Silahkan dibaca tulisan berikut..menarik lo..
Penulis : Robert Roy Britt (Senior Science Writer)
Antimatter sounds like the stuff of science fiction, and it is. But it's also very real. Antimatter is created and annihilated in stars every day. Here on Earth it's harnessed for medical brain scans.
"Antimatter is around us each day, although there isn't very much of it," says Gerald Share of the Naval Research Laboratory. "It is not something that can be found by itself in a jar on a table."
So Share went looking for evidence of some in the Sun, a veritable antimatter factory, leading to new results that provide limited fresh insight into these still-mysterious particles.
Simply put, antimatter is a fundamental particle of regular matter with its electrical charge reversed. The common proton has an antimatter counterpart called the antiproton. It has the same mass but an opposite charge. The electron's counterpart is called a positron.
Antimatter particles are created in ultra high-speed collisions.
One example is when a high-energy proton in a solar flare collides with carbon, Share explained in an e-mail interview. "It can form a type of nitrogen that has too many protons relative to its number of neutrons." This makes its nucleus unstable, and a positron is emitted to stabilize the situation.
But positrons don't last long. When they hit an electron, they annihilate and produce energy.
"So the cycle is complete, and for this reason there is so little antimatter around at a given time," Share said.
The antimatter wars
To better understand the elusive nature of antimatter, we must back up to the beginning of time.
In the first seconds after the Big Bang, there was no matter, scientists suspect. Just energy. As the universe expanded and cooled, particles of regular matter and antimatter were formed in almost equal amounts.
But, theory holds, a slightly higher percentage of regular matter developed -- perhaps just one part in a million -- for unknown reasons. That was all the edge needed for regular matter to win the longest running war in the cosmos.
"When the matter and antimatter came into contact they annihilated, and only the residual amount of matter was left to form our current universe," Share says.
Antimatter was first theorized based on work done in 1928 by the physicist Paul Dirac. The positron was discovered in 1932. Science fiction writers latched onto the concept and wrote of antiworlds and antiuniverses.
Potential power
Antimatter has tremendous energy potential, if it could ever be harnessed. A solar flare in July 2002 created about a pound of antimatter, or half a kilo, according to new NASA-led research. That's enough to power the United States for two days.
Laboratory particle accelerators can produce high-energy antimatter particles, too, but only in tiny quantities. Something on the order of a billionth of a gram or less is produced every year.
Nonetheless, sci-fi writers long ago devised schemes using antimatter to power space travelers beyond light-speed. Antimatter didnt get a bad name, but it sunk into the collective consciousness as a purely fictional concept. Given some remarkable physics breakthrough, antimatter could in theory power a spacecraft. But NASA researchers say it's nothing that will happen in the foreseeable future.
Meanwhile, antimatter has proved vitally useful for medical purposes. The fleeting particles of antimatter are also created by the decay of radioactive material, which can be injected into a patient in order to perform Positron Emission Tomography, or PET scan of the brain. Here's what happens:
A positron that's produced by decay almost immediately finds an electron and annihilates into two gamma rays, Share explains. These gamma rays move in opposite directions, and by recording several of their origin points an image is produced.
Looking at the Sun
In the Sun, flares of matter accelerate already fast-moving particles, which collide with slower particles in the Sun's atmosphere, producing antimatter. Scientists had expected these collisions to happen in relatively dense regions of the solar atmosphere. If that were the case, the density would cause the antimatter to annihilate almost immediately.
Share's team examined gamma rays emitted by antimatter annihilation, as observed by NASA's RHESSI spacecraft in work led by Robert Lin of the University of California, Berkeley.
The research suggests the antimatter perhaps shuffles around, being created in one spot and destroyed in another, contrary to what scientists expect for the ephemeral particles. But the results are unclear. They could also mean antimatter is created in regions where extremely high temperatures make the particle density 1,000 times lower than what scientists expected was conducive to the process.
Details of the work will be published in Astrophysical Journal Letters on Oct. 1.
Unknowns remain
Though scientists like to see antimatter as a natural thing, much about it remains highly mysterious. Even some of the fictional portrayals of mirror-image objects have not been proven totally out of this world.
"We cannot rule out the possibility that some antimatter star or galaxy exists somewhere," Share says. "Generally it would look the same as a matter star or galaxy to most of our instruments."
Theory argues that antimatter would behave identical to regular matter gravitationally.
"However, there must be some boundary where antimatter atoms from the antimatter galaxies or stars will come into contact with normal atoms," Share notes. "When that happens a large amount of energy in the form of gamma rays would be produced. To date we have not detected these gamma rays even though there have been very sensitive instruments in space to observe them."
This article is part of SPACE.com's weekly Mystery Monday series
Selasa, 16 Juni 2009
Kamis, 21 Mei 2009
Selamat buat Riana :-)
sumber : http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/20/05410696/belum.genap.18.tahun.riana.sudah.jadi.dokter
Selamat dan luar biasa! Hanya kata itu yang tepat diucapkan untuk dr Riana Helmi. Dalam usianya yang belum genap 18 tahun, tepatnya 17 tahun 11 bulan, remaja kelahiran Banda Aceh itu diwisuda sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Wisuda dilakukan di gedung pertemuan UGM Grha Sabha Pramana, Yogyakarta, Selasa (19/5).
Riana, demikian gadis berperawakan kecil itu akrab disapa, menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga tahun enam bulan dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sangat memuaskan, yaitu 3,67. Karena prestasinya itu, Riana sempat menerima pujian dan diminta berdiri oleh Rektor UGM Soedjarwadi.
"Ya, Alhamdulillah saya bisa jadi wisudawan termuda," ucapnya didampingi kedua orangtuanya, Ajun Komisaris Helmi dan Rofiah, seusai wisuda.
Riana lahir di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, 22 Maret 1991. Dia masuk ke Fakultas Kedokteran UGM melalui jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS) pada September 2005. Usianya saat itu masih 14 tahun lewat tiga bulan, atau setara dengan pelajar kelas II SMP pada umumnya.
Meski sangat muda, Riana mengaku tidak banyak kendala dalam menyesuaikan diri dengan mahasiswa lain yang rata-rata berusia empat tahun lebih tua darinya. Dia juga menjalani kuliah kedokteran secara normal, dengan banyak tugas seperti mahasiswa lainnya. Sebagai mahasiswa termuda, hal ini kerap membuatnya gelisah.
"Kesulitan karena tugas sangat banyak sih ada, tapi syukurlah semua bisa saya atasi," kata Riana yang mempelajari kanker payudara dalam skripsinya.
Lulus dalam usia yang masih sangat muda, Riana masih ingin melanjutkan sekolahnya. Menurut rencana, dia akan mengambil pendidikan spesialis untuk meraih cita-citanya sebagai dokter spesialis kandungan.
Kelas akselerasi
Riana dikenal cerdas sejak kecil. Selama di bangku SMP dan SMA Negeri 3 Sukabumi, Jawa Barat, Riana yang menghabiskan masa kecilnya di Garut dan Sukabumi itu selalu duduk di kelas percepatan (akselerasi).
