Kamis, 08 Mei 2008

Mengenal Prof. Dr. Rosari Saleh (Ibu Oca)

Ibu Oca adalah dosen saya ketika saya belajar pendahuluan zat padat dan mata kuliah zat padat di Fisika FMIPA UI. Beliau juga sering memberikan motivasi ke saya untuk studi yang baik. Nah ketika saya menemukan tulisan tentang beliau saya sangat senang dan sebagai bentuk sharing informasi tentang beliau berikut ini biografi beliau yang diambil dari :

http://www.adilnews.com/?q=id/rosari-saleh-fisika-itu-indah


Pembawaannya jauh dari kesan serius dan formal. Celana jeans hitam dan kemeja hijau modis berpadu serasi di tubuhnya yang lumayan tinggi untuk ukuran Indonesia. “Panggil Oca saja,” paparnya memperkenalkan diri. Bayangan seorang profesor yang serius dan kaku, sirna seketika ketika kita mulai berbincang. Gaya bicaranya ringan, kadang diselengi canda dan tawa. Gerak geriknya lincah. Segelas kopi hangat menemaninya pagi itu. Usia Oca terbilang muda untuk menjadi guru besar dalam disiplin condensed matter and material physics (CMMP) di Universitas Indonesia. Lajang ini lahir di Yogyakarta pada 5 Oktober 1961. Ayahnya Roeslan Saleh adalah seorang profesor dalam bidang hukum di Universitas Gajah Madha Yogyakarta. Dua tahun setelah kelahiran Oca, dia pindah ke Jakarta dan menjadi guru besar luar biasa di FISIP UI. Sementara ibunya Tuty Roeslan Saleh dulunya seorang staf PT Asuransi Murni. Ayahnya yang seorang akademisi menanamkan pentingnya pendidikan sejak Oca masih kecil. Untuk urusan yang satu itu, ia bersedia memberikan apapun. Ibu Oca tak beda jauh. Ia yang pernah menjadi asisten dosen di FISIP UGM menegaskan hal serupa. Oca kecil mulai tergelitik. Ia ingin tahu bagaimana rasanya bekerja seperti halnya sang ayah. Akhirnya, Oca tumbuh menjadi gadis yang pintar dan ceria. Nilai-nilai di sekolahnya tak mengecewakan. Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan senang bergaul. Masuk SMA, Oca meminati fisika. Namun ia tak menyukai guru-gurunya. Dalam pandangannya, mereka kering humor dan senyum. Mereka menginginkan murid-muridnya memahami fisika dalam kehidupan sehari-hari. Namun contoh yang diberikan umumnya bagaimana lintasan peluru ditembakan dari suatu meriam, pistol atau senapan; peluruhan inti atom dengan pemboman Nagasaki dan Hiroshima sebagai contoh untuk menunjukkan kekuatan bom atom. Contoh-contoh tersebut bagi Oca berasosiasi dengan kekerasan, peperangan, dan upaya pemusnahan manusia. Contoh fisika yang lekat dengan kehidupan sehari-hari dan memiliki kontribusi bagi kehidupan manusia, justru jarang dipaparkan. Selain itu, kegiatan belajar mengajar kebanyakan hanya diisi dengan menulis rumus di papan tulis. Situasi semacam itu, membuat Oca merasa bosan. “Kayaknya cuma pacaran sama papan tulis saja,” ujarnya tergelak. Saking bosannya, suatu hari saat guru fisika tidak hadir di kelas ia membolos. Hari itu ada pemutaran film untuk anak sekolah di sebuah bioskop. Oca pergi ke sana untuk menontonnya. Namun belum sempat menyaksikan film, sebuah pengumuman besar terpampang di layar. 'Rosari Saleh harap keluar ditunggu ayahnya.' Oca kaget. Entah bagaimana caranya, sang ayah mengetahui keberadaannya di bioskop itu. Oca batal nonton film. Ayahnya langsung mengajaknya pulang, namun tanpa menunjukkan kemarahan. Ayahnya mengerti alasan Oca membolos karena merasa bosan dengan sistem pembelajaran yang monoton di sekolahnya. Ayahnya kemudian meningkatkan les-les tambahan seperti fisika, kimia, dan matematika bagi Oca. Oca senang belajar di rumah, namun ia semakin bosan belajar di sekolahnya. Alasannya, ketika ada guru yang tidak masuk, pelajaran malah dimajukan. Dirinya yang menempuh SD dan SMP di Regina Pacis Jakarta, yang biasa menerapkan disiplin tinggi itu mengaku kaget. Saat belajar di Regina Pacis, ketika ada guru yang berhalangan hadir maka akan digantikan oleh guru lain. Sementara di SMA nya tidak demikian. Sebagai upaya survive di SMA nya selama tiga tahun, Oca mengaku sering membolos. Namun bukan untuk tujuan bermain-main. Setiap berhasil kabur dari sekolahnya ia langsung pulang ke rumah. Waktu di rumah