Jumat, 07 Desember 2007

Menikmati indahnya harbourfront

Hari ini setelah grup meeting yang dipimpin oleh Profesor, saya menyampaikan sebuah pesan dari Prof. Dr. Rosari Saleh (Ibu Ocha) dari Fisika UI untuk menyampaikan keinginan beliau melakukan kolaborasi riset tentang ZnO nanopartikel kepada Profesor Sun Xiaowei. Alangkah bahagia dan senangnya saya mendapat amanah tersebut, karena saya melihat sampai sekarang ini kelompok riset yang ada di Indonesia masih belum mampu menunjukkan eksistensinya secara baik. Tapi saya juga berusaha untuk menjembatani kolaborasi tersebut tidak sebatas pada ZnO nanopartikel saja tapi tentang photovoltaic yang di kembangakan oleh Prof. Dr. Rosari Saleh juga saya sampaikan kepada Profesor Sun Xiaowei. Prof. Sun Xiaowei adalah supervisor saya dalam riset di grup riset nanoelektronik, EEE-NTU. Alhamdulillah lobi saya berhasil membuat Prof Sun tertarik untuk menjalin kolaborasi dengan grup riset di bawah kepemimpinan Ibu Ocha.

Memang tidak dipungkiri beberapa kelompok riset terutama di Fisika UI untuk bidang Fisika teori yang dipelopori oleh Dr. Terry Mart (Grup Fisika Nuklir dan Partikel, FIsika UI) dan Dr. LT Handoko (Grup Fisika Teori, LIPI dan Fisika UI) sudah mampu go internasional secara rutin dengan mempublikasikan sejumlah paper di jurnal internasional. Bagaimana dengan bidang riset lainnya? menurut saya bidang lainnya masih belum terorganisir secara baik, pun sudah namun belum mampu bersaing secara stabil dan konsisten. Nah dengan adanya rencana kolaborasi dari grup Condensed Matter Physics dari Fisika UI di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Rosari Saleh (Ibu Ocha) saya pikir itu adalah gebrakan yang patut ditiru oleh grup riset lainnya. Artinya kolaborasi yang dimaksud sudah real tidak hanya kolaborasi individu dengan almamaternya saja.

Setelah saya menyampaikan rencana kolaborasi yang direncanakan oleh Ibu Ocha kepada Profesor, saya sekitar jam 14.30pm langsung pergi menuju Changi airport untuk menjemput kolega saya Pak Artoto dari Jurusan Fisika Universitas Negeri Jember yang akan liburan ke Jember untuk menengok keluarganya melalui Batam. Beliau kebetulan sedang menempuh studi doktoral (bidang riset Hubbard model) Condensed Matter Physics di Jawaharlal Nehru University, India, yang merupakan salah satu prestigius universitas di Asia untuk bidang sains. Dalam waktu kurang lebih 3 jam bersama beliau saya sedikit mengorek informasi tentang bagaimana budaya riset di India. Mengapa saya sangat antusias mengorek tentang itu? Begini, dari pengalaman saya sewaktu menempuh program diploma Condensed Matter Physics di ICTP, Italy, banyak profesor dari India yang melakukan kolaborasi riset bahkan menjadi Profesor penuh di ICTP. Dan dari perkembangan saintek dunia, India merupakan salah satu kekutan baru di Asia setelah Cina. Dari cerita beliau, wajar saja India sukses mengembangkan sainteknya karena memang di India pendidikan dan budaya risetnya sudah termanage dan terorganisir secara terarah dan budaya mereka mampu menarik minat generasi muda India untuk mengejar pendidikan tinggi yang bernuansa riset. Dari cerita Pak Artoto, di India mahasiswa program doktoral rata2 berumur 24 tahun. Itu merupakan bukti bahwa anak muda India cukup sadar akan pendidikan dan riset sebagai fundamental dasar dalam membangun bangsa.