Selain itu, Riana juga masuk SD pada usia sangat muda, yaitu empat tahun. "Sejak usia tiga tahun, dia sudah lancar membaca," kata Helmi yang merupakan perwira polisi pendidik di Sekolah Polri Lido, Sukabumi, Jawa Barat.
Menurut Helmi, sejak kecil, rasa ingin tahu Riana sangat besar. Dia juga lebih gemar belajar daripada bermain. Meskipun tidak ada yang menyuruh, sebagian besar waktu luangnya justru dia isi dengan membaca.
"Riana kecil juga tidak suka bermain boneka. Dia malah takut dan menjerit kalau melihat boneka di dekatnya," ujar Helmi.
Selamat dan luar biasa! Hanya kata itu yang tepat diucapkan untuk dr Riana Helmi. Dalam usianya yang belum genap 18 tahun, tepatnya 17 tahun 11 bulan, remaja kelahiran Banda Aceh itu diwisuda sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Wisuda dilakukan di gedung pertemuan UGM Grha Sabha Pramana, Yogyakarta, Selasa (19/5).
Riana, demikian gadis berperawakan kecil itu akrab disapa, menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga tahun enam bulan dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sangat memuaskan, yaitu 3,67. Karena prestasinya itu, Riana sempat menerima pujian dan diminta berdiri oleh Rektor UGM Soedjarwadi.
"Ya, Alhamdulillah saya bisa jadi wisudawan termuda," ucapnya didampingi kedua orangtuanya, Ajun Komisaris Helmi dan Rofiah, seusai wisuda.
Riana lahir di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, 22 Maret 1991. Dia masuk ke Fakultas Kedokteran UGM melalui jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS) pada September 2005. Usianya saat itu masih 14 tahun lewat tiga bulan, atau setara dengan pelajar kelas II SMP pada umumnya.
Meski sangat muda, Riana mengaku tidak banyak kendala dalam menyesuaikan diri dengan mahasiswa lain yang rata-rata berusia empat tahun lebih tua darinya. Dia juga menjalani kuliah kedokteran secara normal, dengan banyak tugas seperti mahasiswa lainnya. Sebagai mahasiswa termuda, hal ini kerap membuatnya gelisah.
"Kesulitan karena tugas sangat banyak sih ada, tapi syukurlah semua bisa saya atasi," kata Riana yang mempelajari kanker payudara dalam skripsinya.
Lulus dalam usia yang masih sangat muda, Riana masih ingin melanjutkan sekolahnya. Menurut rencana, dia akan mengambil pendidikan spesialis untuk meraih cita-citanya sebagai dokter spesialis kandungan.
Kelas akselerasi
Riana dikenal cerdas sejak kecil. Selama di bangku SMP dan SMA Negeri 3 Sukabumi, Jawa Barat, Riana yang menghabiskan masa kecilnya di Garut dan Sukabumi itu selalu duduk di kelas percepatan (akselerasi).
Selain itu, Riana juga masuk SD pada usia sangat muda, yaitu empat tahun. "Sejak usia tiga tahun, dia sudah lancar membaca," kata Helmi yang merupakan perwira polisi pendidik di Sekolah Polri Lido, Sukabumi, Jawa Barat.
Menurut Helmi, sejak kecil, rasa ingin tahu Riana sangat besar. Dia juga lebih gemar belajar daripada bermain. Meskipun tidak ada yang menyuruh, sebagian besar waktu luangnya justru dia isi dengan membaca.
"Riana kecil juga tidak suka bermain boneka. Dia malah takut dan menjerit kalau melihat boneka di dekatnya," ujar Helmi.
Kamis, 30 April 2009
Inilah kiat menjadi seorang pemimpin....
Seandainya para pemimpin di instansi manapun mampu melaksanakan 5M, saya pikir kita akan solid dan kuat. Monggo disimak :
“5M” KIAT PEMIMPIN: MULAT, MILALAO, MILUTA, PALIDARMA, DAN PALIMARMA
sumber : http://javanologi.blogspot.com/2008/06/kepemimpinan-jawa-wawan-susetya.html
Dalam khasanah budaya Jawa, terdapat paugeran atau rambu-rambu yang harus menjadi fokus pencermatan bagi seorang-orang yang merasa dirinya sebagau pemimpin. Paugeran itu adalah:
Mulat; (mengetahui).
Bagi seorang orang pemimpin hendaknya 'mulat yakni mengetahui keberadaan atau keadaan rakyatnya dari dekat. Utamanya ketika terjadi musibah, seperti bencana penyakit, bencana alam atau lainnya.Dalam arti yang terdalam seorang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin adalah manusia yang memiliki tingat empati yang tingg. Sifat ini juga disarankan kepada seorang guru, sehingga mengerti secara utuh segenap persoalan yang dimiliki sang murid. Mulat juga dapat diartikan kemampuan mencermati/mengamati, atau memonitor setiap dinamika perkembangan yang dimiliki rakyat.
Milala; (bombong; mem-bombong, membesarkan hati, atau memuji).
Bagi seorang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin, dan ketika melihat keadaan rakyatnya sedang dirundung malang akibat musibah atau petaka lainnya, ia harus membesarakan hati rakyatnya, memberikan semangat agar bangkit dari duka-nestapa, dan tidak larut dalam kedukaan yang terdalam. Bagi seorang guru milala identik dengan upaya memberikan motivasi agar mengalir energi potensial yang dimiliki oleh siswa. Energi ini biasanya merupakan energi yang tersimpan, manakala terdapat pematik [stimulan] dari luar, serta merta energi ini dapat dibangkitkan.Dalam penerapannya harus dilakukan sebagai usaha sadar pembangkit, bukan sebaliknya sebagai alat untuk “ngembosi”, atau “njlomprongke” [pujian yang menjerumuskan]
Miluta, (bimbing; membimbing, menagarahkan atau menunjukkan kesalahannya).
Seorang-orang yang mengaku dirinya sebagai pemimpin, sangat ditungu-tunggu nasihatnya, sehingga rakyat akan selalu berada di rel yang benar. Demikian halnya bagi seorang guru atau orang tua; setelah bombong [membombong=memuji] anak atau siswanya, selanjutnya harus diikuti dengan bimbingan. Sehingga rakyat akan tetap terawat pada patron yang benar.
Palidarma (memberikan teladan/contoh).
Rambu-rambu palidarma dalam hal ini sudah sangat populer; yakni sebagai seorang pemimpin, orang tua atau guru, harus dapat memberikan teladan yang indah dan baik—falsafah, Ki Hadjar Dewantara “ Ing ngarsa sun tuladha"
Palimarma (memberikan maaf atau memaafkan).
Seorang pemimpin yang bijak diharapkan gampang memberikan maaf kesalahan rakyatnya. Pemimpin harus berani meminta maaf, mengaku kesalahan dikala salah. Juga bagi seorang guru, murah dan mudah memaafkan adalah bagian dari citra dirinya.
“5M” KIAT PEMIMPIN: MULAT, MILALAO, MILUTA, PALIDARMA, DAN PALIMARMA
sumber : http://javanologi.blogspot.com/2008/06/kepemimpinan-jawa-wawan-susetya.html
Dalam khasanah budaya Jawa, terdapat paugeran atau rambu-rambu yang harus menjadi fokus pencermatan bagi seorang-orang yang merasa dirinya sebagau pemimpin. Paugeran itu adalah:
Mulat; (mengetahui).
