsb, serta tidak kuatir dengan sistem pengairan/irigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kondisi sebelum bencana menimpa ? Terakhir kali saya pernah mengunjungi daerah situ Gintung di dekat perumahan dosen UI pada tahun 2002an. Di sana saya melihat memang daerah di sekitar situ merupakan pemukiman padat penduduk. Bisa dibayangkan, tanggul yang berumur ratusan tahun yang menjaga situ dengan luas kurang lebih 20 hektar berada di daerah padat penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya, begitu percayakah masyrakat dengan bangunan ujur? apakah inspeksi semacam non destructive testing periodik dilakukan? merujuk pada pertanyaan pertama, mungkin saya akan menilai, masyrakat daerah tersebut sangat percaya dengan kinerja pemerintah dalam memelihara kualitas tanggul atau memang mereka tidak tahu apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih non destructive testing (NDT) ? ini merupakan suatu inspeksi yang tidak merusak terhadap suatu material atau bahan. Tekniknya macam-macam, ada liquid penetrant, magnetic particle inspection, arus eddy, radiography, dan ultrasonic testing. Nah, menurut saya jika inspeksi terhadap tanggul dilakukan secara periodik. Mungkin kita bisa melihat dan menganalisis ada atau tidaknya crack/retakan di tanggul. Bila crack dapat di monitor dari waktu ke waktu, tentu bisa disegerakan untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi sudah menjadi bubur, hikmah yang diambil adalah, pemerintah dan masyrakat harus lebih paham tentang teknologi dan sadar dengan mekanisme perawatan. Perawatan sepertinya terlihat ribet dan mahal secara ekonomi, namun bila timbul masalah, biaya perbaikan tentu akan lebih mahal. Belum lagi bila masalah itu menyangkut nyawa, tentu harganya tidak ternilai....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At last but not least, saya doakan agar korban meninggal kibat tanggul situ Gintung di terima di sisi sang Khalik sang Illahi rabbi....dan korban selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan...Amiiinn....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8944190747459226841?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8944190747459226841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8944190747459226841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8944190747459226841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8944190747459226841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/03/bencana-kok-terus-terusanastagfirullah.html' title='Bencana kok terus-terusan...astagfirullah....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7768969423996563721</id><published>2009-03-09T21:40:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T03:56:28.677-07:00</updated><title type='text'>Pendidik bukan seorang pemburu.....</title><content type='html'>Artikel yang dimuat pada : &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/07/03214961/pendidik..bukan.pemburu" target="_blank" rel="nofollow"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/07/03214961/pendidik..bukan.pemburu&lt;/a&gt;, membuat saya banyak merenung. Memang studi di Singapur kita dituntut untuk berpacu menghasilkan sebuah karya ilmiah yang populer. Namun ini cukup beralasan karena Singapur telah memberikan reword besar juga buat para pelajar dari level undergrad sampai postgrad. Nah permasalahannya adalah, mampukah kedua belah pihak (dosen dan mahasiswa) memiliki komunikasi yang positif? Ini sangat tergantung dari kedua belah pihak, tentu keduanya harus memiliki knowledge dan wisdom serta mengerti posisi masing-masing. Dosen/Prof harus mampu menjadi guru (bukan hanya sebagai bos yang menuntut target2 tertentu) sehingga dapat mengoptimalkan hasil riset secara bijaksana, dan mahasiswa harus pula mampu mengukur diri dan menyadari posisinya sebagai siswa yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kasus David (alm) yang terjadi di NTU, saya tidak bisa banyak komentar dan berpeskulasi. Well, mari kita simak saja tulisan karya Dr. Rhenald Kasali, tulisan beliau baik sekali buat kita sebagai pendidik, orang tua, kakak, dan orang yang merasa peduli dengan pendidikan di lingkungan sosial masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh *RHENALD KASALI*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Senin, 2 Maret 2009, David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia,tewas di Nanyang Tech University, Singapura.Semula, diberitakan ia kepepet, menusuk profesornya, lalu bunuh diri.Kejadian seperti ini sering dilihat dari sisi kriminalitas (urusan polisi).Namun, benarkah demikian?Kalau David masih hidup, para pendidik bisa belajar banyak darinya. Versilain menyebutkan, David bukan pencemas, kurang pandai bergaul, atau rendahkecerdasan sosialnya. Akan ada versi-versi lain yang perlu dilihat darikacamata pendidikan.Naluri saya yang bergelut di bidang pendidikan selama lebih dari 20 tahunmengatakan sebaliknya. Besar kemungkinan mereka adalah korban dari sistemdan perilaku pemburu dalam pendidikan. Apalagi Pemerintah Singapura amatberkepentingan memburu anak-anak pintar etnis tertentu untuk mengimbangipopulasi bangsanya.Jadi, diperlukan kehati-hatian dalam menafsirkan versi awal yang tidakdilandasi pada cara berpikir dari kacamata pendidikan.*Pemburu bukan pendidik*Bangku sekolah tentu bukan hutan belantara yang didiami aneka satwa liarnan buas. Sekolah adalah entitas sosial yang mendidik masyarakat agar hidupdalam peradaban ilmiah, saling menghargai, dan mencapai kesejahteraan ataukebahagiaan.Namun, entah mengapa, sekolah telah berubah menjadi lembaga yang meresahkananak didik. Bukan pemburu bersenjata, melainkan guru yang menuntut bekerjatertib, berkompetisi, dan prestasi akademis.Daripada menghargai keunikan masing-masing, kita membuat standar, lalumenempatkan mereka dalam struktur dan ranking. Akibatnya, bersaing mengejarranking dan berebut masuk standar untuk mendapat pengakuan, beasiswa, danpenghargaan. Mereka yang memiliki keunikan dianggap bodoh meski dimasyarakat terbukti sukses dan karya- karya mereka amat dihargai.Guru, atau dosen, yang mengabaikan faktor keunikan anak didiknya adalahpemburu, dan bagi saya pemburu bukan pendidik. Pemburu menatap tajam anakdidiknya yang tak masuk ranking, menghukum dan kadang menyiksa. Di televisisering kita saksikan rekaman gambar guru yang menyiksa murid-muridnya.Anak-anak pintar pun tak luput dari ”penyiksaan” pemburu. Mereka dituntutmenunjukkan kehebatan dan selesai lebih cepat dari jadwal. Keunikanmasing-masing tidak diterima sebagai kehebatan.Saat mengepalai program doktor, saya sering terpaksa menggeser penguji,bukan karena mereka kurang hebat, tetapi karena lebih cocok jadi pemburu.Pemburu membombardir anak didiknya dengan berbagai pertanyaan sinis, out ofcontext, dengan tujuan menjatuhkan daripada membantu mereka menemukan masadepannya.*Sisi anak didik*David mungkin saja tidak memiliki kecerdasan sosial dan emosional sepertikata sejumlah kalangan. Namun, para guru di BPK Penabur mengatakan, Davidbukan penyendiri. Di kampus, ia juga aktif dalam kegiatan olahraga danmenjadi utusan Indonesia dalam Olimpiade Matematika di Meksiko. Karena Davidsudah tiada, mungkin kita bisa belajar dari David-David lain.Di Orinda, California, pada tahun 1985, seorang anak perempuan membunuhteman sekelasnya yang pintar dan populer. Saat diinterogasi polisi dandiperiksa kesehatan jiwanya, diketahui ia merasa tertekan karena dirinyanothing, invisible (tak ada yang menghiraukan) , dan worthless (takbernilai).Perasaan dan pikiran yang demikian membentuk keyakinan (belief). MatthewMcKay dan Patrick Fanning (1991) bahkan menyebutkan, banyak sekali anakdidik yang memiliki keunikan menjadi prisoners of belief (narapidanakeyakinan) yang membuat mereka tidak bahagia dan sulit mengendalikan diri.Pada masa krisis kita akan banyak bergulat dengan narapidana-narapida nakeyakinan yang terbelenggu dan sulit menerima kesulitan hidup, kegagalan,dan aneka keterbatasan, baik karena peristiwa ekonomi maupun kepemimpinanatasan yang buruk. Mereka memaksa dirinya masuk dalam standar dan menyangkalkeunikan dirinya semata-mata karena belenggu sekolah.Keyakinan inti (core-belief) tak pernah disentuh para pendidik karenabanyak sebab. Pertama, tak sedikit pendidik yang juga menjadi narapidanakeyakinan. Kedua, diperlukan therapy, dan therapy ini bukan kurikulum intiyang dianggap penting oleh pengelola pendidikan. Ketiga, tak banyak orangpaham men-therapy belief seseorang.*10 elemen*Saya pernah memasukkannya, dan hingga kini masih menggunakannya untukmembongkar belenggu-belenggu yang mengikat anak didik, tetapi pengalamanmengatakan, implementasinya banyak menemui hujatan dari para ”pemburu”.Untuk mencegah kasus David-David lain, kita harus memeriksa core-beliefinventory yang tersembunyi di balik pikiran anak-anak didik dan parapendidik. Inventory ini terdiri dari 10 elemen, yaitu percaya diri, rasanyaman, kontrol diri, cinta, otonomi, keluarga, rasa adil, kinerja,perubahan, kepercayaan (trust).Elemen-elemen itu dapat dibagi tiga: rasa percaya, hubungan personal, danpengendalian hidup. Ketiganya memengaruhi tingkat kecemasan, pengambilankeputusan, asumsi terhadap orang lain, ketenangan/kecemasa n, dankeberhasilan hidup.Kategori pertama diwakili oleh percaya diri dan perasaan bernilai, percayakepada orang lain, dan merasa diperlakukan adil. Monolognya mengalir dalampernyataan seperti ”saya cukup bernilai”, ”mereka dapat dipercaya”, ”merekamemperlakukan saya dengan adil”.Kategori kedua, kenyamanan, cinta (love), dan keluarga (belonging).Orang-orang yang hidupnya seimbang cenderung penuh cinta dan ada yangmemikirkan. Kata mereka, ”Kalau hari ini saya hilang, pasti ada yangkehilangan dan menangisi kepergian saya.”Kategori ketiga, kemampuan kita mengendalikan diri sendiri,pekerjaan/sekolah (kinerja), kemandirian, dan pengambilan risiko(perubahan). Kelompok terakhir ini dapat disimpulkan dengan pernyataan ”sayabisa mengendalikan dorongan-dorongan liar dalam jiwa saya”, ”saya punyaprestasi”, ”saya cukup punya otoritas”, serta ”kalau menjadi lebih baik,mengapa takut menghadapi perubahan”.Andaikan David masih ada dan polisi Singapura cukup terbuka, mungkin kitabisa menemukan jawabnya dengan memeriksa kesepuluh elemen itu, baik padaDavid maupun dosen pembimbingnya.Dari pengalaman anak-anak didik yang dianggap bermasalah oleh para gurunya,diyakini David bukan anak jahat atau lemah kecerdasan sosialnya. David telahmenjadi ”narapidana keyakinan” yang tersudut dalam hutan perburuan dan kitatak memberikan ruang untuk membebaskan atau menghargai keunikannya.*Rhenald Kasali* *Pengajar di Universitas Indonesia*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7768969423996563721?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7768969423996563721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7768969423996563721' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7768969423996563721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7768969423996563721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/03/pendidik-bukan-seorang-pemburu.html' title='Pendidik bukan seorang pemburu.....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8025758444417707537</id><published>2009-03-06T10:38:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T10:45:59.574-08:00</updated><title type='text'>Benarkah lampu dioda hemat energy??</title><content type='html'>Eric A Taub membuat sebuah ilustrasi sederhana di &lt;a href="http://bits.blogs.nytimes.com/2009/02/13/"&gt;http://bits.blogs.nytimes.com/2009/02/13/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;tentang bagaimana lampu dioda merupakan pilihan untuk menghemat energy untuk teknologi display masa depan. Di dalam tulisannya dia membandingkan tentang perbedaan lampu dioda dengan lampu fluoresensi dan lampu bulb (incandescent bulb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jelasnya monggo disimak penjelasan berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A number of readers of my LED posts have voiced skepticism as to the total energy savings that LED lamps have promised.&lt;br /&gt;There’s no question that they use a fraction of the power used by standard incandescent bulbs to produce the same amount of light and last up to 25 times as long. But would the energy needed to create an LED lamp, plus the energy needed to power it, be less than the equivalent amount for a regular light bulb?&lt;br /&gt;The short answer is, yes.&lt;br /&gt;In what is apparently the first “life cycle assessment” of LED lights, researchers at Carnegie Mellon University looked at the energy needed for material and parts manufacturing, product manufacturing, and use of an LED light source and compared it with that of an incandescent bulb.&lt;br /&gt;Carnegie Mellon calculated the amount of energy needed to manufacture and then run a light source (bulb or bulbs) for 25,000 hours.&lt;br /&gt;They assumed an LED lamp would last 25,000 hours, and that the amount of light that could be created from a single LED source would approximate that from a compact fluorescent (in reality, LEDs hold the promise of producing even more). They also assumed that it would take three compact fluorescents or 25 incandescent bulbs to produce light for 25,000 hours.&lt;br /&gt;In addition, the researchers assumed that LED manufacturing plants would be able to achieve a 50 percent yield rate; in other words, half the LED light sources created would be discarded.&lt;br /&gt;The results: the energy needed for one of these “functional units” ranged from 1,500 kilowatt-hours for the standard incandescent bulbs to 320 kWh for the compact fluorescents and 280 kWh for the LED light source.&lt;br /&gt;If these results hold up — and H. Scott Matthews, one of the researchers and a research director of the university’s &lt;a href="http://gdi.ce.cmu.edu/index.html"&gt;Green Design Institute&lt;/a&gt;, acknowledged that the researchers could not get all the data they needed — it will be another valuable piece of information in proving the ability of LED lighting to significantly reduce the world’s power consumption.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8025758444417707537?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8025758444417707537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8025758444417707537' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8025758444417707537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8025758444417707537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/03/benarkah-lampu-dioda-hemat-energy.html' title='Benarkah lampu dioda hemat energy??'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-446933010946347877</id><published>2009-02-20T01:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T01:44:46.111-08:00</updated><title type='text'>...belajar budaya jawa ttg kepemimpinan yukk...</title><content type='html'>Dalam budaya jawa sebenarnya sangat sarat dengan filsafat hidup (ular-ular). Ada yang disebut Hasta Brata yang merupakan teori kepemimpinan, berisi mengenai hal-hal yang disimbolisasikan dengan benda atau kondisi alam seperti Surya, Candra, Kartika, Angkasa, Maruta,Samudra,Dahana dan Bhumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Surya (Matahari) memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt;2. Candra (Bulan) , yang memancarkan sinar ditengah kegelapan malam. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberi semangat kepada rakyatnya ditengah suasana suka ataupun duka.&lt;br /&gt;3. Kartika (Bintang), memancarkan sinar kemilauan, berada ditempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah, sehingga seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan bagi untuk berbuat kebaikan&lt;br /&gt;4. Angkasa (Langit), luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya.Prinsip seorang pemimpin hendaknya mempunyai ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri dalam menampungpendapat rakyatnya yang bermacam-macam.&lt;br /&gt;5. Maruta (Angin), selalu ada dimana-mana tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat da martabatnya.&lt;br /&gt;6. Samudra (Laut/air), betapapun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Pemimpin hendaknya bersifat kasih sayang terhadap rakyatnya.&lt;br /&gt;7. Dahana (Api), mempunyai kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.&lt;br /&gt;8. Bhumi (bumi/tanah), bersifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya. Pemimpin hendaknya bermurah hati (melayani) pada rakyatnya untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori kepemimpinan yang lain ada beberapa filsafat lagi yang banyak dipakai , agar setiap pemimpin (Khususnya dari Jawa) memiliki sikap yang tenang dan wibawa agar masyarakatnya dapat hidup tenang dalam menjalankan aktifitasnya seperti falsafah : Aja gumunan, aja kagetan lan aja dumeh. Maksudnya, sebagai pemimpin janganlah terlalu terheran-heran (gumun) terhadap sesuatu yang baru (walau sebenarnya amat sangat heran), tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan dan tidak boleh sombong (dumeh) dan aji mumpung sewaktu menjadi seorang pemimpin.Intinya falsafah ini mengajarkan tentang menjaga sikap dan emosi bagi semua orang terutama seorang pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah sebagai seorang anak buahpun juga ada dalam ajaran Jawa, ini terbentuk agar seorang bawahan dapat kooperatif dengan pimpinan dan tidak mengandalakan egoisme kepribadian, terlebih untuk mempermalukan atasan, seperti digambarkan dengan, Kena cepet ning aja ndhisiki, kena pinter ning aja ngguroni,kena takon ning aja ngrusuhi. Maksudnya, boleh cepat tapi jangan mendahului (sang pimpinan) , boleh pintar tapi jangan menggurui (pimpinan), boleh bertanya tapi jangan menyudutkan pimpinan. Intinya seorang anak buah jangan bertindak yang memalukan pimpinan, walau dia mungkin lebih mampu dari sang pimpinan. Sama sekali falsafah ini tidak untuk menghambat karir seseorang dalam bekerja, tapi, inilah kode etik atau norma yang harus di pahami oleh tiap anak buah atau seorang warga negara, demi menjaga citra pimpinan yang berarti citra perusahaan dan bangsa pada umumnya. Penyampaian pendapat tidak harus dengan memalukan,menggurui dan mendemonstrasi (ngrusuhi) pimpinan, namun pasti ada cara diluar itu yang lebih baik. Toh jika kita baik ,tanpa harus mendemonstrasikan secara vulgar kebaikan kita, orang pun akan menilai baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan umum pun ada falsafah yang menjelaskan tentang The Right Man on the Right Place (Orang yang baik adalah orang yang mengerti tempatnya). Di falsafah jawa istilah itu diucapakan dengan Ajining diri saka pucuke Lathi, Ajining raga saka busana. Artinya harga diri seseorang tergantung dari ucapannya dan sebaiknya seseorang dapat menempatkan diri sesuai dengan busananya (situasinya). Sehingga tak heran jika seorang yang karena ucapan dan pandai menempatkan dirinya akan dihargai oleh orang lain. Tidak mengintervensi dan memasuki dunia yang bukan dunianya ini ,sebenarnya mengajarkan suatu sikap yang dinamakan profesionalisme, yang mungkin agak jarang dapat kita jumpai (lagi). Sebagai contoh tidak ada bedanya seorang mahasiswa yang pergi ke kampus dengan yang pergi ke mal , dan itu baru dilihat dari segi busana/bajunya , yang tentu saja baju akan sangat mempengaruhi tingkah laku dan psikologi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://netlog.wordpress.com/"&gt;http://netlog.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-446933010946347877?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/446933010946347877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=446933010946347877' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/446933010946347877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/446933010946347877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/02/belajar-budaya-jawa-ttg-kepemimpinan.html' title='...belajar budaya jawa ttg kepemimpinan yukk...'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3985190177060085359</id><published>2009-02-19T06:47:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T07:19:59.487-08:00</updated><title type='text'>Mahasiswa UI kok ga ada yang masuk finalis LKTI??</title><content type='html'>Barusan iseng-iseng liat website DIKTI, eh pas nginceng2 beberapa menit nemu pengumuman LKTI. Wah ini LKTI untuk dosen apa mahasiswa ya? kalo dilihat dari nama2 yang tidak ditulis menggunakan gelar spertinya mereka itu mahasiswa..CMIIW. Anyway, saya sebagai alumni Universitas Indonesia (UI), yo langsung liat daftar yang masuk 10 besar ini. Eh lah, kemana UI? ternyata ga ada di list 10 besar. Yowis lah ini liat saja daftar 10 besar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Tingkat Nasional Tahun 2009 adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ali Topan (403,33)UNESA&lt;br /&gt;2. Fuad Uli Addien (402,5)UGM&lt;br /&gt;3. Decky Junihadi (401,6)UNTAN&lt;br /&gt;4. Ramdhan Nugraha (400,33)UGM&lt;br /&gt;5. Seztifa Miyasyiwi (398)IPB&lt;br /&gt;6. Perwitasari (396,67)UIN Malang&lt;br /&gt;7. Saevul Amri (395)UGM&lt;br /&gt;8. Sulfahri (394,17)ITS&lt;br /&gt;9. Kunto Wibowo (390)UGM&lt;br /&gt;10. Ririn Masrina (387,2)IPB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga lain waktu UI bisa masuk 10 besar, kalo perlu jadi juara....UI kepal jari tinju...bravo the yellow jackets;-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3985190177060085359?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3985190177060085359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3985190177060085359' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3985190177060085359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3985190177060085359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/02/mahasiswa-ui-kok-ga-ada-yang-masuk.html' title='Mahasiswa UI kok ga ada yang masuk finalis LKTI??'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5797398754961532932</id><published>2009-02-17T02:22:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T05:23:42.832-08:00</updated><title type='text'>Ponari+ batu petir = sakti ???</title><content type='html'>Dua minggu terakhir setiap ngecek berita via online, saya dibuat heran dengan adanya berita heboh dukun sakti yang mengandalkan batu petir. Memang susah dinalar, dan saya mikir apakah gejala sosial tersebut merupakan wujud sakitnya masyarakat Indonesia ? Lha anak kecil yang katanya sakti dan memiliki tenaga luar biasa (seperti dijelaskan salah satu Profesor dari LIPI..CMIIW) dipaksa terus2an mengobati orang. Jika memang benar bocah itu sakti, seharusnya pengobatan yang dilakukan menggunakan schedule yang logis dengan tidak merampas hak si bocah tersebut sebagai anak usia belajar dan bermain yang wajar. Namun di satu sisi ironis juga, karena para ulama di negeri ini tidak tanggap untuk meluruskan fenomena sosial bocah sakti itu. Lha kok ulama dibawa2? ya iyalah, karena fenomena sosial tersebut dekat dengan (atau bahkan sudah ya..?...) penyembahan atau penyekutuan Tuhan. Ulama kemana ya? apa masih sibuk membuat UU pengharaman rokok dan pengharaman golput? embuhlah....apa malah ulamanya juga berobat ke si bocah sakti dengan batu petirnya? wah jadi malah mbingungi kalo begini ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat saya pribadi, fenomena sosial ini secara jelas diberikan Tuhan buat para pemimpin dinegeri kita bahwa negara kita itu masyarakatnya memang sakit. Perlu diobati dengan hal2 yang rasional, agamis, dan pendidikan yang baik. Bukan di cekoki dengan masalah politik yang keblinger. Jadinya ya masyarakat nambah depresi....ono-ono wae....Seharusnya kita (pemerintah, ulama, wakil rakyat, pihak dephan, dll) langsung memberikan perhatian khusus dengan hal2 yang tidak lumrah tersebut (e.g. uji dulu kebenaran melalui "riset" dan pengamatan multidisiplin) sebelum terlanjur menjadi konsumsi masyarakat. Terlebih lagi sudah dikonsumsi oleh public sehingga menimbulkan energi sugesti yang besar dan banyak kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayo kita semua kembali ke jalan Tuhannya masing2...supaya nggak bingung lihat hitam putihnya kehidupan yang ruwet bin semrawut nggawe ngelu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5797398754961532932?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5797398754961532932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5797398754961532932' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5797398754961532932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5797398754961532932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/02/masyarakat-sedang-sakitkah.html' title='Ponari+ batu petir = sakti ???'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1739211383061057492</id><published>2009-02-12T03:07:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T03:18:25.195-08:00</updated><title type='text'>kontribusi bersama "Iwan-Ican"</title><content type='html'>&lt;div&gt;Baru saja datang dari dinner, eh saya langsung dapet kabar dari Bro Ican bahwa tulisan kita yang ditulis pada waktu2 senggang bisa dimuat di :&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/SZQFIufuDII/AAAAAAAAAL8/t2B3wJ_YA9k/s1600-h/Kompas_nano_09.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301868308800081026" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 424px; CURSOR: hand; HEIGHT: 229px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/SZQFIufuDII/AAAAAAAAAL8/t2B3wJ_YA9k/s320/Kompas_nano_09.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/SZQFIufuDII/AAAAAAAAAL8/t2B3wJ_YA9k/s1600-h/Kompas_nano_09.bmp"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/SZQFIufuDII/AAAAAAAAAL8/t2B3wJ_YA9k/s1600-h/Kompas_nano_09.bmp"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://community.kompas.com/index.php/read/artikel/2330"&gt;http://community.kompas.com/index.php/read/artikel/2330&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ini sedikit banyak menjadikan pelipur lara ketika saya masih berjuang untuk publish paper di jurnal internasional sebagai first author ;-) Maklumlah sampai saat ini baru jadi co author dan fisrt author di level confrences....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1739211383061057492?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1739211383061057492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1739211383061057492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1739211383061057492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1739211383061057492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/02/kontribusi-bersama-iwan-ican.html' title='kontribusi bersama &quot;Iwan-Ican&quot;'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/SZQFIufuDII/AAAAAAAAAL8/t2B3wJ_YA9k/s72-c/Kompas_nano_09.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7208923269003134271</id><published>2009-01-19T21:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T21:11:51.359-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Purworejo</title><content type='html'>&lt;u&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://purworejocity.com/?p=3"&gt;http://purworejocity.com/?p=3&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Purworejo memiliki sejarah yang sangat tua, dimulai dari zaman Megalitik disinyalir telah ada kehidupan dengan komunitas pertanian yang teratur, terbukti dengan sejumlah peninggalan sejarah di masa MEGALITH berupa MENHIR Batu Tegak di sejumlah wilayah Kecamatan di Kabupaten Purworejo. Ketika zaman Hindu Klasik, kawasan Tanah Bagelen berperan besar dalam perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Kuno (Hindu). Tokoh Sri Maharaja Balitung Watukoro dikenal sebagai Maharaja Mataram Kuno terbesar, dengan wilayah kekuasaan meliputi : Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa Wilayah Luar Jawa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Prof. Purbacaraka menyatakan bahwa Sri Maharaja Balitung Watukoro berasal dari daerah Bagelen. Indikasi ini tercermin pada nama “Watukoro” yang menjadi nama sebuah Sungai Besar, Sungai ini disebut juga dengan nama Sungai Bogowonto. Disebut demikian, mengingat pada masa itu di tepian sungai sering terlihat pendeta (Begawan).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Petilasan suci berupa Lingga, Yoni dan Stupa tempat para begawan melakukan upacara dapat dilihat di wilayah Kelurahan Baledono, Kecamatan Loano dan Bagelen. Desa Watukoro sendiri terdapat di muara sungai Bogowonto dan masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi.&lt;br /&gt;Pengembangan Agama Islam di wilayah Purworejo, dilakukan oleh Ki Cakrajaya seorang tukang sadap nira dari Bagelen, murid dari Sunan Kalijogo. Ki Cakrajaya lebih dikenal dengan sebutan Sunan Geseng. Peninggalan Sunan Geseng banyak terdapat di Bagelen dan Loano.Kenthol Bagelen yang merupakan Pasukan Andalan Sutawijaya, tokoh yang kemudian naik tahta menjadi Panembahan Senopati, merupakan dasar pembentukan Kerajaan Islam Mataram. Pada periode berikutnya ketika Sultan Agung berkuasa di Mataram, pasukan dari Bagelen inilah yang memberikan andil besar dalam penyerangan ke Batavia dan termasuk pasukan inti Mataram.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akibat dari Perjanjian Giyanti 1755 yang memisahkan Kerajaan Jawa menjadi 2, yaitu Surakarta dan Yogyakarta, tanah Bagelen-pun menerima dampaknya, dimana tanah Bagelen dibagi menjadi 2 bagian untuk Yogyakarta dan Surakarta, tapi karena tidak jelasnya batas-batas pembagian tersebut, mengakibatkan sengketa yang berkepanjangan.Masa Perang Diponegoro meletus (1825 - 1830) tanah Bagelen menjadi basis perlawanan Pangeran Diponegoro. Melihat adanya pemberontakan oleh Pangeran Diponegoro, maka Jenderal De Kock meminta bantuan pasukan dari Kerajaan Surakarta.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi ini, Belanda yang dipimpin oleh panglimanya Kolonel Cleerens membangun markas besar garnisun di Kedongkebo tepi Sungai Bogowonto. Perang hebat tidak bisa dihindarkan, Belanda yang dibantu pasukan dari Kerajaan Surakarta yang dipimpin oleh Pangeran Kusumayuda beserta Ngabehi Resodiwiryo berhadapan dengan Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh pasukan laskar Rakyat Bagelen&lt;br /&gt;Paska Perang Diponegoro, Tanah Bagelen dan Tanah Banyumas diminta paksa oleh Belanda. Kemudian Belanda menghadiahkan kepada Ngabehi Resodiwiryo yang berjasa membantu melawan pemberontak, menjadi Penguasa Tanggung dengan gelar Tumenggung Cakrajaya yang selanjutnya diangkat menjadi Bupati (Regent) Kabupaten Purworejo dengan Gelar Cokronegoro. Pelantikan dilakukan di Kedungkebo, markas garnisun Belanda dan yang melantik adalah Kolonel Cleerens.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Kabupaten Purworejo ketika itu adalah seluas 263 Pal persegi atau sekitar 597 Km persegi, meliputi Kawasan Timur Sungai Jali. Sedangkan wilayah seluas 306 Km persegi di Barat Sungai Jali, merupakan wilayah Kabupaten Semawung (Kutoarjo) dan dipimpin oleh Bupati (Regent) Sawunggaling. Pada perkembangan lebih lanjut, Kedongkebo yang merupakan basis Militer Belanda digabung dengan Brengkelan dan menjadi Purworejo. Sedangkan Tanah Bagelen oleh Pemerintah Kolonial Belanda dijadikan Karesidenan Bagelen dengan Ibu Kota Purworejo.&lt;br /&gt;Wilayah Karesidenan Bagelem meliputi, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Semawung (Kutoarjo), Kabupaten Kutowinangun, Kabupaten Remo Jatinegara (Karanganyar) dan Kabupaten Urut Sewo atau Kabupaten Ledok atau Kabupaten Wonosobo.&lt;br /&gt;Residen Bagelen bertempat tinggal di Bangunan yang sekarang menjadi Kantor Pemerintah Daerah Purworejo atau lebih dikenal dengan nama Kantor OTONOM yang lokasinya di bagian Selatan Alun-alun Purworejo.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7208923269003134271?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7208923269003134271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7208923269003134271' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7208923269003134271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7208923269003134271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/01/sejarah-purworejo.html' title='Sejarah Purworejo'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3500458881391434836</id><published>2009-01-08T00:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-14T09:54:50.295-08:00</updated><title type='text'>Sebuah kontribusi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/SWW0FgYhiFI/AAAAAAAAALU/XzEJodOdZO8/s1600-h/chemiist_Iwan.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288831344101656658" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 385px; CURSOR: hand; HEIGHT: 199px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/SWW0FgYhiFI/AAAAAAAAALU/XzEJodOdZO8/s320/chemiist_Iwan.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah bisa berkontribusi menyumbangkan sebuah artikel yang bertemakan perkembangan teknologi semikonduktor dari material ZnO. Lebih lanjut bisa di click print screen di samping ini atau lihat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.chem-is-try.org/?sect=fokus&amp;amp;ext=59"&gt;http://www.chem-is-try.org/?sect=fokus&amp;amp;ext=59&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3500458881391434836?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3500458881391434836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3500458881391434836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3500458881391434836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3500458881391434836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2009/01/sebuah-kontribusi.html' title='Sebuah kontribusi'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/SWW0FgYhiFI/AAAAAAAAALU/XzEJodOdZO8/s72-c/chemiist_Iwan.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7390630996041585017</id><published>2008-12-19T10:42:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T19:18:47.309-08:00</updated><title type='text'>Peran pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi di negara berkembang</title><content type='html'>oleh : Iwan Sugihartono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di sini penulis mengupas bagaimana pentingnya membuat kebijakan pada pendidikan, sains, dan teknologi perlu menjadi prioritas di Indonesia dalam menstimulasi dan mensupport perkembangan riset dan teknologi global. Dalam hal ini kita melihat perbandingan bagaimana peran pendidikan, sain, dan teknologi di negara maju dengan berkembang.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat perbedaan mendasar antara negara maju dan berkembang, pada umumnya perbedaan tersebut dikaitkan dengan factor peradaban manusia seperti social, budaya, ekonomi, sejarah, politik, hubungan internasional, dan letak geografis. Meskipun demikian factor-faktor tersebut tidak mampu menjelaskan secara signifikan perbedaan mendasar dari kedua negara tersebut. Perbedaan mendasar yang sangat penting digarisbawahi adalah dalam hal infra struktur ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu menciptakan perbedaan level social dan ekonomi diantara kedua negara maju dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa efek dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditekankan dalam pertumbuhan ekonomi pada negara maju dan berkembang. Prof. Abdus Salam peraih nobel dalam bidang Fisika di tahun 1979 menyampaikan pemikirannya bahwa perbedaan mendasar dari negara maju dan berkembang terletak pada penguasaan dan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).&lt;br /&gt;Perkembangan IPTEK di negara berkembang sebenarnya sudah terjadi sebelum eropa memulai kejayaan kira-kira pada abad ke-17, seperti Mesir dengan teknologi Piramidnya, Indonesia dengan Borobudur, dll. Namun demikian penguasaan IPTEK seolah tidak mampu lagi dimenyeruak di negara-negara berkembang. Kondisi tersebut telah menciptkan perbedaan dari aspek budaya dan kultur social dari dua grup Negara tersebut. Di negara maju penggunaan IPTEK telah menciptakan iklim kondusif dalam meningkatan kemajuan yang sudah ada. Begitupula dengan pendidikan dan teknologi sudah disadari sebagai investasi jangka panjang yang mampu menjamin mereka memperoleh peradaban budaya dan ekonomi yang lebih baik. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya hasil-hasil temuan riset fenomenal yang lahir dari negara maju. Sebut saja contohnya, terciptanya generasi chip ukuran 45nm yang diluncurkan oleh intel pada akhir tahun 2007. Tercipta produk tersebut akibat adanya kerjasama yang baik dalam hal riset antara pemerintah selaku pengambil kebijakan dan pemodal bersama swasta, universitas dan institusi riset selaku pemegang tongkat estafet kemajuan sains teknologi dan pelaku riset, dan perusahaan selaku pemodal dan penghasil bukti riset (produk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dampak yang diperoleh dari IPTEK terhadap kemajuan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut, di negara maju, percepatan rata-rata pertumbuhan suatu hasil produksi pada dasarnya diperoleh dengan menstimulasi dan mensupport dunia pendidikan di lingkungan universitas. Universitas selaku lembaga yang mendidik dan menciptakan skill riset para mahasiswa sebagai pemegang tongkat estafet pada akhirnya akan mampu menghasilkan lulusan yang berpotensi dalam menghadapi tantangan kemajuan IPTEK global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor. Abdus Salam dalam bukunya Ideal and realities mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan di negara berkembang telah diperlakukan sebagai kegiatan marjinal (marginal activities) dan dianggap sebagai perhiasan (ornament). Namun, pada umumnya negara berkembang tidak mengakui kondisi tersebut. Justeru sebaliknya, mereka mengklaim bahwa kehidupan social masyarakat di negara berkembang adalah produk perpaduan antara ilmu pengtehuan modern dan teknologi. Meskipun demikian dalam pengamatan penulis, beberapa negara berkembang sudah mulai peduli dengan pentingnya peran IPTEK. Dengan adanya kepedulian ini, tidak serta merta mudah dalam merealisasikan pengembangan dan mempopulerkan IPTEK di lingkungan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Factor infrastructure yang masih jauh dari memadai menjadi factor kritis penghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara berkembang, terlebih lagi belum ada kebijakan signifikan dari pemerintah. Bagaimana kondisi Indonesia? Di harian Kompas 16/12/ 2008, Dr. Abd. Haris sebagai sekretaris eksekutif forum MIPA-net menyatakan bahwa laboratorium MIPA se-Indonesia ketinggalan jaman”jadul”. Dari harian Sumatera Express 12/10/2008, Dr. Terry Mart mengungkapkan bahwa pada tahun 2004 peneliti di Amerika sudah mencatatkan 198000 jurnal internasional, sedangkan Indonesia hanya 87 penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pantauan penulis di web of science databse, hasil penelitian lintas bidang dari Indonesia yang dipublikasikan di jurnal international masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Negara Singapur, Thailand, Malaysia, bahkan Vietnam yang notabene secara ekonomi tidak lebih baik dari Indonesia. Ini mengindikasikan bahwa kemampuan sumber daya manusia dan infra structure masih menjadi hal kritis. Rajagopalan dalam bukunya Technology Information Base in India: A Development Perspective melaporkan bahwa perbandingan antara jumlah peneliti di Negara maju per 100.000 jumlah penduduk pada awal tahun 90-an di Amerika perbandingannya adalah 280 orang per 100.000 penduduk, Jepang 240, Jerman 150, Inggris 140. Jika dilihat dari growth national product (GNP), dana pendidikan dan riset di Negara berkembang masih belum mencukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;to be continued.......................................................................................................&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7390630996041585017?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7390630996041585017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7390630996041585017' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7390630996041585017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7390630996041585017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/12/peran-pendidikan-sains-dan-teknologi-di.html' title='Peran pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi di negara berkembang'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3834694221739396290</id><published>2008-12-16T07:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T18:45:59.663-08:00</updated><title type='text'>Laboratorium Fakultas MIPA Se-Indonesia "Jadul"</title><content type='html'>Well, ketika membaca kompas cyber saya dikejutkan oleh berita yang berjudul "&lt;em&gt;Laboratorium Fakultas MIPA Se-Indonesia "Jadul" &lt;/em&gt;", kebetulan isu yang diungkapkan adalah salah satu kegelisahan saya yang selamat ini ingin diungkapkan. Nah ketika membaca berita itu dan kebetulan pula yang mengungkapkan adalah bukan orang yang asing lagi, jadi berita ini cukup merepresentasikan unek-unek saya. Ungkapan laboratorium MIPA jadul adalah ungkapan objektif dari Dr.rer.nat Abd. Haris, beliau adalah sekrearis Dekan FMIPA UI. Saya mengenal beliau sejak masih kuliah di Fisika UI tahun 1997 dan sebelum saya melanjutkan studi doktor, saya pernah menjadi staf beliau di DRPM FMIPA UI 2006-2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat yang beliau sampaikan dalam wawancara tersebut, saya menilai pendapat beliau adalah objektif karena memang begitulah adanya. Seharusnya lab mipa yang ada di Universitas2 di Indonesia ini dikunjungi oleh menteri yang katanya ingin meningkatkan mutu riset di level perguruan tinggi. Laboratorium yang berstandar riset adalah laboratorium yang dipersiapkan untuk para mahasiswa dari level sarjana hingga doktor. Namun laboratorium yang berskala riset, tidak dikelola dengan baik. Alhasil di beberapa Univeritas besar, lab riset tersebut tak ayal lagi menjadi seonggok barang rongsokan yang tak bisa diharapkan menyongsong kemajuan riset terkini. Siapakah yang bertanggung jawab? nah ini menjadi PR kita bersama untuk mengetuk hati pemerintah agar lebih memperhatikan sarana dan prasarana riset di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel hasil wawancara dengan Dr.rer.nat Abd. Haris selaku sekretaris eksekutif forum mipanet se-Indonesia, yang saya kutip dari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/16/12392430/Laboratorium.Fakultas.MIPA.Se-Indonesia.Jadul"&gt;http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/16/12392430/Laboratorium.Fakultas.MIPA.Se-Indonesia.Jadul&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 16 Desember 2008 12:39 WIB&lt;br /&gt;DEPOK, SELASA - Laboratorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) se-Indonesia dinilai jadul alias ketinggalan jaman, termasuk laboratorium Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI).&lt;br /&gt;Hal ini diakui Sekretaris Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI) Abdul Haris yang juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Forum MIPAnet(Jaringan Nasional Kerjasama Pendidikan Tinggi Bidang MIPA) di sela-sela acara Science Day 2008 di FMIPA UI Depok, Selasa (16/12).&lt;br /&gt;"UI sendiri, kalau orang lihat mungkin besar ya, tapi fasilitas atau infrastruktur kita sendiri sudah tua," ujar Haris. Haris mengatakan satupun laboratorium FMIPA di seluruh universitas di Indonesia belum memperoleh akreditasi internasional. Laboratorium FMIPA UI sendiri tergolong "jadul" karena peralatannya masih berasal dari masa Orde Baru.&lt;br /&gt;Itupun diperoleh melalui hibah dari Jepang. "Sejak reformasi, kami belum pernah memperbaharui peralatan lab," ujar Haris. Laboratorium di FMIPA UI masih lebih bersifat edukasi, bukan riset.&lt;br /&gt;Ketersediaan alat-alat dengan tingkat kepekaan yang tinggi juga tidak ada sehingga "memaksa" para peneliti pergi ke markas BATAN hanya untuk meminjam DNA Squenzer dan alat pendeteksi Micro Soft Electron.&lt;br /&gt;Menurut Haris, idealnya setiap universitas memiliki laboratorium terpadu yang menjadi pusat atau konsentrasi. Namun Haris mengatakan, untuk mendirikan laboratorium konsentrasi memerlukan dana sekitar USD 50 juta.&lt;br /&gt;"Bayangkan ada alat yang namanya DNA Squenzer saja harganya mencapai Rp 2 milyar," tandas Haris. Namun Haris optimistis laboratorium MIPA yang sedang dirintis sekarang dapat berdiri. Pasalnya, UI sendiri sudah memiliki laboratorium berstandar internasonal dengan akreditasi level 3 yaitu laboratorium penyelidikan kanker di Fakultas Kedokteran UI Salemba. Pendirian laboratorium tersebut memakan biaya USD 4 juta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3834694221739396290?