Di Jawa bagian tengah nama Mataram sama sekali bukan nama yang asing bagi masyarakatnya. Bahkan nama itu di di abadikan menjadi nama dua kerajaan besar di masanya masing-masing. Mataram-Hindu di abad kedelapan serta Mataram Islam diawal abad ke enam belas.
Walau terpisah rentang waktu yang cukup lama kedua kerajaan itu memberi warna yang sangat kenthal bagi perkembangan masyarakat kontemporer kita.
Mataram Islam
Cerita Mataram Islam dimulai dari kerajaan Demak diakhir masa Lintang Trenggana yang compang-camping akibat krisis politik. Adipati Jipang Panolan Arya Penangsang berontak karena merasa lebih berhak atas tahta Demak dibanding Jaka Tingkir yang notabene hanya anak menantu Trenggana. Konflik itu akhirnya dimenangkan oleh Jaka Tingkir yang kemudian mendirikan kasultanan Pajang.
Kemenangan ini tak lepas dari peran Sutawijaya alias Karebet anak dari Ki Ageng Pemanahan. Dia berhasil membunuh Aria Panangsang, dan memantapkan posisi Jaka Tingkir yang kelak bernama Sultan Hadiwijaya.
Ada ubi ada talas ada budi ada balas, begitu peribahasanya. Atas jasanya Sultan Pajang menghadiahinya sebidang tanah luas, berupa kawasan yang disebut Hutan Mentaok/alas Mentaok (Kothagede). Kawasan ini kelak, setelah dibuka, dinamai Bumi Mataram dan masih merupakan wilayah Pajang.
Alas Mentaok atau hutan mentaok tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai hutan belantara, dan pembukaannya tidak semata-mata dilakukan dengan merubuhkan pohon dan meratakan tanah saja. Karena sejatinya di Mentaok masih ada sebuah kedaton, atau kerajaan kecil yang justru tunduk pada sisa-sisa Majapahit yang jelas-jelas Hindu dan bukan tunduk ke Pajang yang Islam. Kedaton itu sendiri memang sudah bernama Mataram.
Jadi pemberian alas Mentaok kepada Sutawijaya bukan dimaknai pemberian gratis. Tetapi lebih merupakan perintah Hadiwijaya untuk melebarkan kekuasaaanya ke selatan yang selama itu telah gagal dilakukan Demak dan Pajang.
Waktu itu, singgasana kedaton Hutan Mataram ini diduduki seorang ratu, yang bergelar Lara Kidul Dewi Nawangwulan. Dia adalah lahir dari dinasti Buda Kalacakra (Tantrayana), Maharani (Kaisarina) Suhita dengan suami sang Aji Ratna Pangkaja, raja Tanah Malayu.
Si Lara Kidul diambil menantu Brawijaya (Bre Wengker: 1456-66), dan dijodohkan dengan Raden Bondan Kejawan alias Kidang Telangkas, putra hasil perkimpoian nya dengan Wandan Bodricemara. Ratu Kedaton Mataram berikut nya ialah Dewi Nawangsih, putri Dewi Nawangwulan dengan Bondan Kejawan. Ratu penerus Nawangsih yaitu Ni Mas Ratu Angin Angin.
Atas kemauan Sultan Adiwijaya, Ni Mas Ratu Angin Angin diperistrikan dengan Sutawijaya, putra angkat nya itu. Adiwijaya berharap Sutawijaya dan keturunan nya kelak dapat menjadi penerus Pajang, dan kuat mengemban “Wahyu Majapahit”. Mengingat bahwa darah Majapahit mengalir dalam diri Ni Mas Ratu Angin Angin.
Apakah suksesi Majapahit-Hindu ke Pajang-Islam dengan model ini cukup dan bisa diterima?
Legitimasi formal Sutawijaya memang menjadi mantap ketika di Pajangpun konflik politik pecah. Anak Hadiwijaya, Pangeran Benowo yang merupakan pewaris Pajang di kudeta oleh Aryo Pangiri adipati Demak. Merasa terdesak Benowo meminta bantuan Sutawijaya di Mataram. Setelah berhasil mengalahkan Aryo Pangiri Pangeran Benowo menyerahkan pusaka Pajang pada Sutawijaya.
Bagaimana dengan masyarakat awam Mataram-Hindu? Apakah mereka mau begitu saja menerima dominasi orang utara yang nota bene Islam? Awam hanya akan menerima sebuah penundukan bila panakluk bisa membunuh keinginan awam untuk berontak. Dan lazimnya penakluk kemudian menampilkan kengerian dan ketakutan untuk melegitimasi kekuasaanya.
Bagi masyarakt agraris jawa seperti daerah Mataram waktu itu, laut selatan mengambil bentuk yang sangat berbeda dengan laut utara jawa. Bila laut utara tenang dengan ombak yang sepoi-sepoi dan pantainya yang datar. Maka laut selatan sama sekali mengambil bentuk yang berbeda. Dengan ombak yang bahkan bila musim barat datang tingginya bisa mencapai dua meter atau lebih. Di beberapa tempat seperti pantai Gunungkidul atau Karangbolong pantainya berupa tebing karang yang curam. Hingga sepanjang sejarah jawa laut selatan selalu mejadi cermin ketakutan bawah sadar masyarakat Jawa dan merupakan pembatasnya dengan dunia luar.
Sebagai seorang pemimpin yang telah kenyang berkonflik Sutawijaya –yang setelah menjadi sultan menyebut dirinya Panembahan Senopati- tahu betul kondisi psikologi itu. Dan penaklukanya terhadap pikiran jawa di mulai dengan cerita-cerita babad yang menampilkan superioritas dirinya dan anak keturunannya di kemudian hari.
Dari sinikah kemudian dongeng tentang Ratu Kidul di mulai. Laut selatan dengan wajah kejam pengambilnya di identikan dengan seorang ratu jin yang berkuasa di kedalam laut, lengkap dengan kemegahan istana dan semua struktur pemerintahannya. Ratu kidul secara tepat di gambarkan dalam dongeng-dongeng itu sebagai sebuah kekuasaan yang berada di luar dimensi awam jawa. Dan Sutawijaya secara cerdik memanfaatkan ketakutan-ketakutan awam akan Ratu Kidul ini menjadi kekuatan legitimasi terhadap pemerintahannya terhadap Mataram.
Babad Alas Mentaok
Periode babat alas Mentaok adalah periode paling rawan dalam proses legitimasi ini. Sehingga Sutawijaya mesti mengadopsi cerita babad alas Wanamarta oleh Pandawa dan di modifikasi sesuai kepentingannya. Untuk masyarakat hindu waktu itu cerita ini sudah di hapal luar kepala. Dalam babad alas Wanamarta Pandawa harus menghadapi sekeluarga raja Jin. Ketika para jin itu bisa dikalahkan dan manjing/menyatu dengan Pandawa, Pandawa mempunyai modal menghadapi Kurawa. Modal itu berupa negara Atmartha.
Dalam babad alas Mentaok itu yang dihadapi oleh Pandawa juga di hadapi oleh Sutawijaya. Mentaok di huni oleh Raja Jin bernama Jalumampang alias Jathamamrang. Merasa kesulitan mengalahkannya, Sutawijaya lalu mesuraga/semedhi di laut selatan. Dalam semedhinya dia lalu di datangi oleh Ratu Kidul yang terpikat oleh ketampanannya. Lalu deal politikpun tercapai, Ratu Kidul akan membantu melawan Jalumampang asal Sutawijaya dan keturunannya mau menjadi suami dari si Ratu. Ibarat pucuk dicinta ulampun tiba, Sutawijaya lansung deal dan kontrakpun di teken. Singkat cerita Jalumamphang kalah dan terusir ke puncak Merapi dan Sutawijaya sukes membuka hutan Mentaok.
Dengan cerita tersebut praktis bawah sadar Majapahit-Hindu telah di kalahkan secara permanen. Karena Ratu Kidul juga merupakan istri bagi raja-raja Mataram berikutnya. Dan cerita tersebut sangat efektif untuk mengancurkan keinginan berontak awam jawa terhadap penguasanya. Bagaimana mungkin awam jawa akan berani berontak bila Tuhan dan Jin bahkan bersekutu dibelakang penguasa. Dengan gelarnya yang panotogomo Panembahan Senapati telah berhasil memikat Tuhan.
Mataram Hindu
Peninggalan terbesar kerajaan Mataram-Hindu yang sampai sekarang tidak bisa dinilai harganya adalah toleransi antar umat beragama. Diperintah oleh dua wangsa yang berbeda wangsa Sanjaya yang Hindu dan wangsa Syailendra yang Budha perbedaan keyakinan tak membuat keduanya saling bunuh. Keduanya berkuasa dan berdampingan secara damai.
Berbicara tentang Mataram kuno tidak akan afdol tanpa membicarakan Borobudur. Borobudur memberikan kepada kita potret yang utuh akan kemajuan arsitektur di masa itu. Borobudur sebagai sebuah nama mungkin tak akan ditemui padanannya sekarang ini. Tetapi dulu nama itu diyakini berasal dari kata Sambharabhudhara, yang kurang lebihnya berarti “gunung” (bhudara) dengan lerengnya yang berteras. Atau lengkapnya Bhumisambharabhuddhara yang berarti “Gunung himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Bodhisattva“.
Arti yang lebih dekat juga bisa di runut dari kata “bara” dan “beduhur”. Bara berasal dari kata vihara, atau menurut bahasa sanksekerta bara berarti kompleks candi atau biara dan beduhur berarti “tinggi”. Para ahli boleh bersilang pendapat soal nama itu, tetapi menurut etimologi rakyat borobudur berasal dari lafal “para Budha” yang karena sering terpelesetnya lidah Jawa kata itu berubah menjadi borobudur.
Bentuk dasar candi berukuran 123×123 meter, bertingkat 6 berbentuk bujur sangkar dan 3 tingkat ke atasnya berbentuk lingkaran dan ditutup dengan sebuah stupa besar. Bahan dasar batu diambil dari sungai, dipahat, dibentuk kubus dengan sistem kunci coakan dan sengkedan. Sebagai struktur sebuah bukit –katanya puncak bukit– menjadi tempat penyusunan batu-batu tersebut. Total batu struktur dan termasuk reliefnya –seluas 2.500m2– menghabiskan sekitar 55.000m3. Sistem drainase menjadi penting, terutama saat musim hujan di mana curah hujan daerah tropis sangat tinggi, tetesan air hujan bisa mengalir deras dari puncak hingga ke bawah. Di tiap tingkat, di setiap sudutnya dibuat 100 lubang air dalam bentuk patung-patung yang unik.
Borobudur menjadi di kenal dijaman kontemporer tak lepas dari peran Raffess. Tahun 1814 ketika tanah Jawa masih berupa perawan molek yang diperebutkan Inggris dan Belanda, Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles yang saat itu kebetulan berkunjung ke Semarang mendapat laporan ada bukit yang penuh dengan relief.