Bagi seorang orang pemimpin hendaknya 'mulat yakni mengetahui keberadaan atau keadaan rakyatnya dari dekat. Utamanya ketika terjadi musibah, seperti bencana penyakit, bencana alam atau lainnya.Dalam arti yang terdalam seorang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin adalah manusia yang memiliki tingat empati yang tingg. Sifat ini juga disarankan kepada seorang guru, sehingga mengerti secara utuh segenap persoalan yang dimiliki sang murid. Mulat juga dapat diartikan kemampuan mencermati/mengamati, atau memonitor setiap dinamika perkembangan yang dimiliki rakyat.
Milala; (bombong; mem-bombong, membesarkan hati, atau memuji).
Bagi seorang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin, dan ketika melihat keadaan rakyatnya sedang dirundung malang akibat musibah atau petaka lainnya, ia harus membesarakan hati rakyatnya, memberikan semangat agar bangkit dari duka-nestapa, dan tidak larut dalam kedukaan yang terdalam. Bagi seorang guru milala identik dengan upaya memberikan motivasi agar mengalir energi potensial yang dimiliki oleh siswa. Energi ini biasanya merupakan energi yang tersimpan, manakala terdapat pematik [stimulan] dari luar, serta merta energi ini dapat dibangkitkan.Dalam penerapannya harus dilakukan sebagai usaha sadar pembangkit, bukan sebaliknya sebagai alat untuk “ngembosi”, atau “njlomprongke” [pujian yang menjerumuskan]
Miluta, (bimbing; membimbing, menagarahkan atau menunjukkan kesalahannya).
Seorang-orang yang mengaku dirinya sebagai pemimpin, sangat ditungu-tunggu nasihatnya, sehingga rakyat akan selalu berada di rel yang benar. Demikian halnya bagi seorang guru atau orang tua; setelah bombong [membombong=memuji] anak atau siswanya, selanjutnya harus diikuti dengan bimbingan. Sehingga rakyat akan tetap terawat pada patron yang benar.
Palidarma (memberikan teladan/contoh).
Rambu-rambu palidarma dalam hal ini sudah sangat populer; yakni sebagai seorang pemimpin, orang tua atau guru, harus dapat memberikan teladan yang indah dan baik—falsafah, Ki Hadjar Dewantara “ Ing ngarsa sun tuladha"
Palimarma (memberikan maaf atau memaafkan).
Seorang pemimpin yang bijak diharapkan gampang memberikan maaf kesalahan rakyatnya. Pemimpin harus berani meminta maaf, mengaku kesalahan dikala salah. Juga bagi seorang guru, murah dan mudah memaafkan adalah bagian dari citra dirinya.
menyambut hari pendidikan nasional....
On may 2, every years Indonesia celebrates national education day.
Some questions will appear and courage my self to study further about the essential of education :
Is education important to a successful career in industry? amongs us perhaps often ask why education is important with respect to one’s career, particularly in the healthcare industry. Some people also want to know how education can impact overall quality of life, in addition to the impact education has on one's career.
Many job seekers, some who have years of experience, may not even be considered for a job, or they may be passed over for a candidate who has a degree, or more education, but has less experience. Why?
Lets we see the interesting analysis by Andrea Santiago , About.com.
Answer: Education is very important to both your personal and professional life, in a number of significant ways!
Depending on the level of success you’re seeking to achieve, the level of education may be relative, but the bottom line is, an education of some sort is often paramount to future success. Completing increasingly advanced levels of education shows that you have a drive and commitment to learn and apply information, ideas, theories, and formulas to achieve a variety of tasks and goals.
Subject Matters:
Probably the most obvious reason education is important is to acquire the subject matter and basic knowledge needed to get by in everyday life. For example:
English and language skills: English and language skills will help you to communicate your ideas more clearly. Communication skills are essential in any role – whether you’re dealing with co-workers, patients, customers, or supervisors, you will need to effectively convey your plans, ideas, goals, and such.
Math and science skills: Although calculators and computers are readily accessible, you still need to learn how to do basic computations and calculations on paper or in your head. If you are calculating dosages, counting surgical supplies, or tallying sales, math skills are imperative for a career, and for life. Cooking, shopping, driving, and many other everyday activities require math skills as well, regardless of your career choice.
The more you LEARN, the more you EARN:
Have you ever noticed that the word LEARN contains the word EARN? Perhaps that is because the higher level of education you achieve, the higher level of income you are likely to command as well. For example, consider the following health careers and the educational requirements as they relate to annual income:
Medical jobs, no college degree: Pay $20,000-40,000 annually, on average
Allied Health Careers, two years of college: Pay from $40,000-60,000 annually.
Nursing Careers, Associate's or Bachelor Degree: Pay $40,000-55,000 on average annually.
Advanced Nursing Careers, Master's Degree required: Pay $60,000-90,000+ annually.
Pharmacist, Bachelor's, + PharmD: Pay $90,000-115,000 annually.
Physician, Medical Doctorate required: Pay $120,000-$500,000+ annually
Are you seeing the trend here? Clearly, education is important for financial growth in the healthcare field, as with many other careers.
Many Employers Now Require Education for Employment:
Another primary reason education is important, is that it’s become a basic requirement for so many employers, to even get your foot in the door. Many employers require college level education, even for roles which previously did not require it, such as administrative assistant positions. The fewer years of education you’ve completed, the fewer doors are open to you. It’s that simple.
Educational requirements are a quick and easy way to narrow down the field of applicants, especially in situations where there are more applicants than jobs. When hiring from a field of candidates, employers prefer those who have completed the higher level of education.
Why has education become so important to employers? In working with hiring managers to conduct candidate searches, it seems that the education requirement has become a barrier for entry into many careers, because education allows you to:
Learn how to learn. School teaches you how to gather, learn, and apply knowledge. No matter what career you choose, you will need to learn procedures, information, and skills related to your job, and execute tasks based on that information and training.
Develop interpersonal skills. School allows you to interact with other people and refine your communication skills, including those of persuasion, conflict resolution, and teamwork.
Learn time and task management.Learn how to manage projects, deadlines, and complete assignments efficiently and effectively.
Learn from experience of others. By attending school, you are able to learn from the experience and intellect of thousands of people who have gone before you. In just a few years, through your textbooks, research, and class lessons, school gives you a consolidated overview of theories, formulas, ideologies, and experiments conducted by generations of scientists, philosophers, mathematicians, historians, and other experts. While gaining your own personal work experience is helpful too, a formal education is a way to learn from centuries of others’ life and work and academic experience before you.
As you can see, education is important to everyone, but education is even more important in the healthcare industry. Why?
Technology, math and science are key components of many healthcare roles: Healthcare careers often require knowledge and understanding of the sciences, and technology. These fields are always changing and growing with new developments and discoveries. Therefore it’s imperative to have a basic understanding you can build on with continuing education throughout your career, to keep up with the latest changes and new information.