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3834694221739396290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3834694221739396290' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3834694221739396290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3834694221739396290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/12/laboratorium-fakultas-mipa-se-indonesia.html' title='Laboratorium Fakultas MIPA Se-Indonesia &quot;Jadul&quot;'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3791630118483614322</id><published>2008-12-11T22:08:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T22:29:18.283-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana cara mengatasi dan merencanakan masa depan</title><content type='html'>Here I share nice article to anticipate the future based on anticipation engine. Mostly we dont care and just said "lets see how" without further think "how are we on future". Its meant, very common people only follow the life flow without any good plan. And most of them just blame the condition by avoid what they have done instead of running from the problem. I remember miles town law which explain that life should be fill in each holes by high efficiency and accuracy in order to catch the last goal. Those, I think relevance with this article which explain systematic way to facing and plan future by Donald Latumahina. So please read it by keep in your mind using poisitve way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The world is changing and changing at increasing speed. In such kind of world, our ability to anticipate the future is very important. Those who can anticipate the future will have more time to prepare and thus will be ready when changes come. Since they become among the first few people who are ready, they can reap the greatest benefit of the new trends. Most people will come only later when the best parts have already been taken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Author use the term “anticipation engine” for this ability to anticipate the future. This is an important part of being a versatilist (see &lt;a href="http://www.lifeoptimizer.org/2007/03/02/be-a-winner-by-being-a-versatilist-what-why-and-how/"&gt;Be a Winner by Being a Versatilist: What, Why and How&lt;/a&gt;). But how do we build the anticipation engine?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bottom line is you should be able to see how the dots are connecting. See how the dots are connecting in the past and present, and then project them into the future. This is how you anticipate the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;So here are 6 things we should do:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Read smart about the past&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;I use the term “read smart” and not just “read”. “Read smart” means reading selectively to get only what you need without being distracted by unnecessary stuff.First of all, you need to read smart about the past. This is important to allow you see how the dots connected in the past. Since your goal is seeing how the dots connected, your readings should be those which are concerned with getting the patterns of history instead of just telling historical events.My favorite book for this purpose is &lt;a href="http://www.amazon.com/Guns-Germs-Steel-Fates-Societies/dp/0393061310/ref=pd_bbs_sr_1/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1179765683&amp;amp;sr=8-1"&gt;Guns, Germs and Steel&lt;/a&gt; by Jared Diamond. It does exactly what we want: connecting the dots in the history.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Read smart about the present&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;After seeing how the dots connected in the past, you should see how the dots are connecting in the present. Here you should be able to recognize patterns in our present world. This is important not just to anticipate the future, but also to see whether or not you are ready to face the present challenges. Who knows, maybe you aren’t ready for the present. This part should give you immediate benefit because the actions you take will directly affect how you perform in the present.My favorite book for this is &lt;a href="http://www.amazon.com/World-Flat-Updated-Expanded-Twenty-first/dp/0374292795/ref=pd_bbs_sr_1/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1179765742&amp;amp;sr=8-1"&gt;The World is Flat&lt;/a&gt; by Thomas Friedman. It clearly shows how the present world - which he said is in the “globalization 3.0″ era - works.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Read smart about the future&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;The next thing is of course seeing how the dots would connect in the future. Since they are still in the future, what you see are still possibilities, not certainty. But you do need to know what the possibilities are. Be careful when reading about the future though. You’d better be sure that your readings based their predictions on facts rather than just imaginations.My favorite book for this is &lt;a href="http://www.amazon.com/Visions-Science-Will-Revolutionize-Century/dp/0385484992/ref=pd_bbs_2/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1179765785&amp;amp;sr=8-2"&gt;Visions&lt;/a&gt; by Michio Kaku. It clearly describes what scientific achievements are predicted to occur in the 21st century and beyond, and how they will affect our life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Read smart about how trends evolve&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Now that you have got the big picture of the past, present, and future, you should learn how one dot connects to the next. That’s why you need to read smart about how trends evolve.A good book for this is &lt;a href="http://www.amazon.com/Tipping-Point-Little-Things-Difference/dp/0316346624/ref=pd_bbs_sr_1/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1179765843&amp;amp;sr=8-1"&gt;The Tipping Point&lt;/a&gt; by Malcolm Gladwell. It talks about how social epidemics work, and the knowledge you gain from the book may help you spot the clues of coming social epidemics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Do content analysis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;You can spot trends by doing content analysis. You do content analysis by analyzing the content of the media such as magazines, newspapers, movies, and books. See what are currently popular and why. Seek the patterns of what is going on behind the content you analyze. After reading smart about the past, present, and future, and learning how trend evolves, you should know enough to look for the patterns behind the content. Books like &lt;a href="http://www.amazon.com/Megatrends-2000-John-Naisbitt/dp/0831743727/ref=pd_bbs_sr_6/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1179765874&amp;amp;sr=8-6"&gt;Megatrends 2000&lt;/a&gt; by John Naisbitt are built upon content analysis.While the first four steps prepare the framework (the big picture), content analysis fill in the details.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Project the dots into the future&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Now that you have got the big picture and the details, you should have enough information to project the dots into the future. The clues of coming trends should be here and there in your content analysis, and your understanding of the big picture should help you recognize and connect them. You can then see your current situation to see which coming trends are most likely to influence you and take the necessary actions to prepare yourself.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3791630118483614322?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3791630118483614322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3791630118483614322' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3791630118483614322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3791630118483614322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/12/bagaimana-cara-mengatasi-dan.html' title='Bagaimana cara mengatasi dan merencanakan masa depan'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1578938080342693173</id><published>2008-12-11T21:57:00.001-08:00</published><updated>2008-12-11T21:59:04.670-08:00</updated><title type='text'>Istri idaman.....</title><content type='html'>Diambil dari milis SMANSA Serang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 10 wasiat Rasulullah kepada putrinya Fathimah binti Rasulillah. Sepuluh wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah. Wasiat tsb adalah:&lt;br /&gt;1. Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan, dan meningkatkan derajat wanita itu.&lt;br /&gt;2. Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.&lt;br /&gt;3. Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.&lt;br /&gt;4. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.&lt;br /&gt;5. Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.&lt;br /&gt;6. Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman sorga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;7. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.&lt;br /&gt;8. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.&lt;br /&gt;9. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.&lt;br /&gt;10. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai2 sorga. Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu indah menjadi wanita, dengan kelembutan dan kasihnya dapat merubah duniaJadilah diri-dirimu menjadi wanita sholehah, agar negeri menjadi indah, karena dirimu adalah tiang negeri ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1578938080342693173?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1578938080342693173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1578938080342693173' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1578938080342693173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1578938080342693173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/12/istri-idaman.html' title='Istri idaman.....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7679616828616773476</id><published>2008-12-01T19:57:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T00:33:44.648-08:00</updated><title type='text'>pelajaran dari tukang bakso</title><content type='html'>Cerita ini diambil dari milis SMAN 1 Serang, bagus buat intropeksi diri kita terlebih saya pribadi yang masih minim dalam hal religius. Monggo disimak....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Sederhana Penuh Makna&lt;br /&gt;Oleh : Dede Farhan Aulawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yangsedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik - rintikselalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikitberlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat.Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesanbeberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang maubakso ?"Mauuuuuuuuu. ..", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini."Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan ? Barangkaliada tujuan ?""Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yangsudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak Orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita - cita penyempurnaan iman "."Maksudnya.. .?", saya melanjutkan bertanya."Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengansesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidupsehari - hari Emang dan keluarga.&lt;br /&gt;2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untukmelaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjaditukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnyayang ukuran sedang saja.&lt;br /&gt;3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu,untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yangbesar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa disetiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku sangat...sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memilikinasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentumemiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkaliberlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus sayamelanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut :"Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yangmampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".Iya menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soalmampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT ataupak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuahdefinisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri.Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, makamungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalaukita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka insya Allah dengan segalakekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita"."Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7679616828616773476?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7679616828616773476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7679616828616773476' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7679616828616773476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7679616828616773476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/12/pelajaran-dari-tukang-bakso.html' title='pelajaran dari tukang bakso'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-4862500143797431574</id><published>2008-11-30T19:01:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T19:03:33.683-08:00</updated><title type='text'>Energi alternatif dari sinar matahari+air</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sun + Water = Fuel&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With catalysts created by an MIT chemist, sunlight can turn water into hydrogen. If the process can scale up, it could make solar power a dominant source of energy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;taken from : &lt;a href="http://www.technologyreview.com/energy/21536/"&gt;http://www.technologyreview.com/energy/21536/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I'm going to show you something I haven't showed anybody yet," said Daniel Nocera, a professor of chemistry at MIT, speaking this May to an auditorium filled with scientists and U.S. government energy officials. He asked the house manager to lower the lights. Then he started a video. "Can you see that?" he asked excitedly, pointing to the bubbles rising from a strip of material immersed in water. "Oxygen is pouring off of this electrode." Then he added, somewhat cryptically, "This is the future. We've got the leaf."&lt;br /&gt;What Nocera was demonstrating was a reaction that generates oxygen from water much as green plants do during photosynthesis--an achievement that could have profound implications for the energy debate. Carried out with the help of a catalyst he developed, the reaction is the first and most difficult step in splitting water to make hydrogen gas. And efficiently generating hydrogen from water, Nocera believes, will help surmount one of the main obstacles preventing solar power from becoming a dominant source of electricity: there's no cost-effective way to store the energy collected by solar panels so that it can be used at night or during cloudy days.&lt;br /&gt;Solar power has a unique potential to generate vast amounts of clean energy that doesn't contribute to global warming. But without a cheap means to store this energy, solar power can't replace fossil fuels on a large scale. In Nocera's scenario, sunlight would split water to produce versatile, easy-to-store hydrogen fuel that could later be burned in an internal-combustion generator or recombined with oxygen in a fuel cell. Even more ambitious, the reaction could be used to split seawater; in that case, running the hydrogen through a fuel cell would yield fresh water as well as electricity.&lt;br /&gt;Storing energy from the sun by mimicking photosynthesis is something scientists have been trying to do since the early 1970s. In particular, they have tried to replicate the way green plants break down water. Chemists, of course, can already split water. But the process has required high temperatures, harsh alkaline solutions, or rare and expensive catalysts such as platinum. What Nocera has devised is an inexpensive catalyst that produces oxygen from water at room temperature and without caustic chemicals--the same benign conditions found in plants. Several other promising catalysts, including another that Nocera developed, could be used to complete the process and produce hydrogen gas.&lt;br /&gt;Nocera sees two ways to take advantage of his breakthrough. In the first, a conventional solar panel would capture sunlight to produce electricity; in turn, that electricity would power a device called an electrolyzer, which would use his catalysts to split water. The second approach would employ a system that more closely mimics the structure of a leaf. The catalysts would be deployed side by side with special dye molecules designed to absorb sunlight; the energy captured by the dyes would drive the water-splitting reaction. Either way, solar energy would be converted into hydrogen fuel that could be easily stored and used at night--or whenever it's needed.&lt;br /&gt;Nocera's audacious claims for the importance of his advance are the kind that academic chemists are usually loath to make in front of their peers. Indeed, a number of experts have questioned how well his system can be scaled up and how economical it will be. But Nocera shows no signs of backing down. "With this discovery, I totally change the dialogue," he told the audience in May. "All of the old arguments go out the window."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-4862500143797431574?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/4862500143797431574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=4862500143797431574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4862500143797431574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4862500143797431574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/11/energi-alternatif-dari-sinar.html' title='Energi alternatif dari sinar matahari+air'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7390865653978249109</id><published>2008-11-16T01:04:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T01:07:48.827-08:00</updated><title type='text'>Sekedar pengingat....</title><content type='html'>Ini saya post-kan artikel dari : &lt;a href="http://www.geocities.com/bimbinganmukmin/1_kitab_ilmu_pengetahuan.htm"&gt;http://www.geocities.com/bimbinganmukmin/1_kitab_ilmu_pengetahuan.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagus untuk pengingat betapa pentingnya kita belajar ilmu pengetahuan... monggo dibaca...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keutamaan Ilmu Pengetahuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di dalam al-Quran al-Karim terdapat banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan kepada keutamaannya ilmu pengetahuan itu. Di antaranya ialah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Allah telah menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Dia jua, begitu pula para Malaikat dan para ahli ilmu pengetahuan turut menyaksikan sama, iaitu Tuhan yang berdiri di atas keadilan.”      (ali-Imran: 18)&lt;br /&gt;Perhatikanlah pada ayat yang tersebut di atas itu, bagaimana Allah s.w.t. telah memulakan penyaksian itu dengan diriNya sendiri, keduanya dengan para Malaikat dan sesudah itu dengan para ahli ilmu pengetahuan. Itu saja sudah cukup untuk membuktikan, betapa tingginya keutamaan ilmu pengetahuan dan kelebihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman pula:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Allah telah mengangkat orang-orang yang beriman dari golongan kamu, dan begitu pula orang-orang yang dikurniai ilmu pengetahuan beberapa darjat.”     (al-Mujadalah: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: Tiada serupa orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tiada berilmu pengetahuan.”      (az-Zumar: 9)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hanyasanya orang yang takut kepada Allah dari golongan hamba-hambaNya itu, ialah orang-orang yang berilmu pengetahuan.”     (Fatir: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andaikata mereka mengembalikannya (berita itu) kepada Rasul dan kepada orang-orang yang memegang urusan pemerintahan diantara mereka, tentulah halnya telah dimengerti oleh orang-orang yang menelitinya dalam golongan mereka itu”.    (an-Nisa’: 83).&lt;br /&gt;Jadi hukum mengenai perkara-perkara yang berlaku itu harus dikembalikan kepada kebijaksanaan orang-orang yang berilmu pengetahuan, kerana martabat mereka ditingkatkan dengan martabat para Nabi dalam menyingkap hukum-hukum Allah s.w.t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Hadis-hadis yang berkenaan dengan keutamaan ilmu pengetahuan ada banyak juga, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah s.w.t., maka Allah akan meluaskan pengetahuannya dalam hukum-hukum agama dan akan diilhamkanNya petunjuk di dalamnya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para ulama itu adalah warisan para Nabi”.&lt;br /&gt;Tentulah tiada martabat yang lebih tinggi dari martabat kenabian, dan tiada kemuliaan yang lebih utama dari kemuliaan mewarisi martabat itu.&lt;br /&gt;Rasulullah s.a.w. bersabda:&lt;br /&gt;“Apabila datang kepadaku satu hari, sedang pada hari itu aku tiada bertambah ilmu pengetahuan untuk mendekatkan diriku kepada Allah azzawajalia, maka tiada akan diberkati bagiku terbitnya matahari hari itu.”&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah s.a.w. dalam menentukan kelebihan ilmu pengetahuan atas segala rupa ibadat dan penyaksian, katanya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Keutamaan seorang yang berilmu pengetahuan ke atas seorang yang banyak ibadatnya, laksana keutamaanku ke atas serendah-rendah orang dari golongan sahabatku.”&lt;br /&gt;Cubalah perhatikan, betapa itmu pengetahuan itu dipersamakan seiring dengan darjat kenabian, dan betapa pula direndahkan martabat sesuatu amalan yang sunyi dari ilmu pengetahuan, sekalipun orang yang beribadat itu cukup mengetahui dengan ibadat yang ia lakukan itu sehari-harian,  kerana kiranya ibadat itu ditunaikan tanpa ilmu pengetahuan, tentulah ianya tidak boleh dinamakan ibadat.&lt;br /&gt;Rasulullah s.a.w. bersabda lagi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kelebihan seorang alim atas seorang 'abid, laksana kelebihan bulan purnama ke atas seluruh bintang-gemintang.”&lt;br /&gt;Di antara wasiat Luqman al-Hakim terhadap anaknya ialah; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku!  Pergauilah para alim-ulama dan rapatilah mereka dengan kedua lututmu, sebab Allah s.w.t. menghidupkan hati dengan nur (cahaya) hikmat, sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan lebat dari langit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keutamaan belajar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adapun ayat-ayat al-Quran yang berhubung dengan keutamaan belajar itu, di antaranya ialah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mengapa  tidak ada sekelompok pun dari setiap golongan mereka itu yang berangkat untuk menambah ilmu pengetahuan agama.”     (at-Taubah: 122)&lt;br /&gt;“Maka tanyakanlah para ahli ilmu pengetahuan, kiranya kamu tiada mengerti.”   (an-Nahal: 43)&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah s.a.w.:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, maka Allah s.w.t. akan melorongkan baginya jalan ke syurga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andaikata anda berangkat untuk mempelajari suatu bab dari ilmu pemgetahuan, adalah lebih utama dari anda bersembahyang seratus rakaat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menuntut ilmu adalah wajib di atas setiap orang Muslim.”        &lt;br /&gt;Abu Darda’ berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kiranya saya dapat mempelajari suatu masalah, itu adalah lebih saya cinta daripada saya bangun beribadat sepanjang malam."&lt;br /&gt;"Orang alim dan orang yang menuntut ilmu itu, adalah dua orang yang berkongsi dalam kebaikan. Sementara orang-orang selain keduanya adalah sesia belaka. Tiada bangun sama sekali.&lt;br /&gt;Iman Syafi’i.r.a. berkata pula: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menuntut ilmu itu lebih utama dari sembahyang sunnat."&lt;br /&gt;Berkata Fatah al-Maushili rahimahullah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah si pesakit itu bila tidak diberikan makan atau minum ubat, ia akan mati!"&lt;br /&gt;Orang ramai menjawab: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar katamu!" &lt;br /&gt;Dia berkata pula: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demikian pulalah sifatnya hati, kiranya ia tidak diberikan hikmat  dan ilmu pengetahuan selama tiga hari saja, akan matilah ia."&lt;br /&gt;Sungguh tepat sekali ucapan Fatah al-Maushili itu, kerana makanan hati ialah ilmu pengetahuan dan hikmat, dan dengan kedua benda itulah ia boleh hidup, sebagaimana tubuh badan itu hidup dengan makanan, Seorang yang tiada mempunyai ilmu pengetahuan, hatinya menjadi sakit dan kematiannya sudah pasti. Akan tetapi ia tidak akan merasakan yang demikian itu, kerana kecintaannya kepada dunia dan kesibukannya tentang dunia itu akan melenyapkan perasaannya. Kita berlindung dengan Allah pada hari di mana segala tabir akan tersingkap. Sesungguhnya manusia itu sedang nyenyak dalam tidurnya, nanti ia bila mati akan tersedar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Mas’ud r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hendaklah kamu mencari ilmu pengetahuan sebelum ianya terangkat, dan terangkatnya ilmu pengetahuan itu dengan kematian ahli-ahlinya. Seseorang kamu tiada dilahirkan sebagai orang yang sudah pandai. Jadi ilmu pengetahuan itu akan dicapai hanya dengan belajar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan mengajar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat-ayat al-Quran mengenai keutamaan mengajar ini, ialah di antaranya firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hendaklah mereka memberikan peringatan kepada kaumnya, apabila telah kembali kepada mereka nanti, moga-moga mereka berhati-hati.” (at-Taubah: 122)&lt;br /&gt; Maksudnya ialah memperingatkan mereka itu dengan pelajaran dan petunjuk yang diperolehinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan di waktu Tuhan mengambil janji orang-orang yang diberikan olehnya kitab; iaitu hendaklah kamu sekalian menerangkan perkara-perkara yang tersebut di dalam kitab itu, dan jangan sampai kamu menyembunyikannya.”       (ali-Imran: 187)&lt;br /&gt;Maksudnya ialah mewajibkan orang yang berilmu itu menyebarkan ilmunya dengan mengajar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ada sebahagian dari mereka itu yang menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka itu mengetahui (hukumnya).” (al-Baqarah: 146)&lt;br /&gt;Maksudnya menghukumkan salah atau haram orang yang menyembunyikan ilmu pengetahuanya, sebagaimana dihukumkan haram pula orang yang menyembunyikan penyaksiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa menyembunyikannya (penyaksian), maka berdosalah hatinya.”    (al-Baqarah: 283)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah orang yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan berbuat kebaikan.”    (Fushshilat: 32)&lt;br /&gt;Allah berfirman lagi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik.”    (an-Nahal: 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dia mengajarkan kepada mereka (kandungan) kitab dan kebijaksanaan.”     (al-Baqarah: 151)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adapun Hadis-hadis yang menunjukkan tentang keutamaan mengajar, umpamanya pesanan baginda Rasulullah s.a.w. ketika mengirim Mu’az ke Yaman, bunyinya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Andaikata Allah s.w.t memberikan hidayat kepada seorang dari hasil usahamu, adalah lebih baik bagimu dari dunia dan seisinya.”       &lt;br /&gt;Sabda Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sesiapa yang mengetahui sesuatu ilmu lalu disembunyikannya, niscaya di Hari Kiamat nanti, ia akan dikekang oleh Allah s.w.t. dengan tali kekang dari api neraka.”&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah s.w.t. dan para MalaikatNya, begitu juga penghuni langit dan buminya, sehingga semut yang berada di lubangnya dan ikan yang di lautan, semuanya memohon rahmat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang ramai.”&lt;br /&gt;“Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya melainkan dalam tiga perkara: iaitu sedekah jariah (yang berterusan), ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang saleh yang mendoakan baginya.”                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang menunjuk ke jalan kebaikan sama saperti mengerjakan baginya.”&lt;br /&gt;Ada satu sabda lagi berbunyi: " Moga-moga Allah mencucurkan rahmatNya ke atas Khalifah-khalifahku." Baginda lalu ditanya: " Siapakah mereka khalifah-khalifahmu?" Rasulullah s.a.w. bersabda lagi: " mereka itu adalah orang-orang yang menghidupkan sunnatku serta mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atsar pula, apa yang diriwayatkan dari Mua’z, katanya: " Pelajarilah ilmu pengetahuan, sebab mempelajarinya kerana Allah adalah tanda takut kepadaNya, menuntutnya adalah ibadat, menelaahnya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui adalah sedekah, memberikannya kepada ahlinya adalah kebaktian. Dialah kawan dalam masa kesepian dan teman dalam masa kesunyian. Dialah petunjuk jalan kepada agama, dan pendorong kesabaran dalam masa kepayahan dan kesempatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengangkat setengah-setengah kamu karena ilmu pengetahuannya, maka dijadikannya pemimpin, penghulu dan penunjuk jalan kebaikan yang diikut oleh orang ramai. Orang yang berilmu pengetahuan itu juga menjadi model utama dalam amalan kebajikan, dicontohi segala jejak-langkahnya, dan dituruti segala kelakuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ilmu pengetahuan seorang hamba itu akan sampai ke peringkat orang-orang yang terpuji ketaatannya dan tertinggi kedudukannya. Memikirkan perihal ilmu pengetahuan setanding pahalanya dengan berpuasa, dan menelaahnya setanding pahalanya dengan bangun beribadat di tengah malam. Dengan ilmu pengetahuanlah manusia mentaati Allah Azzawajalla, memperhambakan diri kepadaNya, MengEsakanNya dan membesarkanNya.. Dengan ilmu pengetahuan juga manusia boleh mencapai darjat kewajiban kewara’an, dan dengannya pula manusia menyambung silatur-rahmi. Dengan ilmu pengetahuan juga, ia akan mengenal yang halal dan yang haram. Ilmu pengetahuan itu adalah diumpamakan sebagai pembimbing, manakala amalan pula menjadi pengikutnya, dan berbahagialah orang yang menerima ilham dari ilmu pengetahuan, dan celakalah orang yang terhalang dari ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata al-Hassan r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kalaulah tidak kerana para ulama, niscayalah manusia sekaliannya sama seperti binatang."&lt;br /&gt;Maksudnya dengan adanya para ulama yang mengajar manusia terkeluarlah mereka dari peringkat-peringkat  kebinatangan dan memasuki peringkat kemanusiaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ilmu yang fardhu ‘ain&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bersabda Rasulullah s.a.w.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menuntut ilmu itu adalah wajib atas setiap Muslim.”                    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Termasuk ilmu yang dikatakan fardhu ‘ain itu, ialah ilmu pengetahuan yang bakal mengenalkan asas tauhid (MengEsakan Allah) yang dengannya pula dapat diketahui Zat Allah Ta’ala dan sifat-sifatNya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Termasuk fardhu ‘ain juga ilmu pengetahuan yang dengannya dapat dituntut cara-cara beribadat,dibedakan antara yang halal dan yang haram, dan mana satu yang dilarang oleh agama, dan mana yang pula yang dibolehkan dalam urusan agama, dan mana pula yang dibolehkan dalam urusan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Termasuk juga ilmu yang fardhu ‘ ain ialah ilmu yang mengenalkan hal-ehwal hati, mengenai sifat-sifatnya yang terpuji, seperti bersabar, bersyukur, bermurah hati, berakhlak tinggi, bergaul baik, berkata benar dan iklas. Begitu juga dengan sifat-sifatnya yang terkeji, seperti balas-dendam, dengki, menipu, meninggi diri, riya’, marah berseteru, membenci dan kikir. Maka mengetahui apa-apa yang harus dilakukan dari sifat-sifat yang pertama dan apa-apa yang harus ditinggalkan dari sifat-sifat yang kedua itu adalah fardhu ‘ain. Seperti mana hukumnya membersihkan hal-hal mengenai kepercayaan, ibadat atau mu’amalat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7390865653978249109?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7390865653978249109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7390865653978249109' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7390865653978249109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7390865653978249109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/11/sekedar-pengingat.html' title='Sekedar pengingat....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1542252905126680193</id><published>2008-11-09T01:53:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T01:59:08.135-08:00</updated><title type='text'>Umat Islam harus berhenti dari teologi maut</title><content type='html'>Pembunuh kok dianggap syuhada?? berikut petikan wawancara dengan Prof Syafii Maarif untuk menambah cakrawala berpikir ke-Islam-an kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syafi'i Ma'arif: Umat Islam Harus Berhenti dari Teologi Maut&lt;br /&gt;&lt;a href="http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2008/11/09/112026/1033863/158/syafii-maarif-umat-islam-harus-berhenti-dari-teologi-maut"&gt;http://www.detiknews.com/read/2008/11/09/112026/1033863/158/syafii-maarif-umat-islam-harus-berhenti-dari-teologi-maut&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&gt;Jakarta - Amrozi Cs telah dieksekusi oleh tim regu tembak dari Kejaksaan Agung. Jenazah ketiga pelaku bom Bali I tersebut saat ini sudah siap dimakamkan. Baik keluarga atau pendukungnya mengelu-elukan mereka sebagai mujahid yang mati dalam keadaan sahid. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Ma'arif menilai, pemahaman tentang jihad selama ini banyak disalahartikan, sehingga sebagian masyarakat muslim melakukan tindakan kekerasan atas nama jihad. Namun menurut penerima Magsasay Award 2008 ini, setiap kekerasan yang dilakukan oleh kelompok mana pun di Indonesia akan berakhir dengan kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana meluruskan pemahaman umat yang keliru ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut wawancara detikcom dengan Syafii Ma'arif. Amrozi Cs oleh keluarga dan pendukungnya dianggap mati dalam keadaan sahid. Bagaimana komentar Bapak?Bagi saya biar saja mereka berpendapat seperti itu. Hukuman mati memang harus mereka terima. Nggak usah kita berpolemik lagi masalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti syuhada sebenarnya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syuhada bisa diartikan sebagai orang yang mati dalam keadaan membela agama Islam. Syuhada secara harfiah berarti orang-orang yang bersaksi. Jadi seluruh umat Islam memang bertugas sebagai syuhada, sebagai saksi dan pengawal perjalanan peradaban. Ini bisa kita lihat dalam Al quran Surat Al Baqarah ayat 143 dan Al Hajj ayat 178. Sebagai syuhada, kita menjadi penyaksi, mengontrol peradaban menuju ke arah jalan kenabian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti syuhada tidak harus mati dalam perang membela Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oo tidak. Iya memang mati syahid biasanya dalam perang. Dalam sejarah kita bisa menyaksikan di Perang Badar. Itu jelas, karena mereka mati dalam mempertahankan kebenaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan mereka selama ini keliru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini mereka mempercayai teologi maut, umat Islam harus berhenti dari kepercayaan tersebut. Prinsip teologi maut, yakni mereka berani mati karena tidak berani hidup. Kecuali hanya mengagungkan sejarah, marah, menganggap yang tidak sepaham dengannya sebagai musuh. Padahal Allah tidak seperti itu. Al quran pun jauh lebih toleran.Dalam wasiat Imam Samudra yang dibagi-bagikan di kediamannya, dikatakan umat Islam harus terus berjihad melawan orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Samudra juga menganjurkan agar umat Islam juga meyakini apa yang telah diyakini olehnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membagi-bagikan harus dituntut. Mereka menjadikan politik kerasan sebagai mata pencaharian. Selama ini mereka tidak mempunyai tawaran. Nilai- nilai kemanusiaan juga tidak ada. Mereka mencoba memonopoli kebenaran. Tapi ingat, dalam perkembangannya di Indonesia, setiap ideologi yang mengembangkan kekerasan pasti gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya apa yang salah dalam memahami ajaran Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tidak mau berusaha memahami Alquran secara total. Alquran hanya diambil ayat-ayat yang sesuai dengan subyektivisme mereka. Ini celaka. Pasti ada perbedaan dalam memahami Alquran, nggak mungkin kita sama. Karena manusia bersifat nisbi, tidak mutlak. Tafsir tidak pernah mutlak dan terus berkembang. Silakan saja berbeda pemahaman asal konstruktif, jangan destruktif. Di sisi lain, pemerintah jangan bingung, harus tegas. Kalau pemerintah tidak tegas, maka kekerasan akan terus terjadi dan akan terus meminta korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana meluruskan pemahaman pendukungnya Amrozi Cs yang keliru ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri pencerahan saja. MUI harus mengimbau agar mereka kembali ke jalan yang benar sesuai dengan syariat Islam yang sesungguhnya. Organisasi massa seperti Muhammadiyah dan NU juga harus berperan. Selama ini Muhammadiyah dan NU Jawa Tengah juga telah memberi pemahaman sangat bagus soal masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal apa saja yang harus diperbaiki agar pemahaman keliru tentang jihad ini tidak lagi terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahami agama Islam secara benar. Kembangkan budaya siuman. Siuman artinya, manifestasi dari akal kita yang sehat, serta hati nurani yang bersih. Bersih dari segala perilaku-perilaku yang menimbulkan kebencian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1542252905126680193?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1542252905126680193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1542252905126680193' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1542252905126680193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1542252905126680193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/11/umat-islam-harus-berhenti-dari-teologi.html' title='Umat Islam harus berhenti dari teologi maut'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5006590201652001004</id><published>2008-10-17T07:01:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T07:02:27.597-07:00</updated><title type='text'>Renungan.........</title><content type='html'>Good advices, please do read...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;taken from : &lt;a href="http://marioteguh.blogspot.com/2008/09"&gt;http://marioteguh.blogspot.com/2008/09&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda tidak membebaskan pikiran Anda, Anda tidak mungkin mencapai pengertian yang sebenarnya.Maka pantaslah bila kita menemukan lebih banyak orang yang tidak mengerti - bahkan mengenai hal-hal yang paling sederhana yang bisa memperbaiki kualitas hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, mereka memperburuk suasana di gua pikiran mereka - dengan membiarkan kekhawatiran, kedengkian, dan nafsu - berkembang besar dan kuat dan menentukan bentuk dan warna dari kata-kata yang boleh mereka dengar. Itu sebabnya,Kita harus membebaskan pikiran kita dari hal-hal yang tidak baik - agar hanya kebaikan-lah yang tersisa dalam pikiran kita.Dan bila hanya kebaikan yang mengisi pikiran kita - maka baik-lah pengertian kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5006590201652001004?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5006590201652001004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5006590201652001004' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5006590201652001004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5006590201652001004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/10/renungan.html' title='Renungan.........'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5010987340904653130</id><published>2008-10-17T06:53:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T06:55:10.152-07:00</updated><title type='text'>Lampu dioda based on QDs adalah masa depan teknologi display</title><content type='html'>taken from : &lt;a href="http://www.ferret.com.au/n/"&gt;http://www.ferret.com.au/n/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Researchers at MIT have created a “quantum-dot” organic light-emitting device (QD-OLED) that may one day replace LCDs as the flat-panel &lt;a href="http://www.ferret.com.au/t/Display"&gt;display&lt;/a&gt; of choice for consumer electronics.&lt;br /&gt;The QD-OLED device combines organic materials and high-performing inorganic nanocrystals to create a hybrid optoelectronic structure, the so-called quantum dot. Also called artificial atoms, quantum dots are nanometer scale “boxes” that selectively hold or release electrons. Unlike traditional LCDs, which must be lit from behind, quantum dots generate their own &lt;a href="http://www.ferret.com.au/t/Light"&gt;light&lt;/a&gt;. Depending on their size, the dots can be “tuned” to emit any colour in the visible spectrum. In addition, the colours of light they produce are much more “saturated” than that from other sources. The QD-OLED contains only a single layer of quantum dots sandwiched between two organic thin films, where previous QD-OLEDs used 10 to 20 layers. The researchers have demonstrated organized assemblies over 1 cm2 in size and the same principle could be used to make bigger components. The MIT team’s method of combining organic and inorganic materials may pave the way for new technologies and enhance understanding of the physics of the materials.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to being used for very thin, bright flat-panel displays, the QD-OLEDs may also be used in a variety of other applications, including scientific wavelength calibration, robotic vision and miniaturisation. The QD-OLEDs created in the MIT study have a 2500 percent improvement in luminescent power efficiency over previous QD-OLEDs. “One of the goals is to demonstrate a display that’s stable, simple to produce, flat, high-resolution and uses minimal power,” explains Vladimir Bulovic, QD-OLED co-developer and assistant professor of electrical engineering and computer science at MIT. The researchers go on to note that in time, the devices may be made even more efficient and achieve even higher colour saturation.&lt;br /&gt;When using nanotechnology, manufacturers are faced with fabricating large-scale components out of building blocks invisible to the naked eye. Creating hybrid optoelectronic devices depends on the precise positioning of these functionally distinct materials. This was one of the major hurdles facing the project according to Moungi Bawendi, QD-OLED co-developer and professor of chemistry at MIT. “The challenge is how to efficiently transport electrical charges to an active area of a hybrid device that’s only a single layer of quantum dots,” says Bawendi.&lt;br /&gt;The solution comes from recent advances in traditional organic-LED (OLED) technology, used to create TVs or computer screens only a fraction of an inch thick with the same brightness as LCDs. Bulovic and Bawendi use organic molecules currently used in OLEDs as an organic semiconductor to deliver an electrical charge to the quantum dots. In two parallel processes, which are already widely applicable in industry, separate but layered structures are created out of nanoscale materials.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MIT envisions QD-OLEDs becoming complementary to OLEDs because they can be built with compatible manufacturing methods.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5010987340904653130?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5010987340904653130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5010987340904653130' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5010987340904653130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5010987340904653130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/10/lampu-dioda-based-on-qds-adalah-masa.html' title='Lampu dioda based on QDs adalah masa depan teknologi display'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8915951951794164337</id><published>2008-10-17T06:42:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T06:46:20.008-07:00</updated><title type='text'>Lampu Dioda putih pertama menggunakan Quantum dots</title><content type='html'>source: &lt;a href="http://www.physlink.com/News/071403QuantumDotLED.cfm"&gt;http://www.physlink.com/News/071403QuantumDotLED.cfm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a different approach to creating white light several researchers at the Department of Energy’s (DOE) Sandia National Laboratories have developed the first solid-state white light-emitting device using quantum dots. In the future, the use of quantum dots as light-emitting phosphors may represent a major application of nanotechnology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Understanding the physics of luminescence at the nanoscale and applying this knowledge to develop quantum dot-based light sources is the focus of this work," says Lauren Rohwer, principal investigator. "Highly efficient, low-cost quantum dot-based lighting would represent a revolution in lighting technology through nanoscience."