Sabtu, 22 September 2007

Alas Mentaok

Bait 01

Tertulis dalam babad tanah Jawi, dalam ingatan orangtua

tentang Prabu Brawijaya Sang Kertabumi, raja di Majapahit

bahwa ia memperistri Putri Wandan, dan memperoleh putra

tampan berwibawa rupanya, ia disebut Raden Bondan Kejawan

Saat ia dilahirkan Majapahit telah mendekati kehancurannya

karena itu dititipkanlah ia kepada Ki Juru Sabin

apalagi karena ibundanyapun meninggal sewaktu melahirkan

Setelah mencapai usia remaja Bondan Kejawan dibawa ke Tarub

untuk dibina jiwa dan raganya oleh Ki Ageng Tarub

ketika disanalah ia berganti nama menjadi Raden Lembu Peteng



Bait 02

Adapun Ki Ageng Tarub itu sebenarnya putra Dewi Rasawulan

yaitu putri tumenggung Tuban Wilatikta yang perkasa

ia pun adik Raden Said, yang disebut juga Sunan Kalijaga

Ki Ageng itu menikah dengan Dewi Nawang Wulan

dan menurunkan seorang anak wanita bernama Dewi Nawangsih

maka dengan Dewi Nawangsihlah Bondan Kejawan menikah

dan berputra Raden Getas Pandawa, yang lalu menurunkan

Ki Ageng Sela, abdi setia, prajurit di kesultanan Demak

Ia cakap mengabdi, bahkan turut perang melawan Majapahit

tetapi setelah tua kembalilah ia ke desanya

di sana menulis sebuah serat pepali untuk anak cucu

[Back]



Bait 03

Dari putri Sumedang Ki Ageng sela menurunkan dua orang anak

yaitu Nyi Ageng Saba dan Ki Ageng Ngenis ing Nglawean

Ki Ageng Ngenis adalah pengabdi dan pendukung Mas Karebet

bahkan hingga naik takhta dengan gelar Sultan Hadiwijaya

Karena jasa-jasanya dari raja Pajang itu memperoleh dukuh Perdikan

yaitu Nglaweyan di mana ia kemudian menetap hingga mangkatnya

Putra Ki Ageng, yang bernama Ki Gede Pemanahan

menjadi abdi Sultan Pajang, dan diangkat menjadi kakak

Karena kasihnya ia selalu membela junjungannya

hingga berani menghadapi Arya Penangsang dari Jipang

seorang musuh Pajang yang sombong dan angkuh sikapnya

karena dukungan Ki Juru Mertani, Ki Penjawi dan Sutawijaya

berhasillah Ki Gede Pemanahan membinasakan Arya Penangsang

yang gugur dalam kemarahan di aliran Bengawan Sore

Karena jasanya itu maka Sultan Pajang menghadiahkan

Alas Mentaok dan daerah Kadipaten Pati

kepada Pemanahan dan kepada Penjawi.



Bait 04

Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat

berangkatlah rombongan Ki Gede ke Alas Mataram

di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gede Pemanahan

Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela

Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir

yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna

Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu

Sementara Ki Gede bertirakat di makam Ki Ageng Pengging

Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak

Di mana rombongan dijamu oleh Ki gede Karang Lo

Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir

hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gede

[Back]



Bait 05

Semakin lama negeripun semakin berkembang jua

malah dilengkapi keraton yang selesai dibangun tahun 1578

Di sanalah Ki Gede Pemanahan memerintah, sebagai bawahan Pajang

Hingga akhirnya mangkat dipanggil ke hadirat Sang Pencipta

serta dimakamkan di halaman mesjid Agung di Kuto Gede

pada tahun ber-candrasengkala "Lunga trus rumpaking bala"

Maka Ki Gede Pemanahan meninggalkan tujuh orang anak:

Pertama Mas Danang, yang disebut pula Sutawijaya

dan sering dipanggil Raden Ngabehi Lor ing Pasar

kedua Raden Jambu, ketiga Raden Santri

keempat Raden Kedawung, kelima Raden Tompe

keenam istri Arya Dadap Tulis, ketujuh istri Tumenggung Mayang



Bait 06

Tersebutlah Sutawijaya ditunjuk Sultan Pajang

menjadi pengganti ayahnya, dengan gelar Senopati Ing Alaga

Ia adalah pemimpin yang cakap, dan prajurit yang gagah perkasa

tegasnya pantas ia menjadi raja, sebagaimana yang dicita-citakannya

Sewaktu bertirakat di batu besar Lipura ia mendapat wahyu

bahwa akan menjadi raja, yang menurunkan Wangsa Agung

diperingati oleh paman Ki Martani, ia menyusuri kali Opak ke arah timur

lalu bertapa di laut selatan, yaitu di tepi ombak yang menderu

di tempat bernama Sawangan, di wilayah Kanjeng Ratu Kidul

Sementara itu Ki Juru Martanipun memberinya dukungan

dengan menjalankan prihatin tapa, di lereng gunung Merapi

[Back]



Bait 07

Setelah itu bersiaplah mereka mempersiapkan kebangunan Mataram

menjawab panggilan sejarah, memenuhi amanat leluhur

Segala adipati, penguasa, dan tokoh di sekitar Mataram

ditundukannya untuk menjadi pendukung usahanya

Ki Ageng Mangir, adipati Kulon Progo, yang ingin merdeka

dibinasakannya, walau ia adalah seorang menantu

yaitu suami Kanjeng Ratu Pembayun, putri Senopati

yang suka supaya ayahandanya dan suaminya mau bersatu

Seterusnya Senopatipun memperkuat semua pasukannya

juga membangun parit dan benteng, seakan menantang Pajang

Setelah itu ditemukannya berpuluh dan beratus halaman

tempat dituliskannya seribu satu malam alasan

untuk tidak datang ke Pajang, dan bersembah kepada raja

Marahlah Adiwijaya, Pajang menyerbu, pertempuran pecah di Prambanan

gagah orang Mataram berjuang, maka Pajangpun mengundurkan diri

Pada perjalanan pulang Sultan Adiwijaya jatuh sakit

dan sangat parah keadaannya sewaktu tiba di kota

penuh hormat dan kasih Senopati mengiringkan perjalanannya

malah menyuruh letakkan serumpun kembalian cinta

berupa kembang selasih, yang diletakkan di gerbang istana

akhirnya mangkatlah Sri Sultan, terbukalah jalan bagi Mataram

Maka kemenangan Mataram itu terjadi pada tahun Saka 1508

dan diperingati dengan Candrasengkala pada gerbang mesjid Agung



Bait 08

Setelah itu mulailah Sang Panembahan Senopati berperang

untuk menaklukkan daerah-daerah di tanah Jawa

ia pergi bertempur melawan adipati-adipati di timur

bahkan pernah pula berlaga melawan Pati

berperang melawan Pragola Pertama, putra Ki Penjawi

demikianlah hidupnya penuh perjuangan, hingga ia mangkat

pada tahun 1601 di Bale Kajenar yang disebut juga Gedhong Kuning

seperti ayahandanya iapun dimakamkan di halaman mesjid Agung

di ibukota praja Mataram, negeri para perwira

[Back]

1 komentar:

Ratnaa Kurnia mengatakan...

itu puisi atau sebuah lagu??
kata-katanya baguss