Health professionals have a huge responsibility for the health, well-being, and survival of others. Therefore, health professionals must be particularly adept and relating to other people, learning and gathering information about a patient, and applying it to the treatment and care of that patient based on medical knowledge.
For many healthcare roles, degrees and certifications are required for licensure to practice in a certain capacity. Many allied healthcare jobs require at least an associate’s degree, most nurses need bachelor’s degrees, and physicians and advanced practice nurses must have many years of post-graduate training to include master’s and doctorate degrees.
Some questions will appear and courage my self to study further about the essential of education :
Is education important to a successful career in industry? amongs us perhaps often ask why education is important with respect to one’s career, particularly in the healthcare industry. Some people also want to know how education can impact overall quality of life, in addition to the impact education has on one's career.
Many job seekers, some who have years of experience, may not even be considered for a job, or they may be passed over for a candidate who has a degree, or more education, but has less experience. Why?
Lets we see the interesting analysis by Andrea Santiago , About.com.
Answer: Education is very important to both your personal and professional life, in a number of significant ways!
Depending on the level of success you’re seeking to achieve, the level of education may be relative, but the bottom line is, an education of some sort is often paramount to future success. Completing increasingly advanced levels of education shows that you have a drive and commitment to learn and apply information, ideas, theories, and formulas to achieve a variety of tasks and goals.
Subject Matters:
Probably the most obvious reason education is important is to acquire the subject matter and basic knowledge needed to get by in everyday life. For example:
English and language skills: English and language skills will help you to communicate your ideas more clearly. Communication skills are essential in any role – whether you’re dealing with co-workers, patients, customers, or supervisors, you will need to effectively convey your plans, ideas, goals, and such.
Math and science skills: Although calculators and computers are readily accessible, you still need to learn how to do basic computations and calculations on paper or in your head. If you are calculating dosages, counting surgical supplies, or tallying sales, math skills are imperative for a career, and for life. Cooking, shopping, driving, and many other everyday activities require math skills as well, regardless of your career choice.
The more you LEARN, the more you EARN:
Have you ever noticed that the word LEARN contains the word EARN? Perhaps that is because the higher level of education you achieve, the higher level of income you are likely to command as well. For example, consider the following health careers and the educational requirements as they relate to annual income:
Medical jobs, no college degree: Pay $20,000-40,000 annually, on average
Allied Health Careers, two years of college: Pay from $40,000-60,000 annually.
Nursing Careers, Associate's or Bachelor Degree: Pay $40,000-55,000 on average annually.
Advanced Nursing Careers, Master's Degree required: Pay $60,000-90,000+ annually.
Pharmacist, Bachelor's, + PharmD: Pay $90,000-115,000 annually.
Physician, Medical Doctorate required: Pay $120,000-$500,000+ annually
Are you seeing the trend here? Clearly, education is important for financial growth in the healthcare field, as with many other careers.
Many Employers Now Require Education for Employment:
Another primary reason education is important, is that it’s become a basic requirement for so many employers, to even get your foot in the door. Many employers require college level education, even for roles which previously did not require it, such as administrative assistant positions. The fewer years of education you’ve completed, the fewer doors are open to you. It’s that simple.
Educational requirements are a quick and easy way to narrow down the field of applicants, especially in situations where there are more applicants than jobs. When hiring from a field of candidates, employers prefer those who have completed the higher level of education.
Why has education become so important to employers? In working with hiring managers to conduct candidate searches, it seems that the education requirement has become a barrier for entry into many careers, because education allows you to:
Learn how to learn. School teaches you how to gather, learn, and apply knowledge. No matter what career you choose, you will need to learn procedures, information, and skills related to your job, and execute tasks based on that information and training.
Develop interpersonal skills. School allows you to interact with other people and refine your communication skills, including those of persuasion, conflict resolution, and teamwork.
Learn time and task management.Learn how to manage projects, deadlines, and complete assignments efficiently and effectively.
Learn from experience of others. By attending school, you are able to learn from the experience and intellect of thousands of people who have gone before you. In just a few years, through your textbooks, research, and class lessons, school gives you a consolidated overview of theories, formulas, ideologies, and experiments conducted by generations of scientists, philosophers, mathematicians, historians, and other experts. While gaining your own personal work experience is helpful too, a formal education is a way to learn from centuries of others’ life and work and academic experience before you.
As you can see, education is important to everyone, but education is even more important in the healthcare industry. Why?
Technology, math and science are key components of many healthcare roles: Healthcare careers often require knowledge and understanding of the sciences, and technology. These fields are always changing and growing with new developments and discoveries. Therefore it’s imperative to have a basic understanding you can build on with continuing education throughout your career, to keep up with the latest changes and new information.
Health professionals have a huge responsibility for the health, well-being, and survival of others. Therefore, health professionals must be particularly adept and relating to other people, learning and gathering information about a patient, and applying it to the treatment and care of that patient based on medical knowledge.
For many healthcare roles, degrees and certifications are required for licensure to practice in a certain capacity. Many allied healthcare jobs require at least an associate’s degree, most nurses need bachelor’s degrees, and physicians and advanced practice nurses must have many years of post-graduate training to include master’s and doctorate degrees.
Kamis, 23 April 2009
Kiat mewujudkan kesuksesan....
Artikel yang ditulis oleh : Johanne Alarie ini cukup bagus untuk memotivasi dan memberikan pencerahan how to be suceesfull dalam perjalanan hidup kita. Monggo disimak, semoga bermanfaat.
Is it not what we all are dreaming of? Being a Success! We want to be successful in school, in our jobs, in our relationships. In fact, we dream about being successful in everything. But what a challenge this is! Most of the people believe that they just can't achieve great success because they don't have what it takes, or because they're not educated enough! They complain that luck is never on their side or that they weren't born to be successful, or even that they are too poor to ever even think about being something else! You know what? You don't need luck or any diploma to accomplish the success you deserve. You just need faith. Faith that you will indeed be successful, faith that you have all that it takes to make it to the top! You have to BELIEVE that YOU ARE the most successful person you ever met. If you don't believe in yourself, who on earth do you think will? The most successful persons in the world (businessmen (women), signers, physicians, etc.) all have that point in common: They all believed firmly that they were going to be exactly what they expected to be. They never doubted themselves, they had faith in their potentials and they were absolutely convinced that they would make it to the top! They never accepted a No for an answer. Nothing as ever stopped them, slowed down maybe, but never stopped! Well that is very neat on paper, but I can hear you tell me: "It's easier said than done! How can I have faith in myself, when all that I have done so far hasn't brought me the success I am dreaming of? Everything that I'm trying ends up in a mess! Oh, I have attained some results of course, but I want more than that!" And that could go on and on... There is a lot of things that ANYBODY can do to become a success in any field they choose: relationships, business, career, anything you can think of! First, you have to understand that you will need to make an effort, not necessarily a huge one, but let's put it that way: you will definitely need consistence in your doings. With anything that you're trying to attain if you don't give consistent efforts, you'll just simply NEVER get what you expect. The main point is to believe that YOU CAN be successful, and YOU WILL indeed. One good method I am using for years now is Affirmation. And that doesn‚t really take a great deal of an effort to do. Simply keep repeating to your self some sentences like these ones: - I am a successful person. - I can attain any success level I desire. - I will be rich because I deserve it! - Etc. There are some rules that have to be followed when using the Affirmation Method.