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The approach is based on encapsulating semiconductor quantum dots — nanoparticles approximately one billionth of a meter in size — and engineering their surfaces so they efficiently emit visible light when excited by near-ultraviolet (UV) light-emitting diodes (LEDs). The quantum dots strongly absorb light in the near UV range and re-emit visible light that has its color determined by both their size and surface chemistry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This nanophosphor-based device is quite different from an alternative approach based upon growth of blue, green, and red emitting semiconductor materials that requires careful mixing of the those primary colors to produce white illumination. Efficiently extracting all three colors in such a device requires costly chip designs, which likely cannot compete with conventional fluorescent lighting but can be attractive for more specialized lighting applications.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rohwer and the quantum dot team — Jess Wilcoxon, Stephen Woessner, Billie Abrams, Steven Thoma, and Arturo Sanchez — started on the project two-and-a-half years ago. Subsequently, their research has advanced significantly, including recently reaching a major milestone of creating white and blue lighting devices using encapsulated quantum dots.&lt;br /&gt;"This accomplishment brings quantum dot technology from the laboratory demonstration phase to a packaged component," Rohwer says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEDs for solid-state lighting typically emit in the near UV to the blue part of the spectrum, around 380-420 nanometers. Conventional phosphors used in fluorescent lighting are not ideal for solid state lighting because they have poor absorption for these energies. So researchers worldwide have been investigating other chemical compounds for their suitability as phosphors for solid state lighting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quantum dots represent a new approach. The nanometer-size quantum dots are synthesized in a solvent containing soap-like molecules called surfactants as stabilizers. The small size of the quantum dots — much smaller than the wavelength of visible light — eliminates all light scattering and the associated optical losses. Optical backscattering losses using larger conventional phosphors reduce the package efficiency by as much as 50 percent.&lt;br /&gt;Nanophosphors based upon quantum dots have two significant advantages over the use of conventional bulk phosphor powders. First, while the optical properties of conventional bulk phosphor powders are determined solely by the phosphor’s chemical composition, in quantum dots the optical properties such as light absorbance are determined by the size of the dot. Changing the size produces dramatic changes in color. The small dot size also means that, typically, over 70 percent of the atoms are at surface sites so that chemical changes at these sites allow tuning of the light-emitting properties of the dots, permitting the emission of multiple colors from a single size dot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"This provides two additional ways to tune the optical properties in addition to chemical composition of the quantum dot material itself," Wilcoxon says.&lt;br /&gt;For the quantum dots to be used for lighting, they need to be encapsulated, usually in epoxy or silicone.&lt;br /&gt;"Doing this we had to take care not to alter the surface chemistry of the quantum dots in transition from solvent to encapsulant," says Thoma, who worked on the encapsulation portion of the project.&lt;br /&gt;Quantum dot phosphors are integrated with a commercial LED chip that emits in the near ultraviolet at 400 nanometers by encapsulating the chip with a dot-filled epoxy, creating a dome. The quantum dots in the dome absorb the invisible 400 nanometer light from the LED and reemit it in the visible region — a principle similar to that used in fluorescent lighting.&lt;br /&gt;However, a key technical issue in the encapsulation process had to be solved first. When altering the environment of the dots from a solvent to an encapsulant, the quantum dots would "clump up" or agglomerate, causing them to lose their light-emitting properties. By attaching the quantum dots to the "backbone" of the encapsulating polymer they are close, but not touching. This allows for an increase in efficiency from 10-20 percent to an amazing 60 percent, Thoma says.&lt;br /&gt;The team notes that other people working in the field of quantum dots have reported conversion efficiencies of nearly 50 percent in dilute solutions. However, to their knowledge, Sandia’s team is the first to make an encapsulated quantum dot device with such high efficiencies.&lt;br /&gt;To date, the Sandia’s quantum dot devices have largely been composed of the semiconductor material cadmium sulfide. Cadmium is a toxic heavy metal similar to lead so alternative nanophosphor materials are desired. Fortunately, quantum dot phosphors can also be made from other types of materials, including nontoxic nanosize silicon or germanium semiconductors with light-emitting ions like mangenese on the quantum dot surface.&lt;br /&gt;"Silicon, which is abundant, cheap, and non-toxic, would be an ideal material," says Woessner. "The scientific insights gained through the team’s success with cadmium sulfide quantum dots will enable this next step in nanophosphor development."&lt;br /&gt;In the next year the researchers will increase the concentration of the quantum dots in the encapsulant to obtain further increases in light output while extending the understanding of quantum dot electronic interactions at high concentrations.&lt;br /&gt;While the researchers investigate the use of quantum dots as phosphors as part of an internally funded research project, they also have a grant from the DOE Office of Building Technologies for a collaborative project with Lumileds Lighting, a joint venture between Agilent Technologies and Philips Lighting. In this project they are helping Lumileds measure quantum efficiency of light emission from various types of dots.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerry Simmons, who with James Gee, heads up the Sandia’s Solid State Lighting grand challenge, says the quantum dot research is an integral part of the work at Sandia.&lt;br /&gt;"We are very proud of these accomplishments," Simmons says. "The team has come a long way in a short time."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8915951951794164337?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8915951951794164337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8915951951794164337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8915951951794164337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8915951951794164337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/10/lampu-dioda-putih-pertama-menggunakan.html' title='Lampu Dioda putih pertama menggunakan Quantum dots'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-9195801396586752020</id><published>2008-10-17T03:38:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T03:43:08.269-07:00</updated><title type='text'>...patut direnungkan...</title><content type='html'>Saya pikir ini cukup baik untuk mengimropve diri kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://marioteguh.blogspot.com/2008/09/leadership-action-triggers_12.html"&gt;Leadership Action Triggers&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Bapak Mario Teguh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas pertama dan yang paling penting dari sebuah tindakan adalah pelaksanaannya, baru kemudian ketepatan tindakannya, kemudian kemudahan melakukannya, kemudian ketepatan biayanya, dan kemudian yang terakhir adalah keindahan dari pelaksanaan dari tindakan itu.Tetapi para ahli menunda tindakan itu ada di mana-mana.Dan karena tidak melakukan yang seharusnya mereka lakukan, mereka jadinya -harus melakukan yang seharusnya tidak mereka lakukan.Itu sebabnya banyak orang yang terlambat mencapai yang telah lama dicapai oleh orang lain.Sebetulnya, setiap orang di antara kita adalah pribadi yang super cepat bertindak-bila dia bertemu dengan sesuatu atau keadaan yang mewajibkannya untuk bertindak tanpa sempat memikirkan penundaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi cepat seorang pemimpin yang bertindak saat sebuah peluang hadir, bisa saja datang dari penantian yang cukup melelahkan, atau dari kekhawatiran bahwa kesempatan yang sama mungkin tidak akan tersedia lagi, atau bila peluang ini tidak diambilnya, orang lain akan memanfaatkannya.Bila kita tidak terlatih untuk berpikir cepat dalam menimbang resiko dan nilai dari keuntungan dalam bertindak cepat - pada awal terbukanya sebuah peluang; kita akan sering terperangkap dalam keharusan untuk segera meninggalkan sebuah pekerjaan, membayar biaya dari ketergesaan itu, sambil memusatkan perhatian kepada kemungkinan peluang berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pemimpin usaha yang hanya akan bertindak - bila dia sudah mengetahui adanya sebuah masalah.Pada detik dia mengetahui masalah itu - karena tidak sengaja, atau karena sebuah proses formal; dia segera meledak dengan tindakan-tindakan drastis yang sering juga sangat emosional.Segala sesuatu ingin dilakukannya, semua harus selesai kemarin, dan dia menyalahkan semua orang - kecuali dirinya.Namun, semua orang yang mengenalnya, juga mengenali bahwa semua kegentingan itu akan segera berlalu, karena sang pemimpin akan segera santai kembali - karena sudah membiasa dan mulai lupa dengan pengetahuannya mengenai masalah-masalah bisnisnya.Bila dia ingat - dia panik. Bila dia lupa - dia santai.Sampai suatu saat dia akan sangat ingat - yaitu saat pemilik perusahaan menggantikannya dengan seseorang yang memiliki peledak tindakan yang lebih sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peledak yang satu ini adalah peningkatan kelas dari masalah.Masalah-masalah kecil yang tidak terselesaikan, akan tumbuh menjadi kenyataan yang membahayakan dan itu lah yang kita sebut sebagai ancaman.Sehingga, bila kita semua lebih berbakat untuk menunda penyelesaian masalah, sebetulnya kita semua ini sedang membesarkan ancaman-ancaman bagi diri kita dan tugas-tugas kepemimpinan kita.Seorang pemimpin yang berkelas tidak membiarkan dirinya diancam oleh apa pun untuk memutuskan dan melakukan yang benar, apa lagi oleh ancaman yang datang dari kelemahannya dalam bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang berencana baik dan besar - seharusnya mudah untuk membuat diri Anda mendahulukan yang harus didahulukan, melakukan dengan cara yang seharusnya, dan pada saat Anda harus melakukannya.Bila Anda telah memiliki rencana, tetapi rencana itu tidak membuat Andaterbebaskan dari kecenderungan untuk menunda dan mendahulukan yang menyenangkan saja - itu berarti bahwa Anda harus mengganti rencana Anda, atau mengganti sikap Anda.Bila Anda tidak dapat menggantikan kedua hal itu, akan datang suatu saat di mana Anda lah yang akan digantikan - dengan pribadi yang mudah meledak karena rencana-rencananya. Ingat lah, walau pun organisasi yang Anda pimpin itu berukuran besar dan berjangkauan luas - sifat dari kepemimpinan Anda adalah tetap kepemimpinan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya impian adalah juga sebuah rencana - hanya saja kita tidak mampu menjelaskan mengapa hati ini demikian terpukau-pikat kepada keindahan dari pembayangan keadaan di masa depan itu.Bila impian Anda tidak menggerakkan Anda untuk melakukan pekerjaan Anda dengan sungguh-sungguh - walau pun Anda tidak yakin pasti bahwa yang Anda lakukan akan menuntun Anda kepada impian Anda; makaAnda tidak sedang bermimpi.Ingat lah, bahwa hanya dia yang kesibukannya disemangati oleh impiannyayang bisa hidup dalam kesadaran kehidupan impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peledak tindakan kepemimpinan yang tertinggi adalah keikhlasan menerima tugas sebagai pemimpin untuk mendatangkan perbedaan yang berarti bagi organisasi yang kita pimpin, bagi pelanggan yang kita layani, dan bagi semua yang berkepentingan atas kebaikan yang kita hasilkan.Bila Anda melihat ada sesuatu yang seharusnya dilakukan untuk kebaikan organisasi dan bisnis Anda -jangan lah Anda menunggu sampai Anda menjadi pejabat; segera lakukanlah yang harus Anda lakukan.Melakukan yang baik tanpa harus diperintahkan adalah tanda kualitaskepemimpinan yang sebenarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-9195801396586752020?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/9195801396586752020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=9195801396586752020' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/9195801396586752020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/9195801396586752020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/10/patut-direnungkan.html' title='...patut direnungkan...'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-4212422639195240545</id><published>2008-10-17T03:20:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T03:27:00.411-07:00</updated><title type='text'>perkembangan teknologi LED</title><content type='html'>Here is the summary from LED development which was written by &lt;a href="mailto:editorial@electronicsweekly.com?subject=LED"&gt;Steve Bush&lt;/a&gt;. More details can be find out at &lt;a href="http://www.electronicsweekly.com/"&gt;http://www.electronicsweekly.com&lt;/a&gt;. Please do read...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;History of LEDS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Practical white LEDs were made possible by work with GaN semiconductor materials in the 1990s by &lt;a title="Dr Shuji Nakamura" href="http://www.nae.edu/nae/naepub.nsf/Members+By+UNID/27AA1EDDC382338D85256CCC004F3477?opendocument"&gt;Dr Shuji Nakamura&lt;/a&gt; at &lt;a title="Nichia Corporation" href="http://www.nichia.co.jp/product/index.html"&gt;Nichia Corporation&lt;/a&gt; in Japan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There has been heated argument as to where the actual credit lies, but it is certain that: the company, the man, and the previous research were all necessary.&lt;br /&gt;Nichia initially concentrated on making white LEDs in the classic 5mm and 3mm LED packages, as well as small surface-mount variants.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Philips-owned Californian company &lt;a title="Lumileds" href="http://www.lumileds.com/products/line.cfm?lineId=18"&gt;Lumileds&lt;/a&gt; introduced the first successful high-power white LEDs, using larger die (1x1mm) for intensity and complex packages to extract the heat generated. &lt;a title="Cree" href="http://www.cree.com/"&gt;Cree&lt;/a&gt; of North Carolina has joined, or even surpassed, Lumileds as the producer of the brightest and most efficient LED die, and Far Eastern companies are not far behind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How LEDs work&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The 'white' of white LEDs comes from the narrow-band blue naturally emitted by GaN LEDs, plus a broad spectrum yellow generated by a phosphor coating on the die which absorbs a proportion of the blue and converts it to yellow.&lt;br /&gt;'GaN' die are actually InGaN heterostructures, which can produce operational wavelengths from green to ultra-violet by varying the relative amounts of &lt;a title="Indium" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Indium"&gt;indium&lt;/a&gt; and &lt;a title="gallium" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gallium"&gt;gallium&lt;/a&gt; during production.&lt;br /&gt;Although this blue die + yellow phosphor approach yields light which appears white, it has little green and almost no red content leading to inferior colour rendering compared with incandescent bulbs and even 'tri-phosphor' florescent tubes. 'Warm white' LEDs, which include a red-producing phosphor, are an attempt to improve this situation as well as make LEDs illumination more acceptable in living spaces.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEDs for lighting?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;White LED versions of traditional luminaires are already available from several manufacturers, particularly in the &lt;a title="MR11 spotlight" href="http://www.reuk.co.uk/"&gt;MR11 spotlight&lt;/a&gt; style.&lt;br /&gt;LED headlights for cars are in the pipeline, notably through the work of Germany's &lt;a title="Osram" href="http://www.osram.com/osram_com/"&gt;Osram&lt;/a&gt;, which is producing a range of multi-die packages that are close to producing enough light for road illumination. LED bicycle headlights are already available.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reality checking&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firstly, firms which claim 90 per cent efficiency from LED light sources are making it up. Even the latest ones convert far more electricity to heat than they do to light.&lt;br /&gt;Next, according lighting industry experts, LEDs will remain expensive compared with light bulbs and florescent tubes. And whilst they will increasingly appear in homes and offices, they will almost certainly will not replace florescent tubes in office lighting.&lt;br /&gt;Florescent tubes, at 100 lm/W for the best fittings, are equal in electrical efficiency to the best LEDs. In the future, large area sheet emitters based on organic LED or AC &lt;a title="electroluminescent" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Electroluminescent"&gt;electroluminescent&lt;/a&gt; technology are likely match LEDs in efficiency and to cost far less per lumen to manufacture. One of these two will probably end up replacing florescent tubes in office lighting and eventually most light bulbs in the home. In their favour, LEDs are the only real alterative if colour-tuneable accent lighting or colour-tuneable whole-room lighting is required.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And lastly, at the time of writing, large arrays of 5mm LEDs compete well with fewer high-power LEDs in terms of efficiency, cost and heat dissipation. In the following, we bring together resources from Electronics Weekly and UK and EU governmental bodies to provide detailed reference information about LED technology, specifically white LEDs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;source: &lt;a href="http://www.electronicsweekly.com/Articles/2008/04/17/41947/"&gt;http://www.electronicsweekly.com/Articles/2008/04/17/41947/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-4212422639195240545?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/4212422639195240545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=4212422639195240545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4212422639195240545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4212422639195240545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/10/perkembangan-teknologi-led.html' title='perkembangan teknologi LED'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5569017000487830183</id><published>2008-10-17T03:14:00.001-07:00</published><updated>2008-10-17T03:16:37.484-07:00</updated><title type='text'>tentang lampu dioda</title><content type='html'>LEDs may be little, but new high-brightness models are producing a considerable amount of light.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First used as status and indicator lamps, and more recently in under-shelf illumination, accent lighting, and directional marking applications, high-brightness LEDs have emerged within the last six years. But only recently have they been seriously looked upon as a feasible option in general purpose lighting applications. Before you recommend or install this type of lighting system, you should understand the basic technology upon which these devices are based.&lt;br /&gt;Light-emitting diodes (LEDs) are solid-state devices that convert electric energy directly into light of a single color. Because they employ “cold” light generation technology, in which most of the energy is delivered in the visible spectrum, LEDs don't waste energy in the form of non-light producing heat. In comparison, most of the energy in an incandescent lamp is in the infrared (or non-visible) portion of the spectrum. As a result, both fluorescent and HID lamps produce a great deal of heat. In addition to producing cold light, LEDs:&lt;br /&gt;·         Can be powered from a portable battery pack or even a solar array.&lt;br /&gt;·         Can be integrated into a control system.&lt;br /&gt;·         Are small in size and resistant to vibration and shock.&lt;br /&gt;·         Have a very fast “on-time” (60 nsec vs 10 msec for an incandescent lamp).&lt;br /&gt;·         Have good color resolution and present low, or no, shock hazard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The centerpiece of a typical LED is a diode that is chip-mounted in a reflector cup and held in place by a mild steel lead frame connected to a pair of electrical wires. The entire arrangement is then encapsulated in epoxy. The diode chip is generally about 0.25 mm square. When current flows across the junction of two different materials, light is produced from within the solid crystal chip. The shape, or width, of the emitted light beam is determined by a variety of factors: the shape of the reflector cup, the size of the LED chip, the shape of the epoxy lens and the distance between the LED chip and the epoxy lens. The composition of the materials determines the wavelength and color of light. In addition to visible wavelengths, LEDs are also available in infrared wavelengths, from 830 nm to 940 nm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The definition of “life” varies from industry to industry. The useful life for a semiconductor is defined as the calculated time for the light level to decline to 50% of its original value. For the lighting industry, the average life of a particular lamp type is the point where 50% of the lamps in a representative group have burned out. The life of an LED depends on its packaging configuration, drive current, and operating environment. A high ambient temperature greatly shortens an LED's life.&lt;br /&gt;Additionally, LEDs now cover the entire light spectrum, including red, orange, yellow, green, blue, and white. Although colored light is useful for more creative installations, white light remains the holy grail of LED technology. Until a true white is possible, researchers have developed three ways to deliver it:&lt;br /&gt;·         Blend the beams. This technique involves mixing the light from multiple single-color devices. (Typically red, blue, and green.) Adjusting the beams' relative intensity yields the desired color.&lt;br /&gt;·         Provide a phosphor coating. When energized photons from a blue LED strike a phosphor coating, it will emit light as a mixture of wavelengths to produce a white color.&lt;br /&gt;·         Create a light sandwich. Blue light from one LED device elicits orange light from an adjacent layer of a different material. The complementary colors mix to produce white. Of the three methods, the phosphor approach appears to be the most promising technology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another shortcoming of early LED designs was light output, so researchers have been working on several methods for increasing lumens per watt. A new “doping” technique increases light output several times over compared to earlier generations of LEDs. Other methods under development include:&lt;br /&gt;·         Producing larger semiconductors.&lt;br /&gt;·         Passing larger currents with better heat extraction.&lt;br /&gt;·         Designing a different shape for the device.&lt;br /&gt;·         Improving light conversion efficiency.&lt;br /&gt;·         Packaging several LEDs within a single epoxy dome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One family of LEDs may already be closer to improved light output. Devices with enlarged chips produce more light while maintaining proper heat and current management. These advances allow the units to generate 10 times to 20 times more light than standard indicator lights, making them a practical illumination source for lighting fixtures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before LEDs can enter the general illumination market, designers and advocates of the technology must overcome several problems, including the usual obstacles to mainstream market adoption: Industry-accepted standards must be developed and costs must be reduced. But more specific issues remain. Things like lumen-per-watt efficacy and color consistency must be improved, and reliability and lumen maintenance should be addressed. Nevertheless, LEDs are well on their way to becoming a viable lighting alternative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;source : &lt;a href="http://ecmweb.com/mag/"&gt;http://ecmweb.com/mag/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5569017000487830183?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5569017000487830183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5569017000487830183' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5569017000487830183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5569017000487830183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/10/tentang-lampu-dioda.html' title='tentang lampu dioda'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3102684794126684577</id><published>2008-10-16T23:37:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T23:40:39.823-07:00</updated><title type='text'>Informasi ttg penyakit Kanker</title><content type='html'>Benarkah penyakit kanker tidak berbahaya lagi? terlepas dari benar tidaknya, bersama ini saya informasikan artikel sebagai referensi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesiadapatmemiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman"KELADI TIKUS" (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanamanobat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kankerdan berbagai penyakit berat lain.Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanyatumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanamanini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau,orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr ChrisK.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari UniversitiSains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembagaperawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuanpasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia Baru,Singapura, dan berbagai negara di dunia.Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi diPekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kankerpayudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelahkanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harusmenjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untukmenghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut."Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kamimenyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkankerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,"jelas Patoppoi.Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terusberusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkaninformasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobatikanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysiauntuk membeliteh tersebut,"ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuahtokoobat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan membaca bukumengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karanganDr Chris K.H. Teo terbitan 1996."Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut.Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi,tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi sambil tersenyum.Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabatDepartemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanamantersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat,familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata,mereka menemukan tanaman itu di sana . Setelah mendapatkan tanamantersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo diMalaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwatanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agartidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,"lanjut Patoppoi.Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulaimemproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada bukutersebutuntuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya,Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanamantersebut."Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari dipinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebuttumbuh liar dipinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalamipenurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhentirontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makanibu saya pun kembali normal," lanjut Boni.Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalanipemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguhmengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ," kata Patoppoi. Paradokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan padaisterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikandosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi.Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokterpun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agarmengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidakmengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Danpemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekalidiundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena sesuatu hal, paradokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaantanaman sebagaipengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatankeadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungiDr.Teomelalui fax untukmenginformasik an bahwa tanaman tersebut banyakterdapat di Jawa danmengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini diIndonesia. Kemudian Dr .. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahuapa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambungPatoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalambahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkanagar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usahanyata membantu penderita kanker di Indonesia.Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenaimeninggalnya Wing Wir yanto , salah satu wartawan handal JawaPos,Patoppoi sempat tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-data rinci mengenai gejala,penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengansalah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskandi buku tersebut. Dan eksperimen pengobatantersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut."Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos,"ujar Boni.Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari,bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar300 orangyang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani,Buduran Sidoarjo.Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahimstadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi.Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya lakudijualuntuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos.Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasientersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi,karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoiberusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan DirekturJenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno,Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia . Di kantorPusat Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat penerangan lebihlanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia ..Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisirevisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut,serta pengalamanisterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraanmereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikanperwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka secara resmi,Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial CancerCare Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin bulanan CancerCare, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo. Cancer Care Malaysiatelah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksiekstrak Keladi Tikusdalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagaitananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukantergantung penyakit yang diderita," kata Boni.Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yangmenanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui faxke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kamifax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligusobatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 RinggitMalaysia ," lanjut Boni."Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarikkeuntungan,malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjanganwaktu pembayaran. " tambahnya.Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salahsatu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kankerginjal. Adadua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabatsebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabayaini. Pasienpertama yangmengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladitikus, karena telahditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelahmenjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalamikerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah.Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter inimenanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untukmembantu proses penyembuhan kemoterapi.Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialamipenderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapidokter ini menolak untuk diekspos karenamenurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia ..Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatanalternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" ataudokter-dukun."Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern,"kata dokter tersebut.Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikanbantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dansabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapatkanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III,pasien tersebut mengkonsumsi pildan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyataobat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darahpenderita danmengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut."Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus,dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbulresistensi. Jadi janganseperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambiltertawa. Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangankanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidakmempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saatkemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telahdisembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kankerpayudara, paru-paru, usus besar-rectum,liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa,leukemia, empedu, pankreas,dan hepatitis.Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaranRinggitMalaysiaselama 5 tahundapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungandengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial"Cancer Care Indonesia " beralamat di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta ,telp : 021-4894745,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3102684794126684577?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3102684794126684577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3102684794126684577' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3102684794126684577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3102684794126684577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/10/informasi-ttg-penyakit-kanker.html' title='Informasi ttg penyakit Kanker'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-9139791559739205598</id><published>2008-10-06T06:51:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T07:00:24.028-07:00</updated><title type='text'>Gusti Allah Tidak "nDeso"</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Gusti Allah Tidak "nDeso"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Emha Ainun Nadjib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun,"kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan.""Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya."Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun."Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Tuhan:kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran,membangun masjid, tapi korupsi uang negara.&lt;br /&gt;Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.&lt;br /&gt;Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ekstrinsik VS Intrinsik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasadi siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, ikut misa, kebaktian, atau membaca kitab suci,bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.&lt;br /&gt;Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan rupiah uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Jalal Center&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-9139791559739205598?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/9139791559739205598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=9139791559739205598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/9139791559739205598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/9139791559739205598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/10/gusti-allah-tidak-ndeso.html' title='Gusti Allah Tidak &quot;nDeso&quot;'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8592542680168853942</id><published>2008-09-27T07:16:00.000-07:00</published><updated>2008-09-27T07:19:30.197-07:00</updated><title type='text'>INDAHNYA WANITA</title><content type='html'>INDAHNYA WANITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ambil dari milis tetangga (alumni SMANSA Serang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah diantara kita yang tidak puas diciptakan menjadi seorang wanita? Ingin menuntut hak yang sama dengan Pria karena merasa derajatnya dibawah Pria ?Hanya orang kafir dan kaum materialislah yang berpikiran seperti itu,tidak percaya bahwa Allah SWT sang Pencipta telah menetapkan aturanyang begitu sempurnanya. Dalam Islam kedudukan wanita sederajat dengan pria namun karena takdir(akal dan perasaan) yang diberikan berbeda, maka tugas, kewajiban dantanggung jawabnya pun berbeda.Seorang Wanita harus patuh dan taat kepada suami sebagai kepala rumahtangga, namun sebaliknya Seorang suami pun harus patuh dan taat kepadasang Ibu yang dulu mengandung dan membesarkannya.sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah.Dan "perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita padahari kiamat nanti, adalah mengenai sholat lima waktu dan ketaatannyaterhadap suami."(HR.Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)Ada 10 wasiat Rasulullah kepada putrinya Fathimah binti Rasulillah.Wasiat ini merupakan mutiara yang termahal nilainya bila kemudiandimiliki olehsetiap istri sholehah. Wasiat tsb adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya,Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum,melebur kejelekan, dan meningkatkan derajat wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya,niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya,Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang Kelaparan  dan memberi pakaianseribu orang yang telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   Tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri.Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akanmendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalahkemurkaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya,dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta meleburseribu kejelekan.Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah.Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya.Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosasedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakanbagian dari taman sorga.Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orangyang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkanampunan baginya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam denganrasa senang serta ikhlas, Allah mengampuni dosa-dosanya sertamemakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serbahijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribukebaikan.Dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami denganrasa senang hati, para malaikat yang memanggil dari langit menyeruwanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampunidosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya,meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya,melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yangdidatangkan dari sungai2 sorga.Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga.Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu indahnya menjadi wanita, dengan kelembutan dan kasihnya dapat merubah duniaJadilah diri-dirimu wanita sholehah, agar negeri menjadi indah, karena dirimu adalah tiang negeri iniSubhanallah……betapa Allah swt. telah mengagungkan seorang wanita yang telah diciptakanNYA, jauh lebih besar Dibanding apa yang mereka duga.Masihkah ada diantara kita yang tidak puas diciptakan menjadi seorang wanita ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8592542680168853942?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8592542680168853942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8592542680168853942' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8592542680168853942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8592542680168853942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/09/indahnya-wanita.html' title='INDAHNYA WANITA'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-2047381891055829878</id><published>2008-09-14T06:50:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T06:54:00.188-07:00</updated><title type='text'>cahaya tampak lampu dioda dari WBGS dengan logam tanah jarang sebagai doping</title><content type='html'>VISIBLE LIGHT EMITTING DEVICE FORMED FROM WIDE BAND GAP SEMICONDUCTOR DOPED WITH A RARE EARTH ELEMENT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;source : &lt;a href="http://www.wipo.int/"&gt;http://www.wipo.int/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visible Light Emitting Device Formed From Wide Band Gap Semiconauctor Doped With a Rare Earth Element Background of the invention Light emitting diodes (LED) and related light emitting devices are used in a vast number of applications. These can be used in most light emitting devices from simple panel lights to complex displays and lasers.&lt;br /&gt;Currently LEDs are used in the automotive industry, consumer instrumentation electronics, and many military applications. Different compound are used to produce different wavelengths of light. For example. aluminum gallium arsenide is used for red LEDs, gallium aluminum phosphide for green, and GaN for blue. Light emitting materials formed from three different materials are often difficult to produce. Utilizing different LEDs together inherently requires allowing for different performance characteristics such as current and voltage requirements.&lt;br /&gt;Wide band gap semiconductors (WBGS) doped with light emitting elements such as rare earth elements (RE) and other elements with partially filled inner shells are particularly attractive for L-Ds because the emission efficiency appears to increase with band gap value, thus allowing room temperature operation without the need to introduce impurities. Wide band gap generaily refers to a band gap of 2 eV or greater. Electroluminescence has been reported from several WBGS hosts including Er-doped gallium arsenide, gallium phosphide, GaN, ZnSe and SiC. Er-doped semiconductor light emitting diodes have been shown to emit in the infrared at about 1.5 microns. The infrared emission corresponds to transmissions between the lowest excited state (41, =2) and the ground state (41, 5, 2) of the erbium atoms. The first Er-doped semiconductor light emitting diodes emitted IR light only at very low temperatures. However, recent advancements have permitted IR light emission at near room temperature. Although IR emitting Er-doped GaN has a great deal of utility in the communications industry, it previously has not been useful in a light emitting diode requiring visible emission.