Raffles segera mengirim H.C. Cornelius ke Borobudur untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita tersebut. Pada saat itu, yang kelihatan hanyalah sebuah bukit yang tertutup oleh semak belukar dan diatas bukit terlihat adanya susunan-susunan batu candi yang berserakan.
Pekerjaan membersihkan dengan menebang pohon-pohon, membakar semak belukar, menyingkirkan tanah dari atas bukit, pekerjaan pembersihan itu memakan waktu yang sangat lama. Baru dalam tahun 1834, atas usaha Residen Kedu, candinya dapat di tampakkan seluruhnya yang menjulang sampai ke atas puncak bukit.
Tapi jauh sebelum itu, ditempat yang persis sama Samaratungga anak Indra dari wangsa Syalendra memerintahkan kepada arsiteknya, Gunadarma untuk membangun sebuah candi besar candi yang kelak akan mengabadikan namanya dan nama wangsanya. Ya..Samaratungga keturunan Syailendra si pembuat candi yang agung.
Yang akan di buat oleh Gunadharma bukan hanya sebuah candi raksasa umtuk ritual-ritual Mahayana saja, tetapi juga sebuah maha kitab dari batu yang akan membuat untuk membuat ajaran-ajaran Buddha tersajikan secara visual, dan di pelajari sepanjang masa. Selain itu, Gunadarma juga ingin memberi sugesti tentang kehadiran Budha Sakyamuni di Borobudur karena hanya dengan kesaktiannya orang baru mampu melihat bangunan ini.
Ya.. Gunadharma dengan bijak menggambarkan secara jelas sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Sebagai sebuah tingkat paling dasar sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu sekaligus digunakan oleh Gunadarma untuk memperkuat konstruksi candi. Disini Gunadarma sekaligus juga menempatkan 120 panel cerita Kammawibhangga.
Empat lantai diatasnya Rupadhatu, dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Inilah Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Lantainya sudah berbentuk lingkaran dan dipralambangkan sebagai alam atas. di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.
Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang bak kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Polos tanpa lubang-lubang. Didalamnya oleh Gunadarma diletakanlah penggambaran sang Adibuddha.
Membandingkan dua peninggalan dari kedua Mataram itu tidaklah lengkap bila tidak ditambah dengan satu peninggalan lagi dari Mataram-Islam, yakni penjajahan kolonial. Setelah Panembahan Senopati mangkat penggantinya adalah Mas Jolang alias Panembahan Hanyokrowati yang kemudian mati ketika sedang berburu di Krapyak. Tahta beralih tangan anak ke empatnya Adipati Martoputra yang ditenggarai gila. Hingga tak lama kemudian tahta diambil alih oleh Mas Rangsang anak tertua Hanyokrowati. Mas Rangsang ini lah yang kemudian di kenal sebagai Sultan Agung Hanyokrowati. Bila Mas Rangsang ini dikenal dengan keberaniannya melawan VOC maka penggantinya Amangkurat I dan Amamngkurat II tak lebih dari para penjilat pantat VOC yang patuh. Di tangan merekalah kemudian Mataram diserahkan kepada VOC. Hingga akhirnya perjanjian Giyanti akhirnya menamatkan riwayat Mataram dengan dipecahnya Mataram menjadi dua negara kecil.
Kasunanan di Surakarta dan Kasultanan di Jogja, kasunanan dan Kasultanan bukanlah kerajaan dalam arti yang sesungguhnya karena secara militer dan politik mereka mandul dan lebih banyak di gunakan sebagai kepanjangan tangan Hindia Belanda. Melalui berbagai macam kapitulasi pemimpinnya akhirnya dua kerajaan tersebut tak lebih dari sekedar pertunjukan akan romantisme kebesaran jawa dimasa lalu. Dan rakyatnya di umpankan kepada perihnya imperialisme dan kapitalisme dikemudian hari sampai sekarang.
Warisan terbesar Mataram-Islam adalah sistem pemerintahan yang feodal yang dibelakang hari kemudian di praktekan oleh penguasa jawa kontemporer seperti Sukarno dan Suharto. Mereka berdua menerapkan sistem patron-klien dalam hirarki pemerintahannya. Bahkan Suharto mencontoh persis kelakuan Panembahan Senopati yang gemar membangun mitos-mitos di sekitarnya.
http://persinggahan.wordpress.com/20...k-dua-mataram/
Sabtu, 22 September 2007
Ki Ageng Selo
diambil dari website :http://www.grobogan.go.id/cerita_ki_ageng_selo.htm
Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikimpoikan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkimpoian antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kimpoi dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .
Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa .
Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35 - 36 ) .
Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :
Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ). Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.
Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.
Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .
… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun - turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).
Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kimpoi dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .
Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja - raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat .
Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang .
Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi .
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut .
Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam - makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam - makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata - rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.
Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikimpoikan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkimpoian antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kimpoi dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .
Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa .
Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35 - 36 ) .
Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :
Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ). Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.
Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.
Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .
… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun - turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).
Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kimpoi dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .
Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja - raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat .
Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang .
Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi .
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut .
Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam - makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam - makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata - rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.
* Kyai Pleret batal ‘berhadapan’ dengan Kyai Baruklinting
Seperti berbagai dusun di Yogyakarta, Ganjuran tidak lepas dari peranan para cikal bakalnya. Dusun ini dulu terkenal di seputar Yogyakarta karena terdapat pabrik gula milik Belanda, dinamai Pabrik Gula Ganjuran Gondang Lipuro. Didirikan oleh Joseph Schmutzer dan Julius Schmutzer sekitar tahun 1912 yang secara otomatis telah membuka dusun Ganjuran menjadi semacam wilayah industri yang berbasis pertanian. Tapi jauh sebelum itu, Ganjuran kental dengan sejarah awal berdirinya Keraton Mataram.
GONDANG LIPURO adalah pabrik gula di Ganjuran yang pernah mengalami masa keemasan pada tahun 1918-1930. Saat itu, atas inisiatif Schmutzer bersaudara dapat didirikan 12 sekolahan di sekitar pabrik gula Ganjuran.
Selain itu dia juga mendirikan gereja yang kemudian terkenal dengan nama Gereja Candi Hati Kudus Yesus. Tidak mau ketinggalan istri Julius Schmutzer pun mendirikan poliklinik yang semula untuk intern pabrik gula, dalam perkembangannya mengilhami berdirinya rumah sakit umum yang sekarang terkenal dengan nama Rumah Sakit Umum Panti Rapih.
Pada clash dengan kolonial Belanda pabrik gula ini turut dibumihanguskan gerilyawan Indonesai agar tidak ditempati oleh Belanda kembali.
Jauh sebelum Schmutzer datang ke Ganjuran, kawasan ini merupakan bagian dari Alas Mentaok. Keberadaannya tidak terpisahkan dengan suatu wilayah yang dalam Babad Tanah Jawa dikenal dengan nama Lipura.
Di Lipura inilah Panembahan Senopati pernah melakukan laku spiritual dan mendapatkan wisik untuk mendirikan pusat Keraton Mataram. Tempat Panembahan Senopati teteki ini sekarang terkenal dengan peninggalannya yang berupa batu berbentuk kotak yang sering disebut Watu Gilang. Letak Watu Gilang ini berada di Dusun Janggan, Gilangharjo, Bambanglipuro, Bantul.
SEMULA Panembahan Senopati pernah punya niat mendirikan pusat pemerintahan Keraton Mataram di tempat dia teteki. Akan tetapi letak dusun Janggan ini tidak terlalu jauh dengan wilayah Mangir. Oleh karena itu Ki Ageng Pemanahan menasihati Panembahan Senopati agar jangan mendirikan keraton di Gilangharjo.
Jika hal ini dilakukan, maka Panembahan Senopati akan selalu berhadapan dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya. Sekalipun Panembahan Senopati memiliki senjata sakti berupa tombak bernama Kyai Ageng Pleret, tetapi Ki Ageng Mangir pun memiliki senjata sakti yang juga berupa tombak bernama Kyai Baruklinting.
Sedigdaya apa pun orang, tidak akan kuat menerima tusukan tombak Kyai Baruklinting. Demikian Sunan Kalijaga dalam Babad Mangir pernah menyatakan hal tersebut. Untuk itulah Panembahan Senopati mengurungkan niatnya untuk mendirikan keraton di wilayah ini. Dengan demikian Kyai Pleret batal berhadapan dengan Kyai Barklinting
Menurut sumber setempat Ganjuran juga pernah menjadi tempat pengasingan pasangan kekasih Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan Rara Pembayun. Peristiwa percintaan semacam Romeo-Juliet ini dipercaya mengilhami Keraton Mataram untuk menciptakan sebuah gending sakral yang dinamakan gending Kala Ganjur.
Istilah Kala Ganjur ini dipercaya pula menjadi cikal bakal penamaan dusun Ganjuran yang secara administratif terletak di Kalurahan Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.
SELAIN itu istilah kala sering diartikan sebagai tali atau pengikat dan ganjur diartikan sebagai inti atau dasar. Inti yang dimaksudkan di sini adalah inti kehidupan manusia dalam menempuh hidup bersama.
Jadi secara utuh Kala Ganjur berarti tali pengikat dasar manusia dalam mengarungi kehidupan bersama dengan dasar cinta. Tak aneh bila kemudian gending sering digunakan mengiringi kirab pengantin dalam masyarakat Jawa.
Di balik perseteruan Mangir-Senopati ini di belakangnya ternyata masih menyisakan kelembutan akan kasih. Artinya, permusuhan politik ini sekalipun harus mengorbankan nyawa dan wilayah Mangir, namun tidak menghapus kecintaan trah Mataram pada keturunan dan kerabatnya. Penciptaan gending oleh pihak keraton tersebut dapat diduga menjadi salah satu tanda cinta bagi sepasang kekasih yang terpaksa dikorbankan demi kepentingan politik Mataram. Keberadaan gending Kala Ganjur itu sendiri sampai sekarang masih abadi seabadi percintaan Mangir-Pembayun yang pernah diasingkan di Ganjuran.
Kecuali versi-versi di atas masih ada versi lain menyangkut latar belakang keberadaan Dusun Ganjuran ini. Menurut Bapak dan Ibu Madiyo Utomo (84) yang menjadi jurukunci makam Ganjuran, dusun Ganjuran terjadi atau ada karena pada mulanya ada seorang tetua dusun yang bernama Kyai dan Nyai Ganjur. Dalam pengucapan masyarakat setempat Kyai dan Nyai Ganjur ini sering disebut pula dengan nama Kyai dan Nyai Jo Ganjur. Mungkin nama Jo itu merupakan kependekan dari nama Joyo.(Albes/Jbo)-b
GONDANG LIPURO adalah pabrik gula di Ganjuran yang pernah mengalami masa keemasan pada tahun 1918-1930. Saat itu, atas inisiatif Schmutzer bersaudara dapat didirikan 12 sekolahan di sekitar pabrik gula Ganjuran.