dimanfaatkannya untuk membaca buku hingga saat mengikuti les tiba, yakni sore hari. Walau sering membolos, Oca tak mengecewakan orang tuanya. Nilainya cukup memuaskan. Setamat SMA, ia ikut mendaftar perintis II (pendaftaran masuk ke perguruan tinggi untuk mereka yang memiliki nilai tinggi). Karena ingin tetap dekat dengan orang tuanya, ia mendaftar di Universitas Indonesia dan berhasil diterima. Masuk UI, ia mengambil jurusan fisika, sebuah pelajaran yang diminatinya sejak SMA dulu. Setahun mempelajari fisika di sana, ia merasakan kebosanan pada lingkungan dan cara dosen mengajar. Menurutnya, bukan rahasia bahwa dosen-dosen di departemen fisika acapkali dianggap garing, kurang humor kalaupun ada, humornya bermuatan rumus fisika yang kering dan tidak mudah difahami oleh disiplin lain. Saat itu, ia melihat fisika bukanlah suatu disiplin yang populer bagi mahasiswa yang ingin mendapat teman-teman yang 'gaul' dan 'senang mejeng'. Oca menilai, mereka yang mempelajari fisika ataupun ilmu eksak lainnya cenderung introvet, serius, kaku, dan hobi belajar. Sementara dirinya adalah sosok yang hobi jalan, pergi nonton, senang ke cafĂ© dan juga suka humor. Di fakultasnya ia merasa bagai alien, karena agak berbeda kebiasaan dari teman-temannya. Tahun kedua belajar fisika di UI, ia berpikir untuk pindah ke fakultas teknik. Namun setiap ujian semester tiba, selalu bersamaan waktunya dengan ujian Sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru). Oca bingung. Ia harus menentukan pilihan. Jurusan apakah yang akan ditekuninya. Pilihan akhirnya tetap pada fisika. Semangat Oca untuk tetap bertahan pada bidang fisika juga tak lepas dari peran sang ayah. Ia, sering dibelikan buku-buku fisika dari luar negeri untuk keperluan kuliahnya. Dan menurutnya, buku-buku tersebut sangat menarik. Namun karena saking banyaknya pertanyaan yang muncul dalam benaknya, ia bingung harus bertanya ke mana. Setelah perjuangan yang cukup menyita pikiran, Oca akhirnya berhasil menjadi sarjana fisika dengan nilai yang lumayan bagus. Namun ia tak puas sampai disitu. Ia merasa banyak pertanyaan dalam bidang fisika yang tidak terjawab, ditambah lagi adanya kebosanan pada ilmu yang dipelajarinya, yang menurutnya begitu monoton. Rasa penasarannya itu, mendorong Oca untuk mendalami disiplin fisika lebih lanjut. Ia meminta ayahnya menyekolahkannya ke luar negeri. Dengan uang hasil penjualan sebidang tanah di dekat tol Simatupang, berangkatlah ia ke Jerman. Di Universitas Philipps, Marburg, Jerman dirinya mendalami ilmu fisika. Di tempat itulah, ia mengaku mendapat jawaban-jawaban yang memuaskan. Yang mana mampu membuka matanya akan keindahan fisika, terutama saat dirinya memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai filsafat ilmu tersebut. Di universitas itu, Oca memilih salah satu cabang ilmu fisika yakni CMMP. CMMP merupakan cabang fisika yang mempelajari sifat-sifat dari sekumpulan besar atom yang membentuk suatu materi, baik sintetik maupun alami. Ia memilih cabang itu karena memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan aplikasinya bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Sepulang dari Jerman, Oca berhasil membawa gelar doktor dan segudang perkembangan pribadi. Terutama cara pandangnya soal ilmu fisika. Ia kini melihat fisika sebagai suatu disiplin yang indah, sangat dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari, sangat kaya dengan berbagai model, dan pola-pola pikir yang dikembangkan sangat berguna untuk diaplikasikan pada kehidupan manusia. Berbekal pengalaman di Jerman, Oca mulai merintis karir intelektualnya di almamaternya, yakni Universitas Indonesia. Ia memenuhi amanat ayahnya, yang menginginkan dirinya berbakti pada FMIPA UI. Selain sebagai staf pengajar, ia juga aktif dalam lembaga-lembaga penelitian di UI. Keinginannya bekerja seperti ayahnya, belum lama ini terwujud. Ia didapuk menjadi guru besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sebuah jenjang karir akademik tertinggi di Universitas Indonesia yang berhasil diraihnya dalam usia yang relatif masih muda.

