Jumat, 07 Agustus 2009

Mengambil hikmah dari lika liku hidup Mbah Surip

Mbah Surip meninggal pada hari Selasa tanggal 4 Agustus 2009. Dari perjalanan hidupnya yang penuh lika liku hingga menjadi penyanyi fenomenal, menurut saya banyak sekali hikmah yang patut kita ambil. Semoga amal baik Mbah Surip menjadi teman sejati dipangkuan Illahi..amiin

Mbah Surip Digendong Tuhan


Oleh Saratri Wilonoyudho (Peneliti dan Dosen Universitas Negeri Semarang)

Kematian Michael Jackson dan Mbah Surip boleh saja ditafsirkan bahwa Tuhan tengah mempertunjukkan pelajaran kepada manusia tentang apa sesungguhnya batas-batas kewajaran. Di tengah-tengah nafsu perebutan kekuasaan di berbagai level, baik nasional maupun daerah, Tuhan sedang memberi "intermezzo" sebuah refrein lagu kematian. Semua yang ada di dunia tidak ada yang abadi, kenapa orang terus mengejar harta dunia dan kepemilikan sampai lupa daratan?
Mbah Surip dan Jacko adalah dua sosok yang bertolak belakang. Kesamaan mereka adalah kekayaan yang luar biasa untuk ukurannya. Tentu saja hasil ring tone Mbah Surip sekitar Rp 5 miliar, itu hanya "uang jajan" Jacko. Namun, bagi Mbah Surip, uang itu luar biasa banyaknya.
Sebaliknya, kekayaan Jacko mencapai angka triliunan rupiah. Ironisnya, Jacko justru kesepian dan menderita hingga akhirnya meninggal dalam kesengsaraan, sebaliknya Mbah Surip meninggal dalam kedamaian. Tak mudah orang meninggal mendadak seperti ia.
Fenomena Michael Jackson banyak kita jumpai. Di negeri ini juga banyak orang "sukses" namun menderita lahir batin. Ini adalah sebuah ironi.
Fenomena Mbah Surip dan Michael Jackson mengajarkan tentang "ilmu kematian" dan "ilmu kewajaran". Kemiskinan yang berlebihan juga akan membunuh manusia, bukan hanya jasadnya, namun juga mentalnya. Demikian pula kekayaan yang luar biasa yang melebihi batas juga akan mematikan kreativitas mentalnya karena segala sesuatunya dapat dia beli.
Ilmu kehidupan itu ialah menyadari ilmu kematian. Kepemilikan apa saja di dunia ini tak akan dapat dibawa mati. Emha Ainun Nadjib pernah bercerita tentang kematian Pugra, ia meninggal ketika sedang pentas tari Bali di Sasonomulya, Solo. Sebagaimana laiknya orang Bali, anak dan dua keponakannya dengan tenang menyaksikan kematiannya. Kematian tak layak disedihkan karena kematian adalah berangkat ke kehidupan yang lebih tinggi. Apalagi mereka yakin Pugra mengetahui saat kematiannya hingga ia memilih di atas pentas ketika menari.
Mbah Surip semoga termasuk seniman yang menyadari bahwa menjadi seniman bukan untuk kesenangan tujuan popularitas atau tujuan kekayaan material belaka. Banyak kasus calon-calon artis berbondong-bondong mendatangi sutradara dan menawarkan diri: "Berpose telanjang juga boleh, tidak apa-apa, asal wajar sesuai tuntutan skenario". Bagaimana mungkin telanjang kok "wajar"? Inilah kesenimanan yang tidak menyatu dengan jiwa dan ruhnya.
Semoga kesenimanan Mbah Surip menyatu dengan jiwanya, dan jiwa tak dapat dilepaskannya kecuali jika ia dikhianati. Kesenimanan baginya adalah kebahagiaan cinta (I Love You Full, katanya) dan kesejatian dan bukan keglamoran atau nafsu. Mbah Surip barangkali sadar bahwa jiwa kesenimanan jika dikhianati maka akan terjerambab. Berapa banyak seniman dan artis kita yang jatuh ke jurang nista justru setelah sampai pada puncak ketenaran seperti Jacko, baik karena narkoba, selingkuh, dan tindakan amoral lainnya?
Kesenimanan bagi Mbah Surip adalah kesetiaan dan bukan kemegahan. Kesenimanan harus teguh mempertahankan prinsip bahwa seni itu untuk kemanusiaan serta untuk memuji kebesaran Tuhan dan ciptaan-Nya. Perkara mendapat uang miliaran, ini adalah "risiko", dan bukan tujuannya. Kalau seniman tidak memiliki sikap seperti ini, berarti dia bukan seniman tapi pedagang.
Ilusi kesuksesan hidup
Pelajaran lain dari Jacko adalah tentang ilusi kesuksesan hidup. Orang barangkali heran mengapa para pejabat dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan, dengan berbagai fasilitas luar biasa, hingga kekayaannya mencapai angka puluhan miliar rupiah, toh masih tega juga mengorupsi uang rakyat. Pertanyaannya, mengapa orang yang bertambah kekayaannya justru semakin haus untuk mereguk yang lainnya?
Pertanyaan ini dijawab dengan baik oleh ekonom Inggris Fred Hirsch. Menurut Hirsch, justru dengan semakin kaya seseorang akan merangsang nafsunya untuk terus menambah kekayaannya. Penjelasan Hirsch cukup simpel: orang yang bertambah kekayaannya terus akan mengejar kekayaan yang lain karena orang lain di sekitarnya juga terus menangguk "kesuksesan" hidup. Dalam posisi seperti ini, kekayaan yang ia dapatkan seolah-olah tidak berarti baginya.
Mereka yang dicontohkan di atas tergolong orang-orang yang terbelenggu oleh kemilau duniawi. Padahal, kata para sufi seperti Abdul Qodir Jaelani, Jalaluddin Rumi, jika seseorang sudah "berjumpa" dengan Tuhannya, maka ia akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Keinginan yang terbesar orang yang sudah sampai pada tataran atau maqom ini adalah: "tidak ingin memiliki keinginan sama sekali".
Kalaupun ia dianugerahi kekayaan dari Tuhan, ia enjoy saja. Kekayaan itu tidak akan membelengggunya. Ia akan menafkahkan kepada siapa saja, menaburkan kepada alam semesta, kepada sesama, tanpa beban dan tanpa harapan untuk "pahala". Ia akan menggunakan secukupnya (tentu sesuai standar normal orang hidup), dan sisanya yang terbesar akan dikembalikan kepada pemilik-Nya, lewat amal jariyah yang terus mengalir tiada henti, tanpa takut ia akan jatuh miskin.
Orang yang sudah sampai tataran "hilangnya" keinginan (duniawi) akan tenteram jiwanya. Ia sangat menikmatui "perjumpaannya" dengan Sang Khalik, dan orang Jawa bilang sudah dapat menuju ke arah "manunggaling kawula Gusti". Tuhan senantiasa ada di dalam hatinya dan selalu memberi berkah.
Barangkali ilmu ini yang dimiliki Mbah Surip, terbukti ia tidak silau dengan rezeki nomplok. Ia tetap bersahaja, dan sebaliknya Jacko yang tidak bersyukur. Jacko malu sebagai orang hitam dengan jalan operasi plastik. Sebaliknya Mbah Surip justru "menjelek-jelekkan" namanya sendiri karena nama aslinya adalah Urip Ariyanto. Mbah Surip tidak ganti nama menjadi Ary atau Ariel, layaknya artis-artis kita yang tak pernah percaya diri sehingga harus mengganti namanya.
Mbah Surip juga tidak serta-merta mengubah penampilannya. Tetap rambut gimbal ke mana-mana naik ojek dan tidak jual mahal atau angkuh. Mbah Surip seakan tidak merasakan apa arti uang Rp 5 miliar. Padahal, berapa banyak pejabat yang kelihatannya terhormat dan "religius" ternyata amat rakus melihat angka-angka rupiah seperti ini.
Wajar jika Tuhan segera menggendong Mbah Surip agar orang ini "terselamatkan" oleh kemilau dunia yang barangkali akan menjeratnya seperti Michael Jackson atau artis-artis lain yang tidak kuat "ditempati derajat dan pangkat" (Ora kuat kanggonan drajad pangkat kata orang Jawa).