Selain itu dia juga mendirikan gereja yang kemudian terkenal dengan nama Gereja Candi Hati Kudus Yesus. Tidak mau ketinggalan istri Julius Schmutzer pun mendirikan poliklinik yang semula untuk intern pabrik gula, dalam perkembangannya mengilhami berdirinya rumah sakit umum yang sekarang terkenal dengan nama Rumah Sakit Umum Panti Rapih.
Pada clash dengan kolonial Belanda pabrik gula ini turut dibumihanguskan gerilyawan Indonesai agar tidak ditempati oleh Belanda kembali.
Jauh sebelum Schmutzer datang ke Ganjuran, kawasan ini merupakan bagian dari Alas Mentaok. Keberadaannya tidak terpisahkan dengan suatu wilayah yang dalam Babad Tanah Jawa dikenal dengan nama Lipura.
Di Lipura inilah Panembahan Senopati pernah melakukan laku spiritual dan mendapatkan wisik untuk mendirikan pusat Keraton Mataram. Tempat Panembahan Senopati teteki ini sekarang terkenal dengan peninggalannya yang berupa batu berbentuk kotak yang sering disebut Watu Gilang. Letak Watu Gilang ini berada di Dusun Janggan, Gilangharjo, Bambanglipuro, Bantul.
SEMULA Panembahan Senopati pernah punya niat mendirikan pusat pemerintahan Keraton Mataram di tempat dia teteki. Akan tetapi letak dusun Janggan ini tidak terlalu jauh dengan wilayah Mangir. Oleh karena itu Ki Ageng Pemanahan menasihati Panembahan Senopati agar jangan mendirikan keraton di Gilangharjo.
Jika hal ini dilakukan, maka Panembahan Senopati akan selalu berhadapan dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya. Sekalipun Panembahan Senopati memiliki senjata sakti berupa tombak bernama Kyai Ageng Pleret, tetapi Ki Ageng Mangir pun memiliki senjata sakti yang juga berupa tombak bernama Kyai Baruklinting.
Sedigdaya apa pun orang, tidak akan kuat menerima tusukan tombak Kyai Baruklinting. Demikian Sunan Kalijaga dalam Babad Mangir pernah menyatakan hal tersebut. Untuk itulah Panembahan Senopati mengurungkan niatnya untuk mendirikan keraton di wilayah ini. Dengan demikian Kyai Pleret batal berhadapan dengan Kyai Barklinting
Menurut sumber setempat Ganjuran juga pernah menjadi tempat pengasingan pasangan kekasih Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan Rara Pembayun. Peristiwa percintaan semacam Romeo-Juliet ini dipercaya mengilhami Keraton Mataram untuk menciptakan sebuah gending sakral yang dinamakan gending Kala Ganjur.
Istilah Kala Ganjur ini dipercaya pula menjadi cikal bakal penamaan dusun Ganjuran yang secara administratif terletak di Kalurahan Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.
SELAIN itu istilah kala sering diartikan sebagai tali atau pengikat dan ganjur diartikan sebagai inti atau dasar. Inti yang dimaksudkan di sini adalah inti kehidupan manusia dalam menempuh hidup bersama.
Jadi secara utuh Kala Ganjur berarti tali pengikat dasar manusia dalam mengarungi kehidupan bersama dengan dasar cinta. Tak aneh bila kemudian gending sering digunakan mengiringi kirab pengantin dalam masyarakat Jawa.
Di balik perseteruan Mangir-Senopati ini di belakangnya ternyata masih menyisakan kelembutan akan kasih. Artinya, permusuhan politik ini sekalipun harus mengorbankan nyawa dan wilayah Mangir, namun tidak menghapus kecintaan trah Mataram pada keturunan dan kerabatnya. Penciptaan gending oleh pihak keraton tersebut dapat diduga menjadi salah satu tanda cinta bagi sepasang kekasih yang terpaksa dikorbankan demi kepentingan politik Mataram. Keberadaan gending Kala Ganjur itu sendiri sampai sekarang masih abadi seabadi percintaan Mangir-Pembayun yang pernah diasingkan di Ganjuran.
Kecuali versi-versi di atas masih ada versi lain menyangkut latar belakang keberadaan Dusun Ganjuran ini. Menurut Bapak dan Ibu Madiyo Utomo (84) yang menjadi jurukunci makam Ganjuran, dusun Ganjuran terjadi atau ada karena pada mulanya ada seorang tetua dusun yang bernama Kyai dan Nyai Ganjur. Dalam pengucapan masyarakat setempat Kyai dan Nyai Ganjur ini sering disebut pula dengan nama Kyai dan Nyai Jo Ganjur. Mungkin nama Jo itu merupakan kependekan dari nama Joyo.(Albes/Jbo)-b
Legenda Bumi Mataram-Jogja
EGENDA / CERITA / MITOS
Pada jaman dahulu Kerajaan Mataram belum jaya, Panembahan Senopati yang mempunyai nama kecil Raden Suta Wijaya dikenal sebagi seorang pemuda tampan, gagah perwira. Pada suatu hari ia mengucapkan keinginannya kepada ayah angkatnya yaitu Ki Juru Mertani untuk bertapa, dipilihlah Pantai Selatan untuk menjalani laku prihatin dan bertapa ditemani oleh ayah angkatnya, berapa hari, bulan atau tahun tidak dihiraukan. Pada suatu hari Ki Juru Mertani melihat sinar biru menukik turun ke dalam laut dan selanjutnya hilang tenggelam. Kemudian Ki Juru Mertani menoleh ke arah Raden Sutawijaya dan berkata “Mari kita bersihkan diri kita Raden”, Raden Sutawijaya setuju, kemudian mencuci kaki dan tangan serta menghilangkan keringat yang menempel di muka, setelah itu kemudian duduk bersila dan menjalankan semedi.
Dalam semedinya itu Raden Sutawijaya merasa ditemui dan telah berdiri seorang wanita cantik jelita yang ternyata Kanjeng Ratu Kidul. Beliau menyapa dan bertanya, “kenapa kamu melakukan semedi ditempat yang sunyi”, Sutawijaya menjawab dengan jelas bahwa “aku pingin menjadi raja”, Ratu Kidul mengangguk pertanda mengerti dengan jawaban tersebut. Beliau memberi saran “akan tercapai yang kau inginkan asalkan kamu mau menjadi suamiku dan memakan telur ini”. Diterimanya tawaran tersebut oleh Sutawijaya dengan syarat akan selalu membantu dan menjaga keselamatan kawula mataram. Setelah semuanya sepakat, maka Ratu Kidul kemudian menghilang dan Sutawijaya terbangun dan menceritakan kepada Ki Juru Mertani. Tetapi percakapan tersebut di dengar dan dilihat oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Ditengah perjalanan pulang Sutawijaya dan Ki Juru Mertani ditemui oleh seseorang yang tidak lain adalah Kanjeng Sunan Kalijaga menyarankan agar Raden Sutawijaya tidak memakan telur pemberian Ratu Kidul. Setelah sampai di rumah telur tersebut diberikan kepada abdi juru taman untuk memakannya saat itulah juru taman jadi raksasa yang sangat besar. Melihat kejadian itu Raden Sutawijaya dan Ki Juru Mertani terkejut dan keheran-heranan, sebab perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga adalah benar dan tidak merugikan dirinya, kemudian Ki Juru taman yang telah berubah menjadi raksasa diperintahkan untuk menjaga Gunung Merapi dengan nama Ki Sapu Jagad atau Panembahan Prabu Jagad. Semenjak itu Gunung Merapi aman-aman saja walaupun ada bencana baik lahar panas maupun lahar dingin, kawula Mataram dapat terhindar dari bencana tersebut. (Sumber: Inventarisasi Upacara Adat dan Tradisi Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2003, Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sleman)
Pada jaman dahulu Kerajaan Mataram belum jaya, Panembahan Senopati yang mempunyai nama kecil Raden Suta Wijaya dikenal sebagi seorang pemuda tampan, gagah perwira. Pada suatu hari ia mengucapkan keinginannya kepada ayah angkatnya yaitu Ki Juru Mertani untuk bertapa, dipilihlah Pantai Selatan untuk menjalani laku prihatin dan bertapa ditemani oleh ayah angkatnya, berapa hari, bulan atau tahun tidak dihiraukan. Pada suatu hari Ki Juru Mertani melihat sinar biru menukik turun ke dalam laut dan selanjutnya hilang tenggelam. Kemudian Ki Juru Mertani menoleh ke arah Raden Sutawijaya dan berkata “Mari kita bersihkan diri kita Raden”, Raden Sutawijaya setuju, kemudian mencuci kaki dan tangan serta menghilangkan keringat yang menempel di muka, setelah itu kemudian duduk bersila dan menjalankan semedi.
Dalam semedinya itu Raden Sutawijaya merasa ditemui dan telah berdiri seorang wanita cantik jelita yang ternyata Kanjeng Ratu Kidul. Beliau menyapa dan bertanya, “kenapa kamu melakukan semedi ditempat yang sunyi”, Sutawijaya menjawab dengan jelas bahwa “aku pingin menjadi raja”, Ratu Kidul mengangguk pertanda mengerti dengan jawaban tersebut. Beliau memberi saran “akan tercapai yang kau inginkan asalkan kamu mau menjadi suamiku dan memakan telur ini”. Diterimanya tawaran tersebut oleh Sutawijaya dengan syarat akan selalu membantu dan menjaga keselamatan kawula mataram. Setelah semuanya sepakat, maka Ratu Kidul kemudian menghilang dan Sutawijaya terbangun dan menceritakan kepada Ki Juru Mertani. Tetapi percakapan tersebut di dengar dan dilihat oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Ditengah perjalanan pulang Sutawijaya dan Ki Juru Mertani ditemui oleh seseorang yang tidak lain adalah Kanjeng Sunan Kalijaga menyarankan agar Raden Sutawijaya tidak memakan telur pemberian Ratu Kidul. Setelah sampai di rumah telur tersebut diberikan kepada abdi juru taman untuk memakannya saat itulah juru taman jadi raksasa yang sangat besar. Melihat kejadian itu Raden Sutawijaya dan Ki Juru Mertani terkejut dan keheran-heranan, sebab perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga adalah benar dan tidak merugikan dirinya, kemudian Ki Juru taman yang telah berubah menjadi raksasa diperintahkan untuk menjaga Gunung Merapi dengan nama Ki Sapu Jagad atau Panembahan Prabu Jagad. Semenjak itu Gunung Merapi aman-aman saja walaupun ada bencana baik lahar panas maupun lahar dingin, kawula Mataram dapat terhindar dari bencana tersebut. (Sumber: Inventarisasi Upacara Adat dan Tradisi Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2003, Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sleman)
Alas Mentaok
Bait 01
Tertulis dalam babad tanah Jawi, dalam ingatan orangtua
tentang Prabu Brawijaya Sang Kertabumi, raja di Majapahit
bahwa ia memperistri Putri Wandan, dan memperoleh putra
tampan berwibawa rupanya, ia disebut Raden Bondan Kejawan
Saat ia dilahirkan Majapahit telah mendekati kehancurannya
karena itu dititipkanlah ia kepada Ki Juru Sabin
apalagi karena ibundanyapun meninggal sewaktu melahirkan
Setelah mencapai usia remaja Bondan Kejawan dibawa ke Tarub
untuk dibina jiwa dan raganya oleh Ki Ageng Tarub
ketika disanalah ia berganti nama menjadi Raden Lembu Peteng
Bait 02
Adapun Ki Ageng Tarub itu sebenarnya putra Dewi Rasawulan
yaitu putri tumenggung Tuban Wilatikta yang perkasa
ia pun adik Raden Said, yang disebut juga Sunan Kalijaga
Ki Ageng itu menikah dengan Dewi Nawang Wulan
dan menurunkan seorang anak wanita bernama Dewi Nawangsih
maka dengan Dewi Nawangsihlah Bondan Kejawan menikah
dan berputra Raden Getas Pandawa, yang lalu menurunkan
Ki Ageng Sela, abdi setia, prajurit di kesultanan Demak
Ia cakap mengabdi, bahkan turut perang melawan Majapahit
tetapi setelah tua kembalilah ia ke desanya
di sana menulis sebuah serat pepali untuk anak cucu
[Back]
Bait 03
Dari putri Sumedang Ki Ageng sela menurunkan dua orang anak
yaitu Nyi Ageng Saba dan Ki Ageng Ngenis ing Nglawean
Ki Ageng Ngenis adalah pengabdi dan pendukung Mas Karebet
bahkan hingga naik takhta dengan gelar Sultan Hadiwijaya
Karena jasa-jasanya dari raja Pajang itu memperoleh dukuh Perdikan
yaitu Nglaweyan di mana ia kemudian menetap hingga mangkatnya
Putra Ki Ageng, yang bernama Ki Gede Pemanahan
menjadi abdi Sultan Pajang, dan diangkat menjadi kakak
Karena kasihnya ia selalu membela junjungannya
hingga berani menghadapi Arya Penangsang dari Jipang
seorang musuh Pajang yang sombong dan angkuh sikapnya
karena dukungan Ki Juru Mertani, Ki Penjawi dan Sutawijaya
berhasillah Ki Gede Pemanahan membinasakan Arya Penangsang
yang gugur dalam kemarahan di aliran Bengawan Sore
Karena jasanya itu maka Sultan Pajang menghadiahkan
Alas Mentaok dan daerah Kadipaten Pati
kepada Pemanahan dan kepada Penjawi.