&lt;br /&gt;Summary of the Invention The present invention is premised on the reaiization that wide band gap semiconductor substrates doped with elements with partially filled inner shells such as rare earth elements and transition metals can be formed and will emit in the visible and ultraviolet spectrum at a wide range of temperatures. The wide band gap semiconductor material are group III-V and IV materials including diamond, GaN, AIN, InN, BN and alloys thereof. These are doped with elements such as cerium, praseodymium, neodymium, promethium, samarium, europium, gadolinium, turbium, dysprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, or lutetium or other elements with partially filled inner shells.&lt;br /&gt;By proper formation of the wide band gap semiconductor material and proper introduction of the rare earth element, a light emitting diode can be formed which emits in the visible spectrum.&lt;br /&gt;By selection of the appropriate dopant material, one can select the appropriate color. For example, in GaN, erbium will produce green whereas thulium will produce blue and praseodymium will produce red.&lt;br /&gt;The objects and advantages of the present invention will be further appreciated in the light of the following detailed description and drawing inwhich: Brief Description of the Drap* The Figure is a graph depicting the PL spectrum of Pr-implanted GaN films treated under different annealing conditions.&lt;br /&gt;Detailed Description In order to form a light emitting devices according to the present invention, a wide band gap semiconductor material is formed on a substrate and doped with an effective amount of a rare earth element.&lt;br /&gt;The substrate itself can be any commonly used substrate such as silicon, silica, sapphire, metals, ceramics and insulators.&lt;br /&gt;The WBGS is either a group III-V material or a group IV material such as diamond. In particular the WBGS material can include III-V semiconductors such as GaN, InN, AIN, BN as well as alloys of these.&lt;br /&gt;Any production method which forms crystalline semiconductors can be used. Suitable techniques indure molecular beam epitaxy (MBE), metal- organic chemical vapor deposition (MOCVD), chemical vapor deposition (CVD), plasma-enhanced chemical vapor deposition (PCVD), hydride vapor phase epitaxy (HVPE) and PECD. The desired thickness of a WBGS material will be formed on the substrate. For emission purposes the thickness of the WBGS is not critical. For practical reasons the thickness of the WBGS layer will be from about. 2 to about 5 microns, with around 1 to 2 microns being preferred.&lt;br /&gt;For the rare earth or transition metal to be strongly optically active in the wide band gap semiconductor, group III deficient growth conditioners should be utilized. This should permit the rare earth element to sit in an optically active site which promotes the higher energy or visible light emission.&lt;br /&gt;The dopant material is one which has a partially filled inner shell with transition levels that can result in visible or U. V. emission. The dopant material can be a transition metal such as chromium or a rare earth element preferably from the lanthanide series and can be any of cerium, praseodymium, neodymium, promethium, samarium, europium, gadolinium, turbium, dysprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, or lutetium. Typically RE dopants include thulium for a blue display, praseodymium for a red display, and erbium for a green display. These can be added to the WBGS by either in situ methods or by ion implantation. Generally the concentration can be relativeiy high, from less than about 0.1% up to about 10 atomic percent. The dopant concentration can be increased until the emission stops. Generally, the preferred concentration will be about. 1 to about 10 atomic percent.&lt;br /&gt;Further a full-color display can be created by utilizing three overlapping WBGS layers such as GaN each layer doped with different light emitting rare earth elements. Separate wiring could be used for each layer and each layer could be separated by transparent insulating layers.&lt;br /&gt;An array of side by side light emitting diodes could also be used to provide a full color display. A combination of dopants in the same WBGS can also be employed.&lt;br /&gt;It may be desirable to anneal the WBGS. This tends to increase emission up to a point. Generally the WBGS is annealed in an argon or other inert environment at a temperature 800-1200° C for 1-5 hours.&lt;br /&gt;More preferably the temperature will be from 850-1050° C, most preferably about 950° C.&lt;br /&gt;The invention will be further appreciated in light of the following detailed example.&lt;br /&gt;Example 1.&lt;br /&gt;An erbium-doped GaN Schottky contact LED emitting visible light was formed by growing an erbium-doped GaN film in a Riber MBE-32 system on a two inch pSi substrate. Solid sources are employed to supply the galiium (7 N purity) and erbium (3 N) fluxes while an SVTA rf plasma source is used to generate atomic nitrogen. In this application, a GaN buffer layer was first deposited for 10 minutes at a temperature of 600°C followed by GaN growth at a temperature of 750"C. The growth conditions were as follows: nitrogen flow rate 1.5 sccm at a plasma power of 400 Watts, gallium cell temperature of 922 °C (corresponding to a beam pressure of 8.2 x 10 7 torr) and erbium cell temperature of 1100°C. The resulting GaN growth rate was about 0.8 microns/hour, and the erbium concentration was about 1021/cri. GaN films with a thickness of 2.5 microns were utilized.&lt;br /&gt;To fabricate Schottky diodes on the GaN: erbium films, a semitransparent aluminum layer was deposited by sputtering. The aluminum film was patterned into a series of ring structures of varying areas utiiizing a lift-off process. The aluminum rings serve as individual Schottky contacts while a large continuous aluminum surface was used as a common ground electrode. Electro luminescence characterization at ultraviolet and visible wavelengths was performed with a 0.3 m Acton research spectrometer fitted with a photo multiplier tube detector. All measurements were conducted at room temperature using dc applied bias voltage and current.&lt;br /&gt;Applying reverse bias current to the order of 1 milliamp to a GaN: erbium Schottky LED, results in green emission visible with the naked eye under normal ambient lighting conditions. The emission spectrum consists of two strong and narrow lines at 537 and 558 nm which provides the green emission color. The two green lines have been identified as erbium transmissions from a 2H1"2 and 4S3, 2 levels to the 41, 5, 2 ground state. Photo luminescence characterization of the same GaN erbium films grown on silicon performed with a helium cadmium laser excitation source at a wavelength of 325 nanometers, corresponding to an energy greater than a GaN band gap, also produce green emissions from the same two transitions. Minor EL peaks were observed at 413 and at 666/672 nanometers.&lt;br /&gt;The device had a threshold voltage for forward conduction of about 8.5 volts. At a forward voltage of 20 volts, a current flow of 350 milliamps is obtained. Under reverse bias of 20 volts, a current of about 30 microamps is measured. The capacitance voltage characteristic of the diode has a voltage intercept of about 11.5 volts and an effective GaN carrier concentration of approximately 10'2/cm3. The high diode forward resistence obtained in the current voltage characteristics of about 34 kilo- Ohms is probably due to the high resistivity of the GaN layer. The Schottky barrier height calculated from the capacitance voltage characteristics is approximately 9 volts, which was consistent with the threshold voltage. This large voltage probably indicates the presence of an insulating layer on the aluminum-GaN interface.&lt;br /&gt;A linear relationship is maintained between the optical output and the bias current over a wide range of values. At current values smaller than 200 milliamps, the relationship is linear.&lt;br /&gt;Example 2.&lt;br /&gt;Er-doped GaN films are formed in a Riber MBE-32 system on c- axis sapphire substrates. Solid sources were employed to supply the Ga (7 N purity), AI (6 N), and Er (3 N) fluxes, while an SVTA Corp. rf plasma source was used to generate atomic nitrogen. The substrate was initially nitrided at 750 for 30 min at 400 W rf power with a N2 flow rate of 1.5 sccm, corresponding to a chamber pressure of mid-10-5Torr. An AIN buffer layer was grown at 550°C for 10 minutes with an AI beam pressure of 2.3 x 10 8 Torr (cell temperature of 970c C). Growth of the Er-doped GaN proceeded at 750°C for 3 hours with a constant Ga beam pressure of 8.2 x 10-7 Torr (cell temperature of 922°C). The Er cell temperature was varied from 950 to 1100CC. The resulting GaN film thickness was nominally 2.4um giving a growth rate of 0.8 am/h, as measured by scanning electron microscopy (SEM) and transmission optical spectroscopy. Photoluminescence (PL) characterization was performed with two excitation sources: (a) above the GaN band gap-HeCd laser at 325 nm (4-8 mW on the sample); (b) below the GaN band gap-Ar laser at 488 nm (25-30 mW). The PL signal was analyzed by a 0.3 m Acton Research spectrometer outfitted with a photomultiplier for ultraviolet (UV)- visible wavelengths (350-600 nm) and an InGaAs detector for infrared (1.5 um) measurements. The PL signal of the Er-doped GaN samples was obtained over the 88-400 K temperature range. Above band gap excitation (He-Cd laser) resulted in light green emission form the Er- doped GaN films, visible with the naked eye.&lt;br /&gt;Two major emission multiplets are observed in the green wavelength region with the strongest lines at 537 and 558 nm. A broad emission region is also present, peaking in the light blue at 480 nm. The yellow band typically observed at-540-550 nm in GaN PL is absent.&lt;br /&gt;Example 3.&lt;br /&gt;Pr-doped GaN films were grown in a Riber MBE-32 system on 2" inch (50 mm) p-Si (111) substrates. Solid sources were employed to supply the Ga and Pr fluxes, while an SVTA rf-plasma source was used to generate atomic nitrogen. The growth of GaN: Pr followed the procedure previously discerned for GaN: Er. Substrate growth temperature was kept constant at 750° C and the Pr cell temperature was 1200° C. We estimate, based on our work with GaN: Er, that this cell temperature results in a Pr concentration in the range of 1018-102°/cm3.&lt;br /&gt;PL characterization was performed with He-Cd and Ar laser excitation sources at wavelengths of 325 and 488 nm, respectively. The PL and EL signals were characterized with a 0.3-m Acton Research spectrometer outfitted with a photomultiplier tube (PMT) detector for UV-visible wavelengths and an InGaAs detector for IR. To measure EL characteristics, contacts were formed by sputtering a transparent and conducting indium-tin-oxide (ITO) layer onto the GaN: Pr structure.&lt;br /&gt;He-Cd PL excitation (as 325 nm) resulted in an intense, deep red emission from the Pr-doped GaN, visible with the naked eye. The room temperature PL at visible wavelengths is shown in Fig. 1 for a 1.5 pm thick GaN film grown on Si. The spectrum indicates a very strong emission line in the red region at 650 nm, with a weak secondary peak at 668 nm.&lt;br /&gt;Example 4.&lt;br /&gt;Praseodymium implantation was performed in a MicroBeam 150 FiB system utilizing a Pr-Pt liquid alloy ion source (LAIS). The Pr-Pt alloy was prepared by mixing praseodymium and platinum at an atomic percent ratio of 87 : 13. This produces an eutectic alloy with a melting point of 718° C. Mass spectrum analysis showed that a Pr2+ target current of-200 pA was produced, representing 75% of the total target current. A Pt+ target current of-50 pA was also observed.&lt;br /&gt;The Pr2+ beam was accelerated to high voltage and implantation was carried out at room temperature on GaN films grown by MBE, HVPE, and metalorganic chemical vapor deposition (MOCVD). After FIB implantation, the samples were annealed under different conditions. PL measurements were performed at room temperature by pumping the samples with a CW He-Cd laser at 325 nm. The He-Cd laser was focused on the sample surface, where the laser power and beam diameter were 12mW and 2001um, respectively. The PL signal was collecte by a lock-in amplifier and characterized with a 0.3-m Acton Research spectrometer outfitted with a photomultiplier tube (PMT) detector for UV-visible wavelengths and an InGaAs detector cooled to 0° C for IR. A grating of 1200 grooves/mm with a resolution of 1.67nm/mm was used for UV-visible wavelengths.&lt;br /&gt;The Figure shows the annealing effect on PL intensity for a Pr- implanted GaN film grown on sapphire by MBE. The implanted pattern is a 136pmxl36pm square. The implantation was performed using a 300keV Pr2+ beam with a target current of 200pA. The pixel exposure time was 1.14ms and the pixei size was 0.265umx0. 265um. This results in a dose of-1 x10'S atoms/cm2. Simulation of these implantation conditions using TRIM'959 calculates a projected range of-60 nm and a peak concentration of-1.7x102° atoms/cm3. The sample was first annealed at 950° C for one hour in flowing argon. After this first anneal, the 650nm peak became discernible. The sample was subsequently annealed at 950° C for another two hours, leading to an increase in the peak intensity at 650nm. The third anneal was carried out at 1050° C for one hour resulting in the PL intensity at 650nm increasing by a factor of 4. In spite of the small implanted pattern size (136pmxl36pm), the emitted red light intensity was strong enough to be easily seen with the naked eye. Anneaiing for a fourth and final time at 1050° C resulted in a reduced PL intensity. This suggests that a one-step annealing at 1050° C is adequate to optically activate the Pr"ions implanted in the GaN film.&lt;br /&gt;Similar PL spectra were observed from Pr-doped sulfide glasses.&lt;br /&gt;Example 5.&lt;br /&gt;A GaN region was also patterned by Pr FIB implantation. The implantation was performed using a 290keV Pr2+ beam for a dose of -4.7x10'4 atoms/cm2. After FIB implantation, the sample was annealed at 1050°C for one hour in Ar. Under UV excitation from the He-Cd laser, the implanted region emits red light, while unimplanted surrounding area shows the yellow band emission of GaN.&lt;br /&gt;Exampie 6.&lt;br /&gt;Pr implantation was also performed on GaN films grown by HVPE and MOCVD. Regions consisting of 141, umx141, um squares were implanted on both samples with a dose of 1X1015 atomsicm2 and a beam energy of 290keV. Both samples as well as a Pr-implanted MBE sample (dose = 4.7x10" atoms/cm2) show strong red emission at 650nm, which corresponds to the 3Po 3F2 transition of Pr3+. All three samples show similar band edge emission at around 365nm.&lt;br /&gt;Example 7.&lt;br /&gt;Pr-implanted GaN film grown by MBE on sapphire was formed.&lt;br /&gt;After FIB implantation with a dose of 4.7x10'4 Pr/cm2 the sample was annealed at 1050°C for one hour in Ar. The Pr concentration of the in-situ doped GaN film is estimated to be at the range of 10'8-102° atoms/cm3.&lt;br /&gt;In general, the PL intensity of the in-situ Pr-doped GaN sample is stronger (-5x) than that in the FIB-imptanted sample, which is expected from the much larger Pr-doped volume which is excited in the former case. For the samples. the full width at half maximum (FWHM) of the 648 and 650nm lines are-1.2nm, which corresponds to 3.6meV.&lt;br /&gt;Thus the present invention can be utilized to produce light emitting devices from wide band gap semiconductor material utilizing rare earth dopants. The particular wavelength of emission is certainly characteristic of the added component. Further, it is possible to combine the rare earth implants to develop unique light emitting devices. Thus the present invention lends itself to a wide variety of different light emitting devices, extending from the infrared range down through the ultraviolet range.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-2047381891055829878?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/2047381891055829878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=2047381891055829878' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/2047381891055829878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/2047381891055829878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/09/cahaya-tampak-lampu-dioda-dari-wbgs.html' title='cahaya tampak lampu dioda dari WBGS dengan logam tanah jarang sebagai doping'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5749769415066996273</id><published>2008-09-12T07:48:00.000-07:00</published><updated>2008-09-12T08:03:46.892-07:00</updated><title type='text'>LED Green Power Technology</title><content type='html'>Why Indonesia doesnt care with semiconductor technology? while Nuclear technology still debatable and controversial let us think about green power technology based on it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why LED's?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LED's (Light emitting diodes) have begun to light the future with their capabilities of reducing power consumption by 80% over conventional lighting. Their "light" span is a minimum of 10 years for commercial usage, and a minimum of 25 years for residential applications. Besides eliminating the environmental hazards of mercury in fluorescents, LED's quietly illuminate with the closest look of natural daylight.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;About LED Technology&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Light emitting diodes (LEDs) were first developed in the1960s, but only in the past decade have LEDs had sufficient intensity for use in more than a handful of lighting applications (Stringfellow and Craford 1997), and specifiers are confronted with an increasing number of lighting products that incorporate LEDs for certain applications. Primarily, these applications have taken advantage of the characteristics of LEDs that have made them most suitable for indication, not illumination (Bierman 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What determines the color of an LED?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The material used in the semiconducting element of an LED determines its color. The two main types of LEDs presently used for lighting systems are aluminum gallium indium phosphide (AlGaInP, sometimes rearranged as AlInGaP) alloys for red, orange and yellow LEDs; and indium gallium nitride (InGaN) alloys for green, blue and white LEDs. Slight changes in the composition of these alloys changes the color of the emitted light.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What are the electrical characteristics of LED's?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individual LEDs are low voltage devices. Single indicator LEDs require 2 to 4 volts of direct current, with current in the range from 1 to 50 milliamperes. An illumination-grade LED containing a single semiconducting element requires the same voltage, but operating currents are much higher, typically several hundred milliamperes. A device containing multiple elements connected in series will require higher voltage corresponding to the larger number of individual elements in the device. LEDs require a specific electrical polarity. Applying voltage in reverse polarity can destroy them. Manufacturers provide specifications about the maximum reverse voltages acceptable for LED devices; 5 volts is a typical maximum rating.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why is heat sinking important for LEDs?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is common to refer to LEDs as "cool" sources in terms of temperature. This is because the spectral output of LEDs for lighting does not contain infrared radiation, unlike incandescent lamps that produce a large amount of infrared (of course, some LEDs for manufacturing purposes are designed to produce infrared energy, but these are not considered in this publication). LEDs are also often considered "cool" because they generate light through a mechanism other than thermal excitation of a substance, such as the tungsten filament in an incandescent lamp. Although LED lighting systems do not produce significant amounts of radiated heat, LEDs still generate heat within the junction, which must be dissipated by convection and conduction. Extracting heat from the device using heat sinks and by operating LEDs in lower ambient temperatures enables higher light output and longer life of the device.The need to ensure heat sinking with LED systems is also important to consider when these systems are installed in applications. There must be sufficient means to conduct the heat away from the system, or ventilation to cool heated surfaces by convection. Locating an LED lighting system in an insulated and relatively small space will likely result in rapidly increased junction temperature and suboptimal performance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;source : &lt;a href="http://www.ledgreenpower.com/"&gt;http://www.ledgreenpower.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5749769415066996273?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5749769415066996273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5749769415066996273' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5749769415066996273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5749769415066996273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/09/led-green-power-technology.html' title='LED Green Power Technology'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-4038052738610985359</id><published>2008-09-03T03:34:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T03:40:44.791-07:00</updated><title type='text'>Biografi matematikawan muda Indonesia</title><content type='html'>Artikel di bawah ini saya ambil dari MILIS Fisika Indonesia. Saya letakan di blog ini agar kita selalu bisa belajar dari pengalaman orang lain dan bisa menggali yang terbaik dari orang lain untuk mengimprove diri kita. Sukses buat Mas Hadi Susanto ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar informasi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadi Susanto adalah matematikawan Indonesia alumni dari ITB dan melanjutkan studi Doktoral bidang Matematik di University of Twente. Sejak januari 2008 menjadi staf pengajar di University of Nottingham, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadi Susanto&gt; &gt; KEBANGKITAN NASIONAL HARUS DILAKUKAN SETIAP HARI&gt; &gt; &gt; &gt; &gt; &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang mengenal nama ini: Hadi Susanto.&lt;br /&gt;Ia tak beredar di&gt; tanah air sejak awal milenium baru, hampir sepertiga dari umurnya yang&gt; baru 29 tahun. Apalagi untuk mendengar reputasinya sebagai salah&gt; seorang matematikawan muda yang sedang memahatkan nama di jajaran&gt; legenda pakar matematika dunia. &gt; &gt; &gt; &gt;   Bahkan para pembaca novel superlaris Ayat-Ayat Cinta karya&gt; Habiburrahman El-Shirazy pun tak akan menduga bahwa Hadi Susanto yang&gt; menulis kata pengantar menarik di novel itu adalah Hadi Susanto yang&gt; di umur 27 tahun meraih gelar doktor matematika dari Universiteit&gt; Twente, Belanda, dan kini mengajar di Nottingham, Inggris. &gt; &gt; &gt; &gt;   Lahir di sebuah desa kecil di kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Hadi&gt; mencecap pendidikan di SDN Kunir Lor 1, SMPN Kunir, dan SMAN 2&gt; Lumajang. Saat di bangku SD, ia selalu terpilih sebagai wakil sekolah&gt; dalam lomba cerdas cermat di tingkat kabupaten. Tapi begitu bertanding&gt; nilainya hampir selalu nol. Saya selalu grogi melihat anak dari&gt; sekolah lain yang selalu tampak keren dan bergaya, katanya.&gt; &gt; &gt; &gt;   Kini dunia berbalik. Banyak yang grogi melihat prestasi mahasiswa&gt; terbaik ITB tahun 2000 yang juga aktif berkiprah di dunia sastra. It&gt; is impossible to be a mathematician without being a poet in soul&gt; ungkapnya mengutip Sofia Vasilyevna Kovalevskaya (1850-1891),&gt; matematikawan- cum-penyair Rusia perumus teorema Cauchy-Kovalevsky.&gt; &gt; Saat dikontak harian ini sebagai calon tamu berkaitan dengan Hari&gt; Kebangkitan Nasional, awalnya Hadi menolak. Saya membaca wawancara&gt; Koran Tempo dengan Pak Anies Baswedan (rektor Universitas Paramadina&gt; red) lewat kiriman e-mail seorang teman. Saya tak sebanding dengan Pak&gt; Anies untuk menjadi Tamu, katanya dengan suara lembut di ujung saluran&gt; telepon internasional. &gt; &gt; &gt; &gt;   Akhirnya, Kamis (15 Mei) lalu, calon ayah yang sedang menunggu&gt; kelahiran anak pertamanya pada Juli depan ini bersedia juga&gt; diwawancarai wartawan Tempo Akmal Nasery Basral, setelah&gt; berkorespondensi lewat surat elektronik dalam beberapa kesempatan&gt; sebelumnya. &gt; &gt; &gt; &gt;   Mengapa menurut matematikawan muda yang 26 karya ilmiahnya sudah&gt; muncul di sejumlah jurnal internasional itu kebangkitan nasional tak&gt; akan terjadi jika hanya muncul dari perayaan yang timbul setahun&gt; sekali? Petikannya:&gt; &gt; &gt; &gt; &gt; &gt; Anda menyelesaikan kuliah dalam tiga tahun dan terpilih sebagai&gt; Mahasiswa Terbaik ITB tahun 2000. Bagaimana ceritanya?&gt; &gt; Sebetulnya masa kuliah saya hampir 4 tahun. Yang kuliah saja memang&gt; 3 tahun, tapi memasuki tahun keempat saya mendapat kesempatan&gt; mengunjungi Belanda selama 8 bulan untuk mengerjakan TA (tugas akhir&gt; red) di Universiteit Twente (UT). Begitu diwisuda, saya diumumkan&gt; terpilih sebagai penerima Ganesa Prize, Mahasiswa Berprestasi Utama&gt; ITB, dengan hadiah mengunjungi Belanda lagi selama 3 bulan. Oleh UT&gt; saya ditawari melanjutkan kuliah di sana. Maka mulai Agustus 2001 saya&gt; mengambil program kombinasi Msc/PhD untuk periode 4 tahun. &gt; &gt; &gt; &gt; Tapi selesai PhD Anda tidak kembali ke Indonesia. Mengapa?&gt; &gt; Selesai dari Twente saya melanjutkan studi postdoctoral di&gt; Massachussetts, Amerika Serikat. Saya mendapat visiting assistant&gt; professorship selama tiga tahun di University of Massachussetts&gt; (UMass), Amherst. Kewajiban saya mengajar dua kelas per semester&gt; selain tugas melakukan riset. Menjelang selesai di UMass, saya&gt; kirimkan sejumlah aplikasi ke universitas di Amerika Serikat dan&gt; Eropa. Akhirnya sejak Januari 2008 saya menjadi dosen di University of&gt; Nottingham, Inggris. Mengapa saya tidak segera kembali ke Indonesia,&gt; karena saya ingin memperdalam dulu bidang ini. Apalagi sekarang istri&gt; saya sudah di sini. Juli mendatang, insya Allah anak pertama kami lahir.&gt; &gt; &gt; &gt; &gt; &gt; Anda terlihat begitu mudah meniti karir. Berpindah-pindah dari&gt; Belanda, Amerika Serikat, Inggris, sebagai doktor matematika padahal&gt; usia Anda belum lagi 30 tahun. Apakah semua ini memang semudah yang&gt; terlihat?&gt; &gt; Tidak. Dua tahun pertama saya kuliah di ITB, kondisi saya sulit&gt; sekali. Saya tak bisa hidup hanya dari beasiswa, harus kerja juga.&gt; Uang kerja dan beasiswa yang saya dapatkan dibagi tiga: untuk&gt; kebutuhan saya di Bandung, keperluan orang tua di Lumajang, dan biaya&gt; kuliah adik. Tiap Sabtu-Minggu saya keliling hotel dan gedung resepsi&gt; di Bandung bermodal pakaian rapi. Tanpa tahu siapa yang punya hajat,&gt; saya masuk saja ke pesta orang-orang kaya, yang penting bisa makan.&gt; Pernah juga setelah libur lebaran, ketika kembali ke Bandung saya tak&gt; punya cukup uang untuk membeli karcis kereta ekonomi. Akhirnya saya&gt; naik kereta barang, duduk di lantai gerbong bersama sekitar 100-an&gt; orang. Perjalanan sekitar 12 jam itu berlangsung malam hari, dan tanpa&gt; lampu di gerbong saya. Gelap sekali. Mungkin kalau dituliskan bisa&gt; jadi Laskar Pelangi (judul novel karya Andrea Hirata red) versi Orang&gt; Jawa. (tertawa kecil). Itu beberapa contoh besar, kalau penderitaan&gt; lainnya banyak sekali.&gt; &gt; &gt; &gt; &gt; &gt; Bagaimana Anda melewati masa-masa sulit itu untuk bersinar di ITB?&gt; &gt; Berkat dukungan dan doa banyak orang. Ketika Dosen Kuliah Agama&gt; Islam saya, Ustad Asep Zaenal Ausof akan berangkat umroh, saya datangi&gt; dia dan minta didoakan khusus. Saat itu kehidupan saya sedang di bawah&gt; sekali. Usaha orang tua saya yang berjualan kain dan baju di pasar&gt; bangkrut total. Kami terjebak rentenir, sehingga harus jual sawah, dan&gt; akhirnya satu-satunya rumah yang kami punya persis menjelang saya&gt; lulus SMA. Begitu lulus SMA, saya sudah memutuskan untuk tidak kuliah.&gt; Tapi keluarga saya, terutama ibu, tidak setuju. Saya harus terus&gt; kuliah. Alhamdulillah saya lulus UMPTN dan diterima di ITB. Tapi untuk&gt; membayar uang masuk yang beberapa ratus ribu saja kami tak mampu,&gt; akhirnya saya putuskan lagi untuk tidak mendaftar. Tapi ibu saya&gt; berjuang terus sampai detik terakhir. Akhirnya ketika saya bisa&gt; berangkat ke Bandung, dalam hati saya cuma ada satu tekad untuk&gt; berhasil dan membahagiakan keluarga.&gt; &gt; &gt; &gt; &gt; &gt; Apa yang menyebabkan Anda begitu tertarik untuk mendalami matematika?&gt; &gt; Sejak SD saya suka mengamati bagaimana angka-angka bisa dimainkan&gt; dengan operasi-operasi yang saling berhubungan. Di SMP saya mulai&gt; menyadari bahwa dasar dari fenomena alam di sekitar kita bisa&gt; dirumuskan melalui matematika. Ketika sesuatu sudah dituliskan ke&gt; dalam persamaan dan rumus, sesuatu itu menjadi berada di tangan kita&gt; yang bisa kita main-mainkan. Tapi pencerahan saya yang sebenarnya&gt; terjadi di ITB ketika mengikuti ceramah agama yang disampaikan dosen&gt; astronomi Pak Mudji Raharto. Beliau salah seorang astronom yang sampai&gt; saat ini selalu menjadi rujukan dalam penentuan awal dan akhir bulan&gt; Ramadhan. Ada satu bagian dari ceramahnya yang membuat saya terpana&gt; bahwa alam semesta ini juga bisa dirumuskan dalam formulasi&gt; matematika. Saat itu saya berkata dalam hati, Tuhan pasti ahli&gt; matematika! Sejak itu pula saya melihat dunia ini seperti tersusun&gt; dari angka-angka. Mungkin seperti film The Matrix.&gt; &gt; &gt; &gt; Tetapi mengapa bagi sebagian besar siswa Indonesia, matematika jauh&gt; dari pengalaman yang menyenangkan seperti yang Anda alami?&gt; &gt; Matematika menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mayoritas siswa&gt; Indonesia karena pesan dari matematika itu sering tidak sampai. Jika&gt; kita belajar matematika sebagai sebuah hapalan, maka matematika&gt; menjadi tidak seksi lagi. Mempelajarinya menjadi sesuatu yang&gt; memberatkan. Tapi jika kita tahu bahwa yang dipelajari itu adalah, dan&gt; tidak lebih dari, PERUMUMAN dari masalah sehari-hari yang sudah kita&gt; kenal, maka matematika akan menjadi sangat menyenangkan. Di Indonesia&gt; ada beberapa matematikawan yang menguasai betul bagaimana membuat&gt; matematika menjadi menarik, misalnya almarhum Profesor Andi Hakim&gt; Nasution yang dulu rutin mengisi kolom di harian Republika dan&gt; almarhum Profesor Ahmad Arifin dari ITB.&gt; &gt; &gt; &gt; Anda dikenal juga punya minat yang besar dalam sastra. Misalnya&gt; dengan menulis kata pengantar novel Ayat-Ayat Cinta karya&gt; Habiburrahman El-Shirazy yang kini merupakan film terlaris di tanah&gt; air dari jumlah penonton. Puisi-puisi Anda muncul di banyak antologi&gt; bersama. Bagaimana relasi antara matematika dan sastra ini berkelindan&gt; dalam kehidupan Anda?&gt; &gt; Sebetulnya saya kenal Ustad Abik (nama panggilan Habiburrahman&gt; El-Shirazy red) lewat internet. Saya waktu itu di Belanda, beliau di&gt; Mesir. Kami bertemu di pesantrenvirtual. com. Dari situ sering&gt; berdiskusi sastra. Menurut saya hubungan matematika dengan sastra&gt; sangat dekat. Untuk bisa menikmati keindahan matematika, tidak hanya&gt; diperlukan logika, tapi juga perasaan, seperti halnya seni. Einstein&gt; mengatakan, "Pure mathematics is, in its way, the poetry of logical&gt; ideas." &gt; &gt; &gt; &gt; &gt; &gt; Jadi seorang matematikawan pada dasarnya seorang penyair?&gt; &gt; Kurang lebih. Dan itu bukan cuma pendapat Einstein. Sofia&gt; Kovalevskaya, wanita pertama yang mendapat pendidikan formal PhD di&gt; Eropa yang terkenal dengan teorema Cauchy-Kovalevsky, juga seorang&gt; penyair. Dia bilang, It is impossible to be a mathematician without&gt; being a poet in soul. Karl Weierstrass, peletak dasar analisis&gt; matematika modern yang juga mentor Sofia, membenarkan ungkapan&gt; muridnya dan menambahkan, "It is true that a mathematician who is not&gt; also something of a poet will never be a perfect mathematician. "&gt; Kalau kita percaya dengan ucapan Wierstrass ini, maka saya paling&gt; tidak penggemar sastra, karena belum bisa disebut sastrawan (tertawa).&gt; &gt; &gt; &gt; Contoh-contoh yang Anda sebut itu dalam konteks apresiasi, bukan?&gt; Bagaimana dalam konteks kreasi atau penciptaan karya sastra?&gt; &gt; Saya kira contohnya juga banyak. Bahkan Hadiah Nobel di bidang&gt; sastra pun ada matematikawan yang memenangkannya. Tahun 1904, Hadiah&gt; Nobel untuk sastra diberikan kepada dramawan dan matematikawan spanyol&gt; JosÃ© Echegaray. Tahun 1950, Nobel sastra juga diberikan kepada&gt; seorang matematikawan, Bertrand Russell. Dua orang ini disebut&gt; matematikawan karena mereka memang profesor matematika. Saya mendengar&gt; rumor bahwa pada 1999 seorang matematikawan, associate professor di&gt; University of New Mexico, Gallup, juga sempat dinominasikan sebagai&gt; kandidat penerima hadiah Nobel sastra.&gt; &gt; &gt; &gt; Apakah relasi yang akrab antara matematika dan sastra itu juga&gt; terlihat di dunia Islam?&gt; &gt; Ada, misalnya Omar Khayyam yang terkenal dengan Rubaiyyat-nya itu.&gt; Selain sebagai penyair, Omar Khayyam juga terkenal sebagai ahli&gt; matematika geometri yang mengkoreksi postulat Euclid. Dan saya kira&gt; tema-tema seperti ini harus sering diperbincangkan.&gt; &gt; &gt; &gt; Mengapa?&gt; &gt; Saya lihat dunia anak muda di Indonesia terlalu banyak dijejali&gt; dengan tayangan infotainment, seakan-akan menjadi artis adalah&gt; satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar bisa sukses dan terkenal.&gt; Ditambah dengan program-program pencari bakat yang menawarkan&gt; ketenaran instan yang tanpa disadari sering kali menipu. Padahal dunia&gt; sains juga menawarkan gaya selebritisnya sendiri. Misalnya setelah&gt; buku Sylvia Nasar A Beautiful Mind terbit, publik jadi mengidolakan&gt; matematikawan John Nash Jr. (A Beautiful Mind sudah difilmkan dengan&gt; judul sama, dibintangi oleh aktor Russell Crowe sebagai John Nash Jr.&gt; -- red). Bahan-bahan seperti ini cukup banyak. Saya sendiri&gt; terinspirasi untuk menulis polemik antara Sylvia Nasar dengan Prof.&gt; Shing-Tung Yau, salah seorang jenius matematika saat ini yang juga&gt; aktif menulis puisi-puisi Cina. Konflik mereka sangat menarik di dunia&gt; matematika, tak kalah hebohnya dengan kisruh Maia-Dhani di televisi&gt; Indonesia (tertawa).&gt; &gt; &gt; &gt; Seperti apa sih kalau selebritis matematika berseteru?&gt; &gt; Konflik mereka dimulai ketika Nasar menulis artikel di The New&gt; Yorker yang menuduh Shing-Tung Yau hendak mencuri kredit atas usaha&gt; Grigori Perelman yang berhasil memecahkan satu dari Millenium Prize&gt; Problems, yang untuk satu solusi dari masing-masing problem berhadiah&gt; 1 juta dolar. Dari sini cerita yang menggemparkan dunia&gt; permatematikaan internasional ini bergulir. Kisah ini menurut saya&gt; menarik untuk dibaca anak-anak muda di Indonesia, selain buku-buku&gt; matematika populer yang ditulis oleh mendiang Prof. Hans Wospakrik.&gt; Intinya agar generasi muda kita tahu bahwa pengertian idola dan&gt; selebritis itu bukan hanya dari kalangan artis.&gt; &gt; &gt; &gt; Jadi Anda mengharapkan ada semacam kebangkitan nasional, dari&gt; generasi muda khususnya, dalam memaknai masa depan?&gt; &gt; Ketika kuliah di Bandung, saya melihat kebangkitan nasional itu&gt; hanya motto belaka bagi kawan-kawan yang berasal dari kalangan berada.&gt; Dan tidak mungkin perubahan besar yang diharapkan dari kebangkitan&gt; nasional itu akan muncul jika hanya dihasilkan oleh kesadaran yang&gt; muncul setahun sekali. Menurut saya kebangkitan nasional harus&gt; dilakukan setiap hari, yaitu bangkit untuk bisa bermanfaat bagi orang&gt; banyak minimal orang-orang yang bisa saya jangkau dengan kedua tangan&gt; saya, dengan membuat mereka bermanfaat pula bagi orang-orang di&gt; sekitar mereka. Dengan saling menularkan kebangkitan seperti ini saya&gt; kira arti kebangkitan nasional itu baru menemukan maknanya. &gt; &gt; &gt; &gt; &gt; &gt; Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia matematika di Indonesia&gt; sekarang?&gt; &gt; Profesor Achmad Arifin pernah bilang, Matematikawan, khususnya&gt; aljabar, Indonesia masih berada pada taraf memahami pekerjaan orang&gt; lain, belum pada tahap mengembangkan. Saya kira pendapat ini benar.&gt; Lihatlah bagaimana guru besar yang seharusnya menjadi ujung tombak dan&gt; tolok ukur kualitas penelitian justru seringkali minim kontribusinya&gt; di jurnal-jurnal internasional. Namun sebagai orang yang sejak lulus&gt; S1 sampai saat ini belum pernah tinggal di Indonesia, saya merasa&gt; tidak punya hak lebih untuk memberikan saran. Mesti begitu saya tahu&gt; pasti ada banyak dosen dan periset di Indonesia yang terus memegang&gt; idealismenya. Mereka orang-orang yang sangat militan di tengah segala&gt; keterbatasan dalam melakukan penelitian. Pemerintah dan media massa&gt; harus membantu mereka.&gt; &gt; &gt; &gt; Ada kisah-kisah  yang lucu sebagai dosen matematika di luar negeri?&gt; &gt; Aksen bahasa Inggris di Nottingham ini kan berbeda dengan di&gt; Massachussetts, jadi saya harus beradaptasi lagi ketika mengajar. Nah,&gt; kadang-kadang begitu ada mahasiswa saya yang bertanya, saya masih&gt; belum menangkap inti pertanyaannya, jadi saya bilang, coba ulangi&gt; lagi? Eh, mereka bilang nggak jadi. Mungkin mereka pikir dosennya ini&gt; ngetes apakah apakah mereka yakin dengan pertanyaan sendiri atau tidak&gt; (tertawa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-4038052738610985359?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/4038052738610985359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=4038052738610985359' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4038052738610985359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4038052738610985359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/09/biografi-matematikawan-muda-indonesia.html' title='Biografi matematikawan muda Indonesia'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-628852775124957776</id><published>2008-08-27T03:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T03:31:57.820-07:00</updated><title type='text'>nothing to say....just upset</title><content type='html'>Indonesiaku....politik kok selalu jadi masalah....setiap baca berita selalu dihiasi dengan aneka ragam yang menyebutkan para tokoh yang sibuk untuk bisa jadi penguasa, berita pembunuhan, gosip, kasus porno, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya hal itu akan menimbulkan dampak sosial yang negatif. Media massa secara tidak langsung sudah membentuk  sosial masyarakat menjadi lebih chaos. Mengapa tidak berita yang mendidik dan baik saja yang porsinya ditambah? berita yang negatif lebih baik mengacu kepada berita2 yang membuat kita (masyarakat baik biasa maupun pemimpin) menjadi berpikir dan sadar tentang kesalahannya. Lebih lugas lagi maksudnya berita yang sifatnya kritisi masalah sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan keamanan mestinya harus lebih di dengungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dimata saya media massa andilnya cukup besar dalam membentuk pola pikir dan mentalitas bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-628852775124957776?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/628852775124957776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=628852775124957776' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/628852775124957776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/628852775124957776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/08/nothing-to-sayjust-upset.html' title='nothing to say....just upset'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-6600451569109769911</id><published>2008-08-27T03:19:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T03:21:27.049-07:00</updated><title type='text'>Bravo buat Michelle Obama</title><content type='html'>sumber: &lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;http://www.kompas.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denver, Selasa - Michelle Obama (44), istri calon presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama, tampil memukau di hadapan peserta pada hari pertama konvensi Partai Demokrat, Senin (25/8) di Denver, Colorado. Michelle berbicara mengenai cinta terhadap keluarga dan negara.&lt;br /&gt;Michelle Obama, yang sebelumnya pernah diserang oleh kubu Republik yang menuduhnya radikal dan tidak patriotik, membuat Pepsi Center di Denver bergemuruh dengan tepuk tangan serta sorak-sorai peserta.&lt;br /&gt;Sebelum menyampaikan pidato, Michelle diperkenalkan kepada peserta konvensi oleh kakak laki-lakinya, Craig Robinson, yang berprofesi sebagai pelatih bola basket di sebuah universitas. Craig menyebut Michelle sebagai sosok yang berminat besar pada kehidupan keluarga.&lt;br /&gt;Michelle mengatakan, suaminya, Barack Obama, akan membawa perubahan yang diperlukan negara. Dia berjanji Obama akan mengakhiri invasi di Irak, memperbaiki keadaan ekonomi, dan memperluas pelayanan kesehatan yang terjangkau untuk semua lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;Michelle mengatakan, dia dan Barack memiliki kewajiban untuk berusaha sekuat mungkin mengubah dunia menjadi lebih baik. Perjuangan itu dimaksudkan agar masa depan kedua putrinya dan juga semua anak di AS menjadi lebih cerah.&lt;br /&gt;”Sejarah akan membawa kita pada harapan yang lebih baik. Itu sebabnya saya mencintai negara ini,” kata Michelle.&lt;br /&gt;Nilai keluarga&lt;br /&gt;”Barack dan saya dibesarkan dengan nilai-nilai keluarga yang sebagian besar sama, harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memegang moto bahwa janjimu adalah utangmu, mengatakan apa yang harus dilakukan, memperlakukan orang secara hormat walaupun saling tidak sependapat,” ujar Michelle yang berbaju hijau.&lt;br /&gt;”Barack dan saya membangun hidup dengan nilai-nilai itu dan mewariskannya kepada generasi muda. Kami menginginkan anak-anak kami dan semua anak di negeri ini mengetahui bahwa batas tingginya cita-cita kita adalah mencapai mimpi dan kemauan untuk mewujudkannya,” kata Michelle lagi.&lt;br /&gt;Dalam pidatonya itu, Michelle juga berharap dapat menyampaikan pesan bahwa dia adalah penganut nilai-nilai keluarga Amerika sejati.&lt;br /&gt;Michelle tampaknya ingin melawan klaim kubu Republik bahwa suaminya merupakan kaum elite. Michelle mengutarakan, Obama berasal dari keluarga biasa-biasa saja, seperti kebanyakan kisah klasik keluarga AS. Obama kebanyakan diasuh oleh nenek dan kakeknya setelah ibunya, yang berasal dari Kansas, dan ayahnya, yang berasal dari Kenya, bercerai.&lt;br /&gt;Istri Barack Obama ini berharap dapat meyakinkan pemilih bahwa suaminya sama seperti orang Amerika umumnya walau banyak yang bertanya-tanya tentang ayahnya yang berasal dari Kenya serta masa kecil Obama di Hawaii dan Indonesia. Sering kali dipertanyakan apakah Obama ”benar-benar” Amerika.&lt;br /&gt;Tepukan membahana ketika Michelle menyatakan penghargaan kepada Hillary Clinton, mantan Ibu Negara yang sebelumnya adalah lawan Obama di Partai Demokrat.&lt;br /&gt;Seusai Michelle menyampaikan pidato, kedua putrinya, Malia dan Sasha, naik ke panggung diiringi lagu Stevie Wonder Isn’t She Lovely. Pada saat yang sama, muncul wajah Obama, yang berada di Kansas City, di layar televisi. Hanya saja, Obama salah menyebut bahwa dia berada di St Louis.&lt;br /&gt;Membumi&lt;br /&gt;Beberapa pengamat mengatakan, pidato yang disampaikan Michelle sangat membumi, berbeda dari pidato-pidato Obama yang sering mengawang-awang.&lt;br /&gt;Dia menggambarkan Obama dalam waktu yang tepat dengan waktu yang emosional bahwa Obama adalah manusia biasa. Obama bukanlah seseorang yang ”lain”, dia bukan pesohor, dia adalah seorang ayah dan seorang suami.&lt;br /&gt;”Ini merupakan pertama kalinya warga AS melihat siapa sebenarnya Michelle. Dia sangat berbakat dan pembicara andal, sangat profesional,” ujar Bill Schneider, analis politik senior CNN.&lt;br /&gt;Obama juga bertanya kepada anaknya bagaimana pidato sang ibu. ”Saya rasa dia bagus,” kata Sasha. Obama juga memuji penampilan istrinya di konvensi itu.(AP/AFP/CNN/joe)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-6600451569109769911?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/6600451569109769911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=6600451569109769911' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/6600451569109769911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/6600451569109769911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/08/bravo-buat-michelle-obama.html' title='Bravo buat Michelle Obama'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-4220237044760132440</id><published>2008-08-22T20:38:00.000-07:00</published><updated>2008-08-22T20:39:42.339-07:00</updated><title type='text'>Riset di Indonesia tak dikerjakan serius!!!</title><content type='html'>Sumber : &lt;a href="http://netsains.com/"&gt;http://netsains.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terry Mart, Peraih Indeks Sains Tertinggi: “Saya Sedih, Riset Indonesia Tak Dikerjakan Serius”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 15 Agustus, 2008 oleh Merry Magdalena&lt;br /&gt;&lt;a href="http://netsains.com/wp-content/uploads/2008/08/my_photo_small.