Sabtu, 22 September 2007

GKR Pembayun Menziarahi Ratu Pembayun

WAJAH Gusti Kangjeng Ratu Pembayun nampak berseri-seri, ketika akhirnya makam yang dicarinya ketemu. H Nieko, sang calon suami pun nampak lega. Dengan bersemangat, Gusti Pembayun bercerita kepada Nieko, makam siapa yang mereka kunjungi Kamis (9/5) sore itu. Sejak berangkat dari Keraton Kilen, Gusti Pembayun dan H Nieko (KPH Wironegoro) berniat akan menziarahi leluhur yang namanya mereka pakai berdua, untuk mohon doa restu.
"Ini makam Kangjeng Ratu Pembayun," kata puteri sulung HB X.
"Lalu yang di sampingnya ini siapa?," tanya Nieko.
"Ini abdi kinasihnya."
"Apa?"
"Abdi terdekatnya."
"Oh, sekretaris pribadinya?"
"Ajudan," jelas Gusti Pembayun HB X.
"Oh, ajudannya," sambung Nieko lagi.
Sang Sekar Kedhaton kemudian menjelaskan siapa Ratu Pembayun.
"Ratu Pembayun itu puteri sulung Panembahan Senopati. Suaminya adalah Ki Ageng Mangir, yang tadi makamnya juga kita sowani di Kotagede. Ki Ageng Mangir adalah musuh Panembahan Senopati. Nah, Ratu Pembayun ini diutus menjadi ledhek (pena- ri) untuk memikat Ki Ageng Mangir, agar Ki Ageng Mangir bisa ditaklukkan. Setelah bisa dikalahkan, Ratu Pembayun istri Ki Ageng Mangir kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo yang mencetuskan ide, bagaimana menaklukkan Ki Ageng Mangir. Beliau dimakamkan di sini," tutur Gusti Pembayun HB X.
"Tapi, kamu nggak perlu seperti itu kan?," ucap Nieko sambil menyusul duduk di samping Gusti Pembayun. Mereka berdua pun kemudian khusuk berdoa.

***

MAKAM Kangjeng Ratu Pembayun, putri sulung Panembahan Senopati terletak di kompleks makam Ki Ageng Karanglo, di Dusun Karangturi, Banguntapan, Bantul. Makam ini terletak sekitar dua kilometer di sebelah timur makam raja-raja Mataram di Kotagede.
Amat berbeda dengan kompleks makam raja-raja di Kotagede maupun Imogiri yang nampak terawat rapi, kompleks makam ini sederhana. Bahkan menyatu dengan pemakaman umum.
Di deretan paling atas, hanya ada dua nisan, yang disatukan oleh sebidang lantai keramik putih. Makam Ratu Pembayun ada di sebelah barat dan makam abdi kinasihnya Nyi Aditjara di sebelah timur agak ke bawah. Kedua nisan ditutupi kain mori putih, pertanda dikeramatkan oleh para peziarah. Di bawah kedua makam ini terdapat beberapa makam tua, terlihat dari ukuran nisannya yang ekstra panjang dan besar.
Ditilik dari ukuran nisan Ratu Pembayun dan abdinya, makam tersebut belum lama dipugar.
"Rumiyin Kangjeng Ratu Pembayun boten kersa dipun sekar," tutur Ny Among Arja Sumbaga, abdi dalem Keraton Kilen yang menyertai ziarah. ("Dulu, Ratu Pembayun tidak mau dipasangi nisan.")
Juru kunci makam Ki Ageng Karanglo, Panewu Surakso Ismail kepada Bernas menuturkan, berdasarkan kisah yang ia terima dari leluhurnya yang juga jadi juru kunci makam, Ki Ageng Karanglo adalah salah satu penasehat Panembahan Senopati.
Ketika Panembahan Senopati kesulitan menaklukkan Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Karanglo mempunyai gagasan strategi mengalahkan Mangir. Caranya, putri sulung Senopati diutus menjadi ledhek (penari jalanan) untuk memikat Mangir. Karena saling jatuh cinta, keduanya akhirnya menikah.
Tak ada alasan bagi Ki Ageng Mangir untuk tidak sungkem kepada mertuanya, yang tidak lain musuh besarnya. Saat Ki Ageng Mangir tewas di depan Panembahan Senopati, Ratu Pembayun dalam keadaan mengandung.
Menurut Surakso Ismail, Panembahan Senopati bermaksud menghabisi pula keturunan Ki Ageng Mangir. Namun, oleh Ki Ageng Karanglo niat ini berhasil dicegah, karena membunuh janin berarti mengakhiri hidup Ratu Pembayun.
Pesan Panembahan Senopati, bila si anak lahir kelak, juga harus dihabisi agar tidak menjadi musuh dalam keluarga. Ak- hirnya, Ratu Pembayun dijadikan triman (dikeluarkan dari Keraton, diberikan kepada seseorang untuk diasuh atau dijadi- kan istri), dan diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo.
"Ratu Pembayun kemudian dijodohkan dengan putera Ki Ageng Karanglo dalam keadaan mengandung," tutur Surakso Ismail.