Bait 04
Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
berangkatlah rombongan Ki Gede ke Alas Mataram
di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gede Pemanahan
Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
Sementara Ki Gede bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
Di mana rombongan dijamu oleh Ki gede Karang Lo
Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gede
[Back]
Bait 05
Semakin lama negeripun semakin berkembang jua
malah dilengkapi keraton yang selesai dibangun tahun 1578
Di sanalah Ki Gede Pemanahan memerintah, sebagai bawahan Pajang
Hingga akhirnya mangkat dipanggil ke hadirat Sang Pencipta
serta dimakamkan di halaman mesjid Agung di Kuto Gede
pada tahun ber-candrasengkala "Lunga trus rumpaking bala"
Maka Ki Gede Pemanahan meninggalkan tujuh orang anak:
Pertama Mas Danang, yang disebut pula Sutawijaya
dan sering dipanggil Raden Ngabehi Lor ing Pasar
kedua Raden Jambu, ketiga Raden Santri
keempat Raden Kedawung, kelima Raden Tompe
keenam istri Arya Dadap Tulis, ketujuh istri Tumenggung Mayang
Bait 06
Tersebutlah Sutawijaya ditunjuk Sultan Pajang
menjadi pengganti ayahnya, dengan gelar Senopati Ing Alaga
Ia adalah pemimpin yang cakap, dan prajurit yang gagah perkasa
tegasnya pantas ia menjadi raja, sebagaimana yang dicita-citakannya
Sewaktu bertirakat di batu besar Lipura ia mendapat wahyu
bahwa akan menjadi raja, yang menurunkan Wangsa Agung
diperingati oleh paman Ki Martani, ia menyusuri kali Opak ke arah timur
lalu bertapa di laut selatan, yaitu di tepi ombak yang menderu
di tempat bernama Sawangan, di wilayah Kanjeng Ratu Kidul
Sementara itu Ki Juru Martanipun memberinya dukungan
dengan menjalankan prihatin tapa, di lereng gunung Merapi
[Back]
Bait 07
Setelah itu bersiaplah mereka mempersiapkan kebangunan Mataram
menjawab panggilan sejarah, memenuhi amanat leluhur
Segala adipati, penguasa, dan tokoh di sekitar Mataram
ditundukannya untuk menjadi pendukung usahanya
Ki Ageng Mangir, adipati Kulon Progo, yang ingin merdeka
dibinasakannya, walau ia adalah seorang menantu
yaitu suami Kanjeng Ratu Pembayun, putri Senopati
yang suka supaya ayahandanya dan suaminya mau bersatu
Seterusnya Senopatipun memperkuat semua pasukannya
juga membangun parit dan benteng, seakan menantang Pajang
Setelah itu ditemukannya berpuluh dan beratus halaman
tempat dituliskannya seribu satu malam alasan
untuk tidak datang ke Pajang, dan bersembah kepada raja
Marahlah Adiwijaya, Pajang menyerbu, pertempuran pecah di Prambanan
gagah orang Mataram berjuang, maka Pajangpun mengundurkan diri
Pada perjalanan pulang Sultan Adiwijaya jatuh sakit
dan sangat parah keadaannya sewaktu tiba di kota
penuh hormat dan kasih Senopati mengiringkan perjalanannya
malah menyuruh letakkan serumpun kembalian cinta
berupa kembang selasih, yang diletakkan di gerbang istana
akhirnya mangkatlah Sri Sultan, terbukalah jalan bagi Mataram
Maka kemenangan Mataram itu terjadi pada tahun Saka 1508
dan diperingati dengan Candrasengkala pada gerbang mesjid Agung
Bait 08
Setelah itu mulailah Sang Panembahan Senopati berperang
untuk menaklukkan daerah-daerah di tanah Jawa
ia pergi bertempur melawan adipati-adipati di timur
bahkan pernah pula berlaga melawan Pati
berperang melawan Pragola Pertama, putra Ki Penjawi
demikianlah hidupnya penuh perjuangan, hingga ia mangkat
pada tahun 1601 di Bale Kajenar yang disebut juga Gedhong Kuning
seperti ayahandanya iapun dimakamkan di halaman mesjid Agung
di ibukota praja Mataram, negeri para perwira
[Back]
Tertulis dalam babad tanah Jawi, dalam ingatan orangtua
tentang Prabu Brawijaya Sang Kertabumi, raja di Majapahit
bahwa ia memperistri Putri Wandan, dan memperoleh putra
tampan berwibawa rupanya, ia disebut Raden Bondan Kejawan
Saat ia dilahirkan Majapahit telah mendekati kehancurannya
karena itu dititipkanlah ia kepada Ki Juru Sabin
apalagi karena ibundanyapun meninggal sewaktu melahirkan
Setelah mencapai usia remaja Bondan Kejawan dibawa ke Tarub
untuk dibina jiwa dan raganya oleh Ki Ageng Tarub
ketika disanalah ia berganti nama menjadi Raden Lembu Peteng
Bait 02
Adapun Ki Ageng Tarub itu sebenarnya putra Dewi Rasawulan
yaitu putri tumenggung Tuban Wilatikta yang perkasa
ia pun adik Raden Said, yang disebut juga Sunan Kalijaga
Ki Ageng itu menikah dengan Dewi Nawang Wulan
dan menurunkan seorang anak wanita bernama Dewi Nawangsih
maka dengan Dewi Nawangsihlah Bondan Kejawan menikah
dan berputra Raden Getas Pandawa, yang lalu menurunkan
Ki Ageng Sela, abdi setia, prajurit di kesultanan Demak
Ia cakap mengabdi, bahkan turut perang melawan Majapahit
tetapi setelah tua kembalilah ia ke desanya
di sana menulis sebuah serat pepali untuk anak cucu
[Back]
Bait 03
Dari putri Sumedang Ki Ageng sela menurunkan dua orang anak
yaitu Nyi Ageng Saba dan Ki Ageng Ngenis ing Nglawean
Ki Ageng Ngenis adalah pengabdi dan pendukung Mas Karebet
bahkan hingga naik takhta dengan gelar Sultan Hadiwijaya
Karena jasa-jasanya dari raja Pajang itu memperoleh dukuh Perdikan
yaitu Nglaweyan di mana ia kemudian menetap hingga mangkatnya
Putra Ki Ageng, yang bernama Ki Gede Pemanahan
menjadi abdi Sultan Pajang, dan diangkat menjadi kakak
Karena kasihnya ia selalu membela junjungannya
hingga berani menghadapi Arya Penangsang dari Jipang
seorang musuh Pajang yang sombong dan angkuh sikapnya
karena dukungan Ki Juru Mertani, Ki Penjawi dan Sutawijaya
berhasillah Ki Gede Pemanahan membinasakan Arya Penangsang
yang gugur dalam kemarahan di aliran Bengawan Sore
Karena jasanya itu maka Sultan Pajang menghadiahkan
Alas Mentaok dan daerah Kadipaten Pati
kepada Pemanahan dan kepada Penjawi.