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah remehkan potensi manusia Indonesia. Buktinya enam orang Indonesia meraih indeks tertinggi dalam Wise Index of Leading Scientists and Engineers Organisasi Konferensi Islam (OKI). Adalah Muhilal dan Gunawan Indrayanto (Medical Science), On Tija May, Hendrik Koo Kurniawan dan Terry Mart dari (physics science), serta Effendy (Chemistry). Berikut wawancara eksklusif Netsains.Com dengan Terry Mart, salah satu pemenangnya.&lt;br /&gt;Netsains (NS): Sebenarnya apa maksud dari indeks tertinggi OKI ini? Apa maknanya bagi ilmuwan?&lt;br /&gt;Terry Mart (TM): Pertama-tama harus kita ketahui bahwa indeks ini adalah hasil sebuah studi melalui survei serta beberapa input lain. Saya pernah dikirimi mereka hasil survei mereka terhadap saya, berupa nilai-nilai yang didapat dari jumlah publikasi saya di jurnal internasional yang diberi faktor pemberat seperti jumlah “authors”, “citation” dan “impact factor”. Tampaknya, semakin tinggi jumlah “citation” dan “impact factor” semakin tinggi nilai paper tersebut, namun untuk jumlah “authors” kebalikannya. Maknanya bagi ilmuwan mungkin untuk melihat seberapa jauh pencapaian seorang ilmuwan. Dari tabel yang ditampilkan di homepage Comstech terlihat bahwa Prof. Tjia May On memiliki nilai tertinggi untuk bidang fisika dan saya yakin ini benar karena saya tahu prestasi Pak Tjia. Juga, saya kira hal ini mudah untuk di cross-check melalui &lt;a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/http://isiwebofknowledge.com');" href="http://isiwebofknowledge.com/"&gt;ISI-Thomson &lt;/a&gt;, &lt;a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/http://www.scopus.com');" href="http://www.scopus.com/"&gt;Scopus&lt;/a&gt; , atau bahkan &lt;a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/http://scholar.google.com');" href="http://scholar.google.com/"&gt;Google Scholar&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;NS: Mengapa Pak Terry beserta 5 ilmuwan Indonesia lain bisa ada di indeks ini?TM: Saya kira ini ada faktor keberuntungan juga bagi saya selain penjelasan di atas. Dunia ini sebenarnya sudah sangat transparan sejak adanya internet.Jadi apa yang kita kerjakan pada dasarnya bisa di”trace” melalui internet.Jika kita menulis sebuah paper, bahkan untuk jurnal nasional sekali punselama jurnal tersebut memiliki homepage, maka nama kita akan muncul didunia maya internet.&lt;br /&gt;NS: Apa pengaruhnya bagi kemajuan sains di dunia dan khususnya Indonesia?&lt;br /&gt;TM: Mungkin pengaruhnya tidak terlalu banyak. Tapi kalau kita mau berkaca dengan “Kata Pengantar” yang ditulis oleh Prof. Dr. Atta-ur-Rahman, sepertinya direktur Comstech, seharusnya kita merasa sedih sekali dengan dana riset rata-rata 0,2% GDP, atau 381 scientist yang merepresentasikan 1,2 milyar penduduk. Atau jika kita melihat pencapaian Malaysia, yang jumlah penduduknya cuma 1/10 penduduk kita, namun prestasi sainsnya sudah jauh mengungguli kita. Jika pemerintah mau melihat ini, maka pemerintah harus mulai mengubah sistem. Sistem kita ini salah, termasuk sistem memberi nilai kepangkatan dan insentif riset.&lt;br /&gt;NS: Apa yang didapat ilmuwan yang mendapat penghargaan tersebut?&lt;br /&gt;TM: Sekali lagi ini bukan penghargaan. Saya sendiri tadinya tidak tahu hal ini, hingga seorang kolega memberitahu saya bahwa nama saya tercantum dalam 6 leading scientists Indonesia versi OIC. Bagi saya sendiri indeks ini hanyalah indikator pencapaian, seperti speedometer di mobil, sudah berapa cepat dan jauh kita berjalan.NS: Bagaimana komentar Pak Terry terhadap perkembangan sains Indonesia saat ini?&lt;br /&gt;TM: Sedih sekali. Kita lebih banyak bekerja dan menghabiskan uang untuk bagian asesorisnya, sementara intinya riset tidak dikerjakan secara serius.&lt;br /&gt;NS: Studi dan riset apa yang kini tengah Bapak tekuni?&lt;br /&gt;TM: Saat ini saya tetap konsisten meneliti produksi hypernuclear dan materi bintang netron. Cukup banyak kemajuan. Beberapa hasil terakhir dapat dilihat di &lt;a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/http://www.slac.stanford.edu/spires/find/hep/www?rawcmd=FIND+A+t+MART&amp;amp;FORMAT=www&amp;amp;SEQUENCE=');" href="http://www.slac.stanford.edu/spires/find/hep/www?rawcmd=FIND+A+t+MART&amp;amp;FORMAT=www&amp;amp;SEQUENCE="&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Selain itu minggu depan (19-8-2008) kami menyelenggarakan APFB08 (http://apfb08.fisika.ui.ac.id/), sebuah konferensi internasional tentang fisika “beberapa-benda” (few-body) dengan sekitar 100 peserta dari sekitar 24 negara. Peserta terbanyak berasal dari Jepang (30), sementara dari Indonesia ada 8 peserta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-4220237044760132440?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/4220237044760132440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=4220237044760132440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4220237044760132440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/4220237044760132440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/08/riset-di-indonesia-tak-dikerjakan.html' title='Riset di Indonesia tak dikerjakan serius!!!'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7108054849532026141</id><published>2008-05-29T23:13:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T23:25:34.002-07:00</updated><title type='text'>Arti sebuah perjuangan demi berpendidikan.....</title><content type='html'>Di bawah ini saya menampilkan sebuah cerita mini yang diambil dari : &lt;a href="http://ww1.indosiar.com/v7/lomba-cermin/read.htm?id=14"&gt;http://ww1.indosiar.com/v7/lomba-cermin/read.htm?id=14&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerita tersebut menggambarkan perjuangan seorang wanita muda yang berjuang untuk melawan kemiskinan dengan cara mendapatkan pendidikan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pendidikan tidak menjamin kita menjadi orang kaya secara materi. Namun lebih dari itu, dengan pendidikan kita paling tidak mendapatkan kemungkinan untuk hidup layak lebih besar. Pendidikan juga akan mampu mengubah mentalitas diri kita menjadi sosok manusia yang lebih berbudaya dan wise dalam menghadapi segala masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya silahkan menikmati cerima mini berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatimah, Imazahra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode Ibunda guru Amiroh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berasal dari pulau Kalimantan, yang SD nya saja sekarang telah rata dengan tanah. Namun aku punya mimpi ingin sekolah setinggi-tingginya! Aku menggenggam bara asa walau duka lara silih berganti menyapa. Alasan yang sangat klasik tapi nyata, kemiskinan membelitku seperti remukan ular kobra! Kepapaan dan tanggung jawabku sebagai anak pertama juga pernah membuatku berhenti ingin menaklukkan dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertatih-tatih aku lawan kejamnya dunia kapitalis. Aku pastikan diri, kemiskinan tidak akan membuatku berhenti sekolah. Meski Abah menentang dan memintaku pulang. Saat itu aku duduk di bangku kelas tiga tsanawiyah di jantung Jogja. Sepucuk surat jatuh ke pangkuanku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, pulanglah…! lulus tsanawiyah sudah cukup untukmu. Saat ini. kebangkrutan mendera Abah, menghabiskan segalanya, seperti kobaran api yang membakar rumput kering di musim kemarau. Abah sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan video tua barang peninggalan dari Saudi sudah dijual untuk mengganjal perut. Alangkah egois jika kamu memilih bertahan di Jogja, sementara ading-adingmu di rumah membanting tulang membantu orang tua. Kalau kamu di sana Abah tidak tahu kamu bisa makan atau tidak, tapi kalau kamu di sini, makan tidak makan, kita hidup bersama.” Intinya, Abah menginginkanku pulang ke Banjarmasin. Berkumpul dengan keluarga berbagi derita miskin bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu darah mudaku menggelegak. Aku memilih bertahan.  Mengabaikan permintaan Abah. Walau aku belum tahu, kepada siapa aku bisa minta tolong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menghadap ibu guru BP yang sholihah, Ibu Amiroh, pertahananku jebol. Aku tersedu-sedu di sudut ruang BP, menangis di pangkuan beliau atas pahitnya kefakiran yang ingin merenggutku dari bangku sekolah. Sampai kemudian beliau menjanjikan sesuatu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, kalau kamu berhasil meraih ranking 1 paralel (nilai tertinggi di antara peraih juara 1 dari kelas 1 tsanawiyah s/d kelas 3 Aliyah), ibu akan usahakan agar kamu  diberi beasiswa bebas SPP tahun ajaran selanjutnya. Walau saat ini kamu baru berhasil meraih rangking 3 dan 2 di semester-semester sebelumnya, ibu yakin kamu bisa!” Sambil mengucapkan kata-kata penyemangat itu, beliau menatap mataku lekat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kuingat, saat itu aku langsung menggenggam tangan beliau kuat-kuat. Seakan-akan aku tegaskan pada beliau, kemiskinan ini tidak akan membuatku berhenti! Kemiskinan ini malah akan menjadi bara abadi, bahwa aku bisa ‘mengalahkan’nya dengan pendidikan setinggi-tingginya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, siang malam aku belajar seperti orang gila. Aku ‘kesetanan’ ingin membuktikan kalau aku juga bisa menjadi juara 1 paralel! Meski dalam sejarah pesantrenku selama belasan tahun, belum pernah ada juara 1 paralel dari pulau Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun ajaran tiba. Setelah sekian pengumuman dibacakan, tiba-tiba namaku dipanggil ke atas panggung di acara anugerah juara-juara kelas yang disaksikan oleh ribuan santri dari seluruh penjuru tanah air. Saat itu kakiku seperti tidak menapak tanah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ananda Fatimah binti Chairi, dari kelas III B meraih juara 1 kelas IIIB daaan… Juara 1 Paralel. Kepada Ananda, kami persilahkan ke depan menerima penghargaan!” Suara bariton Pak Rusydi hampir-hampir tenggelam oleh sorak sorai teman-teman dari daerah Kalimantan. Semua mengelu-elukan aku. Mataku pun basah. Beliau berhasil menghidupkan kembali harapanku sekaligus menyelamatkanku dari putus sekolah.&lt;br /&gt;Belakangan aku baru tahu, bahwa beliaulah yang mengusulkan pembebasan SPP selama satu tahun penuh untukku di hadapan sidang dewan guru dan pembina Madrasah. Beliau ternyata tidak hanya menyemangati saja, tapi sungguh-sungguh membela masa depanku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Episode Teh Merlyna Lim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun aku tepati janji pada motivatorku, Ibu guru Amiroh. Aku nikmati masa-masa sekolah berasrama penuh prestasi, bahkan aku menjadi ketua OSIS.. Biarpun kemiskinan belum menjauh, Ibu Amiroh telah membukakan pintu untukku: Berprestasi dalam pendidikan adalah senjata ampuh melawan cengkeraman kemiskinan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus dari Madr. Mu’allimaat, aku bulat hati melanjutkan ke bangku kuliah, walau tanpa dukungan finansial memadai dari orang tua. Tersendat-sendat kujalani kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat temanku menikmati kiriman bulanan dari orang tua mereka, aku berjibaku. Mulai menjadi guru TK sampai berdagang kue dan batik kulakoni asal halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada sebuah titik, aku kehabisan energi! Aku bahkan terdesak ‘mengemis’ belas kasihan temanku karena waktu itu aku kelaparan dan sudah dua hari tidak makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sahabatku aku mengeluh, “Rasanya belitan kemiskinan ini menakdirkanku untuk tidak berhasil meraih gelar sarjana. Aku seperti pungguk merindukan bulan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengalami musibah dan kekecewaan beruntun di tahun 2000. Aku mempertanyakan keadilan Tuhan. Aku lelah dan ingin menyerah. Kalah. Pulang ke Banjarmasin meski tidak membawa gelar sarjana adalah pilihan paling realistis saat itu. Apalagi banyak lulusan sarjana disekitarku malah nganggur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu ketika, aku temukan tulisan-tulisan moderator yang menggawangi milis Beasiswa yang ‘menampar’ jiwaku! Seri tulisannya singkat tapi menyentuh relung-relung kesadaran. Mengingatkan janjiku pada Ibunda guru Amiroh: kemiskinan harus dilawan dengan prestasi! Membangunkanku kembali pada mimpi terbesarku. Meraih pendidikan setinggi-tingginya, sebagai salah satu kunci menghentikan kemiskinan yang menderaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di milis teh Merlyna membagikan ilmunya yang sangat berharga. Tips dan triks dalam melamar beasiswa sekaligus memenangkannya. Ribuan jam kuhabiskan mengubek-ubek isi milis, ketika aku baru selesai Kuliah Kerja Nyata di Gunung Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Merlyna Lim sangat tersohor di dunia maya karena ia salah satu moderator milis yang cepat tanggap atas pertanyaan dan kesulitan membernya. Hebatnya lagi, itu semua dilakukannya ditengah-tengah jam kuliah dan penelitiannya yang padat antara Belanda, Hawaii dan Bandung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari milis, aku beranjak mencari tahu tentang dirinya dengan meng-google namanya. Ratusan link muncul menunjukkan siapa dirinya. Luar biasa, Teh Merlyna adalah achiever sejati! Dia telah meraih aneka penghargaan nasional dan internasional dan saat itu dia sedang menempuh program Doktoral di Twente University, Belanda dengan beasiswa internasional yang sangat prestisius. Academic papernya juga telah dipresentasikan di puluhan negara. Aku terbius!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu boleh dibilang aku terobsesi sekaligus ‘iri’ padanya. Jika dia bisa menempuh pendidikan setinggi itu gratis dengan beasiswa, kenapa aku tidak bisa? Kehebatannya di bidang akademik juga menyuntikkan bara: aku harus selesaikan pendidikan S1 ku, sesulit dan seberat apapun tantangan yang kuhadapi. Aku tidak akan bisa mendapatkan beasiswa S2 kalau aku belum menyelesaikan S1 ku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terminal Leuwi Panjang, Bandung       &lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Hari itu aku berjanji untuk bertemu dengan Merlyna Lim! Setelah sekian lama aku hanyalah muridnya di dunia maya. Di email kuceritakan, aku mengagumi prestasinya yang mendunia di websitenya: http://www.merlyna.org/bio. Aku ingin menyedot langsung energi positif darinya.&lt;br /&gt;Jelang keberangkatannya kembali ke Belanda, disela-sela kesibukannya mengurus penelitian doktoralnya, dia sisihkan waktu untukku, yang bukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar setengah jam aku menunggu seperti anak ayam yang hilang karena gak tau Bandung. Akhirnya dari jauh kulihat seorang perempuan keluar dari mobil merah. Putih, cantik, menarik, sederhana dan ramah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bersalaman, teteh menarik tanganku, “Ayo Ima, langsung naik mobil, kita cari café yang enak.” Aku tidak tahu mau dibawa kemana, tapi yang pasti, aku langsung menyukainya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di café Atmosphere  yang nyaman sekali. Pemandangan yang terhampar disekeliling bukan main indahnya. Angin Bandung sepoi-sepoi perlahan mengeringkan keringatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetar kubuka obrolan sambil menyalakan tape recorder pinjaman. Dia bercerita tentang keluarganya, hobbynya, kenangan masa kecilnya yang lucu dan penuh semangat. ITB dan paduan suara kampusnya, penelitian-penelitiannya dan cintanya pada ilmu pengetahuan. Juga kisah travelingnya yang seru! Meski sudah membaca blog travelingnya, &lt;a href="http://merlynatravel.blogspot.com/"&gt;http://merlynatravel.blogspot.com&lt;/a&gt;, tetap saja mendengarkan langsung itu asik! Dia bahkan membawakan foto backpackingnya keliling dunia, yang sudah menjangkau hampir 30 negara lebih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia salah satu perempuan cerdas tapi tidak sombong yang pernah kukenal. Dia pompakan jutaan gigabyte semangat untukku! Mulai siang itu, dia ‘kudaulat’ menjadi inspiratorku, selain Ibunda guru Amiroh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia balik bertanya. Dia ingin tahu hidupku. Malu-malu kuceritakan siapa aku dan mimpi-mimpiku yang tertatih-tatih kuraih. Dia besarkan hatiku, “Coba terus, Dik, kamu tidak akan pernah tahu batas kemampuanmu kalau kamu sendiri tidak mencobanya, kita moderator di milis Beasiswa, siap membantu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Mengajariku Membagi Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membuktikannya! Ketika berulang kali aku mengontak dia untuk urusan applikasi beasiswa S2 ku ke berbagai lembaga, berulang-ulang juga emailnya datang memberikan masukan-masukan yang sangat berharga. Bahkan ketika dia sedang sibuk dan di ujung dunia paling jauh sekalipun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung tahun 2003, aku mendapatkan kepastian: memperoleh beasiswa S2 ke Inggris dari Ford Foundation. Pendidikan tak hanya memerdekakanku dari kemiskinan harta dan ilmu, tapi juga mengantarkanku ke berbagai negara, seperti inspiratorku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengajariku satu hal yang sangat penting, kita tidak akan pernah kekurangan sekali pun kita membagi yang kita punyai. Sebaliknya kita malah akan semakin kaya karena memberi. Seperti pesan Nabi Mulia, “Al Yadul ‘ulya khairun minal yadis sufla.” Tangan di atas (jauh lebih) mulia dibanding tangan yang di bawah.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7108054849532026141?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7108054849532026141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7108054849532026141' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7108054849532026141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7108054849532026141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/05/arti-sebuah-perjuangan-demi.html' title='Arti sebuah perjuangan demi berpendidikan.....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1427448407750855797</id><published>2008-05-21T22:30:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T22:38:44.362-07:00</updated><title type='text'>Light emission moves into the blue</title><content type='html'>Good information for someone who interesting with optoelectronic technology...please read it..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Light emission moves into the blue&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;taken from : &lt;a href="http://physicsworld.com/cws/article/print/1708"&gt;http://physicsworld.com/cws/article/print/1708&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many years of effort were needed to develop blue light-emitting diodes and lasers, but devices based on indium gallium nitride are now set to revolutionize optoelectronics&lt;br /&gt;LIGHT-EMITTING devices based on semiconductors have had a huge impact on modern technologies. The brightness and durability of light-emitting diodes make them ideal for displays, while semiconductor lasers have been used in everything from optical communications systems to compact disc players. But these applications have been limited by the lack of materials that can emit blue light efficiently. Full-colour displays, for example, require at least three colours, usually red, green and blue, to produce any visible colour. Such a combination is also needed to make a white light-emitting device that would be more durable and use less power than conventional bulbs or fluorescent lamps.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many other applications would benefit from blue light-emitting devices. The shorter wavelength means that the light can be focused more sharply, which would increase the storage capacity of magneto-optical and optical disks. Digital versatile disks, which came on the market in 1996, rely on red semiconductor lasers and have a data capacity of about 4.7 Gbyte, compared with 0.65 Gbyte for compact discs. By moving to blue wavelengths, the capacity could be increased to 15 Gbyte. Blue laser diodes could also improve the performance of laser printers and undersea optical communications.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Green light for blue lasers" href="http://physicsworld.com/cws/article/print/1708/1/world-11-2-12-1"&gt;Green light for blue lasers&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Efficient blue-emitting devices were first demonstrated by my group at Nichia Chemical Industries in Japan in 1995, after about 30 years of research by groups around the world. Such was the need for these devices that blue and green light-emitting diodes based on indium gallium nitride are already being used in a variety of applications, such as traffic lights and full-colour displays. Blue semiconductor lasers were also introduced in 1995, and today can achieve a lifetime of 10 000 hours under continuous operation at room temperature.&lt;br /&gt;Light from semiconductors&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A light-emitting diode (LED) essentially consists of an "active" layer of semiconducting material sandwiched between n-type and p-type semiconductors. When a voltage is applied to the junction, electrons from the n-type material move into the conduction band of the active layer, while holes from the p-type semiconductor are injected into the valence band. Light emission takes place when electrons at the bottom of the conduction band spontaneously recombine with holes in the top of the valence band.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If many more electrons and holes are injected into the active layer, a "population inversion" takes place between the conduction and valence bands. By including mirrors at both sides of the active layer to form a so-called waveguide cavity, the emitted light can be amplified and strong stimulated emission is observed at the edges of the cavity. This device is called a laser diode.&lt;br /&gt;The key point is that the wavelength of the emitted light, and hence its colour, is determined by the band gap of the active layer. The wavelength is given by l= hc /E g, where h is Planck's constant, c is the speed of light and E g is the band gap. The band gaps of compound semiconductors such as aluminium gallium arsenide and aluminium indium gallium phosphide make them suitable for fabricating efficient red and yellow light-emitting diodes, but until recently there have been no suitable materials for comparable blue light-emitting devices.&lt;br /&gt;Although blue and green light-emitting diodes have been made from materials such as silicon carbide and gallium phosphide, they are not very efficient. These materials have an indirect band gap, which means that the electrons and holes have different momenta and can only recombine by scattering from lattice vibrations. In a material with a direct band gap, the electrons in the conduction band can recombine directly with holes in the valence band, making recombination much more efficient.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Band gaps of semiconductors" href="http://physicsworld.com/cws/article/print/1708/1/world-11-2-12-2"&gt;Band gaps of semiconductors&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Although many researchers have investigated various direct-band-gap materials for blue and green light-emitting devices, it has proved extremely difficult to produce efficient and reliable devices. The most intense research has focused on II-VI materials such as zinc selenide and III-V nitrides such as gallium nitride, since these materials have a large enough band gap to emit light at blue and green wavelengths.&lt;br /&gt;The advantage of II-VI compounds is that they can be deposited easily on a gallium arsenide (GaAs) substrate with a relatively low density of defects. This is because materials like zinc selenide have a similar lattice constant to GaAs. Any mismatch in lattice constant creates strain in the layers, which is generally released as misfit dislocations. In the case of red-emitting devices, aluminium gallium arsenide has almost the same lattice constant as GaAs, while aluminium indium gallium phosphide can be lattice-matched to gallium arsenide by altering its composition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materials based on zinc selenide have been studied intensively for use in blue- and green-emitting devices. Indeed, in 1991 Michael Haase and colleagues at 3M in the US demonstrated the first pulsed operation of green laser diodes based on II-VI materials. However, the lifetime of these laser diodes is only about 100 hours, a limitation that has prevented them from being commercialized.&lt;br /&gt;These short lifetimes are thought to be due to crystal defects. Even though there are relatively few defects in II-VI materials, about 1000 cm-2, a single defect can cause others to propagate, disrupting the weak bonding in the material and causing the device to fail. This is not expected to be such a big problem in III-V nitrides because the bonding is much stronger.&lt;br /&gt;Gallium nitride and other III-V nitrides also have a direct band gap that is suitable for blue light-emitting devices. The band-gap energy of aluminium gallium indium nitride varies between 6.2 and 2.0 eV, depending on the composition at room temperature. However, there is no lattice-matched substrate for the growth of gallium nitride. Sapphire is commonly used, despite a mismatch of 13.5%. Other options are silicon carbide and magnesium aluminate, which have mismatches of 3% and 9%, respectively.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Such large differences in lattice constant create misfit dislocations at the interface between the gallium nitride and the substrate. Although the number of defects can be as high as 1010 cm-2, these dislocations do not seem to reduce the efficiency of light emission and have not prevented the development of practical devices. Moreover, since these materials are bound much more strongly than the II-VI materials, devices based on gallium nitride are expected to be more reliable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So far, only a ternary compound, indium gallium nitride, has been used as the active layer of blue and green light-emitting devices. As we shall see, the addition of indium to gallium nitride is vital for achieving strong light emission. The band gap of the material can be varied between 2.0 and 3.4 eV by altering the indium content, which corresponds to emission wavelengths between 620 and 365 nm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Routes to blue devices&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of the main problems in the development of devices based on III-V nitrides was the lack of p-type materials. Although n-type gallium nitride is easy to produce, researchers had struggled to make p-type gallium nitride since the 1960s. The usual approach has been to dope the material with impurities such as zinc, magnesium and beryllium. These should accept electrons when positioned at gallium sites, and so generate large numbers of holes in the material. However, this approach did not produce p-type gallium nitride with good hole conductivity, and no-one understood why.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The breakthrough came in 1989, when Hiroshi Amano and colleagues at Nagoya University in Japan obtained thin films of p-type gallium nitride for the first time. They used metal organic chemical vapour deposition (MOCVD) to produce films doped with magnesium. Gases of trimethylgallium, ammonia (NH3) and bis-cyclopentadienyl magnesium were supplied to the sapphire substrate by a hydrogen carrier gas. The substrate was heated to 1000 °C, causing the precursor gases to react and form a thin film of gallium nitride on the surface. After growth, the films were irradiated with a low-energy electron beam, and the resulting film was found to be p-type, although the hole conductivity was poor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It seems that the effect of the electron beam was to move the magnesium atoms to gallium sites. Before irradiation, the magnesium atoms cannot act as acceptors because they are not positioned at gallium sites. By moving the magnesium atoms with the electron beam, the impurities can act as acceptors and generate large numbers of holes. At the time, however, this mechanism was not fully understood and other groups were unable to produce p-type gallium nitride for another few years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Nichia, colleagues and I first obtained p-type gallium nitride films in 1992. Rather than treating films of magnesium-doped gallium nitride with an electron beam, we thermally annealed the layer in a nitrogen atmosphere at temperatures above 700 °C. Annealing was found to reduce the resistivity of the films from 106 W cm to just 2 W cm.&lt;br /&gt;To help understand this change in resistivity, we tried two further annealing experiments. If the low-resistivity p-type films were further annealed in nitrogen at temperatures ranging between room temperature and 1000 °C, the resistivity remained almost constant at 2-8 W cm. However, if the films were annealed in ammonia at 600 °C, the resistivity increased to as much as 106 W cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So what causes the change in resistivity? The key seems to be the effect of atomic hydrogen, produced by the dissociation of ammonia at temperatures above 400 °C. Since dissociation occurs at the gallium nitride surface, hydrogen atoms can easily diffuse into the gallium nitride. Once inside the film, the hydrogen atoms form neutral complexes with the magnesium impurities and stop them from acting as acceptors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This hydrogenation process is probably responsible for the surprisingly high resistivity of magnesium-doped gallium nitride films. The effect of thermally annealing the films in a nitrogen atmosphere is to remove atomic hydrogen from the neutral complexes, reactivating the magnesium acceptors and reducing the resistivity.&lt;br /&gt;Many researchers now agree that hydrogenation can stop impurities from acting as acceptors. This finding finally solved the mystery of p-type gallium nitride, which had puzzled researchers for over 30 years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Towards practical devices&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another key breakthrough was the fabrication of high-quality films of indium gallium nitride (InGaN). This is the most important compound of the III-V nitrides because it is the only one to produce light emission that is strong enough for practical devices. But it was not until 1992 that Takashi Mukai and I developed a technique to deposit high-quality InGaN films.&lt;br /&gt;Our approach was to use a novel MOCVD method with two separate gas flows. The main flow carries the reactant gas parallel to the substrate at a high velocity. A subflow transports an inactive gas perpendicular to the substrate, changing the direction of the main flow and bringing the reactant gas into contact with the substrate. Using this method, we could alter the amount of indium in the deposited material by optimizing growth parameters such as gas-flow rate, temperature and growth rate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fluctuations in indium content lead to the formation of deep localized states in which the electron energy is confined in three dimensions, just as in quantum dots. To change the indium content during growth, the vapour pressure of the indium nitride (one of the precursor materials) is kept very high. The film is deposited at 800 °C, which causes the indium nitride to dissociate - this phase separation makes it possible to vary the composition of the indium gallium nitride. As we shall see, the localized states that are generated by this process are responsible for the strong light emission in InGaN. The films that we deposited in this way could emit light efficiently from green to ultraviolet wavelengths at room temperature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1995 we demonstrated the first blue/green light-emitting diode based on InGaN. The structure consisted of a 3 nm layer of indium gallium nitride (In0.2Ga0.8N) sandwiched between p-type aluminium gallium nitride and n-type gallium nitride, all grown on a sapphire substrate. Such a thin layer of InGaN minimizes the effect of lattice mismatch: the elastic strain in the layer can be accommodated without the formation of misfit dislocations, and the crystal quality of the InGaN remains high. Moreover, the difference in thermal expansion coefficient between the active layer and the surrounding material is also reduced.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this structure, the layer of indium gallium nitride forms a single quantum well, which leads to the formation of quantized energy states. Holes and electrons supplied by the surrounding materials are confined in the InGaN, specifically in the n = 1 energy level, where n is the principal quantum number. Because of this confinement, the charge carriers can recombine efficiently to emit blue or green light. The rate of recombination depends on the indium content in the active layer and the energies of the quantized states, which in turn depend on the thickness of the quantum well and the energy barrier between the InGaN layer and the surrounding materials.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Displays depend on blue devices" href="http://physicsworld.com/cws/article/print/1708/1/world-11-2-12-3"&gt;Displays depend on blue devices&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;At a current of 20 mA, the output power of the blue diode was 5 mW, while the external quantum efficiency was 9.1%. The equivalent values for the green devices were 3 mW and 6.3%. Typical luminous intensities, which provide a measure of the brightness of the device, were 2 candela for the blue diode and 6 cd for the green diodes. These figures-of-merit are comparable with those of conventional high-efficiency red LEDs. By combining red light-emitting diodes with blue and green ones with the same power and brightness, it is possible to produce full-colour displays and efficient white lamps.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To determine the energy levels responsible for emission and absorption, we measured the light emitted when a current of 20 mA was applied to the structure (electroluminescence) and when monochromatic light was focused on the device (the photocurrent spectrum). Electroluminescence from the blue and green diodes was most intense at 453 nm (2.73 eV) and 520 nm (2.38 eV), as expected from their band-gap energies (figure 4). The largest peak in the photocurrent spectra, at 360 nm, is simply due to the absorption of light by the thick surrounding layers, although there are also weaker shoulder-like peaks at 410 nm for the blue LED and at 420 nm for the green one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Emission and absorption" href="http://physicsworld.com/cws/article/print/1708/1/world-11-2-12-4"&gt;Emission and absorption&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;It has since been shown that these smaller peaks result from absorption by free "excitons" in the n = 1 energy level. Excitons are electron-hole pairs held together by the Coulomb interaction, and they form when electrons and holes are injected into the InGaN quantum well.&lt;br /&gt;The energy difference between absorption by the n = 1 quantum energy state and the peak in the electroluminescence signal was 290 meV for the blue LEDs and 570 meV for the green ones. All of the electroluminescence is observed at the lower tail of the absorption spectra, suggesting that light emission results from the recombination of electrons and holes at deep localized states with energies of 290 and 570 meV.&lt;br /&gt;When more indium is included in the active layer, there are larger variations in the indium content, leading to the formation of lower-energy states. Since green diodes are produced by adding more indium, the photocurrent spectrum of the green diode extends to lower energies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laser action&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We first achieved laser emission from diodes based on III-V nitrides in 1995. These devices were based on multiple quantum wells of indium gallium nitride, and produced blue light efficiently at room temperature. Although early versions required high voltages and could only generate laser pulses, continuous-wave lasers have now been developed. By 1997 the lifetime of continuous blue lasers had improved to 27-35 hours, and the latest research has further extended the lifetime to 10 000 hours. This improvement in lifetime suggests that laser diodes based on indium gallium nitride will soon be commercialized with even longer lifetimes.&lt;br /&gt;The continuous-wave laser diode is made from a layered structure with between 2 and 10 quantum wells. At room temperature, the current needed for laser emission is about 20 mA and the threshold current density is 2-4 kA cm-2, about 10 times higher than in red laser diodes. The operating voltage is 4-6 V, compared with about 2 V for red lasers, while the maximum output power was 50 mW per facet. Most of the light is emitted at wavelengths of 390-420 nm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Gain in blue lasers" href="http://physicsworld.com/cws/article/print/1708/1/world-11-2-12-5"&gt;Gain in blue lasers&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;In 1997 Takahiro Deguchi and colleagues at Waseda University in Japan studied how the gain spectra of InGaN laser diodes depends on the power supplied by a pump laser. The sharp peak at 3.07 eV is particularly strong for pump powers in excess of 1 MW cm-2, and marked absorption is observed at 3.15 eV. The absorption is again caused by free excitons in the n = 1 energy level of indium gallium nitride. But the sharp gain cannot be understood in terms of the conventional picture of recombination between conduction and valence bands.&lt;br /&gt;Indeed, the feature only appears when the energy of the pump laser matches the difference in energy between the n = 1 energy level and the energy of deep localized states in the InGaN layer. This suggests that the strong absorption at the n = 1 energy level transfers carriers into deep localized states. Electrons injected into the conduction band of the InGaN quantum well are transferred into localized states, while holes are supplied to the top of the valence band. Stimulated emission therefore takes place between the localized states and valence bands of the InGaN quantum wells. Population inversion is quite easy to achieve because the density of electronic states is expected to be relatively small in the localized states. This means that only a few injected electrons are needed to raise the quasi-Fermi level in the localized state, which increases the energy difference between this level and the energy level at which recombination takes place. Population inversion can therefore be achieved at low currents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Dislocations in laser diodes" href="http://physicsworld.com/cws/article/print/1708/1/world-11-2-12-6"&gt;Dislocations in laser diodes&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The large lattice mismatch between gallium nitride and sapphire means that up to 1010 dislocations per cm2 can form at the interface, and these defects can thread their way into the active layer (figure 6). In 1995 Steven Lester and colleagues at Hewlett Packard Laboratories in Palo Alto, California, measured a similar density of dislocations in light-emitting diodes based on InGaN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So why are devices based on indium gallium nitride so efficient? In conventional III-V compound semiconductors, such as gallium arsenide and indium phosphide, the dislocation density must be less than 103 cm-2 to achieve high efficiencies. The presence of indium appears to play a key role, particularly since devices based on gallium nitride are much less efficient. It seems that free excitons formed in the InGaN layer are transferred into the deep localized energy states before they can be captured by the non-radiative recombination centres formed by dislocations. The electrons and holes can therefore recombine to emit blue light, without interference from non-radiative recombination centres. Localized energy states are thus the key to obtaining efficient light-emitting devices based on III-V nitrides.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Into the blue&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The advances in light-emitting diodes and laser diodes based on indium gallium nitride have progressed at an amazing rate. It has taken just two years to progress from pulsed to continuous operation of blue laser diodes, while the same advance for conventional laser diodes based on III-V compound semiconductors has generally taken over 10 years.&lt;br /&gt;The recent improvement in lifetimes suggests that blue lasers will soon appear on the market. With so many potential applications, the optoelectronics industry is eagerly anticipating a move into the blue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;About the author&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shuji Nakamura is at Nichia Chemical Industries, 491 Oka, Kaminaka, Anan Tokushima 774, Japan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Further reading&lt;br /&gt;H Amano et al. 1989 P-type conduction in Mg-doped GaN treated with low-energy electron beam irradiation (LEEBI) Japan. J. Appl. Phys. 28 L2112 T Deguchi et al. 1997 Gain spectra in CW InGaN/GaN MQW laser diodes E-MRS (June 16-20, Strasbourg, France) L-XIII-3 S D Lester et al. 1995 High dislocation densities in high efficiency GaN-based light-emitting diodes Appl. Phys. Lett. 66 1249 S Nakamura et al. 1992 Hole compensation mechanism of p-type GaN films Japan. J. Appl. Phys. 31 1258 S Nakamura et al. 1995 Superbright green single-quantum-well-structure light-emitting diodes Japan. J. Appl. Phys. 34 L1332 S Nakamura et al. 1997 High-power, long-lifetime InGaN multi-quantum-well-structure laser diodes Japan. J. Appl. Phys. 36 L1059 S Nakamura et al. 1997 InGaN/GaN/AlGaN-based laser diodes with modulation-doped strained-layer superlattices Japan. J. Appl. Phys. 36 L1568 S Nakamura and G Fasol 1997 The Blue Laser Diode (Springer, Heidelberg) S Nakamura and T Mukai 1992 High-quality InGaN films grown on GaN films Japan. J. Appl. Phys. 31 L1457 Shuji Nakamura is at Nichia Chemical Industries, 491 Oka, Kaminaka, Anan Tokushima 774, Japan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1427448407750855797?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1427448407750855797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1427448407750855797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1427448407750855797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1427448407750855797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/05/light-emission-moves-into-blue.html' title='Light emission moves into the blue'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3118393351436978986</id><published>2008-05-21T09:47:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T09:50:31.055-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Renungan untuk kita......</title><content type='html'>Artikel di bawah ini saya adopsi dari email kiriman teman sahabat saya. Bagus buat direnungkan.....selamat membaca....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bijak berkata kepadaku, "Anakku, mari kita bicara tentangcinta. Cinta apa yang kau miliki?" Merasa diri ini memang belum pahamapa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiaphikmah yang menyemburat seperti cahaya.Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkapesensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu nanti,karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akalmelayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauhdari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.Lihat batang bunga mawar itu. Dia punya potensi untuk mempersembahkanbunga merah dan harum yang semerbak. Namun jika batang itu tak pernahditanam, tak akan pernah mawar itu menghiasi kebunmu. Maka, hanyadengan membuka diri untuk tumbuhnya akar dan daun lah, batang mawaritu akan melahirkan bunga mawar yang harum. Demikian juga denganhatimu, anakku. Kau harus membukanya, agar potensi cinta yangterkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmudengan kedamaian.Anakku, begitu sering kau bicara cinta. Cinta kepada istri, cintakepada anak, cinta kepada agama, cinta kepada bangsa, cinta kepadafilosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada kebenaran, cinta kepadaTuhan… Apakah isi atau esensi dari cintamu itu? Kau bilang itu cintasuci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang palingdalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama, … Apakah benar begitu, anakku?Mungkin di kampung kau punya seekor kuda. Begitu sayangnya kau padakuda itu. Setiap hari kau beri makan, minum, kau rawat bulunya, kaubersihkan, kau ajak jalan-jalan. Seolah kuda itu telah menjadi bagiandari hidupmu, seperti saudaramu. Kau mencintai kuda itu sepenuh hati.Namun, suatu ketika datang orang yang ingin membelinya dengan hargayang fantastis. Hatimu goyah, dan kau pun menjualnya. Cintamu tidaksepenuh hati, karena kau rela menjual cinta. Kau mencintai kuda,karena kegagahannya membuatmu bangga dan selalu senang ketikamenungganginya. Namun, ketika datang harta yang lebih memberikankesenangan, kau berpaling. Kau cinta karena kau mengharapkan sesuatudari yang kau cintai. Kau cinta kudamu, karena mengharapkan kegagahan.Cintamu berpaling kepada harta, karena kau mengharapkan kekayaan.Ketika keadaan berubah, berubah pula cintamu.Kau sudah punya istri. Begitu besar cintamu kepadanya. Bahkan kaubilang, dia adalah pasangan sayapmu. Tak mampu kau terbang jikapasangan sayapmu sakit. Cintamu cinta sejati, sehidup semati. Namun,ketika kekasihmu sedang tak enak hati yang keseratus kali, kau engganmenghiburnya, kau biarkan dia dengan nestapanya karena sudah biasa.Ketika dia sakit yang ke lima puluh kali, perhatianmu pun berkurang,tidak seperti ketika pertama kali kau bersamanya. Ketika dia berbuatsalah yang ke sepuluh kali, kau pun menjadi mudah marah dan kesal.Tidak seperti pertama kali kau melihatnya, kau begitu pemaaf. Dankelak ketika dia sudah keriput kulitnya, akan kau cari penggantidengan alasan dia tak mampu mendukung perjuanganmu lagi? Kalau begitu,maka cintamu cinta berpengharapan. Kau mencintainya, karena diamemberi kebahagiaan kepadamu. Kau mencintainya, karena dia mampumendukungmu. Ketika semua berubah, berubah pula cintamu.Kau punya sahabat. Begitu sayangnya kau kepadanya. Sejak kecil kaubermain bersamanya, dan hingga dewasa kau dan dia masih salingmembantu, melebihi saudara. Kau pun menyatakan bahwa dia sahabatsejatimu. Begitu besar sayangmu kepadanya, tak bisa digantikan olehharta. Namun suatu ketika dia mengambil jalan hidup yang berbedadengan keyakinanmu. Setengah mati kau berusaha menahannya. Namun diaterus melangkah, karena dia yakin itulah jalannya. Akhirnya, bekalkeyakinan dan imanmu menyatakan bahwa dia bukan sahabatmu, bukansaudaramu lagi. Dan perjalanan kalian sampai di situ. Kaumencintainya, karena dia mencintaimu, sejalan denganmu. Kaumendukungnya, mendoakannya, membelanya, mengunjunginya, karena diaseiman denganmu. Namun ketika dia berubah keyakinan, hilang sudahcintamu. Cintamu telah berubah.Kau memegang teguh agamamu. Begitu besar cintamu kepada jalanmu. Kauberi makan fakir miskin, kau tolong anak yatim, tak pernah kautinggalkan ibadahmu, dengan harapan kelak kau bisa bertemu Tuhanmu.Namun, suatu ketika orang lain menghina nabimu, dan kau pun marah danmembakar tanpa ampun. Apakah kau lupa bahwa jalanmu mengajak untukmengutamakan cinta dan maaf? Dan jangankan orang lain yang menghinaagamamu, saudaramu yang berbeda pemahaman saja engkau kafirkan, engkaujauhi, dan engkau halalkan darahnya. Bukankah Tuhanmu saja tetap cintakepada makhlukNya yang seperti ini, meskipun mereka bersujud ataumenghinaNya? Kau cinta kepada agamamu, tapi kau persepsikan cinta yangdiajarkan oleh Tuhanmu dengan caramu sendiri.Anakku, selama kau begitu kuat terikat kepada sesuatu dan memfokuskancintamu pada sesuatu itu, selama itu pula kau tidak akan menemukanTrue Love. Cintamu adalah Selfish Love, cinta yang mengharapkan, cintakarena menguntungkanmu. Cinta yang akan luntur ketika sesuatu yang kaucintai itu berubah. Dengan cinta seperti ini kau ibaratnya sedangmengaspal jalan. Kau tebarkan pasir di atas sebuah jalan untukmeninggikannya. Lalu kau keraskan dan kau lapisi atasnya dengan aspal.Pada awalnya tampak bagus, kuat, dan nyaman dilewati. Setiap harikendaraan lewat di atasnya. Dan musim pun berubah, ketika hujan turundengan derasnya, dan truk-truk besar melintasinya. Lapisannyamengelupas, dan lama-lama tampak lah lobang di atas jalan itu. Cintayang bukan True Love, adalah cinta yang seperti ini, yang akan berubahketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Kau harus memahami halini, anakku.Sekarang lihatlah, bagaimana Tuhanmu memberikan cintaNya. Diamencintai setiap yang hidup, dengan cinta (rahman) yang sama, tidakmembeda-bedakan. Manusia yang menyembahNya dan manusia yangmenghinaNya, semua diberiNya kehidupan. KekuasaanNya ada di setiapyang hidup. Dia tidak meninggalkan makhlukNya, hanya karena si makhluktidak lagi percaya kepadanya. Jika Dia hanya mencintai mereka yangmenyembahNya saja, maka Dia namanya pilih kasih, Dia memberi cintayang berharap, mencintai karena disembah. Dia tidak begitu, dia tetapmencintai setiap ciptaanNya. Itulah True Love. Cinta yang tak pernahberubah, walau yang dicintai berubah. Itulah cinta kepunyaan Tuhan.Anakku, kau harus menyematkan cinta sejati ini dalam dirimu. Tanambibitnya, pupuk agar subur, dan tebarkan bunga dan buahnya ke alam disekitarmu.Dan kau perlu tahu, anakku. Selama kau memfokuskan cintamu pada yangkau cintai, maka selama itu pula kau tak akan pernah bisa memilikicinta sejati, True Love. Cinta sejati hanya kau rasakan, ketika kaumelihat Dia dalam titik pusat setiap yang kau cintai. Ketika kaumencintai istrimu, bukan kecantikan dan kebaikan istrimu itu yang kaulihat, tapi yang kau lihat "Oh my God! Ini ciptaanMu, sungguhcantiknya. Ini kebaikanMu yang kau sematkan dalam dirinya." Ketika kaulihat saudaramu entah yang sejalan maupun yang berseberangan, kaulihat pancaran CahayaNya dalam diri mereka, yang tersembunyi dalammisteri jiwanya. Kau harus bisa melihat Dia, dalam setiap yang kaucintai, setiap yang kau lihat. Ketika kau melihat makanan, kau bilang"Ya Allah, ini makanan dariMu. Sungguh luar biasa!" Ketika kau melihatseekor kucing yang buruk rupa, kau melihat kehidupanNya yang mewujuddalam diri kucing itu. Ketika kau mengikuti sebuah ajaran, kau lihatDia yang berada dibalik ajaran itu, bukan ajaran itu yang berubah jadiberhalamu. Ketika kau melihat keyakinan lain, kau lihat Dia yangmenciptakan keyakinan itu, dengan segala rahasia dan maksud yang kaubelum mengerti.Ketika kau bisa melihat Dia, kemanapun wajahmu memandang, saat itulahkau akan memancarkan cinta sejati kepada alam semesta. Cintamu tidakterikat dan terfokus pada yang kau pegang. Cintamu tak tertipu olehbaju filosofi, agama, istri, dan harta benda yang kau cintai. Cintamulangsung melihat titik pusat dari segala filosofi, agama, istri, danharta benda, dimana Dia berada di titik pusat itu. Cintamu langsungmelihat Dia.Dan hanya Dia yang bisa memandang Dia. Kau harus memahami ini, anakku.Maka, dalam dirimu hanya ada Dia, hanya ada pancaran cahayaNya. Dirimuharus seperti bunga mawar yang merekah. Karena hanya saat mawarmerekah lah akan tampak kehindahan di dalamnya, dan tersebar bau wangike sekitarnya. Mawar yang tertutup, yang masih kuncup, ibarat cahayayang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa. Apalagi mawar yangmasih berupa batang, semakin jauh dari terpancarnya cahaya. Bukalahhatimu, mekarkan mawarmu.Anakku, hanya jiwa yang telah berserah diri saja lah yang akanmemancarkan cahayaNya. Sedangkan jiwa yang masih terlalu erat memegangsegala yang dicintainya, akan menutup cahaya itu dengan berhalafilosofi, agama, istri, dan harta benda. Lihat kembali, anakku, akanpengakuanmu bahwa kau telah berserah diri. Lihat baik-baik, telitidengan seksama, apakah pengakuan itu hanya pengakuan sepihak darimu?Apakah Dia membernarkan pengakuanmu? Ketika kau bilang "Allahu Akbar,"apakah kau benar-benar sudah bisa melihat keakbaran Dia dalam setiapyang kau lihat? Jika kau masih erat mencintai berhala-berhalamu, makasesungguhnya jalanmu menuju keberserahdirian masih panjang. Jalanmumenuju keber-Islam- an masih di depan. Kau masih harus membuka kebunbunga mawar yang terkunci rapat dalam hatimu. Dan hanya Dia-lah yangmemegang kunci kebun itu. Mintalah kepadaNya untuk membukanya. Lalu,masuklah ke dalam taman mawarmu. Bersihkan rumput-rumput liar di sana,gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau jauh-jauh ulat yangmemakan daunnya. Kemudian, bersabarlah, bersyukurlah, danbertawakkallah. InsyaAllah, suatu saat, jika kau melakukan ini semua,mawar itu akan berbunga, lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuruistana.Semoga Allah membimbingmu, anakku.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;========= ========= ========= ========= ========= ========= ========= ==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKILAS TTG BAWA MUHAIYAADEEN(wafat 1986)Bawa Muhaiyaddeen adalah seorang Mursyid sejati yang memberikanpengajaran kepada murid-muridnya di abad ke-20, tidak jauh dari masakita sekarang. Murid-muridnya pun terdiri dari kalangan bangsa Amerikadan Eropa, yang sedikit banyak mempunyai pola pikir dan pola budayayang masih memiliki sekian kadar kesamaan dengan kita, sehingga mudahuntuk ditempatkan dalam konteks kehidupan kita sekarang. Bahasa yangdisampaikan adalah bahasa nasihat, sebuah rekaman dialog seorang gurukepada murid-muridnya di dalam sebuah forum kecil.Bakat yang paling istimewa dari seorang Bawa Muhaiyaddeen adalahkemampuannya untuk memudahkan murid-muridnya dalam memahami esensi.Konsep-konsep spiritual yang beliau sampaikan, sebenarnya adalahkonsep yang rumit dan sangat dalam jika disampaikan dalam istilahmaupun bahasa sufisme klasik. Akan tetapi, beliau mampumenyempaikannya dengan bahasa yang lugas dan amat sederhana, disertaicontoh dan kisah yang teramat mudah dipahami. Sedemikian sederhana danmudahnya, hingga semua bahasan mendalam dan teoretik dari para sufiklasik itu menjelma menjadi seakan-akan hanyalah sebuah nasihat biasa.Padahal, esensi yang beliau sampaikan dibandingkan dengan esensi yangdiajarkan para sufi klasik melalui pembahasan yang tampak rumit,sebenarnya adalah sama.Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamologmaupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, danmenjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. YangBawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan `bernafas'dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap olehmurid-muridnya. Kami kira, analogi yang baik untuk Beliau adalah, iatidak mengajarkan teori tentang laut kepada ikan-ikan. Ia mengajarkanikan-ikan untuk hidup dengan benar di dalam laut, dengan tetap membawajati dirinya masing-masing.Hal yang luar biasa, adalah fakta bahwa beliau seorang muslim butahuruf sederhana, yang melewatkan sebagian besar hidupnya di dalamhutan-hutan di Sri Lanka. Akan tetapi kedalaman ilmunya membuatnyakemudian dikenal masyarakat di Amerika sehingga Beliau dibawa kenegeri mereka untuk menjadi pembimbingnya di sana. Sangat menarikmelihat murid-muridnya— yang sebagian besar merupakan masyarakat kulitputih dengan tingkat pendidikan yang tinggi—menerima pengajaran dariseorang yang biasa hidup bersahaja di pedalaman hutan Sri Lanka. …".[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3118393351436978986?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3118393351436978986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3118393351436978986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3118393351436978986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3118393351436978986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/05/sebuah-renungan-untuk-kita.html' title='Sebuah Renungan untuk kita......'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5395667786028167518</id><published>2008-05-08T01:28:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T01:33:54.230-07:00</updated><title type='text'>Mengenal Prof. Dr. Rosari Saleh (Ibu Oca)</title><content type='html'>Ibu Oca adalah dosen saya ketika saya belajar pendahuluan zat padat dan mata kuliah zat padat di Fisika FMIPA UI. Beliau juga sering memberikan motivasi ke saya untuk studi yang baik. Nah ketika saya menemukan tulisan tentang beliau saya sangat senang dan sebagai bentuk sharing informasi tentang beliau berikut ini biografi beliau yang  diambil dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.adilnews.com/?q=id/rosari-saleh-fisika-itu-indah"&gt;http://www.adilnews.com/?q=id/rosari-saleh-fisika-itu-indah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembawaannya jauh dari kesan serius dan formal. Celana jeans hitam dan kemeja hijau modis berpadu serasi di tubuhnya yang lumayan tinggi untuk ukuran Indonesia. “Panggil Oca saja,” paparnya memperkenalkan diri.    Bayangan seorang profesor yang serius dan kaku, sirna seketika ketika kita mulai berbincang. Gaya bicaranya ringan, kadang diselengi canda dan tawa. Gerak geriknya lincah. Segelas kopi hangat menemaninya pagi itu.    Usia Oca terbilang muda untuk menjadi guru besar dalam disiplin condensed matter and material physics (CMMP) di Universitas Indonesia. Lajang ini lahir di Yogyakarta pada 5 Oktober 1961. Ayahnya Roeslan Saleh adalah seorang profesor dalam bidang hukum di Universitas Gajah Madha Yogyakarta. Dua tahun setelah kelahiran Oca, dia pindah ke Jakarta dan menjadi guru besar luar biasa di FISIP UI. Sementara ibunya Tuty Roeslan Saleh dulunya seorang staf PT Asuransi Murni.    Ayahnya yang seorang akademisi menanamkan pentingnya pendidikan sejak Oca masih kecil. Untuk urusan yang satu itu, ia bersedia memberikan apapun. Ibu Oca tak beda jauh. Ia yang pernah menjadi asisten dosen di FISIP UGM menegaskan hal serupa.    Oca kecil mulai tergelitik. Ia ingin tahu bagaimana rasanya bekerja seperti halnya sang ayah. Akhirnya, Oca tumbuh menjadi gadis yang pintar dan ceria. Nilai-nilai di sekolahnya tak mengecewakan. Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan senang bergaul.     Masuk SMA, Oca meminati fisika. Namun ia tak menyukai guru-gurunya. Dalam pandangannya, mereka kering humor dan senyum. Mereka menginginkan murid-muridnya memahami fisika dalam kehidupan sehari-hari. Namun contoh yang diberikan umumnya bagaimana lintasan peluru ditembakan dari suatu meriam, pistol atau senapan; peluruhan inti atom dengan pemboman Nagasaki dan Hiroshima sebagai contoh untuk menunjukkan kekuatan bom atom.    Contoh-contoh tersebut bagi Oca berasosiasi dengan kekerasan, peperangan, dan upaya pemusnahan manusia. Contoh fisika yang lekat dengan kehidupan sehari-hari dan memiliki kontribusi bagi kehidupan manusia, justru jarang dipaparkan.    Selain itu, kegiatan belajar mengajar kebanyakan hanya diisi dengan menulis rumus di papan tulis. Situasi semacam itu, membuat Oca merasa bosan. “Kayaknya cuma pacaran sama papan tulis saja,” ujarnya tergelak.    Saking bosannya, suatu hari saat guru fisika tidak hadir di kelas ia membolos. Hari itu ada pemutaran film untuk anak sekolah di sebuah bioskop. Oca pergi ke sana untuk menontonnya.    Namun belum sempat menyaksikan film, sebuah pengumuman besar terpampang di layar. 'Rosari Saleh harap keluar ditunggu ayahnya.' Oca kaget. Entah bagaimana caranya, sang ayah mengetahui keberadaannya di bioskop itu.    Oca batal nonton film. Ayahnya langsung mengajaknya pulang, namun tanpa menunjukkan kemarahan. Ayahnya mengerti alasan Oca membolos karena merasa bosan dengan sistem pembelajaran yang monoton di sekolahnya.    Ayahnya kemudian meningkatkan les-les tambahan seperti fisika, kimia, dan matematika bagi Oca. Oca senang belajar di rumah, namun ia semakin bosan belajar di sekolahnya. Alasannya, ketika ada guru yang tidak masuk, pelajaran malah dimajukan. Dirinya yang menempuh SD dan SMP di Regina Pacis Jakarta, yang biasa menerapkan disiplin tinggi itu mengaku kaget. Saat belajar di Regina Pacis, ketika ada guru yang berhalangan hadir maka akan digantikan oleh guru lain. Sementara di SMA nya tidak demikian.    Sebagai upaya survive di SMA nya selama tiga tahun, Oca mengaku sering membolos. Namun bukan untuk tujuan bermain-main. Setiap berhasil kabur dari sekolahnya ia langsung pulang ke rumah. Waktu di rumah dimanfaatkannya untuk membaca buku hingga saat mengikuti les tiba, yakni sore hari.    Walau sering membolos, Oca tak mengecewakan orang tuanya. Nilainya cukup memuaskan. Setamat SMA, ia ikut mendaftar perintis II (pendaftaran masuk ke perguruan tinggi untuk mereka yang memiliki nilai tinggi). Karena ingin tetap dekat dengan orang tuanya, ia mendaftar di Universitas Indonesia dan berhasil diterima.    Masuk UI, ia mengambil jurusan fisika, sebuah pelajaran yang diminatinya sejak SMA dulu. Setahun mempelajari fisika di sana, ia merasakan kebosanan pada lingkungan dan cara dosen mengajar. Menurutnya, bukan rahasia bahwa dosen-dosen di departemen fisika acapkali dianggap garing, kurang humor kalaupun ada, humornya bermuatan rumus fisika yang kering dan tidak mudah difahami oleh disiplin lain.    Saat itu, ia melihat fisika bukanlah suatu disiplin yang populer bagi mahasiswa yang ingin mendapat teman-teman yang 'gaul' dan 'senang mejeng'. Oca menilai, mereka yang mempelajari fisika ataupun ilmu eksak lainnya cenderung introvet, serius, kaku, dan hobi belajar. Sementara dirinya adalah sosok yang hobi jalan, pergi nonton, senang ke café dan juga suka humor. Di fakultasnya ia merasa bagai alien, karena agak berbeda kebiasaan dari teman-temannya.    Tahun kedua belajar fisika di UI, ia berpikir untuk pindah ke fakultas teknik. Namun setiap ujian semester tiba, selalu bersamaan waktunya dengan ujian Sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru). Oca bingung. Ia harus menentukan pilihan. Jurusan apakah yang akan ditekuninya. Pilihan akhirnya tetap pada fisika.    Semangat Oca untuk tetap bertahan pada bidang fisika juga tak lepas dari peran sang ayah. Ia, sering dibelikan buku-buku fisika dari luar negeri untuk keperluan kuliahnya. Dan menurutnya, buku-buku tersebut sangat menarik. Namun karena saking banyaknya pertanyaan yang muncul dalam benaknya, ia bingung harus bertanya ke mana.    Setelah perjuangan yang cukup menyita pikiran, Oca akhirnya berhasil menjadi sarjana fisika dengan nilai yang lumayan bagus. Namun ia tak puas sampai disitu. Ia merasa banyak pertanyaan dalam bidang fisika yang tidak terjawab, ditambah lagi adanya kebosanan pada ilmu yang dipelajarinya, yang menurutnya begitu monoton.    Rasa penasarannya itu, mendorong Oca untuk mendalami disiplin fisika lebih lanjut. Ia meminta ayahnya  menyekolahkannya ke luar negeri. Dengan uang hasil penjualan sebidang tanah di dekat tol Simatupang, berangkatlah ia ke Jerman.     Di Universitas Philipps, Marburg, Jerman dirinya mendalami ilmu fisika. Di tempat itulah, ia mengaku mendapat jawaban-jawaban yang memuaskan. Yang mana mampu membuka matanya akan keindahan fisika, terutama saat dirinya memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai filsafat ilmu tersebut.    Di universitas itu, Oca memilih salah satu cabang ilmu fisika yakni CMMP. CMMP merupakan cabang fisika yang mempelajari sifat-sifat dari sekumpulan besar atom yang membentuk suatu materi, baik sintetik maupun alami. Ia memilih cabang itu karena memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan aplikasinya bagi peningkatan kualitas hidup manusia.    Sepulang dari Jerman, Oca berhasil membawa gelar doktor dan segudang perkembangan pribadi. Terutama cara pandangnya soal ilmu fisika. Ia kini melihat fisika sebagai suatu disiplin yang indah, sangat dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari, sangat kaya dengan berbagai model, dan pola-pola pikir yang dikembangkan sangat berguna untuk diaplikasikan pada kehidupan manusia.    Berbekal pengalaman di Jerman, Oca mulai merintis karir intelektualnya di almamaternya, yakni Universitas Indonesia. Ia memenuhi amanat ayahnya, yang menginginkan dirinya berbakti pada FMIPA UI. Selain sebagai staf pengajar, ia juga aktif dalam lembaga-lembaga penelitian di UI.    Keinginannya bekerja seperti ayahnya, belum lama ini terwujud. Ia didapuk menjadi guru besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sebuah jenjang karir akademik tertinggi di Universitas Indonesia yang berhasil diraihnya dalam usia yang relatif masih muda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5395667786028167518?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5395667786028167518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5395667786028167518' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5395667786028167518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5395667786028167518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/05/mengenal-prof-dr-rosari-saleh-ibu-oca.html' title='Mengenal Prof. Dr. Rosari Saleh (Ibu Oca)'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7173071474440254506</id><published>2008-04-19T21:10:00.000-07:00</published><updated>2008-04-19T21:14:45.526-07:00</updated><title type='text'>kenapa riset saya tentang ZnO</title><content type='html'>Disini saya membuat tulisan singkat tentang riset yang sedang saya lakukan. Just for practise :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Iwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZnO has long been used in many applications such as food additive, cream to protect sunburn, rubber manufacturer, etc. Even though, ZnO has considered as semiconductor. The semicoconductor properties of ZnO have been studied since a long time ago. Based on semiconductor properties ZnO also has many wide applications such as piezoelectric transducers, optical waveguides, acoustic optic media, conductive gas sensors, transparent conductive electrodes, and varistor[1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nowadays ZnO has become promising candidate for application related to optoelectronics devices.  These potential applications have improved research related to the growth of high quality ZnO thin films by a lot of different techniques, such as chemical vapour deposition (CVD), vapour phase transport (VPT), sputtering, molecular beam epitaxy (MBE), pulsed laser deposition (PLD), metal organic chemical vapor deposition (MOCVD), etc.  Among of theses, Sputtering, PLD, MBE, and MOCVD are the most common in used for producing thin film and structure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instead of ZnO has simpler technology to growth the crystal and very unique properties for optoelectronic applications with the wide band gap (3.37eV) and large exciton binding energy (60 meV). It was also expected low cost production compared to GaN (GaN is one of III-V semiconductor common used in optoelectronic applications). However, ZnO is n type semiconductor which is hard be doped to become p type.  This property called asymmetric properties semiconductor. In order to realize p type ZnO, various growth techniques and various dopant elements (N, P, As, etc) was reported in paper. Some of papers claimed have produced p type ZnO. Indeed, some of researchers doubt that p type of ZnO really stable. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In order to overcome this problem and to control the material properties, a clear understanding of physical processes (epitaxial growth, deposition, sputtering, etc) in ZnO is needed. It is useful in addition to obtaining low n-type background and realizes p type semiconductor of ZnO. In spite of many decades of investigations, some of the basic properties of ZnO still remain unclear. For example, the nature of the residual n-type conductivity in undoped ZnO films, whether being due to impurities of some native defect or defects, is still debatable. Some authors assign the residual background to intrinsic defects oxygen vacancies and interstitial zinc atoms[2], and others to non-controllable hydrogen impurities introduced during growth[3].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7173071474440254506?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7173071474440254506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7173071474440254506' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7173071474440254506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7173071474440254506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/04/kenapa-riset-saya-tentang-zno.html' title='kenapa riset saya tentang ZnO'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8503140228516094000</id><published>2008-04-19T11:00:00.000-07:00</published><updated>2008-04-19T21:08:34.211-07:00</updated><title type='text'>Catetan minggu dinihari...</title><content type='html'>Minggu, 20 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kesibukan saya tidak terlalu istimewa. Everything just going on as usual. After lunch time I went to my office and back home around 5 pm. I back home because I have scheduled to play badminton with my friend (Tommy and his wife). We were playing very energetic and joyful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya dan Tommy adalah flatmate. Tommy and his wife are nice couple. Ohya, satu lagi my flatmate is Tanh. He is come from the same country with Tommy's family, they are from Vietnam. Between us Tanh is the older one. He hase more experience and always good advice by telling us frankly and friendly. We are living in the same apartment since on beginning of March 2008. We are living like family, we always share each other frankly. Fortunately, just 5 hours ago, Tanh got very good news from Vietnam. His family informed him that his wife burst his first daughter with 2.7 kg of her weight. It was make us happy now. And we were organizing small gathering by eating and drink together. As friend I wish your daughter to become agood woman and can realizing what Tanh's family aspire in the future. Congrats Tanh......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Due to that I just think more and more about how old am I. Just a week ago my beloved teacher passed away then just now Tanh daughter was born. Both of the condition were make me think that so many things happened during my whole life. My life is quite dynamic. Love, hate, friendship, etc mixing together during I make relationship with others. I learned about human character from what they did or what they respon to my act. Dari situlah I always trying to improve my self understanding to facing such kind of problems. It can be painful or happy ending at last but we should try stand up by wisely and think positively.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8503140228516094000?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8503140228516094000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8503140228516094000' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8503140228516094000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8503140228516094000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/04/catetan-minggu-dinihari.html' title='Catetan minggu dinihari...'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-3996620439954563148</id><published>2008-04-19T10:49:00.000-07:00</published><updated>2008-04-19T10:58:58.722-07:00</updated><title type='text'>Karya dari sahabatku</title><content type='html'>Friend,....sometime I just think who is trully friend. Based on my experience, friendship just depend on the interest. After everything done friendship also gone. Teribble, so in this case as human being which has some feeling and heart I will appreciate all my closed friend who already filled my life.  Closed friend is not depend on the interest or such kind of happines condition but further they can accompany us whatever the case. Its meant that they can felt what we feel as well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here I attached the poetry which is written by my friend, please enjoy for reading it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Biasku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tuhan aku tak mampu memilih&lt;br /&gt;Lautan hasrat begitu luas&lt;br /&gt;Entahlah…&lt;br /&gt;Hingga tak bisa cepat kupahami&lt;br /&gt;Aku di kejar kereta..tapi aku tertinggal bis jemputan&lt;br /&gt;Tuhan aku tak mampu memilih&lt;br /&gt;Menjadi bijak adalah beban yang tak mudah dipikul&lt;br /&gt;Menjadi egois…begitu susah aku lekatkan&lt;br /&gt;Tak kupingkiri inilah jalan yang tertentukan&lt;br /&gt;Dan hanya ku buka mataku sedikit&lt;br /&gt;Bukan karena aku mau…tapi begitu lelah bergulat dengan paradigma&lt;br /&gt;Secuil bumbu rujak pedas aku oles dengan mangga&lt;br /&gt;Mampu memberikan stimulan khusus&lt;br /&gt;Mataku tertriger dengan ganas&lt;br /&gt;Sarafku kejang membara&lt;br /&gt;Sepertinya akan kuterjang badai dan kulewati aral semuanya&lt;br /&gt;Secercah embun pagi menempel pada ubun-ubun kepalaku&lt;br /&gt;Kuhirup udara tanpa dosa&lt;br /&gt;Dalam dan dalam lagi&lt;br /&gt;Paru-paruku berterima kasih padaku&lt;br /&gt;Dan aku berterima kasih pada-Nya&lt;br /&gt;Jikalau tak ada lagi jantung berdetak&lt;br /&gt;Si paru-paru menangis kehilangan sanak&lt;br /&gt;Dan lenyap terbawa keheningan jantung&lt;br /&gt;Dan masa itu aku tak bisa berbuat lagi&lt;br /&gt;Akankah aku diam…tidak membingkainya dengan baik?&lt;br /&gt;Tuhan…telah aku lewati puluhan yang kedua begitu saja&lt;br /&gt;Hampir saja aku tak menatap matahari&lt;br /&gt;Karena aku terlampau sibuk akan gelapnya kemarin&lt;br /&gt;Mencerca hari ini&lt;br /&gt;Melambai masa lampau&lt;br /&gt;Membuat buih-buih yang tak ada guna&lt;br /&gt;Hanya meraba dan ketakutan akan asa&lt;br /&gt;Jiwa…sampai detik ini aku belum mengenal sepenuhnya dirimu&lt;br /&gt;Akankah engkau tak mau kenal denganku?&lt;br /&gt;Raga…maafkan ketika aku selipkan beban-beban padamu&lt;br /&gt;Kebodohanku..membuat keniscayaan selalu menghantui&lt;br /&gt;Dan kini hanya diam&lt;br /&gt;Bukan membisu kawan…&lt;br /&gt;Hanya jeda yang terlalu lama dibiarkan&lt;br /&gt;Entahlah sampai kapan….&lt;br /&gt;Dusunku bilang “ Jangan kau maki dirimu,&lt;br /&gt;Ijinkan dirimu merendam dalam air bening,&lt;br /&gt;Menatapi ilmu air yang menakjubkan,&lt;br /&gt;Menuai hasil resapan air pada ubun-ubunmu&lt;br /&gt;Dan kau keluar…itulah lembaran baru semangatmu...”&lt;br /&gt;Tuhan..gandenglah aku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arrumy&lt;br /&gt;Cilegon 20 April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-3996620439954563148?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/3996620439954563148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=3996620439954563148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3996620439954563148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/3996620439954563148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/04/karya-dari-sahabatku.html' title='Karya dari sahabatku'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7202844286491677342</id><published>2008-04-14T08:17:00.000-07:00</published><updated>2008-04-15T08:34:46.874-07:00</updated><title type='text'>Kenangan : (Pak Rachmat (ALM)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip olehAsy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297), &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup."&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepergian Dr. Rachmat W Adi kehadapan sang khalik membawa arti tersendiri bagi saya yang menganggap beliau tidak hanya sebagai guru. Dimata saya beliau adalah pahlawan tanpa tanda jasa untuk bangsa Indonesia. Berkat beliau banyak tunas2 muda Fisikawan Indonesia terutama yang ada lingkungan departemen Fisika UI termotivasi dan bangun dari tidurnya. Beliau mampu memberikan warna yang berbeda dalam memberikan pandangan, sikap agresif beliau dalam menatap persoalan ibarat pencover sikap pasif plegmatis sebagian generasi muda Fisika(tentu yang ada di lingkungan Fisika UI).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tulisan ini saya ingin berbagi sedikit kenangan bersama beliau tatkala saya aktif di Departemen Fisika UI yang saya rekam dari tahun 2004-2007. Tahun sebelumnya, hubungan saya dengan beliau hanya sebatas dosen dan mahasiswa. Kebtulan dulu sewaktu saya undergraduate beliau adalah dosen mata kuliah Medan Elektromagnetik. Berikut kenangan saya dengan beliau:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tahun 2005, tepatnya bulan akhir bulan September 2005 ketika saya baru lulus program post graduate Diploma Condensed Matter Physics ICTP, saya bingung mau melakukan apa. Ketika itu saya tidak punya penghasilan, yah mungkin resiko orang yang baru pulang studi dari LN. Kebetulan sejak keberangkatan saya ke Italia saya kenal dekat dengan sosok dosen yang terkenal bicara apa adanya, berani mengkritik secara tegas(dimata saya krtikan beliau tulus dan fair tidak ada rasa dendam), dan selalu memotivasi dosen muda. Tak jarang beliau menkoreksi langsung surat atau aplication form yang sedang saya buat. Dengan tulus pula beliau mencoret dan membetulkan beberapa kalimat dan menambahkannya di letter of motivation yang saya buat(baik ketika apply untuk program post Diploma dan PhD).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kembali ke kisah bulan September 2005, saat itu saya ngobrol dengan Pak Rachmat. Maklumlah beliau tahu bahwa saat itu saya baru pulang dan saya sering cuma nongkrong tidak jelas di teras Departemen Fisika UI. Nah ketika ngobrol dengan beliau saya ditanya kegiatan saya dan apa yang saya dapat dari ICTP. Singkat cerita saya menceritakan bahwa program post Diploma ICTP adalah program yang sangat membantu saya dalam memahami teori Fisika Condensed Matter dan aplikasinya. Hingga akhirnya saya curhat dengan beliau karena saya tidak punya honor alias bokek. Nah dengan kemurahan beliau dan rasa aware yang beliau berikan saya akhirnya terlibat dalam kegiatan penjurian sains di daerah Jakarta Barat yang dilaksanakan di sebuah Mall. Dari kegiatan itulah akhirnya saya bisa mendapatkan penghasilan sejak awal kepulangan saya dari Itali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenangan lainnya adalah ketika Pak Rachmat mampir ke rumah orang tua saya di Serang Banten salah satu sifat beliau adalah mudah akrab dengan orang. Orang tua saya pun senang mendengar cerita beliau yang sangat antusias menceritakan perkembangan Fisika dan pendidikan sains. Ketika jamuan makan siang yang sudah disiapkan oleh Ibu saya, Bapak saya dan Ibu merasa senang sekali karena Pak Rachmat memuji sayur asem buatan Ibu. Dengan tak segan beliau menyantap hidangan orang tua saya dengan penuh semangat bahkan menambah satu piring lagi. Dari hubungan itu pulalah hubungan saya dengan beliau makin baik bahkan beliau sering sekali memberikan masukan bila saya membutuhkan tukar pikiran baik tentang rencana studi saya, status saya di UI, beberapa kerjaan tertentu, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kenangan tersebut banyak kenangan lain bersama Pak Rachmat yang telah saya alami, diantaranya : membantu beliau menyiapkan soal-soal pembinaan OSN bidang astronomi dan Fisika tingkat DKI, mendampingi beliau ketika beliau menjadi keynote speaker di seminar pendidikan sewilayah Banten di Cilegon, bersama-sama hadir dalam undangan Kepala KANWIL DEPAG Banten dalam rangka penjajakan kerjasama bidang pendidikan antara FMIPA UI dan DEPAG Banten 2006, membantu beliau di puskom FMIPA UI untuk beberapa kali event, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sekelumit kenangan saya bersama Pak Rachmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai informasi tentang beliau di bawah ini saya menuliskan riwayat pendidikan Dr. Rachmat W. Adi (alm) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan :&lt;br /&gt;Fisika FMIPA-UI 1984&lt;br /&gt;Physics Tufts Univ. 1986&lt;br /&gt;Dept. of Physics Tufts Univ., USA 1991&lt;br /&gt;Universite Paul Sabatier, Toulouse 2000&lt;br /&gt;Aktifitas :Himpunan Fisika Indonesia (no. 1018594540)&lt;br /&gt;Ketua HFICabang Jakarta (2000 - saat ini)&lt;br /&gt;Pengasuh TOFI dalam beberapa tahun terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga :&lt;br /&gt;Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, perempuan dan laki-laki (usia SMP dan SD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Pak Rachmat, amal jariyah yang sudah kau berikan kepada kami akan menjadi teman sejatimu di pangkuan sang Khalik... amiin. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7202844286491677342?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7202844286491677342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7202844286491677342' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7202844286491677342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7202844286491677342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/04/kenangan-pak-rachmat-alm.html' title='Kenangan : (Pak Rachmat (ALM)'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-855958899133229852</id><published>2008-04-13T22:26:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T22:38:24.800-07:00</updated><title type='text'>Petuah R. Ng. Ronggowarsito</title><content type='html'>PUJANGGA R. Ng. Ronggowarsito&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERAT KALATIDA&lt;br /&gt;Sinom&lt;br /&gt;1. Mangkya darajating prajaKawuryan wus sunyaturiRurah pangrehing ukaraKarana tanpa palupiAtilar silastutiSujana sarjana keluKalulun kala tidaTidhem tandhaning dumadiArdayengrat dene karoban rubeda&lt;br /&gt;(Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi.Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan).Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ratune ratu utamaPatihe patih linuwihPra nayaka tyas raharjaPanekare becik-becikParanedene tan dadiPaliyasing Kala BenduMandar mangkin andadraRubeda angrebediBeda-beda ardaning wong saknegara&lt;br /&gt;(Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik,namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.Oleh karena daya jaman Kala Bendu.Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.Lain orang lain pikiran dan maksudnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Katetangi tangisiraSira sang paramengkawiKawileting tyas duhkitaKatamen ing ren wirangiDening upaya sandiSumaruna angrawungMangimur manuharaMet pamrih melik pakolihTemah suka ing karsa tanpa wiweka&lt;br /&gt;(Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibursehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Dasar karoban pawartaBebaratun ujar lamisPinudya dadya pangarsaWekasan malah kawuriYan pinikir sayektiMundhak apa aneng ngayunAndhedher kaluputanSiniraman banyu laliLamun tuwuh dadi kekembanging beka&lt;br /&gt;(Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ujaring panitisastraAwewarah asung pelingIng jaman keneng musibatWong ambeg jatmika kontitMengkono yen niteniPedah apa amituhuPawarta lolawaraMundhuk angreranta atiAngurbaya angiket cariteng kuna&lt;br /&gt;(Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai.Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Keni kinarta darsanaPanglimbang ala lan becikSayekti akeh kewalaLelakon kang dadi tamsilMasalahing ngauripWahaninira tinemuTemahan anarimaMupus pepesthening takdirPuluh-Puluh anglakoni kaelokan&lt;br /&gt;(Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya "nrima"dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Amenangi jaman edanEwuh aya ing pambudiMilu edan nora tahanYen tan milu anglakoniBoya kaduman melikKaliren wekasanipunNdilalah karsa AllahBegja-begjane kang laliLuwih begja kang eling lawan waspada&lt;br /&gt;(Hidup didalam jaman edan, memang repot.Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jamantidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Semono iku bebasanPadu-padune kepenginEnggih mekoten man DoblangBener ingkang angaraniNanging sajroning batinSejatine nyamut-nyamutWis tuwa arep apaMuhung mahas ing asepiSupayantuk pangaksamaning Hyang Suksma&lt;br /&gt;(Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Beda lan kang wus santosaKinarilah ing Hyang WidhiSatiba malanganeyaTan susah ngupaya kasilSaking mangunah praptiPangeran paring pitulungMarga samaning titahRupa sabarang pakolihParandene maksih taberi ikhtiyar&lt;br /&gt;(Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.Bagaimanapun nasibnya selalu baik.Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.Namun demikian masih juga berikhtiar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Sakadare linakonanMung tumindak mara atiAngger tan dadi prakaraKarana riwayat muniIkhtiyar iku yektiPamilihing reh rahayuSinambi budidayaKanthi awas lawan elingKanti kaesthi antuka parmaning Suksma&lt;br /&gt;(Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan.Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar,hanya harus memilih jalan yang baik.Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas danwaspada agar mendapat rakhmat Tuhan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ya Allah ya RasulullahKang sipat murah lan asihMugi-mugi aparingaPitulung ingkang martaniIng alam awal akhirDumununging gesang ulunMangkya sampun awredhaIng wekasan kadi pundiMula mugi wontena pitulung Tuwan&lt;br /&gt;(Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini.Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Sageda sabar santosaMati sajroning ngauripKalis ing reh arurahaMurka angkara sumingkirTarlen meleng malat sihSanityaseng tyas mematuhBadharing sapudhendhaAntuk mayar sawetawisBoRONG angGA saWARga meSI marTA&lt;br /&gt;(yaMudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,seolah-olah dapat mati didalam hidup.Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya.Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga bermanfaat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-855958899133229852?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/855958899133229852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=855958899133229852' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/855958899133229852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/855958899133229852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/04/petuah-r-ng-ronggowarsito.html' title='Petuah R. Ng. Ronggowarsito'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8113940411371560421</id><published>2008-04-13T18:09:00.001-07:00</published><updated>2008-04-13T18:17:49.140-07:00</updated><title type='text'>Renungan sebuah arti tobat</title><content type='html'>Entah kenapa sejak meninggalnya Dr. Rachmat W Adi, saya merasa begitu kehilangan salah satu orang yang saya hormati. Begitu dalam arti itu, hingga sejak saya mendengar kabar meninggalnya beliau saya ingat begitu banyak dosa telah saya perbuat. Pagi ini saya berpikir akan makna sebuah tobat, karena saya merasakan bahwa apa yang pernah saya tobatkan masih saja terulang dan terulang lagi. Ada rasa penyesalan namun seringkali iman saya tak mampu berpaling dari perbuatan dosa tersebut. Tidak perlu saya jelaskan dosa apa saja yang telah saya perbuat, hanya saya dan Tuhan (Allah)-lah yang tahu. Namun demikian sebagai insan muslim saya memiliki niat suci ingin menjadi sosok manusia baik yang ihlas dalam menghadapi segala masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini saya kutipkan renungan tobat yang sangat bermanfaat. Selamat menikmati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di copy dari : &lt;a href="http://www.fajar.co.id/kolom/print.php?newsid=810"&gt;http://www.fajar.co.id/kolom/print.php?newsid=810&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makna Istigfar dan Tobat &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(05 Mar 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masa kanak-kanak saya hingga saya dewasa, saya sering sekali menyaksikan seseorang menyuruh orang lain untuk mengucapkan kalimat “istighfar” yaitu: astaghfirulloohal ‘adhiim’, dan juga sangat banyak fenomena orang-orang tertentu ketika mengalami suatu kejadian yang di luar hal yang rutinnya, mengucapkan kalimat “istighfar” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah dengan sekadar mengucapkan kalimat “istighfar” tadi sudah berarti orang yang mengucapkannya telah melakukan “tobat”, tegasnya “tobat nasuha”? Menurut keyakinan saya, pertobatan tidak sekadar mengucapkan kalimat “istighfar”, meskipun diucapkannya ribuan atau puluhan ribu kali dalam sehari.Pernyataan “tobat” tidak sekadar mengucapkan kalimat “istighfar”, melainkan harus disertai kesadaran penuh dari orang tersebut, bahwa perbuatan yang telah dilakukannya memang adalah perbuatan salah, dan orang itu benar-benar sampai di lubuk hati dan kesadarannya yang terdalam, menyesali perbuatan dosa yang di-“istighfar”-kannya tadi dan bertekad dengan sepenuh-penuh hati “tidak akan mengulangi perbuatan jahat atau dosa” yang telah dilakukannya. Belum cukup sampai di situ saja, melainkan masih harus dilanjutkan dengan “menindih”dosa-dosanya dengan perbuatan baik. Bersedekah sebanyak-banyaknya, itu salah satu contoh.Bukankah Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kalian menindih atau mengikutkan dengan perbuatan-perbuatan baik lagi indah terhadap perbuatan-perbuatan jahat, barulah perbuatan-perbuatan jahat yang pernah kalian lakukan, akan terhapus dengan perbuatan baik, dan hendaklah kalian berakhlak mulia dalam kehidupan sosial kalian”.Allah swt (dalam Alquran 13:22): “..... menolak kejahatan dengan kebaikan, bagi mereka itu tempat akhir yang baik”. Demikian juga Firman Allah swt (dalam Alquran 3 : 135): “Dan juga orang-orang yang jika telah berbuat keji atau zalim terhadap dirinya (melakukan perbuatan dosa), mereka lalu mengingat kepada Allah, dan memohon ampun atas dosa-dosanya.... Dan (asalkan) mereka tidak mengulangi lagi (meneruskan) perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui”.Dengan demikian, “tobat” itu maknanya berjanji kepada Allah untuk memperbaiki dosa-dosa yang pernah dilakukannya, dan tidak akan mengulanginya lagi, dan akan menggantikan perbuatan dosa dengan lebih banyak dan lebih banyak perbuatan baik.Dengan demikian, juga bagi batin orang bersangkutan, secara psikologis jika dosanya diyakininya telah diampuni Allah (dengan memenuhi syarat “tobat” di atas), berarti efek-efek negatif dari dosa yang pernah dilakukannya itu,telah lenyap dan tidak berpengaruh lagi pada hati dan jiwanya, karena telah terhapus oleh efek-efek positif dari perbuatan-perbuatan baik yang kemudian dilakukannya menggantikan dan “menindih” semua perbuatan dosanya.Salah kaprah besar tentang makna “tobat” dan “istighfar”, jika seseorang setiap tahunnya melakukan umroh ke Tanah Suci, yaitu konon “pergi” meminta pengampunan Allah swt (yang sebenarnya Allah swt itu tidak memiliki “tempat” tertentu, karena Allah swt bukan “makhluk” yang terikat dengan waktu dan tempat, Allah swt itu ada di mana-mana, bahkan lebih dekat ketimbang urat leher kita sendiri), tetapi yang setiap kembali dari “umroh”, orang itu mengulangi perbuatan dosanya, dengan keyakinan, toh, tahun depan dia bisa ke Tanah Suci lagi untuk ber”umroh”.Sungguh Allah swt akan sangat murka terhadap orang yang mencoba “menipu” Allah swt dengan berpura-pura “tobat”, padahal di lubuk hati dan kesadarannya yang terdalam, tetap terselip niat untuk mengulangi kejahatannya. Yang dimaksud “istighfar” dalam Alquran (99: 7-8 dan 101 : 6-11) hanyalah “istighfar” yang dilakukan dengan kesadaran dan tekad penuh seluruh jiwa raga, bukan sekadar ucapan mulut belaka. Allah swt mustahil bisa dikelabui dengan tobat sandiwara, sesuai firmanNya: “Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Batin, dan Dia maha mengetahui segala sesuatu (QS, al-Hadid : 3)”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8113940411371560421?