Never use any negative form in you sentences (i.e.: I will not fail in anything anymore. It's better to use: I will succeed in everything I'm undertaking from now on.) And trust me, affirmations really works! So if you affirm anything negative, this is what you'll get! So be aware of it, and very careful in your affirmations.
You also have to be repetitive. Repeat at least 10 to 20 times each affirmation every day, for several days. What I like to do when I have a goal to attain is to pick up 2 or 3 sentences that make sense to me. Then I write them down 10 times each, and I repeat the process for at least 7 days in a row.
Remember, consistency!!! You can even go further and do it for 2 to 3 weeks in a row. The longer you do it, the better results you'll get. You will be surprised on how effective that simple and easy method is. Few years ago I started with affirmations to help me care about my self. Yeah! I was like that! A person that didn't like herself enough to believe that she could do anything good. Well that simple method had simply change my life for the better! Now I am happy with myself, my life with my family and friends is fill with joy and happiness, I run a successful business in Graphic Arts and I do have a great success with my spare time e-businesses. So, let me tell you that this method can really change your life too if you only give it a try! I went from living in a stressful mood all the time, never expecting anything good could ever happen to me, to being loaded with confidence in my possibilities and chances of being successful in all the aspects of my life! And still sometimes when something doesn't go the way I want it, I grab my pen and start writing positive affirmations. And back on the good track I am! So pick up your pen, and start climbing the road to success! With that simple method you too can become successful in any of your goals. I simply wish the information I just gave you, will help you out! Don't hesitate to contact me, I'll be more than glad to hear from you and discuss that method with you.
Is it not what we all are dreaming of? Being a Success! We want to be successful in school, in our jobs, in our relationships. In fact, we dream about being successful in everything. But what a challenge this is! Most of the people believe that they just can't achieve great success because they don't have what it takes, or because they're not educated enough! They complain that luck is never on their side or that they weren't born to be successful, or even that they are too poor to ever even think about being something else! You know what? You don't need luck or any diploma to accomplish the success you deserve. You just need faith. Faith that you will indeed be successful, faith that you have all that it takes to make it to the top! You have to BELIEVE that YOU ARE the most successful person you ever met. If you don't believe in yourself, who on earth do you think will? The most successful persons in the world (businessmen (women), signers, physicians, etc.) all have that point in common: They all believed firmly that they were going to be exactly what they expected to be. They never doubted themselves, they had faith in their potentials and they were absolutely convinced that they would make it to the top! They never accepted a No for an answer. Nothing as ever stopped them, slowed down maybe, but never stopped! Well that is very neat on paper, but I can hear you tell me: "It's easier said than done! How can I have faith in myself, when all that I have done so far hasn't brought me the success I am dreaming of? Everything that I'm trying ends up in a mess! Oh, I have attained some results of course, but I want more than that!" And that could go on and on... There is a lot of things that ANYBODY can do to become a success in any field they choose: relationships, business, career, anything you can think of! First, you have to understand that you will need to make an effort, not necessarily a huge one, but let's put it that way: you will definitely need consistence in your doings. With anything that you're trying to attain if you don't give consistent efforts, you'll just simply NEVER get what you expect. The main point is to believe that YOU CAN be successful, and YOU WILL indeed. One good method I am using for years now is Affirmation. And that doesn‚t really take a great deal of an effort to do. Simply keep repeating to your self some sentences like these ones: - I am a successful person. - I can attain any success level I desire. - I will be rich because I deserve it! - Etc. There are some rules that have to be followed when using the Affirmation Method.
Never use any negative form in you sentences (i.e.: I will not fail in anything anymore. It's better to use: I will succeed in everything I'm undertaking from now on.) And trust me, affirmations really works! So if you affirm anything negative, this is what you'll get! So be aware of it, and very careful in your affirmations.
You also have to be repetitive. Repeat at least 10 to 20 times each affirmation every day, for several days. What I like to do when I have a goal to attain is to pick up 2 or 3 sentences that make sense to me. Then I write them down 10 times each, and I repeat the process for at least 7 days in a row.
Remember, consistency!!! You can even go further and do it for 2 to 3 weeks in a row. The longer you do it, the better results you'll get. You will be surprised on how effective that simple and easy method is. Few years ago I started with affirmations to help me care about my self. Yeah! I was like that! A person that didn't like herself enough to believe that she could do anything good. Well that simple method had simply change my life for the better! Now I am happy with myself, my life with my family and friends is fill with joy and happiness, I run a successful business in Graphic Arts and I do have a great success with my spare time e-businesses. So, let me tell you that this method can really change your life too if you only give it a try! I went from living in a stressful mood all the time, never expecting anything good could ever happen to me, to being loaded with confidence in my possibilities and chances of being successful in all the aspects of my life! And still sometimes when something doesn't go the way I want it, I grab my pen and start writing positive affirmations. And back on the good track I am! So pick up your pen, and start climbing the road to success! With that simple method you too can become successful in any of your goals. I simply wish the information I just gave you, will help you out! Don't hesitate to contact me, I'll be more than glad to hear from you and discuss that method with you.
Jumat, 27 Maret 2009
Bencana kok terus-terusan...astagfirullah....
oleh : Iwan
Dalam kurun waktu 2 tahunan ini saya melihat sudah puluhan bencana yang menimpa negeri Indonesia....masih di dalam ingatan saya ketika membaca ratusan orang tewas akibat karamnya kapal di laut Majene, dan kini hal yang terduga adalah tragedi jebolnya tanggul situ Gintung.
Di sini saya tertarik untuk sedikit menganalisis kenapa tanggul tersebut bisa jebol. Dari pemberitaan media, dan ungkapan para pimpinan negeri ini, peristiwa tersebut adalah murni bencana. Pertanyaan yang membuat saya ingin berkomentar adalah, bila dikatakan bencana, termasuk ke dalam ranah bencana alamkah? atau bencana akibat kelalaian pemerintah?
Mari kita coba analisis, tanggul tersebut adalah tanggul yang dibuat pada tahun 1933 oleh pemerintah kolonial Belanda.Belanda membangun tanggul tersebut, karena posisi situ yang berada di daerah lebih tinggi dari permukaan tanah disekitar areal tersebut. Sehingga areal yang berada di permukaan lebih rendah dapat dimanfaatkan sebagai areal buat kepentingan lain, seperti perkebunan, dsb, serta tidak kuatir dengan sistem pengairan/irigasi.
Bagaimana dengan kondisi sebelum bencana menimpa ? Terakhir kali saya pernah mengunjungi daerah situ Gintung di dekat perumahan dosen UI pada tahun 2002an. Di sana saya melihat memang daerah di sekitar situ merupakan pemukiman padat penduduk. Bisa dibayangkan, tanggul yang berumur ratusan tahun yang menjaga situ dengan luas kurang lebih 20 hektar berada di daerah padat penduduk.