Bait 04
Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
berangkatlah rombongan Ki Gede ke Alas Mataram
di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gede Pemanahan
Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
Sementara Ki Gede bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
Di mana rombongan dijamu oleh Ki gede Karang Lo
Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gede
[Back]
Bait 05
Semakin lama negeripun semakin berkembang jua
malah dilengkapi keraton yang selesai dibangun tahun 1578
Di sanalah Ki Gede Pemanahan memerintah, sebagai bawahan Pajang
Hingga akhirnya mangkat dipanggil ke hadirat Sang Pencipta
serta dimakamkan di halaman mesjid Agung di Kuto Gede
pada tahun ber-candrasengkala "Lunga trus rumpaking bala"
Maka Ki Gede Pemanahan meninggalkan tujuh orang anak:
Pertama Mas Danang, yang disebut pula Sutawijaya
dan sering dipanggil Raden Ngabehi Lor ing Pasar
kedua Raden Jambu, ketiga Raden Santri
keempat Raden Kedawung, kelima Raden Tompe
keenam istri Arya Dadap Tulis, ketujuh istri Tumenggung Mayang
Bait 06
Tersebutlah Sutawijaya ditunjuk Sultan Pajang
menjadi pengganti ayahnya, dengan gelar Senopati Ing Alaga
Ia adalah pemimpin yang cakap, dan prajurit yang gagah perkasa
tegasnya pantas ia menjadi raja, sebagaimana yang dicita-citakannya
Sewaktu bertirakat di batu besar Lipura ia mendapat wahyu
bahwa akan menjadi raja, yang menurunkan Wangsa Agung
diperingati oleh paman Ki Martani, ia menyusuri kali Opak ke arah timur
lalu bertapa di laut selatan, yaitu di tepi ombak yang menderu
di tempat bernama Sawangan, di wilayah Kanjeng Ratu Kidul
Sementara itu Ki Juru Martanipun memberinya dukungan
dengan menjalankan prihatin tapa, di lereng gunung Merapi
[Back]
Bait 07
Setelah itu bersiaplah mereka mempersiapkan kebangunan Mataram
menjawab panggilan sejarah, memenuhi amanat leluhur
Segala adipati, penguasa, dan tokoh di sekitar Mataram
ditundukannya untuk menjadi pendukung usahanya
Ki Ageng Mangir, adipati Kulon Progo, yang ingin merdeka
dibinasakannya, walau ia adalah seorang menantu
yaitu suami Kanjeng Ratu Pembayun, putri Senopati
yang suka supaya ayahandanya dan suaminya mau bersatu
Seterusnya Senopatipun memperkuat semua pasukannya
juga membangun parit dan benteng, seakan menantang Pajang
Setelah itu ditemukannya berpuluh dan beratus halaman
tempat dituliskannya seribu satu malam alasan
untuk tidak datang ke Pajang, dan bersembah kepada raja
Marahlah Adiwijaya, Pajang menyerbu, pertempuran pecah di Prambanan
gagah orang Mataram berjuang, maka Pajangpun mengundurkan diri
Pada perjalanan pulang Sultan Adiwijaya jatuh sakit
dan sangat parah keadaannya sewaktu tiba di kota
penuh hormat dan kasih Senopati mengiringkan perjalanannya
malah menyuruh letakkan serumpun kembalian cinta
berupa kembang selasih, yang diletakkan di gerbang istana
akhirnya mangkatlah Sri Sultan, terbukalah jalan bagi Mataram
Maka kemenangan Mataram itu terjadi pada tahun Saka 1508
dan diperingati dengan Candrasengkala pada gerbang mesjid Agung
Bait 08
Setelah itu mulailah Sang Panembahan Senopati berperang
untuk menaklukkan daerah-daerah di tanah Jawa
ia pergi bertempur melawan adipati-adipati di timur
bahkan pernah pula berlaga melawan Pati
berperang melawan Pragola Pertama, putra Ki Penjawi
demikianlah hidupnya penuh perjuangan, hingga ia mangkat
pada tahun 1601 di Bale Kajenar yang disebut juga Gedhong Kuning
seperti ayahandanya iapun dimakamkan di halaman mesjid Agung
di ibukota praja Mataram, negeri para perwira
[Back]
GKR Pembayun Menziarahi Ratu Pembayun
WAJAH Gusti Kangjeng Ratu Pembayun nampak berseri-seri, ketika akhirnya makam yang dicarinya ketemu. H Nieko, sang calon suami pun nampak lega. Dengan bersemangat, Gusti Pembayun bercerita kepada Nieko, makam siapa yang mereka kunjungi Kamis (9/5) sore itu. Sejak berangkat dari Keraton Kilen, Gusti Pembayun dan H Nieko (KPH Wironegoro) berniat akan menziarahi leluhur yang namanya mereka pakai berdua, untuk mohon doa restu.
"Ini makam Kangjeng Ratu Pembayun," kata puteri sulung HB X.
"Lalu yang di sampingnya ini siapa?," tanya Nieko.
"Ini abdi kinasihnya."
"Apa?"
"Abdi terdekatnya."
"Oh, sekretaris pribadinya?"
"Ajudan," jelas Gusti Pembayun HB X.
"Oh, ajudannya," sambung Nieko lagi.
Sang Sekar Kedhaton kemudian menjelaskan siapa Ratu Pembayun.
"Ratu Pembayun itu puteri sulung Panembahan Senopati. Suaminya adalah Ki Ageng Mangir, yang tadi makamnya juga kita sowani di Kotagede. Ki Ageng Mangir adalah musuh Panembahan Senopati. Nah, Ratu Pembayun ini diutus menjadi ledhek (pena- ri) untuk memikat Ki Ageng Mangir, agar Ki Ageng Mangir bisa ditaklukkan. Setelah bisa dikalahkan, Ratu Pembayun istri Ki Ageng Mangir kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo yang mencetuskan ide, bagaimana menaklukkan Ki Ageng Mangir. Beliau dimakamkan di sini," tutur Gusti Pembayun HB X.
"Tapi, kamu nggak perlu seperti itu kan?," ucap Nieko sambil menyusul duduk di samping Gusti Pembayun. Mereka berdua pun kemudian khusuk berdoa.
***
MAKAM Kangjeng Ratu Pembayun, putri sulung Panembahan Senopati terletak di kompleks makam Ki Ageng Karanglo, di Dusun Karangturi, Banguntapan, Bantul. Makam ini terletak sekitar dua kilometer di sebelah timur makam raja-raja Mataram di Kotagede.
Amat berbeda dengan kompleks makam raja-raja di Kotagede maupun Imogiri yang nampak terawat rapi, kompleks makam ini sederhana. Bahkan menyatu dengan pemakaman umum.
Di deretan paling atas, hanya ada dua nisan, yang disatukan oleh sebidang lantai keramik putih. Makam Ratu Pembayun ada di sebelah barat dan makam abdi kinasihnya Nyi Aditjara di sebelah timur agak ke bawah. Kedua nisan ditutupi kain mori putih, pertanda dikeramatkan oleh para peziarah. Di bawah kedua makam ini terdapat beberapa makam tua, terlihat dari ukuran nisannya yang ekstra panjang dan besar.
Ditilik dari ukuran nisan Ratu Pembayun dan abdinya, makam tersebut belum lama dipugar.
"Rumiyin Kangjeng Ratu Pembayun boten kersa dipun sekar," tutur Ny Among Arja Sumbaga, abdi dalem Keraton Kilen yang menyertai ziarah. ("Dulu, Ratu Pembayun tidak mau dipasangi nisan.")
Juru kunci makam Ki Ageng Karanglo, Panewu Surakso Ismail kepada Bernas menuturkan, berdasarkan kisah yang ia terima dari leluhurnya yang juga jadi juru kunci makam, Ki Ageng Karanglo adalah salah satu penasehat Panembahan Senopati.
Ketika Panembahan Senopati kesulitan menaklukkan Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Karanglo mempunyai gagasan strategi mengalahkan Mangir. Caranya, putri sulung Senopati diutus menjadi ledhek (penari jalanan) untuk memikat Mangir. Karena saling jatuh cinta, keduanya akhirnya menikah.
Tak ada alasan bagi Ki Ageng Mangir untuk tidak sungkem kepada mertuanya, yang tidak lain musuh besarnya. Saat Ki Ageng Mangir tewas di depan Panembahan Senopati, Ratu Pembayun dalam keadaan mengandung.
Menurut Surakso Ismail, Panembahan Senopati bermaksud menghabisi pula keturunan Ki Ageng Mangir. Namun, oleh Ki Ageng Karanglo niat ini berhasil dicegah, karena membunuh janin berarti mengakhiri hidup Ratu Pembayun.
Pesan Panembahan Senopati, bila si anak lahir kelak, juga harus dihabisi agar tidak menjadi musuh dalam keluarga. Ak- hirnya, Ratu Pembayun dijadikan triman (dikeluarkan dari Keraton, diberikan kepada seseorang untuk diasuh atau dijadi- kan istri), dan diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo.
"Ratu Pembayun kemudian dijodohkan dengan putera Ki Ageng Karanglo dalam keadaan mengandung," tutur Surakso Ismail.
***
KISAH Ratu Pembayun hanya sampai di situ. Menurut Surakso Ismail, sejarahnya dihapus agar musuh Kerajaan Mataram benar- benar tuntas.
Seorang abdi dalem Makam Kotagede kepada Bernas menu- turkan, makam Ratu Pembayun memang berada di Karanglo. Namun, itu hanya tipu muslihat saja. Ada muatan politisnya. Di situ dibuatkan makam dan diformalkan sebagai makam Ratu Pembayun. Sedang Ratu Pembayun sendiri, pindah tempat dan berganti nama, hingga tak ada jejaknya.
Surakso Ismail sendiri tak bisa bertutur, kapan Ratu Pembayun meninggal dan di mana anak yang dikandungnya.
"Yang saya tahu, istri dan anak-anak Ki Ageng Karanglo dimakamkan di Prambanan," ujar Surakso yang tiap Kamis dan Jumat membuka pintu makam untuk memberi kesempatan siapa pun untuk ziarah ke makam Ki Ageng Karanglo dan Ratu Pembayun.
Ziarah yang dilakukan GKR Pembayun dan H Nieko Messa Yudha, MSc, diawali dari makam Kotagede. Nisan pertama yang diziarahi adalah makam Ki Ageng Pemanahan. Kemudian berturut- turut Panembahan Senopati, Nyi Ageng Nis, Panembahan Djajaprana, Sultan Hadiwidjaja, Ki Juru Mertani, Kangjeng Ratu Kalinyamat dan Kangjeng Ratu Retna Dumilah (keduanya permaisuri Panembahan Senopati), Sri Sultan HB II serta makam- makam lainnya. Makam terakhir yang ditaburi bunga adalah makam Ki Ageng Mangir, yang terbelah dinding makam.
Dari Kotagede, dua sejoli ini melanjutkan ziarah ke makam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kasultanagungan. Berturut-turut mereka menziarahi kompleks makam Kaswargan, tempat bersemayamnya Sri Sultan HB I, dan HB III. Kompleks makam Peziarahan tempat beristirahatnya Sri Sultan HB IV, HB V dan HB VI serta Astana Saptarengga, tempat dimakamkannya Sri Sultan HB VII, HB VIII dan HB IX, termasuk nenek GKR Pembayun KRAy Windyaningrum HB IX.
Sebelum ziarah ke makam Ratu Pembayun, sepasang calon pengantin ini berziarah ke makam kakek-nenek buyutnya (orang tua KRAy Windyaningrum), RW Poerwowinoto dan RAy Poerwowinoto.
Jumat hari ini, mereka masih akan melanjutkan ziarah, antara lain ke TMP Kusumanegara Yogyakarta, tempat almarhum Kolonel R Soepono, kakek GKR Pembayun dimakamkan. (putut w)
"Ini makam Kangjeng Ratu Pembayun," kata puteri sulung HB X.
"Lalu yang di sampingnya ini siapa?," tanya Nieko.
"Ini abdi kinasihnya."
"Apa?"
"Abdi terdekatnya."
"Oh, sekretaris pribadinya?"
"Ajudan," jelas Gusti Pembayun HB X.
"Oh, ajudannya," sambung Nieko lagi.
Sang Sekar Kedhaton kemudian menjelaskan siapa Ratu Pembayun.
"Ratu Pembayun itu puteri sulung Panembahan Senopati. Suaminya adalah Ki Ageng Mangir, yang tadi makamnya juga kita sowani di Kotagede. Ki Ageng Mangir adalah musuh Panembahan Senopati. Nah, Ratu Pembayun ini diutus menjadi ledhek (pena- ri) untuk memikat Ki Ageng Mangir, agar Ki Ageng Mangir bisa ditaklukkan. Setelah bisa dikalahkan, Ratu Pembayun istri Ki Ageng Mangir kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo yang mencetuskan ide, bagaimana menaklukkan Ki Ageng Mangir. Beliau dimakamkan di sini," tutur Gusti Pembayun HB X.