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8113940411371560421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8113940411371560421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8113940411371560421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8113940411371560421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/04/renungan-sebuah-arti-tobat.html' title='Renungan sebuah arti tobat'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5211620929566307262</id><published>2008-04-13T07:54:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T08:12:34.266-07:00</updated><title type='text'>Selamat jalan Dr. Rachmat W Adi</title><content type='html'>Inna lillahi wa'innailaihi rojiun.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 13 April 2008, jam 10 malam ketika saya baru menyalakan handphone setelah sejak sore dicharcge saya dikejutkan oleh sms yang masuk dari bebrapa dosen saya, teman dan sahabat saya. Isi SMS tersebut menyatakan bahwa Bapak Dr. Rachmat W Adi telah meninggal dunia pada hari Minggu pagi tanggal 13 April 2008. Dari info yang diperoleh, beliau meninggal ketika sedang menyirami tanaman di pagi hari, dan mendadak terkena serang jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rachmat adalah dosen dan guru saya, beliau adalah penyemangat diri saya yang secara tulus mendorong saya untuk bisa studi di luar negeri. Ketika saya akan studi Diploma di ICTP beliaulah yang memperbaiki bahasa Inggris untuk pengisian application form. Ketika saya melanjutkan studi PhD di NTU beliaulah yang membantu saya dalam korespondensi dengan Profesor. Kenangan lain yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika membantu beliau melatih tim TOFI. Ketika itu saya bersama beliau naik motor bareng. Pengalaman lain adalah ketika ada undangan seminar yang diadakan oleh Diknas Banten. Saat itu beliau adalah keynote speaker di seminar tersebut. Kita berangkat bareng dari Depok, dan beliau mengajarkan saya bagaimana menyupir mobil yang irit maklumlah harga BBM mahal dan beliau menyarankan bahwa kita harus bisa menyiasati hidup dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata  secara pribadi saya masih berhutang budi dengan beliau, jasa beliau, kebaikan dan semua yang telah beliau curahkan merupakan amal jariyah yang tak terputus. Semoga dengan sukses yang Insya Allah bisa saya raih dapat membalas hutang budi saya kepada Bapak. Dan menjadikan amal jariyah yang menjadi bekal dan teman sejati Bapak di alam baka....amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Pak.....maafkan dosa2 saya baik yang saya sengaja maupun tidak.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wasalam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan Sugihartono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5211620929566307262?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5211620929566307262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5211620929566307262' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5211620929566307262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5211620929566307262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/04/selamat-jalan-dr-rachmat-w-adi.html' title='Selamat jalan Dr. Rachmat W Adi'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8850065025351756535</id><published>2008-03-07T08:19:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T08:43:17.176-08:00</updated><title type='text'>Pengelompokan sumber beasiswa ke luar negeri</title><content type='html'>Informasi yang dituliskan oleh Bapak Ahmad Syamil, saya kira sangat bermanfaat bagi teman-teman yang ingin mempelajari jenis beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Sebagai informasi pembuka, pengalaman saya studi di Singapore termasuk kategori group 3 yang oleh Bapak Ahmad Syamil definisikan. Memang benar adanya bahwa untuk mendapatkan beasiswa group 3 ini mungkin diperlukan pengorbanan untuk memiliki nilai TOEFL, GRE, atau GMAT yang baik. Lebih jelasnya mungkin teman-teman bisa membaca artikel beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Ahmad Syamil (Arkansas State University&lt;a title="http://www.clt.astate.edu/asyamil/" href="http://www.clt.astate.edu/asyamil/"&gt;http://www.clt.astate.edu/asyamil/&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber beasiswa itu untuk sekolah di luar negeri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon bantuannya untuk mem forward ke teman/milis Indonesia lainnya.&lt;br /&gt;Sumber beasiswa itu untuk sekolah di luar negeri itu cukup banyak tapi setidaknya bisa dikelompokkan ke 3 group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Group 1: Beasiswa dari lembaga pemberi beasiswa baik untuk berasal dari pemerintah atau non pemerintah misalnya Council for International Exchangeof Scholars (CIES), Sampoerna, dll. Lamaran ditujukan ke lembaga pemberi beasiswa itu atau melalui organisasi yang ditunjuk oleh lembaga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Group 2: Beasiswa dari tempat kita bekerja, misalnya PLN, Bank Indonesia,dll. Sebelum krismon lebih banyak lagi lembaga pemerintah yang memberikan beasiswa dengan ikatan dinas (tugas belajar). Banyak juga beasiswa itu yangasalnya berasal dari dana atau hutang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Group 3: Beasiswa langsung dari sekolah di luar negeri.&lt;br /&gt;Orang Indonesia umumnya mencari beasiswa melalui group 1 dan 2. Masih sedikit yang mencari beasiswa langsung dari sekolah yang dituju (group 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, banyak sekolah di luar negeri khususnya di Amerika yang memberikan beasiswa dalam bentuk teaching assistantship (TA) ataupun research assistanship (RA) asalkanAnda memiliki nilai TOEFL (Test of English as aForeign Language), GMAT (Graduate Management Admissions Test), atau GRE(Graduate Record Examination) yang tinggi. Sayangnya, nilai TOEFL, GMAT, danGRE orang Indonesia biasanya lebih rendah dari pada nilai orang India dan China sehingga sedikit orang Indonesia yang mendapat beasiswa langsung dari sekolah di luar negeri.&lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena rendahnya kemampuan orang Indonesia berbahasaInggris. Karena itu untuk membantu teman-teman belajar bahasa Inggris secaracepat dan mendapat beasiswa, saya susun cara belajar TOEFL, GMAT dan hal-hal lain tentang belajar ke luar negeri susunan saya sepanjang 37halaman yang bisa didapat gratis dengan mengirim email ke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:Free-English-Course-subscribe@yahoogroups.com"&gt;Free-English-Course-subscribe@yahoogroups.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="http://groups.yahoo.com/group/free-english-course/" href="http://groups.yahoo.com/group/free-english-course/"&gt;http://groups.yahoo.com/group/free-english-course/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita majukan SDM Indonesia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8850065025351756535?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8850065025351756535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8850065025351756535' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8850065025351756535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8850065025351756535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/03/pengelompokan-sumber-beasiswa-ke-luar.html' title='Pengelompokan sumber beasiswa ke luar negeri'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5561003982663465004</id><published>2008-02-15T04:54:00.000-08:00</published><updated>2008-03-31T10:53:15.933-07:00</updated><title type='text'>ZnO nanogenerator II (lanjutan dari tulisan sebelumnya)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bagaimana listrik dihasilkan dari nano wire&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Iwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Zhong Lin Wang dari Georgia Tech mengilustrasikan bahwa bila kita berjalan kaki, kita dapat menghasilkan daya 67 watt, gerakan jari2 kita menghsilkan 0.1 watt, pernapasan kita 1 watt. Nah bila kita mampu mengkonversikan fraksi dari daya tersebut, maka tubuh kita mampu menjadi sumber daya untuk sebuah divais. Secara konseptual lanjut Prof Zhong Lin Wang, dia mampu mendemostrasikan konversi daya yang mungkin untuk sebuah divais mencapai 17-30 persen dari total daya yang dihasilkan oleh tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari penelitian di grup riset Prof Zhong Lin Wang dapat mengkonfirmasi sebuah teori bahwa: ZnO nanowire akan menunjukkan efek piezoelektrik yang sangat baik, yaitu menghasilkan sifat listrik dari respon tekanan mekanik. Biasanya muatan negative dan positif dari ion Zinc dan Oksigen di dalam kristal ZnO nanowire saling meniadakan. Namun ketika wire secara kimiawi tumbuh di permukaan elektroda, wire tersebut membengkok akibat adanya vibrasi external dari tip yang berskala nano. Tip tersebut adalah tip dari atomic force microscopy (AFM) yang terbuat dari bahan Si yang dilapisi oleh Pt. Pembengkokan dari ZnO nanowire menyebabkan terjadinya dipol listrik di dalam nanowire. Pada bagian yang mengalami kompresi bermuatan negatif sedangkan bagian yang terekpansi bermuatan positif. Hal itu disebabkan Zn2+ dan pole negatif akibat dari O-2. Maka dengan adanya kontak metal semikonduktor mengakibatkan adanya Schotcky barrier rectifyng dimana kontak antara tip AFM dengan pole yang bermuatan positif berlaku seperti forward bias sebaliknya tip AFM dengan pole negatif berlaku seperti reverse bias. Pada keadaan forward bias elektron akan mudah mengalir ke metal sebaliknya pada reverse bias elektron akan mengalami kesulitan. Fenomena itu dapat dilukiskan oleh grafik hubungan antara tegangan dan arus pada dioda, sedangkan mekanisme tranport-nya dapat diilustrasikan secara mudah dengan melihat diagram energi antara metal dan semikonduktor. Sebagai ilustrasi dari fenomena dihasilkannya arus listrik pada ZnO nanowire dapat di lihat pada gambar 2 dan 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2. Nanowire dari ZnO yang mengkonversi energy mekanik menjadi listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 3. Para peneliti menggunakan tip atomic force microscope (AFM) yang berbentuk&lt;br /&gt;segitiga untuk mengaplikasikan gaya ke nanowire dan tegangan dapat diukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Zhong Lin Wang menjelaskan pula bahwa, meskipun secara individual nanowire menghasilkan sebuah daya yang kecil, dengan banyaknya nanowire secara simultan akan menghasilkan jumlah daya yang besar. Beliau juga menjelaskan bahwa energi dari nanowire yang dikembangkan di laboratoriumnya disinyalir memiliki cukup energi untuk menjalankan implant medis berukuran kecil. Contoh dari implant tersebut adalah implant dari sensor gula darah di bawah permukaan kulit.&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa perkembangan nanoteknoloi saat ini, tidak terbayangkan bila hal itu terwujud maka dalam kurun waktu 5 tahun lagi dimungkinkan kita dapat mengcharge ipod melalui sepatu kita yang sudah difasilitasi dengan sumber listrik dari ZnO nanogenerator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber gambar :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;http://www.sciencemag.org/cgi/search?src=hw&amp;amp;site_area=sci&amp;amp;fulltext=nanogenerator&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5561003982663465004?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5561003982663465004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5561003982663465004' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5561003982663465004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5561003982663465004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/02/zno-nanogenrator-ii.html' title='ZnO nanogenerator II (lanjutan dari tulisan sebelumnya)'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1166631399671099926</id><published>2008-02-14T09:12:00.000-08:00</published><updated>2008-02-14T09:19:53.593-08:00</updated><title type='text'>Analog-Digital. What’s the Difference?</title><content type='html'>Perhaps this article is useful for people who want to know at glance the different between analog and digital system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;taken from : &lt;a href="http://telecom.hellodirect.com/docs/"&gt;http://telecom.hellodirect.com/docs/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Paul Wotel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analog phone lines. Analog signals. Digital security. Digital PBX. Analog-to-digital adapters. What does it all mean? In the telecom world, understanding analog versus digital isn't as simple as comparing one technology to another. It depends on what product—and in some cases, which product feature—you happen to be talking about.&lt;br /&gt;Analog at a glanceAs a technology, analog is the process of taking an audio or video signal (in most cases, the human voice) and translating it into electronic pulses. Digital on the other hand is breaking the signal into a binary format where the audio or video data is represented by a series of "1"s and "0"s. Simple enough when it's the device—analog or digital phone, fax, modem, or likewise—that does all the converting for you.&lt;br /&gt;Is one technology better than the other? Analog technology has been around for decades. It's not that complicated a concept and it's fairly inexpensive to use. That's why we can buy a $20 telephone or watch a few TV stations with the use of a well-placed antenna. The trouble is, analog signals have size limitations as to how much data they can carry. So with our $20 phones and inexpensive TVs, we only get so much.&lt;br /&gt;Enter digital The newer of the two, digital technology breaks your voice (or television) signal into binary code—a series of 1s and 0s—transfers it to the other end where another device (phone, modem or TV) takes all the numbers and reassembles them into the original signal. The beauty of digital is that it knows what it should be when it reaches the end of the transmission. That way, it can correct any errors that may have occurred in the data transfer. What does all that mean to you? Clarity. In most cases, you'll get distortion-free conversations and clearer TV pictures.&lt;br /&gt;You'll get more, too. The nature of digital technology allows it to cram lots of those 1s and 0s together into the same space an analog signal uses. Like your button-rich phone at work or your 200-plus digital cable service, that means more features can be crammed into the digital signal.&lt;br /&gt;Compare your simple home phone with the one you may have at the office. At home you have mute, redial, and maybe a few speed-dial buttons. Your phone at work is loaded with function keys, call transfer buttons, and even voice mail. Now, before audiophiles start yelling at me through their PC screens, yes, analog can deliver better sound quality than digital…for now. Digital offers better clarity, but analog gives you richer quality.&lt;br /&gt;But like any new technology, digital has a few shortcomings. Since devices are constantly translating, coding, and reassembling your voice, you won't get the same rich sound quality as you do with analog. And for now, digital is still relatively expensive. But slowly, digital—like the VCR or the CD—is coming down in cost and coming out in everything from cell phones to satellite dishes.&lt;br /&gt;When you're shopping in the telecom world, you often see products touted as "all digital." Or warnings such as "analog lines only." What does it mean? The basic analog and digital technologies vary a bit in definition depending on how they're implemented. Read on.&lt;br /&gt;Phone lines Analog lines, also referred to as &lt;a class="glossaryWord" onclick="popMe('POTS')" href="http://telecom.hellodirect.com/docs/Tutorials/AnalogVsDigital.1.051501.asp#pots" name="pots"&gt;POTS&lt;/a&gt; (Plain Old Telephone Service), support standard phones, fax machines, and modems. These are the lines typically found in your home or small office. Digital lines are found in large, corporate phone systems.&lt;br /&gt;How do you tell if the phone line is analog or digital? Look at the back of the telephone connected to it. If you see "complies with part 68, FCC Rules" and a Ringer Equivalence Number (&lt;a class="glossaryWord" onclick="popMe('REN')" href="http://telecom.hellodirect.com/docs/Tutorials/AnalogVsDigital.1.051501.asp#ren" name="ren"&gt;REN&lt;/a&gt;), then the phone and the line are analog. Also, look at the phone's dialpad. Are there multiple function keys? Do you need to dial "9" for an outside line? These are indicators that the phone and the line are digital.&lt;br /&gt;A word of caution. Though digital lines carry lower voltages than analog lines, they still pose a threat to your analog equipment. If you're thinking of connecting your phone, modem, or fax machine to your office's digital phone system, DON'T! At the very least, your equipment may not function properly. In the worst case, you could zap your communications tools into oblivion.&lt;br /&gt;How? Let's say you connect your home analog phone to your office's digital line. When you lift the receiver, the phone tries to draw an electrical current to operate. Typically this is regulated by the phone company's central office. Since the typical proprietary digital phone system has no facilities to regulate the current being drawn through it, your analog phone can draw too much current—so much that it either fries itself or in rare cases, damages the phone system's line card.&lt;br /&gt;What to do? There are digital-to-analog adapters that not only let you use analog equipment in a digital environment, but also safeguard against frying the internal circuitry of your phone, fax, modem, or laptop. Some adapters manufactured by Konexx come designed to work with one specific piece of office equipment: phone, modem, laptop, or teleconferencer. Simply connect the adapter in between your digital line and your analog device. That's it. Or you can try a universal digital-to-analog adapter such as Hello Direct's LineStein®. It works with any analog communications device. Plus, it's battery powered so you're not running extra cords all over your office.&lt;br /&gt;Cordless phones The very nature of digital technology—breaking a signal into binary code and recreating it on the receiving end—gives you clear, distortion-free cordless calls. Cordless phones with digital technology are also able to encrypt all those 1s and 0s during transmission so your conversation is safe from eavesdroppers. Plus, more power can be applied to digital signals and thus, you'll enjoy longer range on your cordless phone conversations.&lt;br /&gt;The advantage to analog cordless products? Well, they're a bit cheaper. And the sound quality is richer. So unless you need digital security, why not save a few bucks and go with an analog phone? After all, in home or small office environments where you may be the only cordless user, you won't have any interference issues.&lt;br /&gt;Keep in mind, when talking about digital and analog cordless phones, you're talking about the signals being transferred between the handset and its base. The phones themselves are still analog devices that can only be used on analog lines. Also, the range of your cordless phone—analog or digital—will always depend on the environment.&lt;br /&gt;Cellular phones Perhaps the most effective use of the digital versus analog technology is in the booming cellular market. With new phone activations increasing exponentially, the limits of analog are quickly being realized. Digital cellular lets significantly more people use their phones within a single coverage area. More data can be sent and received simultaneously by each phone user. Plus, transmissions are more resistant to static and signal fading. And with the all-in-one phones out now—phone, pager, voice mail, internet access—digital phones offer more features than their analog predecessors.&lt;br /&gt;Analog's sound quality is still superior—as some users with dual-transmission phones will manually switch to analog for better sound when they're not concerned with a crowded coverage area—but digital is quickly becoming the norm in the cellular market.&lt;br /&gt;What to buy? The first thing to consider when buying analog or digital equipment is where you'll be using it. If you're buying for a proprietary PBX phone system, you'll need to get the digital phone designed for that particular system. Need to connect a conferencer on your digital system? Opt for a digital-to-analog adapter. Shopping for home office equipment? Most everything you'll consider is analog. Want an all-in-one cellular phone—paging, voice mail, web? A digital cellular phone will deliver it all. In fact, the only head-scratcher may be your cordless phone purchase. Looking for security and distortion-free conversations in your small office? Go with a digital 900 MHz or 2.4 GHz cordless phone. Using a cordless at home? An analog phone will give you the richest sound quality and usually enough range.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1166631399671099926?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1166631399671099926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1166631399671099926' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1166631399671099926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1166631399671099926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/02/analog-digital-whats-difference.html' title='Analog-Digital. What’s the Difference?'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-6890230776755271698</id><published>2008-02-14T08:27:00.000-08:00</published><updated>2008-02-14T09:06:11.517-08:00</updated><title type='text'>Kegiatan awal bulan Februari 08....</title><content type='html'>oleh : Iwan (nulis aja daripada bengong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal bulan Februari ini kegiatan utama saya masih sibuk mengurusi masalah sistem metal organic chemical vapor deposition (MOCVD). Sejak awal bulan Februari sistem belum bener2 fix untuk experiment. Dan kegiatan tersebut tertunda karena liburan imlek. Liburan imlek buat saya menjadikan moment yang berharga untuk bisa pulang ke Indonesia. Kebetulan di saat yang sama ada urusan administrasi di UNJ yang harus diselesaikan.Biasanya kalo saya pulang ke Indonesia saya selalu menyempatkan mengurus hobi saya beternak ayam jago bangkok, diskusi dengan Bapak Ibu, bercengkarama dengan sepupu2, berkunjung ke kantor di daerah Puri Jalan Sawangan Depok, mengurus mobil, dan sedikit meluangkan waktu ngobrol dengan tetangga di komplek. Selain itu, saya sempat juga main ke FMIPA UI pada hari Sabtu tanggal 9 Feb 08, disana saya hanya ngobrol saja dengan teman2 dekat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit cerita tentang pengalaman baru saya di UNJ, saya kebetulan bergabung menjadi staf di jurusan Fisika FMIPA UNJ. Sudah diperkirakan bahwa keadaan di UNJ tentu jauh berbeda bila dibanding dengan UI. Namun demikian, bagi saya itu adalah tantangan untuk bisa memajukan Fisika UNJ atleast bisa exist di dalam riset level nasional. Bila itu dapat konsisten terwujud tidak dimungkinkan Fisika UNJ mampu berkompetisi riset di ajang internasional baik secara indvidual staf yang menggunakan nama UNJ atau secara institusional mampu mengadakan event seminar or conference level regional untuk melangkah ke internasional. Pada kesempatan liburan imlek, saya sempat melihat2 kondisi laboratorium yang dimiliki Fisika UNJ.&lt;br /&gt;Secara pribadi saya memiliki harapan bahwa kelak Fisika UNJ bisa memberikan sebuah kontribusi yang baik terutama dalam memajukan Fisika dari dua sudut pandang yang tidak dapat dipisahkan, yaitu Fisika kependidikan dan non kependidikan. Sebuah perpaduan unik, namun hal itu bisa menjadi ujung tombak UNJ. Bila saya bandingkan dengan National Institute of Education (NIE) di Singapore, mereka juga lebih kurang memeliki sistem yang hampir sama dengan UNJ, yaitu ada dua program kependidikan dan non kependidikan. Namun cita-cita yang diarahkan adalah untuk menciptkan insan yang dapat memajukan dunia riset melalu jalur pendidikan. Mungkin perlu kiranya, institusi di Indonesia yang berkecimpung dalam riset kependidikan belajar dari NIE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembali dari Indonesia, saya kembali sibuk dengan urusan riset di nanoelecronics lab, sibuk dengan kuliah dan juga mengurus apartemen baru di daerah Jurong West. Ohya, ada hal menarik juga yang saya kerjakan dengan teman saya Yudhiakto yang saat ini sedang studi doktoral di USA. Saat ini kita sama2 mewujudkan sebuah media untuk menyiarkan informasi tentang sain teknologi dan pendidikan. Media tersebut merupakan sebuah reinkarnasi dari media sejenis yang terdistribusi untuk lingkungan sendiri. Dulu kita distribusikan hanya di lingkungan civitas Fisika UI. Media tersebut bernama Foton, nah kini kita menghadirkan media yang hampir sama namun ditujukan untuk semua kalangan dengan cakupan sain teknologi dan pendidikan. Media yang merupakan reinkarnasi dari Foton kami beri nama Exciton. Ada filosofi khusus dibalik pemilihan nama tersebut. Untuk lebih jelasnya kunjungi saja web exciton di :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;excitonindo.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At last but not least, sekian dulu informasi dari saya. Happy lunar new year and happy valentine day for all.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-6890230776755271698?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/6890230776755271698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=6890230776755271698' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/6890230776755271698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/6890230776755271698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/02/kegiatan-awal-bulan-februari-08.html' title='Kegiatan awal bulan Februari 08....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1262185390386609719</id><published>2008-01-27T09:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T18:31:27.702-08:00</updated><title type='text'>Wafatnya  Pak Harto seorang Jendral Bintang 5</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/R5zDbA92R6I/AAAAAAAAAIo/GjZ0zxfIj9c/s1600-h/0000271847012dx4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/R5zDbA92R6I/AAAAAAAAAIo/GjZ0zxfIj9c/s320/0000271847012dx4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160214141943039906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Iwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Minggu 27 Januari 2008 pukul 13.10 wib, Bapak pembangunan Indonesia dan seorang Jendral Bintang lima setelah Jendral Soedirman dan Jendral AH Nasution telah meninggal akibat komplikasi penyakit. Dimata saya, Pak Harto adalah sosok pemimpin Indonesia yang cukup disegani terlepas dari berbagai kesalahan yang ditimpakan ke beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1980-1990, adalah masa keemasan ekonomi Indonesia. Dari sumber yang saya peroleh bahwa pada tahun tersebut pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen tiap tahunnya. Disaat kepemimpinan beliau pula Bangsa Indonesia cukup disegani. Konsep pembangunan, P4, Klompencapir, posyandu, KB, dan  pembangunan waduk merupakan sebuah produk jaman Pak Harto yang saya tahu. Saya secara pribadi memandang itu semua sebagai hal positif, terserah orang lain menilai bahwa hal itu mengandung nilai negatif. Hal negatif yang menimpa beliau adalah akibat para oportunis yang berada disekitar Pak Harto, seharusnya mereka juga turut bertanggung jawab bukan malah bersikap habis manis sepah dibuang. Seorang anak buah yang baik adalah mereka yang mampu mengawal pemimpinya dan turut bertanggung jawab pula apabila terjadi kesalahan dalam kebijakan yang diambil. Karena seorang pemimpin yang baik dimata saya lahir dari seorang anak buah yang baik. Nyatanya sekarang ini para oportunis itu tidak mampu membawa bangsa kita disegani di dunia, justeru yang saya rasakan pamor bangsa turun dimata dunia. Semoga para aktivis mahasiswa, saya harapkan tidak menjadi seorang yang pandai berorasi saja namun juga harus mampu berpikir luas dan memiliki komitmen dengan yang diucapkannya. Janganlah hanya pandai menghujat tanpa paham betul situasi dan keadaan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama ini saya secara tulus mengucapkan Selamat Jalan Bapak Suharto-Bapak Pembangunan Indonesia, semoga arwahmu diterima di sisi Allah SWT, amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kelak bangsa kita memiliki pemimpin sekelas Bung Karno dan Pak Harto.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1262185390386609719?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1262185390386609719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1262185390386609719' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1262185390386609719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1262185390386609719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/01/wafatnya-pak-harto-seorang-jendral.html' title='Wafatnya  Pak Harto seorang Jendral Bintang 5'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/R5zDbA92R6I/AAAAAAAAAIo/GjZ0zxfIj9c/s72-c/0000271847012dx4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-8368805018094019566</id><published>2008-01-25T06:21:00.000-08:00</published><updated>2008-01-25T06:52:14.671-08:00</updated><title type='text'>Apa itu nanogenerator 1</title><content type='html'>Oleh : Iwan Sugihartono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dibuat sebagai &lt;em&gt;warming up&lt;/em&gt; penulis untuk berpartisipsi menulis buku ilmiah “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;ZnO nanostructure and their application&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;” di bawah pimpinan Prof. Sun Xiaowei dari School of EEE, NTU, Singapur. Di dalam buku tersebut saya akan memberikan sebuah review tentang bagaimana sebuah devais yang dibangun dari struktur nano atau di kalangan ilmuwan nano dikenal sebagai &lt;em&gt;nanogenerator&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama kali ketika saya mendapat tugas tersebut, tepatnya kemarin sore hari Kamis 24 Januari, saya merasa kaget ketika menerima sebuah email dari Prof untuk turut tergabung dalam penulisan buku. Bagi saya, itu sebuah kebanggaan tersendiri. Memang jika saya berkaca pada kegiatan saya sekarang ini, saya sungguh sibuk dengan urusan kuliah s3 yang masih dijejali dengan pekerjaan rumah, tugas, dan kuis. Selain itu juga saya masih disibukan lagi dengan urusan membuat poster untuk oral presentasi di Inst. Material Research and Engineering (IMRE), Singapur yang akan dilaksanakan pada tanggal 27-28 Februari 2008. Belum lagi melakukan experiment untuk mengejar publikasi di jurnal ilmiah. Namun saya berpikir sangat positif, bahwa dengan kesibukan yang menuntut otak kita aktif justeru kita akan lebih mudah melihat indahnya bagian dari alam semesta dan mampu membuat kita menjadi semakin dewasa dalam mengatur waktu serta membuat kita semakin sadar betapa waktu itu sangat berguna. Dari obrolan empat mata antara saya dan Prof, saya menyimpulkan bahwa beliau mendidik kita sebagai mahasiswa doctor dan postdoct untuk tidak sekedar menjadi seorang saintis di laboratorium, namun juga secara explicit saya menilai beliau mendidik kita untuk menjadi seorang saintis dan manager yang berwawasan serta cermat dalam membuat rencana di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini saya akan menyajikan sebuah pengenalan tentang nanogenerator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber energy listrik dari struktur nano&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan teknologi nano, kini beberapa grup riset yang concern mengembangkan teknologi nano sudah mampu membuat sebuah devais dari struktur nano untuk menghasilkan arus listrik, medan electromagnetic, bahkan mampu mengeluarkan radiasi dalam orde subatomic. Devais yang berdasarkan pada struktur nano disebut sebagai &lt;em&gt;nanogenerator&lt;/em&gt;. Mengesankan, itulah pertama kali expresi penulis ketika membaca tentang berita perkembangan teknologi nano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Research tentang nanogenerator baru dilakukan oleh beberapa grup riset yang berkecimpung di dunia nano. Salah satunya adalah grup riset dari Georgia Institute of Technology, mereka sedang mengembangkan sebuah prototip nanogenerator yang menggunakan struktur nanowire untuk menghasilkan listrik ketika wire dalam ukuran nano tersebut bergetar. Nanowire pada prototype tersebut terbuat dari bahan ZnO (zinc oksida), arus yang timbul dari nanowire tersebut adalah sebagai efek dari piezoelectric. Fenomena tersebut cukup mirip dengan Kristal quartz yang menghasilkan arus listrik lemah ketika mendapatkan stress mekanik. Desain dari nanogenerator tersebut hingga saat ini masih menjadi objek riset dan masih berada dalam tahap pengembangan. Para ilmuwan dan insinyur memprediksikan bahwa nanogenarator akan diperkenalkan ke public kira-kira pada tahun 2010-2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini mayoritas dari perangkat elektronik yang portable (contoh : jam tangan, etc), energinya masih sangat tergantung pada baterai. Saat ini para ilmuwan sedang mengembangkan dan sebagian telah mendemonstrasikan bagaimana sebuah perangkat elektronik yang sangat mudah dan praktis dalam suplai energinya. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan metode pengembangkan teknologi nanowire dari bahan murah (ZnO) yang dapat memproduksi energy mekanik yang cukup untuk dikonversikan menjadi energy listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1. Loncatan listrik dari struktur nanowire yang berhasil discan&lt;br /&gt;(Courtesy dari Zhong Lin Wang, Georgia Tech.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana listrik dihasilkan?&lt;/strong&gt; (to be continued)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-8368805018094019566?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/8368805018094019566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=8368805018094019566' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8368805018094019566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/8368805018094019566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/01/nanogenerator-1.html' title='Apa itu nanogenerator 1'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-925360259871536696</id><published>2008-01-21T10:04:00.000-08:00</published><updated>2008-01-21T10:15:38.542-08:00</updated><title type='text'>Nanoteknologi ;-)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;b style=""&gt;Perkembangan Teknologi 1/1.000.000.000 m&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;o:p&gt; Oleh : Iwan&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;Pada tahun 1959 tepatnya pada tanggal 29 Desember, seorang Fisikawan dan peraih nobel dalam bidang teori quantum elektrodinamik memberikan sebuah kuliah ilmiah dalam rangka pertemuan komunitas Fisika Amerika (American Physical Society) di California Institute of Technology. Dalam kuliahnya tersebut Richard P. Feynman mengekspresikan sebuah ide tentang bagaimana memanipulasi dan mengontrol sebuah objek dalam skala kecil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika itu ide Feynman tersebut dianggap sebagai guyonan komunitas Fisikawan dalam eranya. Namun ide Feynman menjadi bahan pemikiran serius ketika pada tahun 1985 salah seorang mahasiswa program doctoral di Stanford, Tom Newman menggunakan electron beam sebagai pin untuk menulis sebuah kalimat pada halaman pertama “&lt;i&gt;A Tale of Two Cities&lt;/i&gt; “ buku karangan Charles Dickens dengan ukuran 1/25000 dari ukuran pin yang biasa digunakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;Melihat perkembangan teknologi yang berkembang saat ini, tidak dipungkiri lagi bahwa prediksi Feynman memang menakjubkan. &lt;/span&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi saat ini berada dalam orde teknologi nano atau teknologi yang berdasarkan pada ukuran 1/1.000.000.000 m. Mengapa teknologi nano sangat penting? Secara kimiawi, atom dan molekul berada dalam orde nano dan secara ilmu Fisika atom-atom tersebut terikat secara kuat. Dengan melihat atau menginvestigasi sebuah materi ke dalam orde nano maka kita akan dapat merekayasa dan mengontrol sebuah materi menjadi suatu bahan atau mesin dalam ukuran sangat kecil. Bahkan dimungkinkan pula dengan perkembangan teknologi nano akan tercipta sebuah mesin cerdas berdimensi molekuler yang dapat bermanfaat dalam berbagai bidang seperti biologi, kimia, mikroelektronik, optik, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagai contoh di sini kita tinjau perkembangan teknologi elektronika, perkembangan industri elektronik dimulai ketika ditemukannya transistor oleh Bardeen, Brattain, dan Shockley pada tahun 1947 dan ditemukannya model integrated circuit atau biasa dikenal IC pertama kali oleh Jack Kilby pada tahun 1959. Kini seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi elektronik yang berdasarkan pada teknologi semikonduktor, peranan teknologi nano kian menjadi primadona para saintis maupun insinyur untuk mengembangkan piranti elektronik yang super cepat. Perkembangan teknologi elektronik yang terkait pula dengan majunya teknologi nano dapat mengacu kepada hukum Moore yang menyatakan bahwa jumlah transistor pada suatu chip (IC) akan menjadi dua kali lipat dalam waktu 18-24 bulan. Perkembangan teknologi tersebut telah mampu menghasilkan sebuah komputer yang memiliki performance tinggi. Berbicara tentang teknologi komputer, kita selalu mengacu pada seberapa cepat kemampuan sebuah procesor. Procesor adalah sebuah piranti elektronik yang tersusun dari transistor di dalam sebuah sirkuit terintegrasi (IC). Berdasarkan data dari Intel.co, pada awal tahun 1980an&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita mengenal komputer prosesor 286, komputer tersebut memiliki jumlah transistor kurang lebih 100.000 buah. Pada pertengahan tahun 1990an kita mengenal intel pentium II yang memiliki jumlah transistor 10 juta buah, pada tahun 2000an awal pentium IV lahir dengan jumlah transistor kurang lebih 100 juta buah,dan kini perkembangan prosesor komputer sudah dalam era dual core itanium yang menggunakan 2 buah prosesor dengan jumlah transistor kurang lebih 1 milyar buah. Semakin kecil dan semakin banyak jumlah transistor dalam chip menunjukan semakin tinggi pula kecepatan chip tersebut. Misal, dulu sebelum mengenal era pentium 4 prosesor komputer berada dalam orde Megahertz (10&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;) dan setelah era pentium 4 prosesor sebuah komputer sudah mencapai orde Gigahertz (10&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt; Hertz). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebuah pertanyaan muncul terkait dengan ukuran nano, mengapa sesuatu yang kecil itu cepat?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cepat disini mengacu pada waktu transit elektron di sebuah gerbang (gate) dalam transistor, misal untuk transistor berbasiskan Silicon panjang gate-nya kurang lebih 10 nm sedangkan untuk transistor berbasiskan carbon nanotube (CNT) panjang gate-nya mencapai kurang lebih 1 nm. Konsekuensi yang diperoleh dari semakin kecilnya gate sebuah transistor adalah jarak antara sumber (source) dan penguras (drain) semakin dekat maka waktu transit akan semakin cepat pula sehingga hal tersebut mempercepat kinerja dari komputer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi nano selain berperanan besar dalam industri elektronik juga sangat bermanfaat dalam perkembangan teknologi lainnya. Diantara manfaat dari teknologi nano adalah untuk meningkatkan kualitas sel surya dengan menggunakan carbon nanotube, membuat nanobiosensor untuk mengontrol kadar gula dalam darah, membangun chip dari bahan organic (molekuler), fabrikasi DNA, RNA untuk rekayasa genetika, dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari paparan yang dijelaskan di atas menunjukan betapa teknologi nano sekarang ini sedang menjadi objek yang hangat di kalangan dunia riset. Untuk itu dalam mengembangkan teknologi nano yang aktual diperlukan adanya sebuah integritas yang saling menunjang antara pihak institusi riset, perguruan tinggi, dan industri. Hal tersebut dikarenakan pesatnya perkembangan teknologi dunia yang sudah tidak terbendung lagi, maka diperlukan kekuatan besar dalam artian kemauan yang tinggi dari pihak pemerintah, institusi pendidikan dan riset, dan pihak swasta. Pihak pemerintah berwenang dalam mengarahkan pola riset yang akan menjadi tujuan utama disesuaikan dengan potensi yang dimiliki bangsa kita dan menyiapkan sumber pendanaan bersama swasta. Pihak institusi pendidikan dan riset, baik perguruan tinggi dan institusi riset bersama-sama mengembangkan dan menjadi pemain yang berperan langsung dalam riset dan sosialisasi teknologi yang dikembangkan. Pihak swasta berperan dalam menyediakan fasilitas atau mengarahkan teknologi yang sudah dan akan berkembang karena pihak swasta/perusahaanlah yang langsung bermain dalam memanfaatkan teknologi tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="featuremaincopy"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam tulisan ini saya berharap bangsa Indonesia mampu mengembangkan teknologi nano disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Mengingat trend riset dunia saat ini sudah mengacu pada teknologi berorde nano. Bila kita hanya melakukan riset nano sekedar wacana tanpa arah dan kebijakan yang jelas, saya yakin selamanya bangsa Indonesia akan menjadi bangsa penonton dan pengguna teknologi saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-925360259871536696?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/925360259871536696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=925360259871536696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/925360259871536696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/925360259871536696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/01/nanoteknologi.html' title='Nanoteknologi ;-)'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1144253524822814993</id><published>2008-01-19T12:54:00.000-08:00</published><updated>2008-01-19T13:43:04.138-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana kita harus BERGERAK?</title><content type='html'>Pendahuluan (oleh Iwan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca tentang konsep bergerak yang dijelaskan oleh Bapak Renald Khasali, saya menghayati dan memahami bahwa konsep yang beliau jabarkan adalah hal realistis yang harus dilakukan segera dengan pertimbangan, analisis, perhitungan dan dengan penuh rasa percaya diri dilandasi oleh pikiran positif jauh ke depan. Ingat constraint gerak adalah jarak dan waktu, jika kita melihat dari kasus sempit saja maka kita akan terperosok ke dalam keadaan gerak semu. Gerak semu disini saya gambarkan sebagai gerakan tikus yang berlari kencang didalam roda berputar ditempat. Terlihat dia berlari kencang dan bergerak tapi hakikatnya tidak kemana-mana hanya berada disatu tempat. Hal itu disebabkan si tikus tidak berpikir bagaimana caranya membuat roda tidak hanya bergerak rotasi di tempat. Tapi harus pula dipikirkan bagaimana caranya membuat si roda bergerak baik rotasi dan translasi. Jika kita tersesat pada pemahaman gerak seperti halnya tikus di dalam roda tadi maka kita secara tidak langsung belum memaknai definisi gerak yang esensi. Saya memandang bahwa gerak harus dimaknai terjadinya perubahan posisi dan waktu, maka untuk memulainya diperlukan sebuah gaya. Nah dalam kehidupan, gaya diinterpretasikan akan muncul dari pemahaman diri dan kemauan keras dari diri sendiri atau komunitas, sehingga terekspresi menjadi sebuah kekuatan (dilandasi rasa percaya diri dan optimisme) yang mampu untuk memulai gerakan.  