Pertanyaan saya, begitu percayakah masyrakat dengan bangunan ujur? apakah inspeksi semacam non destructive testing periodik dilakukan? merujuk pada pertanyaan pertama, mungkin saya akan menilai, masyrakat daerah tersebut sangat percaya dengan kinerja pemerintah dalam memelihara kualitas tanggul atau memang mereka tidak tahu apa-apa.
Apa sih non destructive testing (NDT) ? ini merupakan suatu inspeksi yang tidak merusak terhadap suatu material atau bahan. Tekniknya macam-macam, ada liquid penetrant, magnetic particle inspection, arus eddy, radiography, dan ultrasonic testing. Nah, menurut saya jika inspeksi terhadap tanggul dilakukan secara periodik. Mungkin kita bisa melihat dan menganalisis ada atau tidaknya crack/retakan di tanggul. Bila crack dapat di monitor dari waktu ke waktu, tentu bisa disegerakan untuk memperbaikinya.
Nasi sudah menjadi bubur, hikmah yang diambil adalah, pemerintah dan masyrakat harus lebih paham tentang teknologi dan sadar dengan mekanisme perawatan. Perawatan sepertinya terlihat ribet dan mahal secara ekonomi, namun bila timbul masalah, biaya perbaikan tentu akan lebih mahal. Belum lagi bila masalah itu menyangkut nyawa, tentu harganya tidak ternilai....
At last but not least, saya doakan agar korban meninggal kibat tanggul situ Gintung di terima di sisi sang Khalik sang Illahi rabbi....dan korban selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan...Amiiinn....
Dalam kurun waktu 2 tahunan ini saya melihat sudah puluhan bencana yang menimpa negeri Indonesia....masih di dalam ingatan saya ketika membaca ratusan orang tewas akibat karamnya kapal di laut Majene, dan kini hal yang terduga adalah tragedi jebolnya tanggul situ Gintung.
Di sini saya tertarik untuk sedikit menganalisis kenapa tanggul tersebut bisa jebol. Dari pemberitaan media, dan ungkapan para pimpinan negeri ini, peristiwa tersebut adalah murni bencana. Pertanyaan yang membuat saya ingin berkomentar adalah, bila dikatakan bencana, termasuk ke dalam ranah bencana alamkah? atau bencana akibat kelalaian pemerintah?
Mari kita coba analisis, tanggul tersebut adalah tanggul yang dibuat pada tahun 1933 oleh pemerintah kolonial Belanda.Belanda membangun tanggul tersebut, karena posisi situ yang berada di daerah lebih tinggi dari permukaan tanah disekitar areal tersebut. Sehingga areal yang berada di permukaan lebih rendah dapat dimanfaatkan sebagai areal buat kepentingan lain, seperti perkebunan, dsb, serta tidak kuatir dengan sistem pengairan/irigasi.
Bagaimana dengan kondisi sebelum bencana menimpa ? Terakhir kali saya pernah mengunjungi daerah situ Gintung di dekat perumahan dosen UI pada tahun 2002an. Di sana saya melihat memang daerah di sekitar situ merupakan pemukiman padat penduduk. Bisa dibayangkan, tanggul yang berumur ratusan tahun yang menjaga situ dengan luas kurang lebih 20 hektar berada di daerah padat penduduk.
Pertanyaan saya, begitu percayakah masyrakat dengan bangunan ujur? apakah inspeksi semacam non destructive testing periodik dilakukan? merujuk pada pertanyaan pertama, mungkin saya akan menilai, masyrakat daerah tersebut sangat percaya dengan kinerja pemerintah dalam memelihara kualitas tanggul atau memang mereka tidak tahu apa-apa.
Apa sih non destructive testing (NDT) ? ini merupakan suatu inspeksi yang tidak merusak terhadap suatu material atau bahan. Tekniknya macam-macam, ada liquid penetrant, magnetic particle inspection, arus eddy, radiography, dan ultrasonic testing. Nah, menurut saya jika inspeksi terhadap tanggul dilakukan secara periodik. Mungkin kita bisa melihat dan menganalisis ada atau tidaknya crack/retakan di tanggul. Bila crack dapat di monitor dari waktu ke waktu, tentu bisa disegerakan untuk memperbaikinya.
Nasi sudah menjadi bubur, hikmah yang diambil adalah, pemerintah dan masyrakat harus lebih paham tentang teknologi dan sadar dengan mekanisme perawatan. Perawatan sepertinya terlihat ribet dan mahal secara ekonomi, namun bila timbul masalah, biaya perbaikan tentu akan lebih mahal. Belum lagi bila masalah itu menyangkut nyawa, tentu harganya tidak ternilai....
At last but not least, saya doakan agar korban meninggal kibat tanggul situ Gintung di terima di sisi sang Khalik sang Illahi rabbi....dan korban selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan...Amiiinn....
Senin, 09 Maret 2009
Pendidik bukan seorang pemburu.....
Artikel yang dimuat pada : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/07/03214961/pendidik..bukan.pemburu, membuat saya banyak merenung. Memang studi di Singapur kita dituntut untuk berpacu menghasilkan sebuah karya ilmiah yang populer. Namun ini cukup beralasan karena Singapur telah memberikan reword besar juga buat para pelajar dari level undergrad sampai postgrad. Nah permasalahannya adalah, mampukah kedua belah pihak (dosen dan mahasiswa) memiliki komunikasi yang positif? Ini sangat tergantung dari kedua belah pihak, tentu keduanya harus memiliki knowledge dan wisdom serta mengerti posisi masing-masing. Dosen/Prof harus mampu menjadi guru (bukan hanya sebagai bos yang menuntut target2 tertentu) sehingga dapat mengoptimalkan hasil riset secara bijaksana, dan mahasiswa harus pula mampu mengukur diri dan menyadari posisinya sebagai siswa yang bertanggung jawab.
Tentang kasus David (alm) yang terjadi di NTU, saya tidak bisa banyak komentar dan berpeskulasi. Well, mari kita simak saja tulisan karya Dr. Rhenald Kasali, tulisan beliau baik sekali buat kita sebagai pendidik, orang tua, kakak, dan orang yang merasa peduli dengan pendidikan di lingkungan sosial masyarakat kita.