"Tapi, kamu nggak perlu seperti itu kan?," ucap Nieko sambil menyusul duduk di samping Gusti Pembayun. Mereka berdua pun kemudian khusuk berdoa.
***
MAKAM Kangjeng Ratu Pembayun, putri sulung Panembahan Senopati terletak di kompleks makam Ki Ageng Karanglo, di Dusun Karangturi, Banguntapan, Bantul. Makam ini terletak sekitar dua kilometer di sebelah timur makam raja-raja Mataram di Kotagede.
Amat berbeda dengan kompleks makam raja-raja di Kotagede maupun Imogiri yang nampak terawat rapi, kompleks makam ini sederhana. Bahkan menyatu dengan pemakaman umum.
Di deretan paling atas, hanya ada dua nisan, yang disatukan oleh sebidang lantai keramik putih. Makam Ratu Pembayun ada di sebelah barat dan makam abdi kinasihnya Nyi Aditjara di sebelah timur agak ke bawah. Kedua nisan ditutupi kain mori putih, pertanda dikeramatkan oleh para peziarah. Di bawah kedua makam ini terdapat beberapa makam tua, terlihat dari ukuran nisannya yang ekstra panjang dan besar.
Ditilik dari ukuran nisan Ratu Pembayun dan abdinya, makam tersebut belum lama dipugar.
"Rumiyin Kangjeng Ratu Pembayun boten kersa dipun sekar," tutur Ny Among Arja Sumbaga, abdi dalem Keraton Kilen yang menyertai ziarah. ("Dulu, Ratu Pembayun tidak mau dipasangi nisan.")
Juru kunci makam Ki Ageng Karanglo, Panewu Surakso Ismail kepada Bernas menuturkan, berdasarkan kisah yang ia terima dari leluhurnya yang juga jadi juru kunci makam, Ki Ageng Karanglo adalah salah satu penasehat Panembahan Senopati.
Ketika Panembahan Senopati kesulitan menaklukkan Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Karanglo mempunyai gagasan strategi mengalahkan Mangir. Caranya, putri sulung Senopati diutus menjadi ledhek (penari jalanan) untuk memikat Mangir. Karena saling jatuh cinta, keduanya akhirnya menikah.
Tak ada alasan bagi Ki Ageng Mangir untuk tidak sungkem kepada mertuanya, yang tidak lain musuh besarnya. Saat Ki Ageng Mangir tewas di depan Panembahan Senopati, Ratu Pembayun dalam keadaan mengandung.
Menurut Surakso Ismail, Panembahan Senopati bermaksud menghabisi pula keturunan Ki Ageng Mangir. Namun, oleh Ki Ageng Karanglo niat ini berhasil dicegah, karena membunuh janin berarti mengakhiri hidup Ratu Pembayun.
Pesan Panembahan Senopati, bila si anak lahir kelak, juga harus dihabisi agar tidak menjadi musuh dalam keluarga. Ak- hirnya, Ratu Pembayun dijadikan triman (dikeluarkan dari Keraton, diberikan kepada seseorang untuk diasuh atau dijadi- kan istri), dan diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo.
"Ratu Pembayun kemudian dijodohkan dengan putera Ki Ageng Karanglo dalam keadaan mengandung," tutur Surakso Ismail.
***
KISAH Ratu Pembayun hanya sampai di situ. Menurut Surakso Ismail, sejarahnya dihapus agar musuh Kerajaan Mataram benar- benar tuntas.
Seorang abdi dalem Makam Kotagede kepada Bernas menu- turkan, makam Ratu Pembayun memang berada di Karanglo. Namun, itu hanya tipu muslihat saja. Ada muatan politisnya. Di situ dibuatkan makam dan diformalkan sebagai makam Ratu Pembayun. Sedang Ratu Pembayun sendiri, pindah tempat dan berganti nama, hingga tak ada jejaknya.
Surakso Ismail sendiri tak bisa bertutur, kapan Ratu Pembayun meninggal dan di mana anak yang dikandungnya.
"Yang saya tahu, istri dan anak-anak Ki Ageng Karanglo dimakamkan di Prambanan," ujar Surakso yang tiap Kamis dan Jumat membuka pintu makam untuk memberi kesempatan siapa pun untuk ziarah ke makam Ki Ageng Karanglo dan Ratu Pembayun.
Ziarah yang dilakukan GKR Pembayun dan H Nieko Messa Yudha, MSc, diawali dari makam Kotagede. Nisan pertama yang diziarahi adalah makam Ki Ageng Pemanahan. Kemudian berturut- turut Panembahan Senopati, Nyi Ageng Nis, Panembahan Djajaprana, Sultan Hadiwidjaja, Ki Juru Mertani, Kangjeng Ratu Kalinyamat dan Kangjeng Ratu Retna Dumilah (keduanya permaisuri Panembahan Senopati), Sri Sultan HB II serta makam- makam lainnya. Makam terakhir yang ditaburi bunga adalah makam Ki Ageng Mangir, yang terbelah dinding makam.
Dari Kotagede, dua sejoli ini melanjutkan ziarah ke makam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kasultanagungan. Berturut-turut mereka menziarahi kompleks makam Kaswargan, tempat bersemayamnya Sri Sultan HB I, dan HB III. Kompleks makam Peziarahan tempat beristirahatnya Sri Sultan HB IV, HB V dan HB VI serta Astana Saptarengga, tempat dimakamkannya Sri Sultan HB VII, HB VIII dan HB IX, termasuk nenek GKR Pembayun KRAy Windyaningrum HB IX.
Sebelum ziarah ke makam Ratu Pembayun, sepasang calon pengantin ini berziarah ke makam kakek-nenek buyutnya (orang tua KRAy Windyaningrum), RW Poerwowinoto dan RAy Poerwowinoto.
Jumat hari ini, mereka masih akan melanjutkan ziarah, antara lain ke TMP Kusumanegara Yogyakarta, tempat almarhum Kolonel R Soepono, kakek GKR Pembayun dimakamkan. (putut w)
Raden Ronggo si Pendekar Takabur
Kisah dari DI Jogyakarta
Kisah ini mengajarkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Bekalilah diri dengan ilmu yang banyak. Tapi jangan lupakan satu hal, dengan ilmu itu janganlah takabur dan sombong. Sebab setinggi-tingginya ilmu yang dipunyai, masih ada yang lebih tinggi lagi. Seorang yang berilmu hendaknya mengamalkan ajaran padi: kian berisi kian merunduk. Dengan begitu ilmu bisa bermanfaat bagi orang lain..
Tubuhnya kekar dengan blangkon melingkar di kepalanya. Sebagai putra Panembahan Senapati, ia biasa dipanggil Raden Ronggo. Ia mempunyai kesaktian berlaga pantang menggunakan senjata. Raden Ronggo senang mengembara untuk belajar kesaktian, namun ia seringkali menggunakan kesaktiannya pada hal yang tak berguna, kesaktiannya hanya ditunjukkan pada orang bahwa dirinya sebagai orang yang hebat. Sebagai lelaki yang amat tampan, ia juga disukai banyak perempuan. Namun godaan setiap perempuan ditampiknya. Baginya perempuan hanya batu penghalang meraih kesaktian yang lebih tinggi.
Siang itu, Ronggo berjalan-jalan menyusuri jalanan yang banyak ditumbuhi pohon besar. Namun betapa terkejutnya orang-orang ketika tiba-tiba saja Raden Ronggo mengamuk. Dengan wajah merah padam, dicabutnya pohon besar di dekatnya. Dan pohon besar yang ditanam kakeknya, Sultan Adiwijaya, itu pun tumbang. Orang-orang berdatangan mendengar dentaman kayu besar itu.
“Arya Jipang telah menelusup ke tubuh Raden,” gumam sebagian orang yang hadir.
“Siapa yang bilang saya kerasukan??” rupanya Raden Ronggo mendengar gumaman itu.
Ditanya demikian, menunduklah orang-orang. Raden Ronggo busungkan dada, kepala mendongak. Panembahan Senapati segera menyuruh seorang prajuritnya untuk memanggil Ronggo di dekat pohon itu, kemudian sang prajurit pun menyampaikan titah Senapati.
Bukannya nurut, malah Ronggo mengadu kepalanya dengan kepala prajurit utusan ayahnya itu hingga kepala prajurit itu nyaris pecah. Lelaki tampan itu pun segera masuk ke Panembahan menghadap ayahnya.
“Ananda yang hebat dan sakti! Sebaiknya Ananda tidak selalu berbuat demikian. Orang sakti itu bukan berarti selalu memamerkan kesaktiannya. Dan kesaktian itu tidak untuk disalahgunakan,” kata Panembahan Senapati bijaksana.
Namun dinasehati demikian bukannya Raden Ronggo luruh. Justru sebaliknya. Ditanggapinya nasehat itu dengan hati yang marah.
“Sudah beberapa kali Ananda pamer ilmu. Pertama ketika datang seorang utusan dari Kerajaan Banten, Ananda menghajar mereka. Ketika Ananda berada di hutan Mentaok, Ananda menangkap harimau sendirian tanpa senjata. Ramanda suka punya anak yang sakti, tapi jika tidak disalahgunakan.”
“Tapi????” sahut Raden Ronggo sembari menunduk.
“Bila itu terus berlanjut, dapat membahayakan diri Ananda. Ananda bisa takabur,” Panembahan Senapati memotong.
“Di dunia ini tak ada orang yang sakti. Kau lihat gunung?” ia menunjuk keluar ke arah Gunung Merapi yang ujungnya dikelilingi asap. Ronggo mengangkat kepalanya.
“Puncak yang tertinggi ternyata bukan yang tertinggi,” lanjut Senapati.
Muka Raden Ronggo kian merah. Ia menunduk di depan ayahnya. Kemudian Senapati menjulurkan telunjuknya ke hadapan Ronggo.
“Kau lihat telunjuk ini,” Senapati mengajukan telunjuknya. “Jika kau orang sakti, patahkan telunjuk Ramanda,” tantangnya.
Kemudian Ronggo cepat-cepat memegang telunjuk itu. Matanya menatap wajah Senopati. Keduanya saling tatap. Ronggo berusaha mematahkan telunjuk itu. Namun sia-sia. Ia pun menunduk malu di hadapan Ramanda.
“Maafkan Ananda, Ramanda,” katanya kemudian sambil menghaturkan sembah sungkem. Senapati tersenyum. Namun lelaki perkasa itu masih ragu, apakah anaknya benar-benar memohon ampun dengan ketulusan hati atau hanya pura-pura belaka? Maka disuruhnya Raden Ronggo ke tempat sepi untuk bertapa. “Di sana Ananda bisa merenungkan nasehat-nasehat Ramanda!”