Dalam konsep agama secara jelas kita kenal Hijrah, itulah seyogyanya yang perlu dipahami lebih dalam oleh kita. Hijrah disini dari sudut pandang saya berkorelasi luas tidak hanya merujuk pada konsep perubahan secara sempit tapi sangat luas. Maksudnya bukan dimaknai sebagai perubahan tempat saja, namun perubahan cara berpikir, bersikap, dan lain2 yang bermanfaat untuk meningkatkan attitude dan behavior diri dan lingkungan kita. Janganlah kita memahami sebuah konsep agama, ilmu pengetahuan,  dan apapun dengan sebuah pengetahuan sempit sehingga kita tidak akan mendapatkan the way of thinking dari objek yang kita pelajari. Hindarilah kita berperilaku seperti tikus yang saya gambarkan. Sebagai bahan renungan, disini saya cuplikan tulisan dari Bapak Renald Khasali tentang makna BERGERAK yang dijabarkan dengan baik oleh beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERGERAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Renald Khasali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru saya, "CHANGE".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, saya tawarkan uang itu. "Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan.&lt;br /&gt; Semua audiens tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ulangi pesan Saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatap wajah saya, dan saya pun menatapnya dengan wajah lucu.&lt;br /&gt;Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat saya,dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak,"Kembalikan,kembalikan!"&lt;br /&gt;Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000.&lt;br /&gt;Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:&lt;br /&gt;"Saya pikir Bapak cuma main-main ............"&lt;br /&gt;"Nanti uangnya toh diambil lagi."&lt;br /&gt;"Malu-maluin aja."&lt;br /&gt;"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"&lt;br /&gt;"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ....."&lt;br /&gt;"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...."&lt;br /&gt;"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....."&lt;br /&gt;"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........."&lt;br /&gt;"Saya, kan duduk jauh di belakang..." dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara itu tetap melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata Jack Canfield,yang menulis buku Chicken Soup for the Soul,yang membedakan antara winners dengan losers adalah "Winners take action. They simply get up and do what has to be done.".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bergerak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1144253524822814993?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1144253524822814993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1144253524822814993' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1144253524822814993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1144253524822814993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/01/bagaimana-kita-harus-bergerak.html' title='Bagaimana kita harus BERGERAK?'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-20353841210033637</id><published>2008-01-16T23:35:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T23:41:00.993-08:00</updated><title type='text'>Pemimpinkah diri kita?.....semoga</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;Dalam hidup saya berprinsip selalu belajar mengambil sebuah nilai dari orang lain, pengalaman, lingkungan, dan alam semesta. Hal ini saya olah dengan kemampuan pancaindera, budaya, pengetahuan, dan bekal pendidikan yang saya miliki. Berlandaskan pada hal itu, saya selalu berusaha mengimprove diri saya yang oleh Allah ditakdirkan lahir sebagai kalifah. Kalifah adalah pemimpin, dari sinilah saya mencuplik sebuah pemikiran yang baik menurutt pandangan saya tentang pemimpin yang disadur dari :http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0904/20/0804.htm&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;selamat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;Mari Kita             ”Mengawal” Pemimpin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Oleh AGUS ISHAQ ABDURRAHMAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;HANYA dalam hitungan jam kita akan segera memiliki presiden baru, hasil dari sebuah             sistem pemilihan yang baru, yakni dipilih langsung oleh rakyat yang dilaksanakan Senin             (20/9) ini. Setelah tahap pertama usai, kita memasuki pemilihan tahap kedua. Siapa pun             yang terpilih itulah pemimpin kita. Suka atau tidak suka. Karena itulah realita yang             menjadi pilihan sebagian besar rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Setelah terpilih pemimpin baru, kita berharap besar bangkitnya negeri ini dari segala             keterpurukannya. Untuk itu kita semua sebagai rakyat yang dipimpinnya harus terus menerus             memberi "pengawalan ketat" kepada pemimpin kita. Paling tidak, ada dua hal yang             bisa dilakukan oleh kita untuk mengawal pemimpin, yaitu terus-menerus mengingatkan dan             terus-menerus mendoakan. Mengingatkan dan mendoakan seorang pemimpin merupakan sesuatu             yang bisa dilakukan oleh sebagian besar rakyat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mengingatkan seorang pemimpin itu sangat penting. Malah menurut ajaran Islam hukumnya             wajib. Dengan mengingatkan seorang pemimpin, berarti ada dua pihak yang diselamatkan,             yakni keselamatan pemimpin itu sendiri dan keselamatan untuk rakyat yang dipimpinnya.             Hal-hal yang harus diingatkan kepada pemimpin adalah bahwa dia tidak boleh hanya             berorientasi kepada hak-haknya saja sebagai pemimpin, tapi juga harus menjunjung tinggi             tanggung jawabnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sangat mungkin bahwa kebanyakan orang saling berebut untuk menjadi pemimpin, karena             hanya melihat hak-haknya saja. Hak seorang pemimpin, terlebih sebagai pemimpin negara,             adalah mendapat berbagai keistimewaan yang tentu saja tidak didapat oleh orang kebanyakan.             Karena hanya melihat hak-hak seperti inilah orang menggebu-gebu untuk menjadi pemimpin.             Semestinya, selain melihat akan hak-haknya, seorang pemimpin itu juga memperhatikan             sungguh-sungguh akan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin yang beragama,             harus punya keyakinan bahwa pertanggungjawaban tesebut tidak hanya terhadap manusia saja,             melainkan juga terhadap Tuhan-nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Suatu saat Abu Dzar bertanya kepada Rasul saw. berkenaan dengan sebuah jabatan yang             diberikan Rasul kepada seorang sahabat. "Ya Rasul, kenapa jabatan itu tidak diberikan             kepadaku," kata Abu Dzar. "Wahai Abu Dzar, kamu itu lemah. Sesungguhnya             kekuasaan (jabatan) itu amanah. Dan sesungguhnya pada hari kiamat jabatan itu akan membuat             kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang diangkat secara benar dan menunaikan             kekuasaannya dengan benar pula," kata Rasul sambil menepuk pundak Abu Dzar. Kisah ini             terdapat dalam hadis riwayat Imam Muslim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bagi orang yang menjadi pemimpin melalui proses yang tidak benar ditambah lagi dengan             tidak bertanggung jawab dalam kepemimpinannya, akan celakalah hidupnya. Celaka dalam             hidupnya kini, terlebih di masa yang abadi kelak. Inilah salah satu yang mesti diingatkan             kepada seorang pemimpin. Mengingatkannya pun harus terus menerus dan oleh semua pihak.             Cara mengingatkannya bisa dengan dialog saat berhadapan langsung atau jika sulit bisa kita             gunakan media yang kini tersedia banyak, baik cetak atau elektronik. Bisa dengan alat             komuniaksi atau surat terbuka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Tetapi satu hal yang harus diperhatikan, bahwa peringatan, koreksi atau kritik yang             kita sampaikan harus berangkat dari ketulusan. Ikhlas dalam bahasa agama. Janganlah             kritikan kita kepada seorang pemimpin atas dasar kebencian. Biasanya, karena berangkatnya             dari kebencian, akhirnya apa yang dilakukannya bukan mengingatkan pemimpin, akan tetapi             sekadar mencaci maki. Membuka aib di depan publik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kata Rasul saw., hati itu tidak boleh kosong dari tiga hal; yaitu ikhlas dalam beramal,             ikhlas dalam hidup bermasyarakat serta ikhlas dalam mengingatkan atau mengkritik pemimpin.             Jika kritikan kita kepada si pemimpin berangkat dari keikhlasan, maka kritikan tersebut             akan menjadi sesuatu yang sehat dan bernilai. Sebab, kritikannya benar-benar ditujukan             untuk keselamatan bangsa, termasuk keselamatan si pemimpin tersebut. Lain halnya jika             kritikan itu berangkat dari sebuah kebencian atau karena adanya sebuah kepentingan             pribadi, maka tentu saja bukan memperbaiki keadaan, malah hanya akan memperkeruh keadaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Berbahagialah seorang pemimpin yang hidup di tengah-tengah rakyatnya yang senantiasa             memberi peringatan dengan ikhlas. Karena dengan demikian ia akan terus-menerus memelihara             amanah kekuasaannya dengan benar. Derajat seorang pemimpin yang benar dan bertanggung             jawab akan kepemimpinannya berada di posisi yang tinggi melebihi derajat orang-orang baik             yang lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Gambaran ini bisa kita lihat sebagaimana yang dinyatakan Rasul saw., "Kelak (pada             hari kiamat) akan ada tujuh kelompok umatku yang akan mendapat perlindungan pada saat yang             lain mendapat kesulitan yang berat. Ketujuh kelompok itu adalah, (1) Pemimpin yang adil;             (2) Orang yang hatinya senantiasa terkait ke masjid; (3) Pemuda yang yang giat beribadah             kepada Allah; (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah dan berpisah karena Allah;             (5) Orang yang menangis di malam hari dalam keadaan menyendiri karena takut kepada Allah;             (6) Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh perempuan cantik, tetapi dia menolak dan             mengatakan "saya takut kepada Allah; (7) Orang yang bersedekah dengan tangan kanannya             dengan tidak diketahui oleh tangan kirinya". (H.R. Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pemimpin yang adil dalam hadis di atas, disimpan pada urutan pertama dan utama.             Tentunya apa yang dinyatakan Rasul saw. tadi bukan tanpa makna. Sebagaimana disebutkan,             bahwa seorang pemimpin itu punya tanggung jawab menyangkut orang banyak. Jika ia berbuat             adil, maka keadilannya itu akan dirasakan orang banyak. Lain halnya jika keadilan itu             dilakukan oleh orang biasa-biasa, maka pengaruh keadilannya itu tidak berdampak luas.             Tidak seperti keadilan yang lahir dari seorang pemimpin. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Demikian pula halnya jika seorang pemimpin melakukan tindakan yang zalim, maka             dampaknya akan menyengsarakan orang banyak. Lain kalau kezaliman itu dilakukan oleh orang             biasa-biasa, maka dampak kesengsaraan yang ditimbulkannya tidak berpengaruh begitu luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bentuk kezaliman seorang pemimpin itu biasanya menyangkut sebuah kebijakan yang hanya             menguntungkan diri dan kelompoknya. Berbagai fasilitas yang semestinya untuk kepentingan             orang banyak, dibelokan kepada kepentingan kekuasaannya. Pemimpin seperti ini akan memberi             posisi kepada orang-orang yang membiarkan kesewenangannya. Mereka yang berani             mengkritiknya, disingkirkan dengan cara yang menyakitkan. Orang yang membiarkan kezaliman             si pemimpin dan malah cenderung suka memberi pujian, hakikatnya dialah yang mencelakakan             si pemimpin tersebut. Sebaliknya, mereka yang sering memberi kritikan dengan ikhlas,             itulah yang membuat si pemimpin tersebut selamat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Celakanya, seorang pemimpin itu oleh karena banyaknya pujian, bukan karena             banyaknya nasihat (kritikan)," demikian sebuah pepatah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Agar pemimpin kita menjalankan kepemimpinannya dengan benar, maka selain harus terus             menerus kita ingatkan juga harus terus menerus kita doakan. Untuk sekadar mendoakan             rasa-rasanya seluruh rakyat di negeri ini akan mampu. Jadi, lebih banyak yang mendoakan             akan lebih mudah terkabul doanya. Doa ikhlas yang diucapkan seluruh rakyat untuk             pemimpinnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Baik dan buruknya perilaku seorang             pemimpin, hakikatnya akan kembali kepada dirinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Tercermin dari satu doa yang diucapkan Rasul, "&lt;i&gt;Ya Allah, orang yang diberi             amanat (jabatan) untuk mengurus umatku, kemudian orang tersebut mengurusnya dengan benar,             maka mudahkanlah segala urusannya. Tetapi, jika mereka membuat tindakan yang sengaja             menyusahkan umatku, maka beratkanlah urusannya.&lt;/i&gt;" &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Doa Rasul tadi akan menjadi doa kita semua. Pemimpin yang baik adalah yang selalu             didoakan rakyatnya dan mendoakan rakyatnya.***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;Penulis&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;staf Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jabar.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-20353841210033637?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/20353841210033637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=20353841210033637' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/20353841210033637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/20353841210033637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/01/pemimpinkah-diri-kitasemoga.html' title='Pemimpinkah diri kita?.....semoga'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-1733015300932829026</id><published>2008-01-16T08:02:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T23:51:29.252-08:00</updated><title type='text'>Sebuah kisah Rifka dan Eyang</title><content type='html'>oleh Iwan (diilhami dari liburan di Lembang dengan Rifka sang penulis pahlawan wanita sakit encok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari sekitar jam 10, Rifka yang masih duduk dibangku SD kelas 2 sudah pulang dari sekolah. Dengan wajah yang masih cemberut dia masuk ke rumah, ternyata dirumahnya ada Eyang putri yang sedang menonton TV. Eyang kaget, " Lho Ika, kok jam sepuluh udah pulang?" Rifka menjawab, "Ika mbolos Yang, abis tadi pagi dipaksa Bapak sekolahnya." Eyang geleng2 kepala," lho dipaksa sekolah kok marah?" Rifka menjawab,"soalnya masih pengen tidur Yang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bijaksana, Eyang berbicara lagi ke Rifka,"Ika, sekarang ganti baju dulu, nanti kalo sudah ganti baju duduk sama Eyang". Dengan sikap yang masih cemberut Rifka menjawab,"iya Yang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit kemudian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rifka :"ada apa Yang?"&lt;br /&gt;Eyang:"Rifka sekarang coba cerita ke Eyang, kenapa Rifka ngambek?"&lt;br /&gt;Rifka :"Sebel sama Bapak, abis orang mau sekolah kok dipaksa, yang sekolah kan Rifka."&lt;br /&gt;Eyang:"Nduk, itu tandanya Bapak sayang sama kamu. Tahu nggak kenapa Rifka harus sekolah?"&lt;br /&gt;Rifka:"biar baca dan bisa nulis, terus biar bisa punya uang banyak kaya Bapak."&lt;br /&gt;Eyang:"Kamu bener nduk, tapi coba kamu lihat tukang ojek yang biasa njemput kamu. Dia bisa baca dan nulis kan?&lt;br /&gt;Rifka:"Iyaya....terus kok  dia uangnya cuma dari ngojek?"&lt;br /&gt;Eyang:"Nah itu bedanya dengan Bapakmu,  dulu waktu masih muda tukang ojek itu males pergi sekolah, kerjaan dia cuma nongkrong sambil main sama temen2nya.Kalo Bapak, dulu rajin belajar dan senang baca."&lt;br /&gt;Rifka:"aku juga senang baca Yang, aku senang baca komik Doraemon".&lt;br /&gt;Eyang:"Itu bagus nduk, tapi yang lebih penting lagi kamu harus banyak baca buku pelajaran dan baca berita dikoran. Ika harus buat jadwal, kapan waktu baca komik dan kapan waktu harus belajar. Terus kalau Bapak bicara atau bertindak sesuatu Rifka ga boleh langsung marah."&lt;br /&gt;Rifka:"Terus aku harus bagaimana Yang?"&lt;br /&gt;Eyang:"Kalo Bapak atau orang lain bicara/bertindak sesuatu pertama yang harus Ika lakukan adalah diam. Maksudnya diam, Ika harus berpikir dengan jernih dan berpikir terbuka. Otak Ika harus bisa seperti lampu yang memancarkan cahaya kesegala arah. Nah, sewaktu Bapak bicara disini tentunya Eyang juga berasumsi Bapak berpikir dengan kemampuan seperti lampu itu. Nah karena kedua lampu berpijar ke segala arah, ada beberapa titik tempat terjadinya interferensi. Bisa berintreferensi konstruktif yang artinya Ika akan setuju dengan pendapat Bapak, dan interferensi destruktif yang artinya Ika berbeda dengan pendapat Bapak. Lalu, Ika harus bisa menilai esensi mana yang lebih bernilai positif dari pendapat Bapak, sepanjang tujuannya itu baik, Ika dan Bapak harus bisa berinterferensi positif. Kemampuan memahami itu ditunjang oleh seberapa luas pengetahuan orang tersebut dan berkorelasi positif dengan pendidikan yang diperoleh. Nah maka itu, Ika juga harus semangat kalo dibangunkan untuk sekolah. Sekolah adalah sarana untuk mengasah otak kita dalam meningkatkan kemampuan menerima dan mengkritisi secara bijaksana pengetahuan yang terekam oleh pancaindera kita.Kalo kita berpengetahuan dan ditunjang pendidikan tinggi maka sikap dan tanduk kita akan dewasa dan mudah dalam menyiasati kerasnya hidup.&lt;br /&gt;Rifka:"Wah bener juga ya Yang, iya deh mulai besok Ika mau buat jadwal dan semangat bangun pagi untuk sekolah biar bisa mewujudkan apa yang Eyang nasihatkan tadi, ini tandanya kita saling berinterferensi positif ya Yang?&lt;br /&gt;Eyang:"Iya cucuku yang manis, tapi awas ya kalo dibangunin jangan nakutin orang tua lagi, hehehehhe"&lt;br /&gt;Rifka:"So pasti Yang.....Ika mau main ayunan dulu ya Yang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eyang menggeleng2kan kepala lagi dan mbatin," hhhmmmm anak yang jenius, kelas 2 SD sudah bisa mencerna nasihat yang seyogyanya buat anak dewasa, mudah2an kelak dia bisa jadi orang yang bijak, berpengetahuan dan rendah hati".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-1733015300932829026?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/1733015300932829026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=1733015300932829026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1733015300932829026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/1733015300932829026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/01/sebuah-kisah-rifka-dan-eyang.html' title='Sebuah kisah Rifka dan Eyang'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7618302544247443934</id><published>2008-01-14T06:35:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T09:14:42.977-08:00</updated><title type='text'>ZnO Heterostructured Light-emitting Diodes by Metal-organic Chemical-vapor Deposition</title><content type='html'>to be published on :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:18;"  &gt;3&lt;sup&gt;rd&lt;/sup&gt; MRS-S Conference on Advanced Materials&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;(Incorporating MRS-S and MRS-I Mumbai-Chapter Joint Indo-Singapore Meeting)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:8;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Jointly Organized by&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;The Materials Research Society of &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; (MRS-S)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;and&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;The &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;Institute&lt;/st1:placetype&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Materials&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt; Research and Engineering (IMRE) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:8;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;25 – 27 February 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;h4&gt;IMRE &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Auditorium&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;SINGAPORE&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;S. Iwan,&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; S.T. Tan,&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; J.L. Zhao,&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;and X.W. Sun2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Nanyang Technological University&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:'Times New Roman';font-size:100%;"  &gt; Institute of Microelectronics &amp;amp; Nanyang Technological University&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a name="OLE_LINK2"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';"&gt;This paper reports the ZnO heterostructure light-emitting diodes based on &lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-ZnO/SiO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;/&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-Si and n-ZnO/SiO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;/&lt;i&gt;p&lt;/i&gt;-Si. The devices were fabricated by a home-made shower-head injector metal-organic chemical-vapor deposition. From the I-V characteristic, &lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-ZnO/SiO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;/&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-Si shows diodes like rectifying, while ZnO/SiO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;/&lt;i&gt;p&lt;/i&gt;-Si shows symmetric nonlinear behavior due to the double Schottky barriers at the interface. n-ZnO/SiO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;/&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-Si and n-ZnO/SiO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;/&lt;i&gt;p&lt;/i&gt;-Si diodes emit light when a positive bias applied at Si side. Ultraviolet emission at ~390nm with an orange-emission centered at ~600nm were observed in electroluminescence spectra of &lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-ZnO/SiO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;/&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-Si diodes, while whitish emission centered at ~520 nm was observed for &lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-ZnO/SiO&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt;/&lt;i&gt;p&lt;/i&gt;-Si diodes. Besides, we have realized the epitaxial growth of ZnO (0002) on Si (111) substrate via using the MgO/TiN buffer layers. The obtained &lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-ZnO/MgO/TiN/&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;-Si heterostructure was further employed to fabricate LED and strong electroluminescence ranging from 350 to 850nm and centered at ~530nm, was achieved in the device when a positive voltage is applied at Si substrate.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7618302544247443934?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7618302544247443934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7618302544247443934' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7618302544247443934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7618302544247443934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2008/01/zno-heterostructured-light-emitting.html' title='ZnO Heterostructured Light-emitting Diodes by Metal-organic Chemical-vapor Deposition'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-7916455904064533277</id><published>2007-12-21T06:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T18:31:28.145-08:00</updated><title type='text'>Renungan akhir tahun....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/R2vaR2goojI/AAAAAAAAAIY/54VABmX8hC8/s1600-h/17062007029.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/R2vaR2goojI/AAAAAAAAAIY/54VABmX8hC8/s320/17062007029.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5146446999425950258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;hhhmmmm....tahun 2007 bagi saya adalah tahun yang penuh dengan sejarah bagi hidup saya. Di awal tahun 2007, hal bersejarah dimulai ketika saya dinyatakan lulus seleksi untuk mengikuti program doktoral di School of Electrical and Electronical Engineering, Nanyang Technological University, Singapore.  Saat itu saya gembira dan merasa lebih optimis dalam menjalani hidup ini. Awal tahun tersebut sebenarnya saya sudah diminta langsung datang untuk melakukan research. Namun karena pertimbangan berbagai hal saya meminta kepada Profesor Sun Xiaowei untuk menunda hingga bulan July. Alhamdulillah permintaan saya dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan saya sejak awal tahun hingga bulan awal bulan Juli 2007, lebih tercurah pada kegiatan praktikum Fisika Lanjutan, mengajar di Fakultas Teknik UI untuk bidang Fisika Dasar, pembinaan guru madrasah di Propinsi Banten dan olimpiade sain nasional tingkat DKI. Sedangkan aktivitas lain selain kegiatan kampus, saya masih disibukkan dengan urusan sertifikat rumah yang tak kunjung selesai hingga sekarang. Ya kebetulan saya membeli rumah di tengah pemukiman padat penduduk di daerah Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis Depok. Mengapa saya memilih perumahan biasa di tengah pemukiman penduduk yang traditional? alasan saya simple saja, di lingkungan itu kita akan lebih merasa hidup dengan penuh dinamika sosial yang beragam. Sempat saya melihat-lihat perumahan yang berkelas real estate, namun saya kurang sreg dengan gaya hidup mereka yang terkesan kurang bernuansa kebersamaan atau lebih individualis dan lebih kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di perumahan yang saya tempati sejak pertengahan tahun 2006 sungguh unik. Mereka pada umumnya berasal dari daerah. Kadang kalau sedang berkumpul dengan Bapak-bapak di perumahan tersebut saya merasa enjoy, kadang bermain catur bersama, ngobrol tentang pola hidup, saling menasihati, dsb. Bila saya berkaca pada pengalaman saya yang terbiasa menjadi anak rumahan ketika saya memiliki rumah sendiri di lingkungan masyarakat yang heterogen, saya kadang sanksi untuk bisa bisa bermasyarakat dengan baik. Namun, dengan perjalanan waktu saya bisa menyesuaikan diri untuk bisa memahami bagaimana hidup bermasyarakat itu. Dari pengalaman itu saya banyak belajar tentang karakter masyarakat yang heterogen, ada yang pasif, emosional, ingin menonjolkan diri, ramah, rajin ke masjid, senang bermain, senang ngobrol, dll. Karakter mereka tentu menjadi catatan penting buat saya untuk lebih bisa melakukan komunikasi karena saya paham bahwa tingkat pemahaman masyarakat juga berbeda, tingkat pendidikan berbeda, budaya berbeda, dsb.  Sejak saya tinggal di perumahan baru itu, ada kesan yang sampai sekarang saya ingat. Begini, ada tetangga di luar perumahan yang heran kepada saya, dia mempertanyakan kenapa saya sudah s2 dan lulusan luar negeri mau ngobrol dan berbaur sama mereka. Memang bila di lihat, masyarakat di luar perumahan tersebut dari jenjang pendidikan tidak begitu tinggi. Banyak dari mereka bekerja sebagai tukang ojek, tukang bangunan, penjual bakso keliling, buruh pabrik, satpam, dsb. Nah, ketika itu saya menjawab pertanyaan tetangga saya dengan menyadarkan beliau bahwa meski saya berpendidikan s2 dan lulusan luar negeri, saya adalah manusia biasa dan butuh pertolongan orang lain. Jadi tidak ada alasan buat saya untuk sombong dan bangga diri dengan membatasi pergaulan secara kaku dengan lingkungan. Dalam bergaul di lingkungan masyarakat, secara pribadi saya berusaha fair, hidup tidak neko-neko, dan berusaha untuk tidak mencampuri serta membicarakan apa yang tetangga miliki dan tetangga kerjakan.  Dari pengalaman hidup di perumahan itu, saya semakin sadar bahwa kita lahir dan dibesarkan dengan budaya yang berbeda, budaya yang kita miliki berpengaruh juga pada pemahaman pengetahuan yang kita dapatkan, nah apabila kita mampu mengambil hikmah secara positif semua itu, saya kira dengan semakin tingginya pendidikan yang diperoleh, kita akan dapat lebih mengerti keadaan lingkungan yang ada dan menjadikan diri kita baik di tengah kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan keluarga, saya selalu mendidik istri supaya jangan terlalu sering mengobrol hal-hal yang tidak perlu. Hal itu dengan alasan untuk menjaga hati kita dari sifat riya, dengki, iri, dan penyakit hati lainnya seperti yang sering di dengar pada ceramah Aa Gym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Juni 2007, bulan itu juga peristiwa bersejarah bagi adik saya yang baru menikah pada bulan November 2006 dengan perwira karir angkatan laut, Letda Drg Freddy Budi Darmawan. Adik saya bernama Ade Ratnawati, dia baru saja lulus menjadi dokter gigi pada bulan Maret 2007 dari Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.  Ohya, kebetulan kami adalah dua bersaudara yang dibesarkan oleh didikan orang tua yang cukup mengedapankan pentingnya mengejar pendidikan. Sejak kecil orang tua saya selalu tegas dan disiplin dalam mengatur kami untuk belajar. Alhamdulillah didikan beliau berdua, mampu menjadikan kami juga sadar dengan baik betapa ilmu pengetahuan dan pendidikan itu memang sebuah modal yang amat berharga. Nah di bulan Juni itulah, saya dan ibu saya mengantarkan adik  ke tempat tugas suaminya yang berada di daerah Sulawesi Utara, tepatnya di daerah Bitung. Baru pertama kali bagi saya menapakkan kaki di daerah pulau Sulawesi. Di sana saya menjadi lebih sadar bahwa bangsa Indonesia memang bangsa yang besar secara geografis. Di Bitung, saya melihat budaya yang sangat berbeda dengan dengan daerah di pulau Jawa. Di sana alamnya masih hijau, mayoritas penduduk beragama Kristen, kehidupan masyarakat cukup aman, toleransi beragama terasa baik, dan yang pasti saya tidak melihat kemacetan seperti yang sering saya alami di Jakarta. Kebetulan rumah dinas yang di tempati oleh adik saya berada di tengah kota Bitung dan dekat dengan pelabuhan, jadi setiap hari selama saya disana saya selalu menikmati sibuknya masyarakat kota pelabuhan dengan aneka kegiatannya. Bitung adalah kota pelabuhan di Sulawesi Utara, dan di sanalah markas angkatan laut berada. 3 hari di Bitung saya lalui dengan jalan-jalan di kota itu, jalan-jalan ke pangakalan angkatan laut dan kita juga jalan-jalan ke kota Manado yang ditempuh dalam waktu 1 jam menggunakan mobil pribadi dari kota Bitung. Manado tentunya lebih modern dan ramai bila dibanding Bitung. Ya, secara garis besar saya menilai 2 kota tersebut cukup membuat saya ingin berkunjung lagi ke sana....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Juli 2007, saya berangkat ke Singapur untuk melanjutkan studi doktoral. Alhamdulillah semua urusan administrasi cukup lancar saya urus. Hebatnya ketika saya datang saya hanya confirm saja semua yang sudah saya urus melalui online dari website NTU, dan untuk urusan imigrasi, saya juga mengurusnya melalui online, ketika tiba di Singapur semua sudah ok. Sungguh luar biasa sistem yang diterapkan oleh pemerintah Singapore. Ketika pertama kali saya aktif riset dan kuliah, kesan saya adalah bangga dan senang. Bangga karena saya bisa bergabung di bawah bimbingan Profesor yang bijaksana dan memiliki teman-teman yang rajin, baik, pekerja keras. Senang karena infra struktur dan budaya pendidikan serta riset sukup kondusif, jauh bila saya bandingkan dengan Indonesia. Semua itu merupakan hal yang tiada ternilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 2007 pula tepatnya dalam kurun waktu bulan Agustus-Desember ini, saya harus memilih tempat untuk mengabdi sekembalinya saya ke Indonesia. Saya dalam waktu yang bersamaan mengikuti dua tes menjadi dosen di Universitas Indonesia, UI (almamater saya) dan Universitas Negeri Jakarta, UNJ. Dua universitas tersebut secara status berbeda, UI adalah universitas otonom (BHMN) sedangkan UNJ adalah universitas negeri yang masih mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dalam tes yang saya ikuti, dari info yang saya peroleh bahwa hasil tes sikologi saya di UI cukup baik, namun karena tahapan tes yang harus dilalui memakan waktu yang panjang maka saya tidak mengikuti tes kedua. Bersamaan dengan itu, saya mengikuti tes pula di UNJ dikarenakan saya berusaha untuk realistis dan tidak mau bermain dadu dengan umur dan waktu. Alhamdulillah, atas kehendaknya jua, saya berhasil lulus seleksi menjadi dosen di UNJ dengan proses yang cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah begitulah secara garis besar hal bersejarah yang saya alami di tahun 2007. Semoga di tahun 2008 kelak, kita dapat melangkah menuju hal yang lebih baik sesuai dengan pepatah hari esok harus lebih baik, hari kemarin jadikanlah pelajaran. Hanya orang merugilah apabila merasa sudah berlari cepat namun kenyataannya masih ditempat, hal itu bagai marmut yang berlari kencang di roda berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya ucapkan happy new year 2008, best wishes for all of you....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-7916455904064533277?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/7916455904064533277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=7916455904064533277' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7916455904064533277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/7916455904064533277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2007/12/renungan-akhir-tahun.html' title='Renungan akhir tahun....'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mvlZb4UA2YA/R2vaR2goojI/AAAAAAAAAIY/54VABmX8hC8/s72-c/17062007029.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-5947006664383720331</id><published>2007-12-21T05:47:00.000-08:00</published><updated>2007-12-21T05:52:47.533-08:00</updated><title type='text'>ZnO nanocomb</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="5" cellspacing="10"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" class="style30" align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Here, I uploaded one of report on ZnO application as biosensor. My Professor explained some uniques properties of ZnO nanocomb.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;taken from :http://www.nanowerk.com/spotlight/spotid=614.php&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A zinc oxide nanocomb biosensor for glucose detection      &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; (&lt;em&gt;Nanowerk Spotlight&lt;/em&gt;) New research shows that ZnO nanostructures are suitable for electrochemical biosensors. The enzyme used for glucose detection, glucose oxidase, was attached to ZnO nanocombs which resulted in a biosensor that exhibits a high affinity, high sensitivity, and fast response for glucose detection. This simple method of fabricating a ZnO based biosensor can be extended to immobilize other enzymes and other bioactive molecules on various 1D metal oxide nanostructures, and form versatile electrodes for biosensor studies. &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; This first report of constructing ZnO nanostructure glucose biosensors, titled &lt;a href="http://dx.doi.org/doi:10.1021/nl060245v" style="color: rgb(0, 0, 255);" target="new"&gt;"Zinc oxide nanocomb biosensor for glucose detection"&lt;/a&gt; was published in the June 5, 2006 issue of &lt;em&gt;Applied Physics Letters&lt;/em&gt;.      &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; Professor Xiaowei Sun from the &lt;a href="http://www.ntu.edu.sg/eee/" style="color: rgb(0, 0, 255);" target="new"&gt;School of Electrical and Electronic Engineering&lt;/a&gt; at Nanyang Technological University in Singapore, one of the report's authors, explains to Nanowerk: "We found that ZnO nanostructures, nanocombs in our case, can effectively modify the gold electrodes in the application of electrochemical biosensing." Sun explains several unique aspects of ZnO: &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; (1) A large &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Isoelectric_point" style="color: rgb(0, 0, 255);" target="new"&gt;isoelectric point&lt;/a&gt; (IEP) of 9.5, which allows it to attract low IEP proteins in a neutral solution by electrostatic attraction. This is a strong force that makes ZnO a better material to immobilize proteins (in our case, glucose oxidase); &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; (2) ZnO is a transparent conductor traditionally used as transparent electrodes for flat panel displays and solar cells, meaning it is a good electron communicator which can collect electrons generated in oxidizing glucose very efficiently and send them to the gold electrodes; &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; (3) ZnO nanostructures have large surface areas, indicating the device is sensitive and has fast response; in particular our nanocomb forms a dense network for large loading of enzyme and charge transferring channels; &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; (4) Other advantages include nontoxicity, chemical stability, and preserving the activity of the enzyme loaded.      &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td align="center"&gt;&lt;img src="http://www.nanowerk.com/spotlight/id614.jpg" alt="" border="0" hspace="5" vspace="5" /&gt;&lt;/td&gt;      &lt;td style="font-style: italic;" align="center"&gt;SEM image of a ZnO nanocomb (Reprinted with permission from the American Institute of Physics)         &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; "Typical electrochemical glucose biosensors using gold electrodes have low sensitivity" explains Sun. "Using our ZnO nanocomb electrodes, high loading of enzyme can be realized to enable a high sensitivity biosensor. Moreover, our ZnO nano electrodes can be used for other biosensors by changing the enzyme." &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; "Historically, we have been working on ZnO and its nanostructures, and we are constantly looking for new applications of these nanostructures" says Sun. "Looking ahead, we can expect a cheap and high sensitivity biosensor as a result of our work. Of course, we need to do more experiments to test out the durability and some manufacturing issues." &lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt; &lt;em&gt;By Michael Berger, Copyright 2006 Nanowerk LLC. All rights reserved.&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4500607348532940251-5947006664383720331?l=isugihar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isugihar.blogspot.com/feeds/5947006664383720331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4500607348532940251&amp;postID=5947006664383720331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5947006664383720331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4500607348532940251/posts/default/5947006664383720331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isugihar.blogspot.com/2007/12/zno-nanocomb.html' title='ZnO nanocomb'/><author><name>Iwan Sugihartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15168601196442910541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4500607348532940251.post-2566454122246845854</id><published>2007-12-19T21:56:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T16:34:27.086-08:00</updated><title type='text'>loyalkah saya terhadap almamater.....</title><content type='html'>Tulisan ini dibuat sebagai alasan mengapa saya menjadi PNS di Universitas Negeri Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tiada motivasi lain untuk terjun ke dunia pendidikan selain panggilan jiwa, tiada motivasi lain untuk tidak loyal dengan institusi yang membesarkan saya selain realitas yang saya alami, semua ini saya tentukan mengingat waktu yang berlalu dengan cepat sehingga menuntut kita cepat pula untuk bertindak"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak lulus sarjana Fisika pada tahun 2001, saya memutuskan untuk terjun dalam dunia pendidikan dan riset.  Bagi saya dunia pendidikan dan riset adalah dunia yang mulia dan penuh dengan amal kebaikan. Perjalanan karir saya dimulai dengan aktif menjadi asisten mengajar dari beberapa dosen di lingkungan Departemen Fisika seperti Dr. Supriyanto, Dr. Budhy Kurniawan, Dr. M. Hikam, (Almh)Dra. Sri Soejati M.Sc, Dra. Ganijanti, M.Si, Dr. Rachmat W. Adi, Dr. Cuk Imawan dan Dr. Djoko Triyono. Sedangkan selain aktif menjadi asisten mengajar saya juga aktif menjadi asisten di laboratorium Fisika Dasar, Fisika Lanjutan, dan asisten peneliti di laboratorium electron spin resonance (ESR). Suka duka menjadi asisten selama kurun waktu 2001-2004 saya jalani dengan penuh kesabaran. Dari tahun 2001 hingga 2002, saya benar-benar hidup dengan mengandalkan honor sebagai asisten yang besarannya jika dirata-rata hanya Rp. 800.000,00, honor sejumlah itu saya dapatkan bila saya mengajar sebagai asisten di fakultas teknik dan di program diploma instrumentasi elektronika.  Beruntung pada tahun 2002 ketika itu saya mendapatkan kesempatan mendapatkan beasiswa BPPS  pada program s2 magister Fisika 2002/2003. Beasiswa itu dapat membuat saya sedikit bernapas lega. Dalam kurun waktu 2002-2004, aktivitas saya sebagai asisten masih berjalan paralel dengan kuliah s2 Fisika yang saya jalani namun tentunya jam mengajar sebagai asisten pastinya berkurang. Bersyukur kuliah s2 bagi saya tidak banyak menemui kesulitan, sehingga dalam dua semester saya bisa melunasi beban kuliah yang diwajibkan. Dan pada tahun 2003/2004, saya sudah memulai riset s2 dengan bimbingan Dr. Budhy Kurniawan. Saat itu beliau juga masih memegang jabatan sebagai sekretaris Departemen Fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa saya aktif di dunia pendidikan dan riset di lingkungan Departemen Fisika wacana tentang universitas otonom cukup menjadi bahan perbincangan yang hangat dikalangan para staf honorer baik staf pengajar maupun staf non akademik. Saya dapat maklumi, karena meski Universitas Indonesia (UI) adalah salah satu Universitas besar namun masih banyak permasalahan yang perlu dibenahi dalam menjadikan dirinya universitas yang benar-benar otonom (BHMN=badan hukum milik negara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada tahun 2004, tepatnya bulan Agustus, saya lulus mendapatkan gelar Master dan pada bulan Agustus ditahun yang sama saya harus terbang ke Italia untuk melanjutkan studi post magister di the Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP), Trieste. Dalam tulisan ini saya ucapkan terima kasih lagi kepada Bapak Dr. Rachmat W Adi (Beliau adalah orang yang sangat berjasa dalam memotivasi saya untuk studi hingga saya mendapatkan posisi s3 di divisi mikroelektronik, EEE-NTU, Singapur). Ketika saya lulus dan berangkat ke Italia, UI masih dalam proses perubahan dan perbaikan sistem menjadi sebuah universitas BHMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya saya dari Italia pada tahun 2005, dalam kurun waktu 2 bulan saya mengalami kesulitan ekonomi karena saya belum punya penghasilan dan masih mencari peluang ngajar private lagi. Beruntung saat itu saya dapat pertolongan Dr. Rachmat W. Adi yang cukup perhatian dengan saya. Beliau memberikan kepercayaan pada saya untuk turut terlibat dalam even pembinaan Fisika di DKI Jakarta. Saat itu saya mengalami kekecewaan terhadap institusi yang membesarkan saya, karena mereka seolah cuek dengan kepulangan saya. Akhirnya demi menunjang hidup saya yang kebetulan juga sudah berkeluarga, sejak kepulangan saya dari Italia saya aktif membantu dalam pembinaan Fisika di daerah DKI. Sementara sebagian orang mungkin memandang bahwa saya tidak memiliki loyalitas. Ironis, mengapa saya katakan demikian? ketika orang menjustifikasi bentuk loyalitas seharusnya orang tersebut berkaca pada realita yang ada. Jadikanlah realita yang ada sebagai referensi sebelum menjustifikasi  orang lain tidak loyal atau loyalitasnya dipertanyakan. Ketika itu kehidupan ekonomi saya sungguh sulit, sementara lingkungan masyarakat, keluarga, teman, dll memandang saya sebagai dosen di UI bergelar Master dan post Master dari ICTP.  Tapi bagaimana realitasnya? mendapatkan honor dari UI pun pada awal kepulangan saya dari Italia tidak. Bahkan saya saat itu harus sibuk mencari tambahan dengan mengajar private. Dan pada Desember 2005, saya mendapatkan kesempatan mengikuti tes Hitachi untuk melanjutkan studi ke Jepang. Namun saat itu semua kandidat dari UI gagal diterima oleh Hitachi. Ketika itu saya sedikit kecewa, karena saya harus memikirkan bagaimana survive dengan keadaan saya yang belum jelas. Pada bulan Desember saat itu kebetulan Dr. Budhy Kurniawan yang masih menjabat sebagai sekretaris Departemen Fisika UI menunaikan ibadah Haji. Akhirnya beberapa tanggung jawab beliau saya turut bantu untuk menyelesaikannya. Saya berusaha mengerjakan semua yang diamanahkan oleh beliau sebaik yang saya bisa. Tentu saya kerjakan dengan berbagi waktu dengan kegiatan saya mengajar di tempat lain (privat). Ketika itu satu semester saya tidak dapat honor dari UI, pun dapat hanya dari honor yang saya peroleh ketika menggantikan dosen yang be