***

KISAH Ratu Pembayun hanya sampai di situ. Menurut Surakso Ismail, sejarahnya dihapus agar musuh Kerajaan Mataram benar- benar tuntas.
Seorang abdi dalem Makam Kotagede kepada Bernas menu- turkan, makam Ratu Pembayun memang berada di Karanglo. Namun, itu hanya tipu muslihat saja. Ada muatan politisnya. Di situ dibuatkan makam dan diformalkan sebagai makam Ratu Pembayun. Sedang Ratu Pembayun sendiri, pindah tempat dan berganti nama, hingga tak ada jejaknya.
Surakso Ismail sendiri tak bisa bertutur, kapan Ratu Pembayun meninggal dan di mana anak yang dikandungnya.
"Yang saya tahu, istri dan anak-anak Ki Ageng Karanglo dimakamkan di Prambanan," ujar Surakso yang tiap Kamis dan Jumat membuka pintu makam untuk memberi kesempatan siapa pun untuk ziarah ke makam Ki Ageng Karanglo dan Ratu Pembayun.
Ziarah yang dilakukan GKR Pembayun dan H Nieko Messa Yudha, MSc, diawali dari makam Kotagede. Nisan pertama yang diziarahi adalah makam Ki Ageng Pemanahan. Kemudian berturut- turut Panembahan Senopati, Nyi Ageng Nis, Panembahan Djajaprana, Sultan Hadiwidjaja, Ki Juru Mertani, Kangjeng Ratu Kalinyamat dan Kangjeng Ratu Retna Dumilah (keduanya permaisuri Panembahan Senopati), Sri Sultan HB II serta makam- makam lainnya. Makam terakhir yang ditaburi bunga adalah makam Ki Ageng Mangir, yang terbelah dinding makam.
Dari Kotagede, dua sejoli ini melanjutkan ziarah ke makam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kasultanagungan. Berturut-turut mereka menziarahi kompleks makam Kaswargan, tempat bersemayamnya Sri Sultan HB I, dan HB III. Kompleks makam Peziarahan tempat beristirahatnya Sri Sultan HB IV, HB V dan HB VI serta Astana Saptarengga, tempat dimakamkannya Sri Sultan HB VII, HB VIII dan HB IX, termasuk nenek GKR Pembayun KRAy Windyaningrum HB IX.
Sebelum ziarah ke makam Ratu Pembayun, sepasang calon pengantin ini berziarah ke makam kakek-nenek buyutnya (orang tua KRAy Windyaningrum), RW Poerwowinoto dan RAy Poerwowinoto.
Jumat hari ini, mereka masih akan melanjutkan ziarah, antara lain ke TMP Kusumanegara Yogyakarta, tempat almarhum Kolonel R Soepono, kakek GKR Pembayun dimakamkan. (putut w)

1 komentar:

eko mengatakan...

mas, kalau boleh komentar saya dapat info kalau keturunan Ki Ageng Mangir (PH maduseno, Pnh Djoyosoro, Pnh Soroboyo, Rng Dm Wangsayuda, dll) ada di Karanganjar, Kebumen tepatnya di desa candi dan saat pecah perang diponegoro keturunannya banyak yang mengungsi ke arah barat di Banyumas, namun kebenarannya perlu ditelusuri silsilahnya.