Lelaki belia itu tak menyahut. Kepalanya terus menunduk. Mukanya mengernyit seolah menampakkan kekecewaan atas dirinya dan Ramandanya yang telah mempermalukannya. Dengan nada lebih keras, Panembahan Senapati menyuruh anaknya itu pergi ke Kadipaten Pati. Ronggo meminta maaf kepada Ramanda. Ia pegang ibu jari kakinya. Kemudian Senapati mengibaskan kakinya. Terpentallah Ronggo hingga keluar Panembahan. Raden Ronggo meringis. Punggungnya seperti remuk. Ronggo tak menyangka bila Ramandanya bisa sekeras itu kepadanya.
Karena tak ada pilihan lain, Ronggo pun berkemas ke Pati di mana Adipati Wasis Jayakusuma tinggal. Beberapa prajurit menyiapkan kuda untuknya.
Setelah beberapa hari berkuda, sampailah Reden Ronggo di Kadipaten Pati. Hari masih pagi. Ia berjalan gontai hendak menemui Adipati setelah menambatkan kekang kudanya di sebuah pohon dekat Kadipaten. Dilihatnya sebuah tombak disandarkan di dinding rumah yang berlukis seekor harimau.
“Apakah di dekat tempat ini ada orang yang sakti?” seru Raden Ronggo.
Seruan itu bersahut. Lalu tangan kanan Raden Ronggo menghampiri tombak itu dan menimang-nimangnya sejenak. Bersamaan dengan itu seorang prajurit lewat. Tanpa ampun, tombak di tangan Raden Ronggo bergerak cepat dan dihunjamkannya di dadanya sendiri. Prajurit tadi terkesiap karena tombak itu tak sedikit pun melukai tubuh Raden Ronggo. Malahan, ujung tombak itu jadi tumpul.
“Apakah di tempat ini ada yang sakti?” serunya lagi sambil membusungkan dada.
“Ada Tuan. Beliau sekarang bertapa di sebuah pohon yang rindang.”
“Kuharap kau mengantarkanku pada orang itu.”
“I’iiya Tuan.”
Keduanya berlalu melewati sebuah pematang. Tak ada ucap selama perjalanan itu. Hanya angin yang meliuk ke lembah dan bukit-bukit. Ronggo berjalan di depan dengan gaya seorang pembesar.
Tak seberapa lama, terlihatlah sebuah pohon besar yang rindang dengan akar menghunjam kukuh ke perut bumi. Di bawahnya tampak sesosok lelaki kurus kerempeng, matanya terpejam, dan tangannya bersedekap di dada. Tubuh itu hanya tinggal tulang dan sekujur tubuhnya kotor. Rambutnya menggerai tak beraturan. Namun walau terlihat kotor, lelaki pertapa itu seperti dikelilingi butir-butir cahaya.
“Jangan mengganggu kami!!” sebuah suara berseru dari balik pohon.
Raden Ronggo sejenak melihat ke kanan dan ke kiri. Raden Ronggo pun mendekati pertapa kurus itu.
“Jangan ganggu kami!!” suara itu lagi dari balik pohon. Raden Ronggo mendongak lagi mencari-cari sumber suara itu. Namun ia tak juga menemukan si pemilik suara.
Raden Ronggo pun berpikir, jika pertapa kurus kerempeng ini saja bisa bercahaya, mengapa ia yang kekar, muda, sakti, tampan, amat disegani oleh orang banyak tidak bisa? “Tidak! Aku bisa melakukan ini semua. Aku bisa,” gumamnya. Kemudian dengan amat sombong dan congkak Raden Ronggo menemui pertapa itu.
“Tuan, kuharap Tuan tidak mengganggunya,” pinta prajurit pengantar itu.
“Tahu apa kau? Bodoh!”“Tuan, dia sedang menjalankan amalan! Biarkan dia menyelesaikannya, Tuan!”
“Pulanglah kau prajurit, pulang!!”
“Tapi Tuan???”
“Cepat pulang!!!” Raden Ronggo membentak.
Prajurit itu pelan-pelan pergi dari tempat itu, namun ia selalu menoleh, ia khawatir, jangan-jangan Raden Ronggo mengganggunya. Prajurit itu terus menyusuri setapak, namun matanya tak lepas mengawasi tingkah Raden Ronggo.
Raden Ronggo memegang kepala pertapa itu. Prajurit itu terhenti. “Kuharap Tuan tidak melakukannya!” teriaknya. Namun Raden Ronggo bergeming. Ronggo pun bertanya kepada pertapa itu dari mana asalnya dan mengapa ia melakukan tapa di tempat ini? Pertapa itu tak menjawab. Ronggo pun mengulangi lagi pertanyaannya. Pertapa tetap saja diam.
Setelah sekian kali diabaikan, marahlah Raden Ronggo. Dipegangnya kepala pertapa itu lalu dengan kekuatan penuh ditelungkupkannya kepala itu hingga menyusur tanah. Pertapa itu pun mengerang. Ia mulai membuka matanya yang cekung. Tangannya memegang dadanya. Cahaya mengkilau di tubuhnya. Ronggo kaget.
“Kau telah menganiayaiku,” katanya perlahan.
“Pertapa bangsat!!!” tukas Ronggo.
Namun pertapa itu hanya menyeringai. Mulutnya berbusa. Napasnya tersengal. Detak jantungnya melambat. Raden Ronggo mendekat dengan kemarahan yang tertahan.
“Terima kasih, Ronggo. Kau telah mengantarku keluar dari dunia ini. Ha! Ha! Kau betul-betul amat sombong anak muda, sesungguhnya pada gunung yang tinggi ada gunung yang lebih tinggi lagi,” kata pertapa kurus itu. Masih tersisa senyumnya di sisa ajal itu. Ronggo agak kaget mendengar ucapan pertapa itu barusan. Sebab ungkapan sama pernah diutarakan Ramandanya. Ronggo gemetar. Ronggo tiba-tiba berpikir, jangan-jangan pertapa itu teman seperguruan Ramandanya?
Belum sempat Ronggo bertanya lagi, pertapa kurus itu pun terkulai. Tubuh kerempeng tak bernyawa itu tiba-tiba lenyap dari hadapan Raden Ronggo. Ia moksa.
“Tunggu balasanku anak muda! Aku akan membalasmu kelak. Aku akan menjelma seekor ular.”
Ronggo tersenyum. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Kemudian Ronggo memutuskan untuk pulang ke Panembahan di Jogjakarta. Setiba di rumahnya, Adipati amat berang pada anak lelakinya yang sombong itu. Ronggo minta maaf pada Ramandanya, namun yang masih terpikir oleh Ronggo, kenapa Ramandanya tiba-tiba tahu kejadian itu, padahal tak seorang pun ada yang memberi tahu. Apakah ia mendapat wangsit? Atau ia punya kemampuan meneropong jarak jauh? Entahlah!
“Apa gunanya orang sakti di dunia ini jika hanya akan menimbulkan malapetaka?”
Ronggo tak menyahut. Ia hanya menunduk dan menunduk. Hingga sebuah teriakan histeris di halaman Panembahan terdengar. Di sana para prajurit bergelimpangan di pintu gerbang. Mengetahui keadaan yang gawat itu Panembahan Senopati dan Raden Ronggo keluar. Seekor ular raksasa pun langsung menyerang. Melihat seekor ular mengamuk, Raden Ronggo pun menyiapkan kuda-kudanya.
“Ini pasti si pertapa itu,” gumamnya.
“Bajingan!!”
Ronggo menatap Ramandanya seolah-olah mohon pamit pada lelaki tambun paruh baya itu. Ia kemudian turun dari Panembahan menuju halaman. Kini Raden Ronggo terlibat duel maut melawan ular raksasa itu. Segala tenaga dikeluarkannya. Prajurit-prajurit memperhatikan dengan seksama pertarungan dua pendekar itu. Berkali-kali serangan Raden Ronggo gagal. Malahan tubuh Ronggo kini terlilit ular raksasa sehingga Ronggo tak bisa bergerak.
“Ha! Ha! Ternyata hanya secuil kekuatannmu anak muda sombong! Ha? Hanya secuil. Ha! Ha!”
Kemudian Senapati meminta lewat batinnya agar ular itu melepaskan anaknya. Diberitahunya ular itu bahwa yang sedang dijepitnya itu anaknya, namun Senapati mengucapkan terima kasih pada ular raksasa itu karena ia telah memberi pelajaran pada anaknya.
“Kembalilah, Kawan!!” tukas Senapati.
Kemudian ular itu melepaskan Ronggo. Tubuhnya lemas. Sementara ular raksasa itu seolah tersenyum dan berpamitan pada Senapati. Mulai saat itulah Ronggo tak lagi bersikap sombong pada siapa pun.
Kisah ini mengajarkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Bekalilah diri dengan ilmu yang banyak. Tapi jangan lupakan satu hal, dengan ilmu itu janganlah takabur dan sombong. Sebab setinggi-tingginya ilmu yang dipunyai, masih ada yang lebih tinggi lagi. Seorang yang berilmu hendaknya mengamalkan ajaran padi: kian berisi kian merunduk. Dengan begitu ilmu bisa bermanfaat bagi orang lain..
Tubuhnya kekar dengan blangkon melingkar di kepalanya. Sebagai putra Panembahan Senapati, ia biasa dipanggil Raden Ronggo. Ia mempunyai kesaktian berlaga pantang menggunakan senjata. Raden Ronggo senang mengembara untuk belajar kesaktian, namun ia seringkali menggunakan kesaktiannya pada hal yang tak berguna, kesaktiannya hanya ditunjukkan pada orang bahwa dirinya sebagai orang yang hebat. Sebagai lelaki yang amat tampan, ia juga disukai banyak perempuan. Namun godaan setiap perempuan ditampiknya. Baginya perempuan hanya batu penghalang meraih kesaktian yang lebih tinggi.
Siang itu, Ronggo berjalan-jalan menyusuri jalanan yang banyak ditumbuhi pohon besar. Namun betapa terkejutnya orang-orang ketika tiba-tiba saja Raden Ronggo mengamuk. Dengan wajah merah padam, dicabutnya pohon besar di dekatnya. Dan pohon besar yang ditanam kakeknya, Sultan Adiwijaya, itu pun tumbang. Orang-orang berdatangan mendengar dentaman kayu besar itu.
“Arya Jipang telah menelusup ke tubuh Raden,” gumam sebagian orang yang hadir.
“Siapa yang bilang saya kerasukan??” rupanya Raden Ronggo mendengar gumaman itu.
Ditanya demikian, menunduklah orang-orang. Raden Ronggo busungkan dada, kepala mendongak. Panembahan Senapati segera menyuruh seorang prajuritnya untuk memanggil Ronggo di dekat pohon itu, kemudian sang prajurit pun menyampaikan titah Senapati.
Bukannya nurut, malah Ronggo mengadu kepalanya dengan kepala prajurit utusan ayahnya itu hingga kepala prajurit itu nyaris pecah. Lelaki tampan itu pun segera masuk ke Panembahan menghadap ayahnya.