Bagaimana dengan Indonesia? hhhhmmmm, menurut saya, anak muda Indonesia orientasi untuk mengarah ke dunia pendidikan dan riset masih belum punya. Kenapa saya katakan demikian? karena mayoritas anak muda Indonesia budaya berpikirnya amat sangat pragmatis. Hal itu disebabkan karena bangsa Indonesia selalu dicekoki oleh hal-hal instant yang tak mampu disadari oleh pemerintah. Dari sisi pendidikan, selain sekolah formal bimbingan belajar (bimbel) menjamur di berbagai daerah, bimbel secara tidak langsung sudah mempengaruhi pola pikir siswa untuk berpikir instant. Dari sisi entertainment, tayangang tv selalu menampilkan gemerlap indahnya hidup, yaitu dengan matoritas tayangan tv yang terlalu jauh dari kenyataan. Tayang tv selalu menampilkan ke glamoran. Dari sisi pemerintah, pemerintah Indonesia belum memiliki arah jelas untuk menentukan ke arah mana pendidikan dan riset yang ada. Efeknya adalah semua jalan sendiri2 tanpa ada kontrol. Dari sisi budaya konservatif, dulu masyarakat Indonesia cukup bangga dengan titel kebangsawanan yang mereka miliki. Sekarang, menurut saya budaya itu bergeser menjadi kebanggaan terhadap gelar pendidikan yang didapatkan secara semu. Akhirnya tak heran apabila banyak orang yang memiliki gelar pendidikan tinggi namun tidak memiliki kemampuan sesuai dengan gelarnya. Kenapa demikian? karena gelar tersebut dengan instantnya diperoleh dari institusi pendidikan yang pragmatis. Dari pendidikan keluarga, di lingkungan masyarakat kita dalam mendidik anak, orang tua selalu mengarahkan anak untuk menjadi orang berdasarkan profesi tanpa mengedapankan esensi belajar yang lebih mendasar. Namun orang tua justeru menjerumuskan anak ke hal-hal yang materialistis. Dari sudut pandang akar budaya bangsa, generasi muda bangsa Indonesia sekarang ini menglami keengganan untuk mempelajari asal budaya daerahnya akibatnya generasi muda sekarang mengalami degradasi nasionalisme. Dari sudut pandang sosial masyarakat, hhhmmm yang jelas budaya korupsi masih merajalela, masyarakat masih belum memiliki tepo seliro yang baik, rasa toleransi masih perlu dididik, rasa saling melindungi belum baik, sikap saling menjegal dan mementingkan diri sendiri masih cukup tinggi. Dari paparan saya di atas hal itulah yang mengakibatkan budaya instant untuk mudah memiliki sesuatu tanpa melalui proses sistematis dan komprehensif tidak mengakar secara kuat di masyarakat. Generasi muda lebih memilih mencari kerja dengan gaji tinggi. Sedangkan kerja dengan gaji tinggi akan diperoleh di perusahaan swasta asing dan yang mereka kerjakan merupakan sebuah hasil saja. Akibatnya apabila mayoritas generasi muda lebih memilih arah itu adalah budaya riset tidak akan pernah kuat di Indonesia. Nah ini perlu disikapi oleh pemerintah bagaimana menarik perhatian dan menyadarkan jiwa nasionalisme generasi muda apabila bangsa Indonesia ingin menjadi bangsa besar. Janganlah terlena dengan gemerlap materi semu yang berasal dari bangsa luar, apabila terlena, selamanya Indonesia tidak akan lepas dari cengkeraman kapitalis.

Dari sini kadang saya kecewa, namun hal itu juga membuat saya terpanggil untuk turut bertanggung jawab memajukan bangsa. Mudah2an saja para generasi muda dapat mengimprove diri untuk lebih sadar akan arti nasionalisme dan kelak saya harapkan kita bisa bersama2 membangun bangsa Indonesia ke arah yang lebih maju dengan mengedepankan kesadaran akan esensi dari budaya pendidikan dan riset.

3 komentar:

yudhiakto_pramudya mengatakan...

Come stai Iwan,...

wah baru tau kalau kamu punya blog. mampir juga ya ke blogku

http://ypramudya.blogspot.com/

sukses ya Wan,.. bener juga sih artikel2mu, mantab

Mutia Delina mengatakan...

Subhanallah. Artikelnya bagus sekali. Kita jadi tambah semangat untuk terus belajar dan melakukan riset. he he he. Sukses ya prof...

subi mengatakan...

Just a newbie on condensed matter, I am pleasure of your guidance.
http://condensedmatter.wordpress.com/