5 komentar:

Life_Investment mengatakan...

Bu ocha merupakn sosk yang ideal dalam menyampaikan mteri fiska..yang memang sedikit perlu prhatian lebih... gaya mengajarnya, membuat orang2x terkagum-kagum......ada satu kelucuan yg diajaraknnya....yaitu "agama" ngeles...klo gak bisa pasti cari alsan....dan ngeles.....hehehe....pokonya sukses trus buat bu ocha...

Muchyar Yara mengatakan...

Bung Iwan Sugihartono Yth.
Nama Saya Muchyar Yara, staff Pengajar di FHUI. Saya adalah salah satu anak didik Prof.Dr.Mr. Roeslan Saleh dan saat ini (setelah lama tertunda) sedang menyusun Disertasi. Saya sangat memerlukan alamat Ibu Oca, a.l. Nomor HP, Nomor Telpon Rumah, Alamat Rumah, Alamat Email dsb.
Saya mohon bantuan Bung Iwan (apabila tahu) untuk mengirimkan ke saya via email : muchyar.yara@gmail.com . Terima kasih banyak sebelumnya

novian mengatakan...

Fren, sebelumnya thanks banget nih sudah menceritakan tentang milestonenya Prof. Dr . Rosari saleh (Ibu Oca), sebab saya baru mengetahui profil beliau agak dalam nih setelah melihat tulisan ente.
Sebagai salah satu alumni Fisika UI dan juga pernah menjadi mahasiswa beliau di MK Zat Padat 4sks, saya merasa bangga dengan beliau. Teringat waktu itu, saat mengikuti MK Zat padat yang beliau ajarkan, metode komunikasi beliau dalam mentransfer MK sangat berbeda dari dosen yang lain, sehingga memberikan warna dalam proses belajar di fisika ui. efek yang ditimbulkan adalah saya dapet nilai "A" di MK tersebut, dan teman2 juga nilainya rata-rata baik. Tambahan lain, beliau juga sangat perhatian dalam melihat bakat mahasiswanya di Fisika. Saya masih ingat beliau memberikan Buku kepada saya mengenai Aplikasi Zat Padat dalam teknologi semikonduktor, disebabkan beliau melihat saya berbakat di Fis. zat Padat. Namun sekarang saya harus berjuang didunia yang berbeda. Maaf ya Prof.. . dan sampai saat ini masih saya simpan bukunya.
Terima kasih Bu Oca. Ibu memang pantas dan layak menjadi Guru Besar Fisika di UI, karena begitu besar semangat dan ketulusan hati Ibu dalam membangun fisika dan fisikawan di Indonesia.
Selamat untuk Fisikawan Besar Muda Ibu Oca. salam-idris97

novian mengatakan...

Fren, sebelumnya thanks banget nih sudah menceritakan tentang milestonenya Prof. Dr . Rosari saleh (Ibu Oca), sebab saya baru mengetahui profil beliau agak dalam nih setelah melihat tulisan ente.
Sebagai salah satu alumni Fisika UI dan juga pernah menjadi mahasiswa beliau di MK Zat Padat 4sks, saya merasa bangga dengan beliau. Teringat waktu itu, saat mengikuti MK Zat padat yang beliau ajarkan, metode komunikasi beliau dalam mentransfer MK sangat berbeda dari dosen yang lain, sehingga memberikan warna dalam proses belajar di fisika ui. efek yang ditimbulkan adalah saya dapet nilai "A" di MK tersebut, dan teman2 juga nilainya rata-rata baik. Tambahan lain, beliau juga sangat perhatian dalam melihat bakat mahasiswanya di Fisika. Saya masih ingat beliau memberikan Buku kepada saya mengenai Aplikasi Zat Padat dalam teknologi semikonduktor, disebabkan beliau melihat saya berbakat di Fis. zat Padat. Namun sekarang saya harus berjuang didunia yang berbeda. Maaf ya Prof.. . dan sampai saat ini masih saya simpan bukunya.
Terima kasih Bu Oca. Ibu memang pantas dan layak menjadi Guru Besar Fisika di UI, karena begitu besar semangat dan ketulusan hati Ibu dalam membangun fisika dan fisikawan di Indonesia.
Selamat untuk Fisikawan Besar Muda Ibu Oca. salam-idris97

monomono mengatakan...

bu oca sekarang udah punya web katanya

http://www.rosarisaleh.com