“Ananda yang hebat dan sakti! Sebaiknya Ananda tidak selalu berbuat demikian. Orang sakti itu bukan berarti selalu memamerkan kesaktiannya. Dan kesaktian itu tidak untuk disalahgunakan,” kata Panembahan Senapati bijaksana.
Namun dinasehati demikian bukannya Raden Ronggo luruh. Justru sebaliknya. Ditanggapinya nasehat itu dengan hati yang marah.
“Sudah beberapa kali Ananda pamer ilmu. Pertama ketika datang seorang utusan dari Kerajaan Banten, Ananda menghajar mereka. Ketika Ananda berada di hutan Mentaok, Ananda menangkap harimau sendirian tanpa senjata. Ramanda suka punya anak yang sakti, tapi jika tidak disalahgunakan.”
“Tapi????” sahut Raden Ronggo sembari menunduk.
“Bila itu terus berlanjut, dapat membahayakan diri Ananda. Ananda bisa takabur,” Panembahan Senapati memotong.
“Di dunia ini tak ada orang yang sakti. Kau lihat gunung?” ia menunjuk keluar ke arah Gunung Merapi yang ujungnya dikelilingi asap. Ronggo mengangkat kepalanya.
“Puncak yang tertinggi ternyata bukan yang tertinggi,” lanjut Senapati.
Muka Raden Ronggo kian merah. Ia menunduk di depan ayahnya. Kemudian Senapati menjulurkan telunjuknya ke hadapan Ronggo.
“Kau lihat telunjuk ini,” Senapati mengajukan telunjuknya. “Jika kau orang sakti, patahkan telunjuk Ramanda,” tantangnya.
Kemudian Ronggo cepat-cepat memegang telunjuk itu. Matanya menatap wajah Senopati. Keduanya saling tatap. Ronggo berusaha mematahkan telunjuk itu. Namun sia-sia. Ia pun menunduk malu di hadapan Ramanda.
“Maafkan Ananda, Ramanda,” katanya kemudian sambil menghaturkan sembah sungkem. Senapati tersenyum. Namun lelaki perkasa itu masih ragu, apakah anaknya benar-benar memohon ampun dengan ketulusan hati atau hanya pura-pura belaka? Maka disuruhnya Raden Ronggo ke tempat sepi untuk bertapa. “Di sana Ananda bisa merenungkan nasehat-nasehat Ramanda!”
Lelaki belia itu tak menyahut. Kepalanya terus menunduk. Mukanya mengernyit seolah menampakkan kekecewaan atas dirinya dan Ramandanya yang telah mempermalukannya. Dengan nada lebih keras, Panembahan Senapati menyuruh anaknya itu pergi ke Kadipaten Pati. Ronggo meminta maaf kepada Ramanda. Ia pegang ibu jari kakinya. Kemudian Senapati mengibaskan kakinya. Terpentallah Ronggo hingga keluar Panembahan. Raden Ronggo meringis. Punggungnya seperti remuk. Ronggo tak menyangka bila Ramandanya bisa sekeras itu kepadanya.
Karena tak ada pilihan lain, Ronggo pun berkemas ke Pati di mana Adipati Wasis Jayakusuma tinggal. Beberapa prajurit menyiapkan kuda untuknya.
Setelah beberapa hari berkuda, sampailah Reden Ronggo di Kadipaten Pati. Hari masih pagi. Ia berjalan gontai hendak menemui Adipati setelah menambatkan kekang kudanya di sebuah pohon dekat Kadipaten. Dilihatnya sebuah tombak disandarkan di dinding rumah yang berlukis seekor harimau.
“Apakah di dekat tempat ini ada orang yang sakti?” seru Raden Ronggo.
Seruan itu bersahut. Lalu tangan kanan Raden Ronggo menghampiri tombak itu dan menimang-nimangnya sejenak. Bersamaan dengan itu seorang prajurit lewat. Tanpa ampun, tombak di tangan Raden Ronggo bergerak cepat dan dihunjamkannya di dadanya sendiri. Prajurit tadi terkesiap karena tombak itu tak sedikit pun melukai tubuh Raden Ronggo. Malahan, ujung tombak itu jadi tumpul.
“Apakah di tempat ini ada yang sakti?” serunya lagi sambil membusungkan dada.
“Ada Tuan. Beliau sekarang bertapa di sebuah pohon yang rindang.”
“Kuharap kau mengantarkanku pada orang itu.”
“I’iiya Tuan.”
Keduanya berlalu melewati sebuah pematang. Tak ada ucap selama perjalanan itu. Hanya angin yang meliuk ke lembah dan bukit-bukit. Ronggo berjalan di depan dengan gaya seorang pembesar.
Tak seberapa lama, terlihatlah sebuah pohon besar yang rindang dengan akar menghunjam kukuh ke perut bumi. Di bawahnya tampak sesosok lelaki kurus kerempeng, matanya terpejam, dan tangannya bersedekap di dada. Tubuh itu hanya tinggal tulang dan sekujur tubuhnya kotor. Rambutnya menggerai tak beraturan. Namun walau terlihat kotor, lelaki pertapa itu seperti dikelilingi butir-butir cahaya.
“Jangan mengganggu kami!!” sebuah suara berseru dari balik pohon.
Raden Ronggo sejenak melihat ke kanan dan ke kiri. Raden Ronggo pun mendekati pertapa kurus itu.
“Jangan ganggu kami!!” suara itu lagi dari balik pohon. Raden Ronggo mendongak lagi mencari-cari sumber suara itu. Namun ia tak juga menemukan si pemilik suara.
Raden Ronggo pun berpikir, jika pertapa kurus kerempeng ini saja bisa bercahaya, mengapa ia yang kekar, muda, sakti, tampan, amat disegani oleh orang banyak tidak bisa? “Tidak! Aku bisa melakukan ini semua. Aku bisa,” gumamnya. Kemudian dengan amat sombong dan congkak Raden Ronggo menemui pertapa itu.
“Tuan, kuharap Tuan tidak mengganggunya,” pinta prajurit pengantar itu.
“Tahu apa kau? Bodoh!”“Tuan, dia sedang menjalankan amalan! Biarkan dia menyelesaikannya, Tuan!”
“Pulanglah kau prajurit, pulang!!”
“Tapi Tuan???”
“Cepat pulang!!!” Raden Ronggo membentak.
Prajurit itu pelan-pelan pergi dari tempat itu, namun ia selalu menoleh, ia khawatir, jangan-jangan Raden Ronggo mengganggunya. Prajurit itu terus menyusuri setapak, namun matanya tak lepas mengawasi tingkah Raden Ronggo.
Raden Ronggo memegang kepala pertapa itu. Prajurit itu terhenti. “Kuharap Tuan tidak melakukannya!” teriaknya. Namun Raden Ronggo bergeming. Ronggo pun bertanya kepada pertapa itu dari mana asalnya dan mengapa ia melakukan tapa di tempat ini? Pertapa itu tak menjawab. Ronggo pun mengulangi lagi pertanyaannya. Pertapa tetap saja diam.
Setelah sekian kali diabaikan, marahlah Raden Ronggo. Dipegangnya kepala pertapa itu lalu dengan kekuatan penuh ditelungkupkannya kepala itu hingga menyusur tanah. Pertapa itu pun mengerang. Ia mulai membuka matanya yang cekung. Tangannya memegang dadanya. Cahaya mengkilau di tubuhnya. Ronggo kaget.
“Kau telah menganiayaiku,” katanya perlahan.
“Pertapa bangsat!!!” tukas Ronggo.
Namun pertapa itu hanya menyeringai. Mulutnya berbusa. Napasnya tersengal. Detak jantungnya melambat. Raden Ronggo mendekat dengan kemarahan yang tertahan.
“Terima kasih, Ronggo. Kau telah mengantarku keluar dari dunia ini. Ha! Ha! Kau betul-betul amat sombong anak muda, sesungguhnya pada gunung yang tinggi ada gunung yang lebih tinggi lagi,” kata pertapa kurus itu. Masih tersisa senyumnya di sisa ajal itu. Ronggo agak kaget mendengar ucapan pertapa itu barusan. Sebab ungkapan sama pernah diutarakan Ramandanya. Ronggo gemetar. Ronggo tiba-tiba berpikir, jangan-jangan pertapa itu teman seperguruan Ramandanya?
Belum sempat Ronggo bertanya lagi, pertapa kurus itu pun terkulai. Tubuh kerempeng tak bernyawa itu tiba-tiba lenyap dari hadapan Raden Ronggo. Ia moksa.
“Tunggu balasanku anak muda! Aku akan membalasmu kelak. Aku akan menjelma seekor ular.”
Ronggo tersenyum. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Kemudian Ronggo memutuskan untuk pulang ke Panembahan di Jogjakarta. Setiba di rumahnya, Adipati amat berang pada anak lelakinya yang sombong itu. Ronggo minta maaf pada Ramandanya, namun yang masih terpikir oleh Ronggo, kenapa Ramandanya tiba-tiba tahu kejadian itu, padahal tak seorang pun ada yang memberi tahu. Apakah ia mendapat wangsit? Atau ia punya kemampuan meneropong jarak jauh? Entahlah!
“Apa gunanya orang sakti di dunia ini jika hanya akan menimbulkan malapetaka?”
Ronggo tak menyahut. Ia hanya menunduk dan menunduk. Hingga sebuah teriakan histeris di halaman Panembahan terdengar. Di sana para prajurit bergelimpangan di pintu gerbang. Mengetahui keadaan yang gawat itu Panembahan Senopati dan Raden Ronggo keluar. Seekor ular raksasa pun langsung menyerang. Melihat seekor ular mengamuk, Raden Ronggo pun menyiapkan kuda-kudanya.
“Ini pasti si pertapa itu,” gumamnya.
“Bajingan!!”
Ronggo menatap Ramandanya seolah-olah mohon pamit pada lelaki tambun paruh baya itu. Ia kemudian turun dari Panembahan menuju halaman. Kini Raden Ronggo terlibat duel maut melawan ular raksasa itu. Segala tenaga dikeluarkannya. Prajurit-prajurit memperhatikan dengan seksama pertarungan dua pendekar itu. Berkali-kali serangan Raden Ronggo gagal. Malahan tubuh Ronggo kini terlilit ular raksasa sehingga Ronggo tak bisa bergerak.
“Ha! Ha! Ternyata hanya secuil kekuatannmu anak muda sombong! Ha? Hanya secuil. Ha! Ha!”
Kemudian Senapati meminta lewat batinnya agar ular itu melepaskan anaknya. Diberitahunya ular itu bahwa yang sedang dijepitnya itu anaknya, namun Senapati mengucapkan terima kasih pada ular raksasa itu karena ia telah memberi pelajaran pada anaknya.
“Kembalilah, Kawan!!” tukas Senapati.
Kemudian ular itu melepaskan Ronggo. Tubuhnya lemas. Sementara ular raksasa itu seolah tersenyum dan berpamitan pada Senapati. Mulai saat itulah Ronggo tak lagi bersikap sombong pada siapa pun.
Langganan:
Postingan (Atom)