Oleh *RHENALD KASALI*
Hari Senin, 2 Maret 2009, David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia,tewas di Nanyang Tech University, Singapura.Semula, diberitakan ia kepepet, menusuk profesornya, lalu bunuh diri.Kejadian seperti ini sering dilihat dari sisi kriminalitas (urusan polisi).Namun, benarkah demikian?Kalau David masih hidup, para pendidik bisa belajar banyak darinya. Versilain menyebutkan, David bukan pencemas, kurang pandai bergaul, atau rendahkecerdasan sosialnya. Akan ada versi-versi lain yang perlu dilihat darikacamata pendidikan.Naluri saya yang bergelut di bidang pendidikan selama lebih dari 20 tahunmengatakan sebaliknya. Besar kemungkinan mereka adalah korban dari sistemdan perilaku pemburu dalam pendidikan. Apalagi Pemerintah Singapura amatberkepentingan memburu anak-anak pintar etnis tertentu untuk mengimbangipopulasi bangsanya.Jadi, diperlukan kehati-hatian dalam menafsirkan versi awal yang tidakdilandasi pada cara berpikir dari kacamata pendidikan.*Pemburu bukan pendidik*Bangku sekolah tentu bukan hutan belantara yang didiami aneka satwa liarnan buas. Sekolah adalah entitas sosial yang mendidik masyarakat agar hidupdalam peradaban ilmiah, saling menghargai, dan mencapai kesejahteraan ataukebahagiaan.Namun, entah mengapa, sekolah telah berubah menjadi lembaga yang meresahkananak didik. Bukan pemburu bersenjata, melainkan guru yang menuntut bekerjatertib, berkompetisi, dan prestasi akademis.Daripada menghargai keunikan masing-masing, kita membuat standar, lalumenempatkan mereka dalam struktur dan ranking. Akibatnya, bersaing mengejarranking dan berebut masuk standar untuk mendapat pengakuan, beasiswa, danpenghargaan. Mereka yang memiliki keunikan dianggap bodoh meski dimasyarakat terbukti sukses dan karya- karya mereka amat dihargai.Guru, atau dosen, yang mengabaikan faktor keunikan anak didiknya adalahpemburu, dan bagi saya pemburu bukan pendidik. Pemburu menatap tajam anakdidiknya yang tak masuk ranking, menghukum dan kadang menyiksa. Di televisisering kita saksikan rekaman gambar guru yang menyiksa murid-muridnya.Anak-anak pintar pun tak luput dari ”penyiksaan” pemburu. Mereka dituntutmenunjukkan kehebatan dan selesai lebih cepat dari jadwal. Keunikanmasing-masing tidak diterima sebagai kehebatan.Saat mengepalai program doktor, saya sering terpaksa menggeser penguji,bukan karena mereka kurang hebat, tetapi karena lebih cocok jadi pemburu.Pemburu membombardir anak didiknya dengan berbagai pertanyaan sinis, out ofcontext, dengan tujuan menjatuhkan daripada membantu mereka menemukan masadepannya.*Sisi anak didik*David mungkin saja tidak memiliki kecerdasan sosial dan emosional sepertikata sejumlah kalangan. Namun, para guru di BPK Penabur mengatakan, Davidbukan penyendiri. Di kampus, ia juga aktif dalam kegiatan olahraga danmenjadi utusan Indonesia dalam Olimpiade Matematika di Meksiko. Karena Davidsudah tiada, mungkin kita bisa belajar dari David-David lain.Di Orinda, California, pada tahun 1985, seorang anak perempuan membunuhteman sekelasnya yang pintar dan populer. Saat diinterogasi polisi dandiperiksa kesehatan jiwanya, diketahui ia merasa tertekan karena dirinyanothing, invisible (tak ada yang menghiraukan) , dan worthless (takbernilai).Perasaan dan pikiran yang demikian membentuk keyakinan (belief). MatthewMcKay dan Patrick Fanning (1991) bahkan menyebutkan, banyak sekali anakdidik yang memiliki keunikan menjadi prisoners of belief (narapidanakeyakinan) yang membuat mereka tidak bahagia dan sulit mengendalikan diri.Pada masa krisis kita akan banyak bergulat dengan narapidana-narapida nakeyakinan yang terbelenggu dan sulit menerima kesulitan hidup, kegagalan,dan aneka keterbatasan, baik karena peristiwa ekonomi maupun kepemimpinanatasan yang buruk. Mereka memaksa dirinya masuk dalam standar dan menyangkalkeunikan dirinya semata-mata karena belenggu sekolah.Keyakinan inti (core-belief) tak pernah disentuh para pendidik karenabanyak sebab. Pertama, tak sedikit pendidik yang juga menjadi narapidanakeyakinan. Kedua, diperlukan therapy, dan therapy ini bukan kurikulum intiyang dianggap penting oleh pengelola pendidikan. Ketiga, tak banyak orangpaham men-therapy belief seseorang.*10 elemen*Saya pernah memasukkannya, dan hingga kini masih menggunakannya untukmembongkar belenggu-belenggu yang mengikat anak didik, tetapi pengalamanmengatakan, implementasinya banyak menemui hujatan dari para ”pemburu”.Untuk mencegah kasus David-David lain, kita harus memeriksa core-beliefinventory yang tersembunyi di balik pikiran anak-anak didik dan parapendidik. Inventory ini terdiri dari 10 elemen, yaitu percaya diri, rasanyaman, kontrol diri, cinta, otonomi, keluarga, rasa adil, kinerja,perubahan, kepercayaan (trust).Elemen-elemen itu dapat dibagi tiga: rasa percaya, hubungan personal, danpengendalian hidup. Ketiganya memengaruhi tingkat kecemasan, pengambilankeputusan, asumsi terhadap orang lain, ketenangan/kecemasa n, dankeberhasilan hidup.Kategori pertama diwakili oleh percaya diri dan perasaan bernilai, percayakepada orang lain, dan merasa diperlakukan adil. Monolognya mengalir dalampernyataan seperti ”saya cukup bernilai”, ”mereka dapat dipercaya”, ”merekamemperlakukan saya dengan adil”.Kategori kedua, kenyamanan, cinta (love), dan keluarga (belonging).Orang-orang yang hidupnya seimbang cenderung penuh cinta dan ada yangmemikirkan. Kata mereka, ”Kalau hari ini saya hilang, pasti ada yangkehilangan dan menangisi kepergian saya.”Kategori ketiga, kemampuan kita mengendalikan diri sendiri,pekerjaan/sekolah (kinerja), kemandirian, dan pengambilan risiko(perubahan). Kelompok terakhir ini dapat disimpulkan dengan pernyataan ”sayabisa mengendalikan dorongan-dorongan liar dalam jiwa saya”, ”saya punyaprestasi”, ”saya cukup punya otoritas”, serta ”kalau menjadi lebih baik,mengapa takut menghadapi perubahan”.Andaikan David masih ada dan polisi Singapura cukup terbuka, mungkin kitabisa menemukan jawabnya dengan memeriksa kesepuluh elemen itu, baik padaDavid maupun dosen pembimbingnya.Dari pengalaman anak-anak didik yang dianggap bermasalah oleh para gurunya,diyakini David bukan anak jahat atau lemah kecerdasan sosialnya. David telahmenjadi ”narapidana keyakinan” yang tersudut dalam hutan perburuan dan kitatak memberikan ruang untuk membebaskan atau menghargai keunikannya.*Rhenald Kasali* *Pengajar di Universitas Indonesia*
Tentang kasus David (alm) yang terjadi di NTU, saya tidak bisa banyak komentar dan berpeskulasi. Well, mari kita simak saja tulisan karya Dr. Rhenald Kasali, tulisan beliau baik sekali buat kita sebagai pendidik, orang tua, kakak, dan orang yang merasa peduli dengan pendidikan di lingkungan sosial masyarakat kita.