sumber : http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/06/11193244/mbah.surip.digendong.tuhan.

1 komentar:

YUNI SARA mengatakan...

ini kisah nyata saya . . . .

perkenalkan nama saya YUNI SARA, saya berasal dari kota Bandung saya bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu perusaan Yogyakarta.dimana saya sudah hampir kurang lebih tiga tahun lamanya saya bekerja di perusaan itu.

Keinginan saya dan impian saya yang paling tinggi adalah ingin mempunyai usaha atau toko sendiri,namun jika hanya mengandalkan gaji yah mungkin butuh waktu yang sangat lama dimana belum biaya kontrakan dan utan yang menumpuk justru akan semakin sulit dan semakin lama impian itu tidak akan terwujud

saya coba" buka internet dan saya lihat postingan orang yg sukses di bantu oleh seorang kyai dari sana saya coba menghubungi beliau, awalnya saya sms terus saya di suruh telpon balik disitulah awal kesuksesan saya.jika anda ingin mendapat jalan yang mudah untuk SOLUSI MUDAH, CEPAT LUNASI UTANG ANDA, DAN MASALAH EKONOMI YG LAIN, TANPA PERLU RITUAL, PUASA DLL. lewat sebuah bantuan penarikan dana ghoib oleh seorang kyai pimpinan pondok pesantren sundoko.dan akhirnya saya pun mencoba menghubungi beliyau dengan maksut yang sama untuk impian saya dan membayar hutang hutang saya.puji syukur kepada tuhan yang maha esa melalui bantuan beliau.kini sy buka usaha distro di bandung.
Sekali lagi Saya mau mengucapkan banyak terimah kasih kepada kiyai sundoko atas bantuannya untuk mencapai impian saya sekarang ini. Untuk penjelsan lebis jelasnya silahkan >>>>>>>>UNTUK INFO LEBIH JELAS KLIK DISINI<<<<<<<<<
Anda tak perlu ragu atau tertipu dan dikejar hutang lagi, Kini saya berbagi pengalaman sudah saya rasakan dan buktikan. Semoga bermanfaat. Amin.