Oleh *RHENALD KASALI*
Hari Senin, 2 Maret 2009, David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia,tewas di Nanyang Tech University, Singapura.Semula, diberitakan ia kepepet, menusuk profesornya, lalu bunuh diri.Kejadian seperti ini sering dilihat dari sisi kriminalitas (urusan polisi).Namun, benarkah demikian?Kalau David masih hidup, para pendidik bisa belajar banyak darinya. Versilain menyebutkan, David bukan pencemas, kurang pandai bergaul, atau rendahkecerdasan sosialnya. Akan ada versi-versi lain yang perlu dilihat darikacamata pendidikan.Naluri saya yang bergelut di bidang pendidikan selama lebih dari 20 tahunmengatakan sebaliknya. Besar kemungkinan mereka adalah korban dari sistemdan perilaku pemburu dalam pendidikan. Apalagi Pemerintah Singapura amatberkepentingan memburu anak-anak pintar etnis tertentu untuk mengimbangipopulasi bangsanya.Jadi, diperlukan kehati-hatian dalam menafsirkan versi awal yang tidakdilandasi pada cara berpikir dari kacamata pendidikan.*Pemburu bukan pendidik*Bangku sekolah tentu bukan hutan belantara yang didiami aneka satwa liarnan buas. Sekolah adalah entitas sosial yang mendidik masyarakat agar hidupdalam peradaban ilmiah, saling menghargai, dan mencapai kesejahteraan ataukebahagiaan.Namun, entah mengapa, sekolah telah berubah menjadi lembaga yang meresahkananak didik. Bukan pemburu bersenjata, melainkan guru yang menuntut bekerjatertib, berkompetisi, dan prestasi akademis.Daripada menghargai keunikan masing-masing, kita membuat standar, lalumenempatkan mereka dalam struktur dan ranking. Akibatnya, bersaing mengejarranking dan berebut masuk standar untuk mendapat pengakuan, beasiswa, danpenghargaan. Mereka yang memiliki keunikan dianggap bodoh meski dimasyarakat terbukti sukses dan karya- karya mereka amat dihargai.Guru, atau dosen, yang mengabaikan faktor keunikan anak didiknya adalahpemburu, dan bagi saya pemburu bukan pendidik. Pemburu menatap tajam anakdidiknya yang tak masuk ranking, menghukum dan kadang menyiksa. Di televisisering kita saksikan rekaman gambar guru yang menyiksa murid-muridnya.Anak-anak pintar pun tak luput dari ”penyiksaan” pemburu. Mereka dituntutmenunjukkan kehebatan dan selesai lebih cepat dari jadwal. Keunikanmasing-masing tidak diterima sebagai kehebatan.Saat mengepalai program doktor, saya sering terpaksa menggeser penguji,bukan karena mereka kurang hebat, tetapi karena lebih cocok jadi pemburu.Pemburu membombardir anak didiknya dengan berbagai pertanyaan sinis, out ofcontext, dengan tujuan menjatuhkan daripada membantu mereka menemukan masadepannya.*Sisi anak didik*David mungkin saja tidak memiliki kecerdasan sosial dan emosional sepertikata sejumlah kalangan. Namun, para guru di BPK Penabur mengatakan, Davidbukan penyendiri. Di kampus, ia juga aktif dalam kegiatan olahraga danmenjadi utusan Indonesia dalam Olimpiade Matematika di Meksiko. Karena Davidsudah tiada, mungkin kita bisa belajar dari David-David lain.Di Orinda, California, pada tahun 1985, seorang anak perempuan membunuhteman sekelasnya yang pintar dan populer. Saat diinterogasi polisi dandiperiksa kesehatan jiwanya, diketahui ia merasa tertekan karena dirinyanothing, invisible (tak ada yang menghiraukan) , dan worthless (takbernilai).Perasaan dan pikiran yang demikian membentuk keyakinan (belief). MatthewMcKay dan Patrick Fanning (1991) bahkan menyebutkan, banyak sekali anakdidik yang memiliki keunikan menjadi prisoners of belief (narapidanakeyakinan) yang membuat mereka tidak bahagia dan sulit mengendalikan diri.Pada masa krisis kita akan banyak bergulat dengan narapidana-narapida nakeyakinan yang terbelenggu dan sulit menerima kesulitan hidup, kegagalan,dan aneka keterbatasan, baik karena peristiwa ekonomi maupun kepemimpinanatasan yang buruk. Mereka memaksa dirinya masuk dalam standar dan menyangkalkeunikan dirinya semata-mata karena belenggu sekolah.Keyakinan inti (core-belief) tak pernah disentuh para pendidik karenabanyak sebab. Pertama, tak sedikit pendidik yang juga menjadi narapidanakeyakinan. Kedua, diperlukan therapy, dan therapy ini bukan kurikulum intiyang dianggap penting oleh pengelola pendidikan. Ketiga, tak banyak orangpaham men-therapy belief seseorang.*10 elemen*Saya pernah memasukkannya, dan hingga kini masih menggunakannya untukmembongkar belenggu-belenggu yang mengikat anak didik, tetapi pengalamanmengatakan, implementasinya banyak menemui hujatan dari para ”pemburu”.Untuk mencegah kasus David-David lain, kita harus memeriksa core-beliefinventory yang tersembunyi di balik pikiran anak-anak didik dan parapendidik. Inventory ini terdiri dari 10 elemen, yaitu percaya diri, rasanyaman, kontrol diri, cinta, otonomi, keluarga, rasa adil, kinerja,perubahan, kepercayaan (trust).Elemen-elemen itu dapat dibagi tiga: rasa percaya, hubungan personal, danpengendalian hidup. Ketiganya memengaruhi tingkat kecemasan, pengambilankeputusan, asumsi terhadap orang lain, ketenangan/kecemasa n, dankeberhasilan hidup.Kategori pertama diwakili oleh percaya diri dan perasaan bernilai, percayakepada orang lain, dan merasa diperlakukan adil. Monolognya mengalir dalampernyataan seperti ”saya cukup bernilai”, ”mereka dapat dipercaya”, ”merekamemperlakukan saya dengan adil”.Kategori kedua, kenyamanan, cinta (love), dan keluarga (belonging).Orang-orang yang hidupnya seimbang cenderung penuh cinta dan ada yangmemikirkan. Kata mereka, ”Kalau hari ini saya hilang, pasti ada yangkehilangan dan menangisi kepergian saya.”Kategori ketiga, kemampuan kita mengendalikan diri sendiri,pekerjaan/sekolah (kinerja), kemandirian, dan pengambilan risiko(perubahan). Kelompok terakhir ini dapat disimpulkan dengan pernyataan ”sayabisa mengendalikan dorongan-dorongan liar dalam jiwa saya”, ”saya punyaprestasi”, ”saya cukup punya otoritas”, serta ”kalau menjadi lebih baik,mengapa takut menghadapi perubahan”.Andaikan David masih ada dan polisi Singapura cukup terbuka, mungkin kitabisa menemukan jawabnya dengan memeriksa kesepuluh elemen itu, baik padaDavid maupun dosen pembimbingnya.Dari pengalaman anak-anak didik yang dianggap bermasalah oleh para gurunya,diyakini David bukan anak jahat atau lemah kecerdasan sosialnya. David telahmenjadi ”narapidana keyakinan” yang tersudut dalam hutan perburuan dan kitatak memberikan ruang untuk membebaskan atau menghargai keunikannya.*Rhenald Kasali* *Pengajar di Universitas Indonesia*
Langganan:
Postingan (Atom)